bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Saving Private Ryan (1998)

Ditulis oleh Jihan Fauziah - Diperbaharui 23 September 2021

Rasanya nggak ada yang nggak kenal sama film Saving Private Ryan, ya? Film yang disutradarai Steven Spielberg ini meraih banyak penghargaan dan dinobatkan sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa.

Saving Private Ryan meraih total pendapatan box office hingga USD 400 juta, dengan budget yang 'hanya' USD 40 jutaan saja. Film ini menerima banyak respon positif dari para kritikus film, lho. Penasaran, sama film satu ini? Simak sinopsis dan review film Saving Private Ryan dari kami.

Sinopsis

  • Tahun rilis: 1998
  • Genre: Drama, War
  • Produksi: DreamWorks Pictures, Paramount Pictures
  • Sutradara: Steven Spielberg
  • Pemeran: Tom Hanks, Matt Damon, Edward Burns, Tom Sizemore

Kapten John F. Miller (Tom Hanks) adalah seorang anggota tentara Amerika Serikat yang tergabung dalam 2nd Ranger Batallion. Ia ikut berperang bersama ribuan tentara lainnya saat terjadi pertempuran di lepas pantai Omaha, tahun 1944 silam.

Beberapa hari kemudian, Miller ditugaskan untuk mencari seorang prajurit bernama James Francis Ryan (Matt Damon) dan membawanya pulang untuk kembali ke keluarganya.

Perintah untuk membawa pulang Ryan bukanlah tanpa alasan. Tiga saudara Ryan telah gugur di medan perang. Salah satunya adalah Sean, yang tumbang di pertempuran berdarah Pantai Omaha. Ibunya tak memiliki siapa-siapa lagi selain James Ryan. Untuk itulah, Ryan harus pulang dan kembali pada sang ibu.

Kapten Miller menyetujui perintah tersebut. Ia membawa tujuh orang rekannya untuk ikut bersama dalam misi pencarian prajurit Ryan.

Mereka adalah Pratu Richard Reiben (Edward Burns), Sersan Mike Horvath (Tom Sizemore), Prajurit Stanley Mellish (Adam Goldberg), Irwin Wade (Giovanni Ribisi), Pratu Adrian Caparzo (Vin Diesel). Kopral Timothy Upham (Jeremy Davies) dan Prajurit Daniel Jackson (Barry Pepper).

Mereka kemudian memulai perjalanan dalam misi pencarian Prajurit Ryan. Kedelapan tentara ini bergerak menuju wilayah Neuville. Di tengah-tengah perjalanan, mereka bertemu dengan satu keluarga yang merupakan orang Jerman. Ayah dari keluarga itu ingin para tentara Amerika ini membawa sang putri.

Tentu saja putri kecilnya menangis dan menolak untuk dibawa oleh para tentara. Dan Kapten Miller pun sama sekali tak setuju. Namun Caparzo malah menggendong gadis kecil itu dan membawanya sembunyi.

Saat itu, ia terus merengek hingga menimbulkan suara berisik. Beberapa saat kemudian, Pratu Caparzo tewas tertembak oleh penembak jitu dari tentara Jerman, Ia menitipkan surat yang ditulisnya kepada rekan-rekannya, dan meminta agar surat tersebut ditulis ulang karena yang aslinya sudah berlumuran darah.

Mereka akhirnya mengembalikan gadis kecil itu pada orangtuanya, dan melanjutkan perjalanan sampai akhirnya mereka menemukan seorang prajurit bernama James Ryan (Nathan Fillion). Sayangnya, orang yang mereka temukan bukanlah prajurit Ryan yang dimaksud.

Akhirnya, ketujuh tentara ini melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari Prajurit James Francis Ryan yang masih tak diketahui keberadaannya. Tentu, dalam perjalanannya, ada banyak halang rintang yang menanti mereka.

Bahkan, ketujuh orang ini harus siap-siap dengan kematian yang mengintai kapan saja. Akankah mereka berhasil menemukan Prajurit Ryan? Saksikan langsung kelanjutan kisahnya dengan menonton filmnya.

Diilhami dari Kisah Niland Brothers

Kisah penyelamatan Prajurit Ryan di Saving Private Ryan terinspirasi dari peristiwa yang menimpa Niland Brothers. Mereka adalah empat bersaudara asal Amerika Serikat yang ikut berperang saat Perang Dunia II berkecamuk di masa lalu.

Tiga di antaranya dinyatakan tewas. Dan salah satu dari mereka, yakni Frederick Niland, masih hidup. Akhirnya, Niland kembali pulang ke Amerika Serikat setelah mengetahui kabar berita tentang saudaranya yang telah tiada.

Yap, tokoh Private Ryan yang ada di film Saving Private Ryan terinspirasi dari Frederick NIland. Dalam film, James Ryan digambarkan jadi anak termuda dari keempat bersaudara ini, dan ia merupakan seorang paratrooper atau anggota pasukan penerjun.

Begitu pula dengan di dunia nyata. Frederick Niland adalah anak bontot dari enam bersaudara (empat laki-laki, dua perempuan) dari keluarga Niland. Ia juga merupakan seorang paratrooper.

Dua kakaknya, Preston dan Robert dinyatakan tewas setelah berjuang dalam pertempuran di Normandia. Sementara satu kakaknya lagi, Edward, yang sebelumnya dinyatakan tewas, ternyata masih hidup dan sempat menjadi tawanan di Burma selama kurang lebih satu tahun lamanya.

Suasana Peperangan yang Begitu Nyata

Kalau kamu baru pertama kali menonton film ini, silakan siapkan diri dan nyalimu, ya. Apalagi kalau kamu nggak suka lihat adegan berdarah-darah. Kenapa?

Karena sejak dua puluh menit pertama film ini dimulai, kamu sudah disuguhi dengan pemandangan tak mengenakkan dari potongan tubuh manusia, darah berceceran dan teriakan yang memilukan dari para tentara yang terluka.

Kamu pun akan melihat pemandangan mengenaskan dari mayat-mayat tentara yang terbujur kaku di atas pasir. Apa yang kami saksikan di layar adalah gambaran situasi pertempuran yang begitu nyata, sampai-sampai kami dibuat ketakutan dan merasakan ketegangan luar biasa.

Kami jadi teringat dengan film-film perang lainnya yang memiliki tingkat kengerian yang sama. Salah satunya adalah film Full Metal Jacket (1987) karya Stanley Kubrick yang tak kalah menegangkan.

Apa yang kami rasakan juga ternyata dialami oleh kritikus Roger Ebert. Ebert mengungkapkan bahwa dirinya tidak sanggup saat melihat beberapa tentara tewas seketika dengan kondisi yang mengenaskan, walaupun ia tahu bahwa ini adalah sebuah film. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa, special effect film-nya sangatlah bagus.

Bukan hanya itu saja, Spielberg sebagai sutradaranya, menginginkan lokasi shooting dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Kabarnya, scene di Omaha Beach bahkan menelan biaya produksi lebih dari USD 10 juta.

Tentara Juga Manusia

Sinopsis dan Review Film Saving Private Ryan (1998) 4Sumber: https://www.looper.com/

Biasanya, saat kita melihat tokoh protagonis dalam film perang, sang tokoh utama akan digambarkan begitu sempurna dan tanpa cela. Contohnya seperti dalam film Pearl Harbor (2001), sang tokoh utamanya, Rafe McCawley (Ben Affleck) digambarkan sebagai sosok hero yang sangat keren, bahkan saat pesawatnya mengalami kecelakaan dan terjun ke laut, Rafe masih hidup.

Tentu, siapa saja akan menilai bahwa karakterisasi seperti ini tidak realistis. Walau pada kenyataannya, mungkin saja seseorang bisa selamat saat mengalami peristiwa serupa.

Di film Saving Private Ryan, kamu tak akan melihat para tokoh utamanya terus menerus selamat dan bebas dari kematian dan bahaya. Kapten John F. Miller yang menjadi main protagonist di film ini pun, tak lepas dari ancaman kematian, lho.

Dalam film ini, Miller digambarkan sebagai seorang hero yang nyaris sempurna. Ia adalah tokoh pemimpin yang bijaksana, jago bertempur dan rela mati demi orang lain.

Tapi, film ini tak hanya menonjolkan sisi sempurna yang dimiliki Miller. Dalam beberapa adegan, kami menyaksikan Miller ketakutan, menangis dan tangannya selalu gemetar. Belakangan kami mengetahui bahwa Miller mengalami Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD.

PTSD sendiri merupakan gangguan stres pascatrauma yang banyak dialami para tentara. Kondisi mental ini biasanya diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa traumatis yang dialami penderita.

Again, bisa kami simpulkan bahwa film ini benar-benar mengangkat sisi realistis dan juga humanis dari sebuah peristiwa peperangan. Kami bahkan tak kuasa menahan air mata ketika melihat Kapten Miller menangis, menunjukkan bahwa sekuat dan sehebat apa pun seorang tentara, mereka juga tetap manusia.

Penampilan Sempurna dari Tom Hanks

Sinopsis dan Review Film Saving Private Ryan (1998) 6Sumber: https://style.tribunnews.com/

Menurut kami, Tom Hanks benar-benar sukses memerankan Kapten John F. Miller di film ini. Perannya sebagai Kapten John F. Miller di film ini bahkan membawa suami Rita Wilson ini masuk nominasi untuk kategori Best Actor di Academy Awards yang ke-71.

Selain kategori Best Actor, Saving Private Ryan juga masuk nominasi untuk 10 kategori lainnya di Academy Awards. Film ini berhasil memenangkan lima kategorinya, lho. Salah satunya adalah untuk kategori Best Cinematography.

Overall, kami pribadi merasa puas dengan film satu ini. Tidak heran mengapa Saving Private Ryan dinobatkan menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa. So far, film perang terbaik ini jadi satu dari sekian banyak film ber-genre serupa yang sudah kami tonton.

Sampai di sini pembahasan tentang sinopsis dan review film Saving Private Ryan dari kami. Kalau kamu nonton film ini, jangan lupa bagikan pendapat kamu di kolom komentar yang ada di bawah.

Saving Private Ryan
Rating: 
4.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram