Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Rebecca (2020), Remake Film Klasik

Sinopsis dan Review Film Rebecca (2020), Remake Film Klasik

Ditulis oleh - Diperbaharui 24 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Seorang pengantin baru tiba di rumah megah milik keluarga suaminya di tepian pantai Inggris yang berangin kencang. Dia berjuang melawan bayang-bayang istri pertama suaminya, Rebecca, yang meninggalkan banyak kenangan dan warisannya di rumah itu. Lily James, Armie Hammer, dan Kristin Scott Thomas membintangi psychological thriller yang merupakan adaptasi dari novel best-seller ini.

Rebecca menjadi adaptasi ketiga dari novel karya Daphne du Maurier yang diterbitkan di tahun 1938 silam. Adaptasi pertama karya Alfred Hitchcock di tahun 1940 adalah yang tersukses dengan meraih dua Oscar, salah satunya adalah Best Picture, dan 9 nominasi lainnya di ajang Academy Awards. Sedangkan adaptasi keduanya adalah miniseri dua episode produksi Inggris dan Jerman pada tahun 1997.

Beban berat dalam membuat remake film klasik, apalagi itu karya sutradara legendaris, dari novel laris yang dikenal banyak orang, membuat sutradara Ben Wheatley harus bekerja ekstra keras dalam mengerahkan kemampuannya di bidang sinema. Apakah hasilnya sesuai harapan? Simak ulasan kami tentang original film Netflix yang dirilis pada 21 Oktober 2020 ini.

Sinopsis

Film Rebecca (2020)

*https://bookriot.com/rebecca-netflix-trailer/

  • Tahun: 2020
  • Genre: Drama / Mystery / Romance / Thriller
  • Produksi: Netflix, Working Title Films
  • Sutradara: Ben Wheatley
  • Pemeran: Lily James, Armie Hammer, Kristin Scott Thomas

Seorang wanita muda (Lily James), yang tidak disebutkan namanya sepanjang film, menjadi staf dari seorang wanita kaya yang sedang berlibur di Monte Carlo. Disana dia bertemu dengan seorang duda kaya bernama Maxim de Winter (Armie Hammer) yang langsung jatuh hati padanya dan menikahinya. Setelah berbulan madu, mereka menuju rumah keluarga Maxim di Manderley.

Di rumah megah itu, Mrs. de Winter (panggilannya di rumah itu), diterjang sisi psikologisnya oleh orang-orang di sekitar suaminya, khususnya oleh Mrs. Danvers (Kristin Scott Thomas). Mrs. Danvers selalu membandingkan dirinya dengan mendiang istri pertama suaminya, Rebecca, dalam segala hal. Bahkan secara langsung dia menganggap bahwa Mrs. de Winter tidak pantas menggantikan Rebecca.

Dia pun langsung menganggap jika Maxim masih mencintai mendiang istri pertamanya. Mrs. Danvers terus menerus menekan sisi psikologisnya hingga mentalnya nyaris rapuh. Kemudian dia berinisiatif untuk mengadakan pesta seperti yang pernah dilakukan oleh Rebecca dahulu. Mrs. Danvers berhasil meyakinkannya untuk menggunakan gaun yang sama dengan yang ada di lukisan favorit Maxim.

Di saat dia turun memamerkan gaun itu, Maxim langsung marah dan menyuruhnya untuk mengganti gaun itu. Setelah pesta usai, Mrs. Danvers semakin gigih menyudutkannya yang menganggap jika dirinya mencoba menggantikan posisi Rebecca dan juga mengungkapkan kisah setianya kepada Rebecca. Di titik itu, dia merasa tidak berdaya dan hampir saja loncat dari jendela.

Tiba-tiba ada keramaian di pantai tentang ditemukannya sebuah perahu dengan jasad wanita di dalamnya. Setelah hasil otopsi, ternyata jasad itu diidentifikasikan sebagai Rebecca yang langsung menyeret Maxim ke dalam persidangan pidana atas tuduhan pembunuhan.

Dalam sebuah kesempatan, Maxim akhirnya mengaku kepadanya jika dia tidak mencintai Rebecca dan membuka semua perilaku mantan istrinya itu yang sangat memalukan, tapi berhasil menarik hati orang-orang di sekitarnya sehingga menganggap sosoknya adalah istri yang sempurna. Puncaknya adalah ketika Rebecca mengaku sedang hamil tapi bukan dari Maxim, membuat Maxim menembak mati Rebecca.

Mayatnya dia sembunyikan di dalam perahu yang sudah dirusaknya dan ditenggelamkan ke laut. Jack Favell, sepupu sekaligus kekasihnya, memeras Maxim dengan ancaman akan memberitahukan kejadian pada malam Maxim membunuh Rebecca dengan bukti surat dari Rebecca untuknya. Setelah dipukul oleh Maxim, Favell meminta uang sebesar 10.000 poundsterling untuk menutup mulutnya.

Ternyata di persidangan, setelah Mrs. Danvers memberikan kesaksian, Favell berontak dan menuduh Maxim sebagai pembunuh. Dia kemudian mengunjungi dokter yang diduga mengetahui perihal kehamilan Rebecca di London. Setelah menyelinap, meski akhirnya ketahuan, dokter menyatakan jika Rebecca mengidap kanker ganas yang membuatnya tidak bisa hamil dan akan mati dalam beberapa bulan.

Dia kemudian menyatakan jika hal itulah yang membuat Rebecca memilih untuk bunuh diri, yang kemudian juga dikuatkan oleh pernyataan Mrs. Danvers. Kemudian dia memecat Mrs. Danvers yang ternyata membakar rumah megah itu sebelum loncat dari tebing dan tewas di hadapannya. Setelah itu, dia dan Maxim berusaha melupakan masa lalu dan mencari rumah idaman baru bagi mereka.

(“Dia” dalam sinopsis ini adalah kata ganti untuk karakter yang diperankan oleh Lily James yang sepanjang film tidak disebutkan namanya, hanya setelah menikah dipanggil dengan nama Mrs. de Winter.)

Perlukah Membuat Remake Film Klasik Peraih Oscar?

Perlukah Membuat Remake Film Klasik Peraih Oscar

*https://www.imdb.com/title/tt2235695/mediaviewer/rm3198594305

Pertanyaan ini tentu saja selalu dilayangkan ketika banyak sineas di era modern ini mencoba untuk me-remake film-film yang sudah berstatus klasik, apalagi yang banyak meraih penghargaan. Begitu pun yang terjadi pada Rebecca. Film Rebecca di tahun 1940 silam sudah sangat superior dengan titel Best Picture dari Oscar, sehingga menjadi pertaruhan tersendiri ketika mereka ulang film seperti itu.

Terbukti dengan apa yang dihadirkan dalam Rebecca versi baru ini. Layaknya sebuah mobil Rolls-Royce yang diikuti oleh mata semua orang, mobil itu kemudian jatuh di tikungan dan terjun ke dalam jurang yang cukup dalam. Begitu proyek ini dimulai, semua pecinta film sudah menunggu akan seperti apa remake ini, apalagi dibintangi oleh Lily James dan Armie Hammer.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan akting mereka berdua, hanya saja naskah yang lemah tidak mampu membawa karakter mereka lebih dalam lagi. Kelemahan naskah yang ditulis oleh Jane Goldman, Joe Shrapnel, dan Anna Waterhouse tidak mampu menembus lebih dalam yang bisa menyesuaikan nuansa klasik nan mencekam yang sudah sangat baik ditampilkan oleh bagian cinematography-nya.

Terutama ketika mendekati ¼ akhir film, dimana ritme film terasa dipercepat dan sepertinya banyak hal yang diabaikan. Tapi kita tidak akan tahu apa saja yang diabaikan, hanya saja terasa seperti ada yang hilang dalam jalur ceritanya. Inilah tikungan tajam yang membuat Rolls-Royce tadi jatuh ke jurang. Apakah penumpang mobil itu selamat atau tidak?

Akting Memukau dari Para Pemain

Akting Memukau dari Para Pemain

*https://www.imdb.com/title/tt2235695/mediaviewer/rm4021134593

Lily James dan Armie Hammer sebagai tokoh utama membawakan karakternya dengan baik, terutama di awal film. Hammer mampu menampilkan kharisma yang bisa membuat semua wanita, dan James menampilkan keluguannya dalam hal percintaan. Ketika seting lokasi berpindah ke Manderley, semua berubah seketika disesuaikan dengan kesan antik di rumah megah itu.

Karakter Maxim berubah menjadi cenderung pendiam, tegas dan mudah marah yang membuat kita bingung karena tanpa alasan pasti. Tapi tenang saja, semua akan dijawab pada pernyataannya menjelang akhir film kenapa sikapnya bisa berubah. Sementara itu, James bisa menampilkan sisi rapuhnya, meski mencoba tetap tegar, dan akhirnya menjadi gigih membela suaminya di penghujung film.

Tidak ada yang salah dengan akting mereka, dan ini menjadi satu poin penyelamat Rebecca. Satu faktor lagi yang sebenarnya mampu mengangkat film ini ialah akting memukau dari Kristin Scott Thomas yang dingin, misterius, dan kejam. Tidak hanya lewat dialog yang diucapkannya yang menusuk hati, bahkan kedipan matanya juga mencerminkan betapa jahatnya dia.

Intinya, penumpang Rolls-Royce tadi masih bisa selamat dari kecelakaan fatal di jurang itu. Dengan nuansa klasik yang mencekam, lokasi seting yang indah, dan variasi kostum yang cantik, film ini bisa tampil lebih baik lagi jika saja tidak dikendorkan oleh naskah yang lemah.

Berusaha Keluar dari Bayangan

Berusaha Keluar dari Bayangan

*https://www.imdb.com/title/tt2235695/mediaviewer/rm4004357377

Rebecca berusaha keluar dari bayangan film klasik yang sukses dan berusaha tampil sebagai film adaptasi novel saja. Sama halnya dengan karakter yang diperankan oleh Lily James yang berusaha keluar dari bayangan Rebecca di rumah megah di Manderley itu. Perlu dicatat, Manderley hanyalah lokasi fiktif yang diciptakan penulis novel untuk menggambarkan daerah tepian pantai Inggris yang indah.

Untuk menampilkan rumah megah di Manderley di film ini, tim produksi menggunakan enam rumah megah di sekitar Dorset dan Devon di tepian pantai Inggris. Setiap bagian dari rumah megah keluarga de Winter ini mengambil lokasi syuting dari enam rumah megah itu, seperti eksteriornya, selasar, taman belakang, sayap kanan dan kiri rumah, tangga, ruangan penuh lukisan, dan dapur.

Kembali ke bayangan, ternyata film ini tidak bisa keluar dari bayangan film aslinya dan gagal menancapkan jati diri baru di sinema modern. Tapi, secara keseluruhan, film ini tidak buruk, bisa dibilang berada sedikit saja di bawah standar film bagus. Menarik untuk disimak, hanya saja tidak menyentuh intisari novelnya sama sekali sehingga ini yang membedakan dengan film klasiknya.

Pada akhirnya, Rebecca adalah film yang memiliki cerita yang menarik penuh misteri dengan beragam nuansa. Awalnya terasa romantis, ditengah penuh kemisteriusan, dan diakhiri dengan drama pengadilan, yang sangat disayangkan adalah semua nuansa itu tidak didukung oleh naskah yang baik dan menjadi kendor di akhir film.

Film ini tetap enak untuk disimak, apalagi dengan chemistry yang cukup padu antara Armie Hammer dan Lily James, serta akting penuh kesinisan dari Kristin Scott Thomas. Bagi pecinta film generasi modern yang belum pernah menonton film klasiknya, mereka tidak akan terpengaruh dan tidak akan berusaha membandingkannya pula. Dan inilah cara terbaik mengapresiasi film ini. Selamat menonton!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *