bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film The Book of Eli (2010)

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 11 September 2021

Film ini mempunyai latar belakang dunia pasca-apokaliptik dengan menggambarkan kehancuran Bumi akibat bencana nuklir. Pada masa-masa sulit tersebut, seorang pria pengembara bernama Eli (Denzel Washington), melakukan perjalanan jauh menuju sebuah lokasi di Pantai Barat Amerika Serikat untuk mengirimkan salinan “buku suci,” yang bisa menyelamatkan peradaban manusia.

The Book of Eli sendiri memulai proses produksinya pada bulan Februari tahun 2009, dan melakukan pengambilan gambar di wilayah New Mexico. Film ini memiliki anggaran produksi sebanyak 80 juta dollar, dan berhasil meraup pendapatan lebih dari 157 juta dollar di seluruh dunia.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2010
  • Genre: Post-apocalyptic neo-western
  • Rumah produksi: Alcon Entertainment dan Silver Pictures
  • Sutradara: The Hughes Brothers
  • Pemeran Utama: Denzel Washington, Gary Oldman, Mila Kunis, Ray Stevenson, Jennifer Beals

30 tahun selepas bencana nuklir, kondisi dunia hingga moral manusia menjadi semakin buruk. Untuk menyelamatkan peradaban manusia, Eli mempunyai misi khusus dengan berjalan kaki melintasi gurun Amerika, dan akan mengantarkan sebuah “buku suci” ke Pantai Barat Amerika Serikat.

Saat di perjalanan, Eli berhasil mengalahkan para kelompok perampok, dan ia selanjutnya tiba di kota yang dipimpin oleh panglima perang bernama Carnegie. Eli kemudian mampir ke sebuah toko elektronik bekas untuk mengisi ulang baterai pemutar musik portabel miliknya.

Ketika berada di sebuah bar, dia diserang oleh sekelompok pengendara sepeda motor, tapi Eli dengan cepat mampu membunuh mereka semua. Carnegie melihat hal itu, dan mengundang Eli untuk bergabung bersama kelompoknya, namun ia menolak ajakan tersebut.

Carnegie menyadari bahwa Eli adalah orang terpelajar seperti dirinya, dan ia memaksanya untuk menginap di tempatnya. Sementara itu, ia mempunyai seorang istri bernama Claudia, yang kedua matanya tidak bisa melihat.  Carnegie lalu memerintahkan putrinya Solara untuk merayu Eli, namun sekali lagi ia menolak rayuan darinya.

Di pagi hari, Carnegie mendengar Solara tengah berdoa kepada ibunya, dan akhirnya ia mengetahui jika Eli membawa buku suci yang dicarinya selama ini, yakni sebuah salinan Alkitab. Setelah mengetahui hal itu, Eli mencoba untuk pergi dari kota, namun Carnegie berserta pasukannya berusaha mencegahnya. Eli menolak menyerahkan bukunya itu, dan pertempuran berdaran pun tidak terhindarkan.

Solara berhasil menangkap Eli, dan membantu menyelamatkannya. Ia membawa Eli ke sebuah tempat yang aman, dan berharap bisa menemainya dalam perjalanannya tersebut. Eli kemudian menjebak Solar, dan meneruskan pengembaraannya seorang sendiri. Meski begitu, Solara lolos dan disergap oleh dua bandit yang mencoba memperkosanya, tapi Eli muncul kembali dan membunuh mereka.

Eli mau tidak mau mengizinkan Solara untuk ikut dengannya, dan melanjutkan perjalanan ke pantai barat. Eli lalu menjelaskan misinya kepada Solara bahwa bukunya adalah salinan terakhir dari Alkitab, karena semua salinan lainnya sengaja dihancurkan setelah perang nuklir.

Dia mengatakan bahwa ada sebuah suara misterius yang berbicara di kepalanya bahwa ia harus menyimpan kitab suci tersebut. Suara itu kemudian mengarahkannya untuk melakukan perjalanan menuju suatu wilayah di barat ke tempat yang aman. Eli pun percaya bahwa suara dalam kepalanya itu akan melindungi, dan membimbingnya selama perjalanan.

Bisa Dinikmati dengan Mudah

Bisa Dinikmati dengan Mudah

The Book of Eli bukanlah sebuah film dengan tingkat kompleksitas cerita yang rumit. Sang sutradara, The Hughes Brothers, terbilang cukup baik dalam mengeksekusi plot cerita yang dibuat oleh penulis naskah Gary Whitta. Selain itu, Hughes bersaudara dengan tim kreatifnya sangat tertata dalam membuat latar situasi kehancuran Bumi paska-apokaliptik, dan semua background lingkungan hingga pemandangannya terlihat cukup realistis.

Alur cerita film ini pun disajikan tidak terlalu terburu-buru, dan semuanya dibangun secara perlahan-lahan agar penonton bisa memahami tujuan perjalanan dari Eli. Walaupun begitu, fokus cerita tidak terlalu baik dalam memperkenalkan setiap karakter yang terlibat, dan film ini sering berpusat pada Eli sehingga mengabaikan karakter-karakter yang disekitarnya.

Di sisi lain, film-film bertemakan paska-apokaliptik hampir dipastikan bakal memiliki konten kekerasan yang cukup masif. Film The Book of Eli pun demikian, namun tidak terlalu brutal, dan tidak mengandung unsur gore yang kentara. Film ini bisa dibilang cukup proposional dalam memperlihatkan adegan kekerasannya, dan kita yang menontonnya tetap akan terpuaskan dengan semua konten liar yang disajikan.

Selama kurang lebih dari dua jam, kita benar-benar secara intim bakal mengikuti perjalanan Eli untuk tujuan menyelamatkan peradaban umat manusia.  Alur cerita yang sangat berhati-hati di film ini pada satu sisi membuat The Book of Eli dapat dinikmati dengan mudah, tapi di sisi lain menjadi menjenuhkan juga karena sepanjang jalan ceritanya terlalu berfokus pada sosok Eli, dan kurang mengembangkan karakter pendukung yang lain.

Karakter Utamanya Tampil Meyakinkan

Karakter Utamanya Tampil Meyakinkan

Film ini didukung oleh tiga pemain mumpuni seperti Denzel Washington (Eli), Gary Oldman (Carnegie), dan Mila Kunis (Solara). Ketiganya secara tidak langsung membuat film The Book of Eli memiliki daya tarik tersendiri untuk ditonton. Tapi sayangnya, seperti yang sudah dibahas di atas, ada karakter lainnya kurang dikembangkan, khususnya peran aktris Jennifer Beals, yang memainkan sosok istri dari Carnegie bernama Claudia.

Selain konsep ceritanya yang cukup menarik, dan sedikit menimbulkan kontroversi, The Book of Eli setidaknya harus berterima kasih kepada Washington dan Oldman. Berkat keduanya, film ini mempunyai sosok protagonist, dan antagonis, yang sama-sama berintelektual, dan berbahaya. Washington sebagai Eli cukup piawai menggunakan senjata tajam, dan tak segan-segan membunuh orang-orang jahat di sekitarnya.

Sementara itu, Oldman memiliki warna suara yang khas, dan sangat kharismatik setiap melakoni peran yang dimainkannya. Kelebihannya itu menjadikan sosok Carnegie sebagai penjahat penuh talenta kejam, dan cerdas juga. Ia cukup otoriter terhadap anak buahnya, dan tidak memperdulikan bahaya apapun asalkan mendapatkan kitab suci yang dicarinya.

Lalu, Mila Kunis sebagai Solara tampil lumayan baik secara keseluruhan, dan menjadi teman yang solid dalam menemani perjalanan Eli ke barat. Meski tidak terlalu impresif, kehadirannya di film ini tidak bisa diremehkan begitu saja karena ia memperlihatkan gambaran seorang wanita tangguh di tengah-tengah kondisi Bumi yang berantakan, dan peradaban manusia yang bobrok.

Visual Paska-Apokaliptik yang Keras

Visual Paska-Apokaliptik yang Keras

Tim kreatif yang dimiliki oleh Hughes bersaudara ini bisa dibilang adalah orang-orang yang sangat menjanjikan. Seperti yang sudah diterangkan pada bagian atas, skenario film ini dibuat oleh Gary Whitta, dan dikemudian dieksekusi lumayan baik oleh sang sutradara tersebut. Selain mereka, film ini juga mempunyai seorang penata visual bernama Don Burgess, yang mampu merealisasikan latar kehancuran Bumi dengan cara sebaik-baiknya.

Lewat cara pandangnya, Burgess bersama dengan The Hughes Brothers cukup lihai dalam menghadirkan pemandangan-pemandangan yang keras dari situasi paska-apokaliptik. Gurun gersang yang disinari matahari terik, siluet dan bayangan yang memperlihatkan sisi kelam dunia, lalu warna langit cenderung putih pekat terkadang mendung, adalah sebagian hal yang membuat suasana Bumi hidup tanpa adanya harapan.

Burgess pada akhirnya mampu memanipulasi hal-hal tersebut untuk memberikan gambaran tentang Bumi yang rusak dari segala aspek. Bahkan, pemandangan lingkungannya pun sama sekali tidak memberikan landscape yang indah, dan diganti dengan pemandangan yang kejam hingga keras. Sejauh mata memandang, film ini begitu apik dalam memperlihatkan situasi mengkhawatirkan yang terjadi pada Bumi bila bencana nuklir akan tiba.

Terlepas dari hal itu, The Book of Eli merupakan film yang sangat menarik, baik dari sisi keagamaan, moral, dan peradaban. Maka dari itu juga, film ini adalah tontonan bertemakan kehancuran Bumi yang tidak boleh terlewatkan di daftar tontonan kalian.

The Book of Eli
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram