bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Stree, Kritik Sosial dalam Urban Legend

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 19 September 2021

Hidup di sebuah desa yang memiliki legenda mengenai penyihir wanita yang sering menculik pria di malam hari adalah teror yang menakutkan. Film yang dibintangi oleh Rajkummar Rao dan Shraddha Kapoor ini berhasil menjadi film terlaris di India dengan julukan “sleeper hit”. Film ini mendapatkan 10 nominasi di 64th Filmfare Awards 2019 dan rating 7.6 di IMDb.

Stree adalah film komedi horor yang dirilis pada 31 Agustus 2018 di bawah naungan Maddock Films. Meski dikritik karena plotnya yang berbelit dan membosankan, film ini memperlihatkan realita mengenai wanita. Dibuat dengan anggaran ₹ 20 crore, Stree ditutup dengan penghasilan ₹ 180,76 crore selama penayangan.

Sinopsis

Stree
  • Tahun Rilis: 2018
  • Genre: Horor komedi
  • Rumah Produksi: Maddock Films dan D2R Films
  • Sutradara: Amar Kaushik
  • Pemeran Utama: Shraddha Kapoor, Rajkumar Rao, Pankaj Tripathi, Aparshakti Khurana dan Abhishek Barnejee

Seorang pria tua sedang menuliskan kata स्त्री कल आना atau dalam Bahasa indonesia “O Stree, datanglah besok”. Bukan hanya itu, banyak para wanita dan pria sedang mempersiapkan diri membeli berbagai keperluan untuk festival di Desa Chanderi. Festival keagamaan ini diadakan selama empat hari setiap tahunnya, bertujuan agar “Stree” tidak mengganggu mereka.

Stree adalah penyihir wanita yang kerap menculik para pria yang sedang sendirian di malam hari. Uniknya hantu ini meninggalkan pakaian para pria yang diculiknya sebagai tanda atau jejak. Vicky (Rajkummar Rao) adalah seorang penjahit pakaian wanita yang disebut sebagai dewa busana. Suatu hari Vicky tiba-tiba ditemui seorang wanita (Sharaddha Kapoor) dan meminta untuk menjahitkan rok.

Vicky yang jatuh hati pada wanita misterius tapi kedua temannya Bittu dan Janna berpikiran wanita itu adalah “Stree”. Terutama sejak Janna diculik oleh Stree, Bittu dan Vicky mulai berpikir wanita misterius itu adalah Stree. Malam itu, keduanya bertemu dengan Rudra Bhaiya dan pergi ke benteng tua, Vicky hampir menjadi korban Stree namun ditolong oleh wanita misterius. Stree juga secara tiba-tiba membebaskan Janna yang berjalan sendirian keluar dari benteng tanpa busana.

Ternyata wanita misterius ini memiliki dendam pada Stree yang sudah menculik temannya tiga tahun lalu dan berniat mengalahkannya. Berkat arahan Rudra Bhaiya mereka mendatangi penulis buku Shankar Shrastri, awalnya mereka mengira ini sia-sia tapi di akhir sang penulis mengatakan hal penting. Stree dulunya seorang pelacur yang jatuh cinta lalu di bunuh dengan suaminya di malam pengantinnya.

Mendapatkan banyak petunjuk, malam harinya mereka berusaha membuat jebakan untuk Stree. Sayangnya hal ini gagal karena Janna yang tiba-tiba kerasukan dan Vicky yang di korbankan hilang. Ternyata Vicky dibawa ke benteng tua, ia bertemu kembali dengan Stree dan berniat membunuhnya. Vicky mengurungkan niatnya dan mengikuti arahan si wanita misterius agar memotong rambut Stree agar menghilang.

Vicky sadar bahwa Stree hanya ingin cinta dan penghormatan, selepas itu para pria yang diculik Stree dapat kembali ke desa. Ternyata kisah ini tidak berakhir begitu saja, wanita misterius ini mengambil potongan rambut Stree. Wanita ini menggabungkan rambutnya dan rambut Stree agar mendapatkan kekuatannya. Desa Pun masih membentengi diri dengan menulis kalimat baru “O Stree, lindungi kami”.

Diangkat dari Urban Legend Terkenal Tahun 90-an

Stree Sinopsis

Layaknya Indonesia, India juga memiliki banyak kisah-kisah urban legend yang masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya yang cukup terkenal adalah urban legend mengenai “Naale Bala” atau jika diartikan “Datang besok”. Urban legend ini menceritakan mengenai roh yang suka mengetuk pintu rumah orang-orang di malam hari.

Urban legend Naale Bala ini berkembang di salah satu daerah di India yang bernama Karnataka yang viral di tahun 1990-an. Sama seperti di film, masyarakat mencegah datangnya roh jahat ini dengan menuliskan “Naale Bala” di tembok rumahnya. Roh Naale Bala ini akan berkeliling mengetuk rumah dan menipu dengan cara memanggil dengan suara orang yang dikenal.

Masyarakat sekitar percaya bahwa Naale Bala adalah hantu seorang pengantin wanita mencari suaminya. Naale Bala akan menculik para pria yang menjadi kepala keluarga, ini dipercaya akan membawa nasib buruk. Warga Pun mulai berinisiatif untuk menuliskan “Naale Bala” agar roh ini datang kembali keesokan hari dan siklus ini terus berulang.

Ide Cerita yang Unik Meski Eksekusinya Sedikit Melenceng

Ide Cerita yang Unik Meski Eksekusinya Sedikit Melenceng

Stree adalah film horor komedi yang jarang ditemukan di film-film Bollywood yang bisa kita tonton. Harus diakui bahwa cerita yang diangkat ini sebenarnya cukup unik, terutama untuk penonton di luar India. Pasalnya urban legend yang diangkat agak lucu jika dipikirkan, karena bagaimana kita menganggap roh cukup pintar dan bodoh secara bersamaan.

Tapi dari sinilah kita bisa menikmati kisah urban legend yang terkenal di tahun 90-an dan di ceritakan cukup baik. Sayangnya, beberapa adegan dalam film ini terlihat membosankan dan plotnya terlalu bertele-tele. Di awal menonton kita akan merasa bingung dan aneh, roh apa yang menculik pria dan meninggalkan bajunya sebagai tanda. Pasalnya bentuk Stree tidak terlalu digambarkan, seperti di awal hanya dengan suara wanita saja.

Beberapa karakter juga terlihat abu-abu, seperti si wanita misterius yang tidak diketahui namanya. Tidak ada keterangan yang dapat membuat karakter yang dimainkan Shraddha Kapoor ini lebih menarik. Untungnya akting dari Shraddha Kapoor sangat baik dan kuat, jadi tidak terlalu kosong. Lalu kisah mengenai siapa sebenarnya sosok hantu Stree, penggambaran mengenai kematiannya. Mungkin hal ini akan diceritakan di film selanjutnya, bocoran sedikit film ini akan kembali dengan Stree 2.

Itu semua tidak diceritakan dan justru terfokus dengan hubungan Vicky dan wanita misterius. Ini yang membuat kita agak kebingungan, sebenarnya siapa dan apa yang mendalangi roh ini datang ke desa. Uniknya biasanya kita menonton film horor selalu ada suara melengking yang mengganggu di film ini “tidak ada”.

Stree justru mengandalkan beberapa jumpscare dan menonjolkan suasana malam hari yang mencekam. Teriakan-teriakan dalam film ini benar-benar menjadi pelengkap dan lagu atau tarian di film ini juga terasa sebagai komponen pelengkap saja.

Kritik Sosial Akan Kebudayaan dan Feminis

Kritik Sosial Akan Kebudayaan dan Feminis

Terlepas dari plot yang agak berantakan dari film Stree, ada beberapa hal yang bisa kita sorot. Pertama kritik sosial akan budaya masyarakat, bahwa selalu ada budaya yang tidak bisa dilanggar. Stree memberikan kita gambaran bahwa merubah kebudayaan dan kebiasaan masyarakat itu sulit. Semodern apapun kehidupan, budaya adalah hal yang mutlak apalagi jika sudah mengenai keagamaan.

Kebiasaan demi mendapatkan keamanan akan terus dilakukan dan diturunkan pada anak-anak. Cukup menggelikan bagaimana kita melihat bagaimana roh akan pergi dengan membaca tulisan di tembok. Urban legend mengenai Stree ini bisa dikatakan hadir karena kesalahan masyarakat sendiri. Bagaimana mereka memperlakukan wanita dengan kejam hanya karena wanita itu adalah seorang pelacur.

Poin ini tidak bisa kita lepaskan, karena hal ini memang sudah menjadi pandangan umum bahwa pelacur begitu rendah. Serendah apapun pekerjaannya bukan berarti kita bisa merenggut cinta, kehormatan dan hidupnya. Mereka adalah manusia, mereka memiliki hak untuk hidup dengan caranya sendiri dan diperlakukan layaknya manusia.

Namun film ini juga menjadi bahan olok-olok mengenai para pria yang sebelumnya merasa mereka berkuasa. Dimana ada beberapa adegan para pria keluar rumah di malam hari dengan menggunakan sari para wanita. Hal ini dilakukan untuk menipu si roh, tapi disini lah mereka mengolok-ngolok para pria yang terbiasa bertindak seenaknya memperlakukan wanita dipermalukan.

Stree
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram