bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Soekarno (2013), Kisah Sang Proklamator

Soekarno, tokoh proklamator yang menjadi presiden pertama Republik Indonesia, menjalani perjuangan yang keras dan gigih untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda yang kemudian berganti dengan Jepang. Bersama Bung Hatta, beliau menyusun rencana pembentukan negara dan menjadi pemimpin bangsa Indonesia.

Soekarno adalah film drama biografi kedua karya Hanung Bramantyo yang sebelumnya sukses mengangkat biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah (2010).

Menampilkan nyaris semua sisi kehidupan sang proklamator, termasuk kehidupan percintaannya, film ini mengurai kisah dari pengasingannya di era penjajahan Belanda hingga pembacaan proklamasi kemerdekaan.

Tentunya kita antusias dengan film biografi seperti ini, terutama bagi penikmat film-film bertema sejarah yang sangat kritis dengan keakuratan fakta yang dihadirkan. Simak review berikut dari film yang sudah bisa ditonton ulang di Netflix ini.

Baca juga: Inilah 10 Film Terbaik Karya Sutradara Hanung Bramantyo

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2013
  • Genre: Biography, History
  • Produksi: Dapur Film, MVP Pictures
  • Sutradara: Hanung Bramantyo
  • Pemeran: Ario Bayu, Lukman Sardi, Maudy Koesnaedi

Yogyakarta, 1929. Soekarno ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda. Cerita kembali ke masa lalu dimana Koesno kecil diganti namanya dalam prosesi ruwatan setelah sering sakit-sakitan menjadi Soekarno yang terinspirasi dari karakter Adipati Karno dalam pewayangan Mahabharata. Di usia remaja, Soekarno muda tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto.

Dia berteman dengan rekan-rekannya yang kelak menjadi para penoreh sejarah Indonesia dengan pemahamannya masing-masing. Disini juga beliau belajar berpidato dari sang guru.

Tahun 1927, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia dan dikenal dengan pidato-pidatonya yang berapi-api. Setelah ditangkap di Yogyakarta, beliau dipindah ke penjara Banceuy di Bandung.

Inggit Ganarsih, istri beliau yang tinggal di Bandung, sering menjenguknya. Tahun 1938, akibat pledoi terkenal “Indonesia Menggugat”, beliau bersama keluarga diasingkan ke Bengkulu.

Soekarno menjadi guru di sekolah Muhammadiyah dan bertemu Fatmawati, salah satu murid yang nanti menjadi istrinya. Beliau dihormati oleh rakyat Bengkulu.

Soekarno jatuh cinta kepada Fatmawati yang membuat Inggit kecewa dan marah. Tahun 1942, Belanda menyerah kepada Jepang.

Dengan kemampuan diplomasinya, Soekarno berusaha menjaga rakyat Bengkulu dari kesadisan tentara Jepang yang tidak segan-segan membunuh siapa pun yang menentang. Soekarno mampu mengumpulkan beras sesuai permintaan Jepang adalah salah satunya saja.

Karena kemampuan ini, beliau dipindahkan oleh pemerintah Jepang ke Jakarta dimana beliau bertemu dengan Moehammad Hatta (Bung Hatta) dan Soetan Sjahrir.

Bung Hatta bisa menjembatani rivalitas Bung Karno dan Sjahrir. Bersama Bung Hatta, Bung Karno menjalani berbagai macam propaganda Jepang dengan janji akan diberikan kemerdekaan.

Dicap sebagai pengkhianat dan pengecut oleh rakyat yang hanya tahu bungkus luarnya saja, dibalik propaganda ini sebenarnya Bung Karno dan Bung Hatta menyusun rencana sendiri untuk pembentukan negara Indonesia yang merdeka.

Bung Karno pun membantu perekrutan pemuda Indonesia untuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) yang menjadi cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Bung Karno mulai gelisah dengan kekejaman Jepang ketika melihat secara langsung rakyat Indonesia yang dijadikan romusha. Atas bantuan Laksamana Maeda, dibentuklah organisasi untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia sesuai janji Jepang kepada beliau.

Sempat terjadi kericuhan di dalam sidang perumusan dasar negara yang akhirnya ditengahi oleh Bung Karno dengan konsep Pancasila-nya.

Golongan pemuda mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia secepatnya karena ternyata Jepang menyerahkan kedaulatan Indonesia kepada Sekutu.

Mereka akhirnya menculik dua pemimpin ini atas izin ketua PETA, Gatot Mangkuprojo, yang menjamin keselamatan mereka berdua. Sjahrir yang tahu hal ini murka dan meminta mereka dikembalikan.

Sekali lagi, Laksamana Maeda membantu para pemimpin Indonesia ini dalam mempersiapkan proklamasi dengan mengundang mereka semua untuk hadir di rumahnya demi menyusun dan merancang rencana proklamasi secepatnya.

Bung Karno menuliskan konsep teks proklamasi dari Bung Hatta dengan dibantu juga oleh Achmad Soebardjo. Setelah selesai, teks asli diketik dan dicetak lalu disebarluaskan.

Akhirnya, pada 17 Agustus 1945, Bung Karno yang sebenarnya dalam keadaan sakit, bersama Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Sehari setelahnya disusun kabinet kementrian untuk menjalankan pemerintahan dan Undang-Undang Dasar Negara serta memilih Soekarno sebagai presiden dan Moehammad Hatta sebagai wakil presiden.

Komplit, tapi Kurang Dalam

Komplit, tapi Kurang Dalam

Film biografi identik dengan cerita menyeluruh dari sang tokoh, jika tidak memilih satu fase saja dalam kisah hidupnya. Soekarno mencoba merangkum kisah hidup Bung Karno sejak kecil hingga peristiwa proklamasi kemerdekaan.

Tentunya ini tugas yang tidak mudah bagi Ben Sihombing untuk memilah dan memilih bagian mana saja yang harus ditampilkan dan membuatnya menjadi jalan cerita yang menarik.

Mengingat tokoh proklamator ini adalah orang yang aktif dalam berorganisasi dan berpolitik, rentang waktu antara berguru kepada Tjokroaminoto hingga proklamasi dipenuhi banyak cerita yang rasanya sulit untuk ditinggalkan, termasuk rumitnya kisah cinta beliau.

Sisi percintaan ini lumayan mendapat tempat di dalam film yang berguna untuk memancing emosi, terutama bagi karakter Inggit Ganarsih.

Proses berpolitik dan perjuangan Bung Karno juga coba ditampilkan secara kronologis, meski hanya sepintas-sepintas, hingga dua hal penting dalam perjuangan beliau, yaitu pengajuan konsep Pancasila dan pembacaan proklamasi kemerdekaan.

Tidak terasa durasi film menjadi panjang, yaitu 2 jam 17 menit. Tapi berkat ritme film yang stabil, semua tidak terasa. Dengan durasi sepanjang itu, masih banyak lubang cerita yang kurang digali dengan dalam, yang paling banyak ialah latar belakang para karakternya.

Kita tidak tahu latar belakang kehidupan Inggit Ganarsih, meski rasa kecewa dan sedihnya bisa kita rasakan saat melihat Maudy Koesnaedi mengamuk dan menangis karena suaminya menyukai wanita lain.

Juga perjumpaan Bung Karno dengan Bung Hatta yang kurang relate dan hadir secara mendadak, serta karakter Sjahrir yang selalu meledak-ledak saat bicara. Belum lagi tidak ada penjelasan pasti tentang sang saka merah putih yang dijahit oleh Fatmawati. Semua ini sebenarnya masih bisa digali lagi tapi dengan konsekuensi durasi film akan semakin panjang.

Akting Menawan dari Para Pemerannya

Akting Menawan dari Para Pemerannya

Memerankan seorang tokoh sejarah dalam film adalah beban tersendiri bagi seorang aktor dan aktris. Jika dia mampu mengembannya, akan menuai pujian dan raihan banyak penghargaan. Tapi bila gagal, sudah pasti karir aktingnya akan meredup. Pertaruhan ini dihadapi Ario Bayu dengan berani.

Secara fisik, wajahnya tidak begitu mirip dengan Soekarno, tapi dia mampu menampilkan kharisma dan flamboyan dari Sang Proklamator. Pidato berapi-api khas Bung Karno berhasil dia bawakan dengan baik, juga pesona cintanya setiap kali berada di dekat karakter Inggit dan Fatmawati sangat terlihat.

Kesuksesannya membawakan sosok Soekarno mampu menepis kritikan Rachmawati Soekarnoputri yang menginginkan Anjasmara (yang juga adalah anak suaminya) sebagai pemeran sosok ayahnya.

Meski sudah diajukan ke pengadilan, nyatanya Hanung Bramantyo tetap teguh pada pendiriannya dan melanjutkan proses produksi hingga film berhasil dirilis.

Walhasil, film dengan sinematografi yang apik ini cukup sukses dan meraih empat Piala Citra di kategori Editing Terbaik, Tata Artistik Terbaik, Tata Busana Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Tika Bravani yang berperan sebagai Fatmawati yang sangat mengesankan dengan logat khas Sumatera-nya.

Soekarno dalam Bingkai Sejarah

Soekarno dalam Bingkai Sejarah

Soekarno adalah sosok penting dalam kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah proklamator dan juga presiden pertama bagi bangsa ini. Pemahaman Nasionalisnya berada di tengah-tengah paham yang dianut dua rekannya sesama murid Tjokroaminoto, yaitu Semaoen yang berpaham Komunis dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang berpaham Islam.

Dengan keahlian diplomasi dan pidato-pidatonya yang bisa membakar semangat perjuangan, beliau menjadi rebutan para penjajah dalam menjalankan propaganda mereka, tapi berkat keahlian berpolitiknya, beliau bersama para pemimpin bangsa lainnya berhasil memerdekakan Indonesia secara mandiri, bukan sebagai hadiah dari pemerintah Jepang.

Banyak yang tidak paham dengan strategi politiknya, yang dari luar beliau tampak seperti boneka penjajah, padahal di balik itu semua, beliau rela mati demi merdekanya bangsa ini. Beliau lebih mementingkan keselamatan rakyat daripada gegabah melakukan perang terbuka dengan penjajah.

Semoga jasa beliau dalam membela bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia mendapat balasan pahala yang besar dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dan di dalam film ini, yang menurut sutradaranya semua sesuai fakta sejarah, kita bisa menyaksikan perjuangan beliau dalam berdiplomasi, membela rakyat, merencanakan kemerdekaan dan merancang bentuk negara secara lengkap.

Setidaknya ada dua adegan yang sangat memukau dalam film Soekarno ini, yaitu pada saat beliau mengajukan konsep Pancasila dan pembacaan proklamasi kemerdekaan.

Dalam sidang perumusan dasar negara yang sempat ricuh, Bung Karno maju ke podium dan mengajukan konsep dasar negara miliknya yang ketika penyebutannya diiringi dengan potongan-potongan adegan dalam film.

Adegan ini menjadi rangkuman film dan terasa seperti puncak cerita dari film ini. Tapi tentunya kita menunggu adegan ketika pembacaan proklamasi, bukan?

Meski tensi terasa agak sedikit turun, tetapi ketika adegan ini muncul yang juga diiringi dengan suara asli dari Soekarno membuat kita dipastikan akan terharu, seolah kita berada di saat momen bersejarah itu.

Soekarno menambah satu lagi khazanah film biografi bersejarah dari pahlawan Indonesia yang bernilai autentik tinggi. Kedetailan penggarapannya menjadi nilai lebih tersendiri.

Menjadi film yang didaftarkan ke Academy Awards meski gagal masuk nominasi, menjadikan film ini berada di dalam radar film yang wajib ditonton. Bagi yang belum sempat menyimaknya, kini sudah bisa ditonton di Netflix.

Soekarno
Rating: 
3.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram