Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review Film Polar, Pembunuh Diambang Pensiun!

Sinopsis & Review Film Polar, Pembunuh Diambang Pensiun!

Ditulis oleh - Diperbaharui 9 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Kita tahu bahwa perfilman Hollywood bak memiliki trend. Ketika Speed milik Keanu Reeves booming, tema penjahat tukang bom juga tampil di film lain. Ketika Olympus Has Fallen muncul, film yang mengisahkan serangan terhadap Gedung Putih juga bisa kita lihat di film lain. Saat Marvel dan DC berlomba untuk meraih hati para fans, waralaba Fast and Furious berubah menjadi G.I. Joe.

Kita tidak tahu, apakah John Wick bakalan menjadi tren baru atau tidak. Meski sebenarnya, film action yang tampak begitu ‘keras’ telah lama eksis, sejak jaman almarhum aktor Charles Bronson. Ketika kita menemukan bahwa John Wick adalah jagoan baru di kancah film laga, film yang satu ini pun muncul.

Polar adalah sebuah film yang diangkat dari judul cergam milik salah satu penerbit komik besar di Amerika Serikat, yaitu Dark Horse Comics. Bisa disaksikan melalui jaringan Netflix, mari kita bahas bersama-sama seperti apa film yang dibintangi oleh aktor Mads Mikkelsen ini.

Sinopsis

Film Polar

*https://budomate.com/polar-movie-review/

  • Tahun rilis: 2019
  • Genre: Action, noir
  • Produksi: Constantin Film, Dark Horse Entertainment
  • Sutradara: Jonas Akerlund
  • Pemeran: Mads Mikkelsen, Vanessa Hudgens, Katheryn Winnick, Matt Lucas

Di Chili, seorang pria kaya raya tampak tengah menikmati kehidupannya bersama seorang gadis yang seksi dan menggoda bernama Sindy (Ruby o. Fee). Pria bernama Michael Green (Johnny Knoxville) tersebut menyebut bahwa dirinya tengah menikmati masa pensiunnya. Sambil menikmati narkoba, Michael tidak menyadari bahwa ada sekelompok orang yang bermaksud membunuh dirinya.

Tepat di saat Michael bermaksud bersenang-senang bersama Sindy, sebuah peluru yang berasal dari senapan seorang sniper bernama Facundo (Anthony Grant) menerjangnya. Rupanya, Sindy telah mengalihkan perhatian Michael.

Lantas sekonyong-konyong, dua orang lain yang dikenal dengan nama Alexei (Josh Cruddas), dan Hilde (Fei Ren) muncul, kemudian menghabisi pria tersebut. Aksi mereka kemudian diakhiri dengan seseorang bernama Karl (Robert Maillet) menjemput teman-temannya itu dengan sebuah helikopter. Kelimanya beranjak menikmati kesuksesan mereka diiringi lagu September dari grup Earth, Wind & Fire

Di tempat lain, seorang pembunuh bayaran veteran bernama Duncan Vizla yang memiliki julukan Black Kaiser bermaksud untuk menjalani hari-hari terakhirnya sebagai seorang jagal profesional dengan damai. Selama ini, ia bekerja untuk sebuah kelompok kirminal bernama Damocles dan dalam 14 hari, Duncan akan berulang tahun yang ke-50, abats usia maksimal untuk bekerja sebagai agen Damocles.

Namun atasan Duncan yaitu seorang wanita bernama Vivian (Katheryn Winnick) bermaksud untuk memberikan tugas terakhir bagi Black Kaiser. Rupanya, sang pembunuh tidak ingin memenuhi permintaan tersebut. Ia bermaksud untuk benar-benar mengakhiri profesinya tersebut. Apalagi, ada trauma yang sepertinya selalu menghantui Duncan.

Tapi, Vivian dan Damocles tidak menyerah. Mereka terus menghubungi Duncan yang memilih untuk mengasingkan diri di kawasan Montana. Sementara di sana, ia nampak menaruh perhatian pada seorang wanita muda bernama Camille (Vanessa Hudgens) yang tinggal tepat di seberang kabinnya.

Pada akhirnya, Duncan memilih untuk memenuhi permintaan kelompok Damocles. Yaitu menjalankan sebuah tugas penting di negara Belarusia. Tanpa diketahui oleh Duncan, pemimpin Damocles yang disebut Blut (Matt Lucas) memiliki rencana untuk mengencangkan ikat pinggang organisasi tersebut. Namun, ia melakukannya dengan cara licik.

Blut bermaksud untuk menghentikan dana pensiun bagi mantan orang-orang sewaannya. Dengan cara, membunuh mereka sehingga Damocles tidak perlu mengucurkan dana pensiun bagi para pembunuh profesional tersebut.

Tidak ada pilihan lain bagi Duncan untuk menjalankan misi di Belarusia. Ketika menjalankan tugasnya tersebut, sang Black Kaiser menemukan bukti bahwa misi yang ia jalani tersebut merupakan sebuah agenda rahasia untuk menyingkirkan dirinya.

Meski begitu, Duncan tidak mau memikirkannya lebih lanjut dan kembali ke Amerika Serikat. Ia kemudian semakin akrab dengan Camille, bahkan berkat wanita tersebut, ia menjadi seorang guru di sebuah sekolah lokal. Sementara itu, di bawah pimpinan Hilde, kelompok yang terdiri dari Facundo, Alexei, Karl dan Sindy berusaha memburunya.

Setelah mendatangi akuntan pribadi Duncan, kelompok yang kemudian bertambah dengan kehadiran seorang gadis pemadat bernama Junkie Jane (Lovina Yavari) berhasil mengetahui keberadaan si Black Kaiser. Mengandalkan Sindy sebagai umpan, Hilde dan kawan-kawan telah bersiap untuk menyingkirkan Duncan selamanya.

Adegan Laga yang Agak Berlebihan

Adegan Laga yang Agak Berlebihan

*https://www.filmaffinity.com/en/movieimage.php?imageId=788795128

Karena film ini merupakan sebuah film action, hal pertama yang akan kita bahas adalah adegan laganya. Dan untuk hal yang satu ini, Polar tidak perlu diragukan. Dari menit-menit awal, kita sudah disuguhkan dengan tubuh yang didera timah panas berkali-kali. Tapi adegan dimana tokoh Michael Green dihabisi oleh tiga orang sekaligus itu belum apa-apa. Kasihan Johnny Knoxville.

Selanjutnya, kita akan dibawa pada aksi Duncan yang tidak kalah sangarnya. Malahan, melebihi adegan di awal. Kita bisa melihat tokoh yang dimainkan Mads Mikkelsen ini memanfaatkan benda-benda yang ia bawa untuk melumpuhkan lawannya. Di satu sisi, adegan-adegan ini juga sepertinya tidak realistis.

Contohnya, Michael yang masih bisa berbicara lancar padahal tubuhnya terkena bidikan senapan sniper, atau juga ketika Duncan ‘menyiksa’ salah satu anggota geng Meksiko di Belarusia. Tapi mungkin ini memang adalah salah satu elemen yang ingin ditampilkan oleh Jonas Akerlund, selaku sutradara. Dalam kata lain, Jonas mungkin ingin filmnya memiliki nuansa B-Movie.

Nuansa Noir Komikal

Nuansa Noir Komikal

*https://www.filmaffinity.com/en/movieimage.php?imageId=409551636

Salah satu hal yang patut diacungi jempol dari Jonas sebagai nahkoda film ini adalah, ia tidak melupakan bahwa kisah yang ia garap diangkat dari komik. Kesan komik dalam Polar bisa kita lihat dalam permainan warna yang digunakan oleh dalam film ini. Meski di satu sisi tema noir menguasai karena para pemeran yang menggunakan pakaian berwarna gelap, beberapa orang tampil dengan penampilan yang mencolok.

Film Batman karya Christopher Nolan adalah salah satu contoh bagaimana sang sutradara mampu menampilkan kesan noir yang terasa sangat kental dalam filmnya. Penampilan Joker atau Two Face yang dalam komik sering mengenakan pakaian berwarna kontras, mampu hadir senada dengan nuansa yang Nolan ciptakan.

Tapi Jonas bisa dikatakan memiliki selera Batman ala Tim Burton. Di samping nuansa noir yang kental, warna-warna yang mencolok hadir namun menyatu dengan begitu baik tanpa membuatnya berkesan tidak seimbang.

Seperti karakter Vivian dan Blut yang muncul dengan pakaian nyentrik. Warna pakaian mereka terlihat padu dengan kesan kelam yang Jonas tampilkan tanpa membuat mereka begitu menonjol atau terasa terlalu mencolok.

Lantas, beberapa perpindahan adegan dalam Polar juga bagai ingin membawa penonton membaca sebuah komik. Transisi perpindahan dari satu adegan ke adegan lain seringkali bagai sebuah halaman buku yang dibuka dari kanan ke kiri, atau tampilan editing yang biasa disebut dengan tampilan page turn.

Ceritanya Biasa Saja

Ceritanya Biasa Saja

*https://theplaylist.net/polar-netflix-review-20190124/

Film yang diadaptasi dari sebuah webcomic karya Victor Santos ini memang memiliki cerita yang dapat dikatakan standar. Elemen yang ada di dalamnya bisa kita temukan di berbagai judul lain. Ya, temanya sangat mirip dengan John Wick. Seorang pembunuh bayaran yang ingin mengakhiri karirnya dan hidup damai.

Karakter sang Black Kaiser pun mirip dengan tokoh yang diperankan oleh Keanu Reeves tersebut. Dingin, panjang akal, dan sama-sama ditakuti di seantero dunia kelam karena keahlian yang ia miliki. Tapi, ada satu hal unik dari Duncan Vizla. Ia adalah seorang yang dermawan.

Saat menjalani tugasnya di Belarusia, Duncan sempat memberikan sebagian uang hasil pekerjaan kotornya pada wanita PSK yang sepertinya dikisahkan memiliki kedekatan dengannya, agar putra dari wanita tersebut terjamin masa depannya.

Duncan juga selalu menyisihkan sedekah sebesar 200.000 USD dari setiap penghasilannya. Di akhir kisah, kita akan mengetahui latar belakang mengapa ia selalu menyisihkan uang dengan jumlah yang cukup besar itu setiap bulannya.

Lantas, layaknya beberapa jagoan lain, sang tokoh utama juga sepertinya menyimpan sebuah trauma yang menghantui hari-harinya. Ya, terlalu standar memang. Tapi paling tidak, bayang-bayang masa lalu Duncan ini menjadi sebuah petunjuk plot twist yang ada dalam film ini.

Film Dewasa

Film Dewasa

*https://www.filmaffinity.com/en/movieimage.php?imageId=533973310

Kami ingatkan, bagi kamu yang ingin menonton Polar, pastikan tidak ada anak-anak di bawah umur di sekitarmu. Di luar negeri, rating film ini termasuk dalam rated R, atau restrict. Karena seperti yang kita bahas di awal tadi, unsur kekerasan dalam Polar memang sangat menonjol. Juga, meski tidak banyak, terdapat beberapa adegan khusus orang dewasa.

Dan itu mengingatkan kami akan satu hal. Meski dikenal memiliki pembawaan dingin dan dalam 2 minggu dia akan segera menginjak usia 50, rupanya Duncan sang tokoh utama kita bagai seorang James Bond di dunia pembunuh bayaran. Betul, dia disukai oleh para wanita. Ini adalah ide yang cukup unik, karena penampilan Duncan sama sekali tidak flamboyan layaknya para agen 007.

Ada orang yang tidak terlalu suka dengan film action yang straight to the point. Hanya menonjolkan aksi tembak-tembakan dan adu jotos, seolah tidak perlu berpikir. Jika kamu termasuk tipe penggemar film yang seperti itu, bisa jadi kamu tidak akan menyukai Polar. Sebaliknya, para penggemar film laga tanpa banyak basa-basi atau intrik maupun plot twist, ini adalah film yang sangat cocok untuk kamu.

Menurut pendapat kami, film ini bisa dikatakan masuk dalam kategori biasa-biasa saja. Tapi adegan laganya memang cukup fun untuk disaksikan. Sayangnya, Polar memiliki plot yang terlalu familiar. Juga, tidak ada unsur tambahan yang membuatnya menjadi tontonan unik.

Plot twist di akhir film ini memang cukup menarik, hanya saja tidak akan membuat kamu tercengang. Tapi di satu sisi sedikit menyentuh. Lantas, Jonas Akerlund seperti memberi tanda bahwa Polar bisa jadi bakal mendapatkan sekuel. Simak terus pembahasan film-film yang tayang di Netflix bersama kami. Sampai ketemu di review film selanjutnya.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *