bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Indonesia Pertaruhan (2017)

Ditulis oleh Sri Sulistiyani - Diperbaharui 26 September 2021

Sosok laki-laki selalu dituntut untuk menjadi sosok yang kuat dan tegar. Hal ini yang selalu dipegang teguh oleh Pak Musa di film Pertaruhan. Sebagai seorang ayah tunggal dari empat anak laki-lakinya, Pak Musa selalu berusaha menjadi ayah yang kuat, hingga sebuah peristiwa membuat keluarga itu mengalami masalah besar.

Berikut review dari film Pertaruhan, film keluarga mengenai 4 saudara laki-laki yang akan melakukan apa pun untuk ayah mereka.

Sinopsis

Sinopsis

Film Pertaruhan mengisahkan tentang kehidupan keluarga Pak Musa beserta empat orang anak laki-lakinya. Anak pertama adalah Ibra, kakak tertua yang selalu mengambil keputusan untuk adik-adiknya. Anak kedua adalah Elzan, anak yang paling penurut dan pendiam. Anak ketiga adalah Amar, sosok yang humoris dan berandalan. Anak terakhir adalah Ical yang masih bersekolah di SMP.

Ibu mereka telah meninggal saat melahirkan Ical. Pak Musa yang membesarkan mereka seorang diri pun tak banyak memberi perhatian selayaknya seorang ibu. Ia hanya bekerja sebagai satpam bank untuk menafkahi keluarganya. Anak-anak Pak Musa pun tumbuh dengan kekurangan kasih sayang dan tak dekat dengan ayahnya sehingga membuat mereka menjadi anak berandalan dan urakan.

Setiap malam, Ibra, Elzan, dan Amar sering kali keluyuran untuk berjudi, mabuk, atau menonton pertandingan tinju Jamila, kekasih Ibra. Ical pun sering penasaran dan mengikuti kakak-kakaknya. Mereka akhirnya sering dimarahi oleh Pak Musa, terutama karena membawa Ical pada pergaulan tak baik. Sebagai anak tertua, Ibra selalu menjadi sasaran amarah ayahnya.

Sementara itu, rekan kerja Pak Musa di bank membuat ia dipecat dari bank. Apalagi Pak Musa tampak memiliki penyakit serius dan tampak sudah tak kuat bekerja sebagai satpam. Namun Pak Musa tetap pergi bekerja karena ia harus membiayai sekolah si bungsu, Ical.Pak Musa bahkan menolak uang dari Ibra saat Ical tak masuk sekolah karena telat membayar biaya bulanan.

Suatu hari, Pak Musa ditemukan pingsan di kamarnya. Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata Pak Musa mengidap penyakit serius dan harus dirawat. Namun keluarga itu tak memiliki uang untuk membayar biaya rawat rumah sakit. Pak Musa pun dibawa kembali ke rumah, namun kondisinya terus memburuk. Ibra dan adik-adiknya berusaha mencari jalan keluar.

Ibra, Elzan, dan Amar dibantu Jamila berusaha untuk mencuri dompet milik bos pemilik diskotik tempat Ibra bekerja. Elzan juga mencuri dompet pelanggan karaoke di tempatnya bekerja. Usaha mereka ketahuan sehingga membuat Ibra dan Elzan kehilangan pekerjaan. Namun uang yang mereka dapat masih belum cukup untuk membayar biaya rawat inap.

Ibra kemudian mendatangi bank tempat Pak Musa bekerja selama 20 tahun untuk meminta bantuan. Namun Ibra justru melihat petinggi bank meremehkan kesetiaan ayahnya. Ibra dan adik-adiknya pun berniat membalas dengan cara merampok bank tempat bekerja ayahnya tersebut. Pada hari yang ditentukan, Ibra, Elzan, dan Amar pergi menuju bank menggunakan mobil pinjaman Amar.

Di perjalanan, mereka menemukan Ical yang bersembunyi di bagasi mobil. Keempatnya pun melanjutkan perjalanan. Ibra, Elzan, dan Amar melanjutkan rencana mereka dengan masuk bank dan menodong karyawan bank untuk menyerahkan uang mereka. Sementara Ical menunggu di mobil. Namun mereka bertiga ditembak pihak keamanan bank saat beraksi.

Elzan dan Amar terluka parah dan tertinggal di bank, sementara Ibra dan Ical kabur ke rumah untuk membawa Pak Musa pergi ke rumah sakit. Setelah Pak Musa mendapatkan kamar di rumah sakit, Ibra berpamitan pada Ical. Dengan luka di perutnya, ia pergi menemui Jamila dan meninggal di pelukan kekasihnya tersebut.

Sebulan kemudian, Pak Musa sudah pulih dari sakitnya. Sementara Elzan dan Amar kini dipenjara akibat tindakan perampokan mereka. Pak Musa pun menyesal karena ia tak sempat menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya.

Kritik Sosial dan Pesan Moral yang Diselipkan dalam Cerita Keluarga

Kritik Sosial dan Pesan Moral yang Diselipkan dalam Cerita Keluarga

Film drama berdurasi 95 menit ini banyak menyelipkan kritik-kritik sosial di dalam alur ceritanya. Dari cerita Pak Musa dan empat anak-anaknya ini, kita bisa melihat bagaimana para masyarakat kelas menengah ke bawah yang sering kali kesulitan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan hanya karena permasalahan biaya.

Sepanjang alur cerita film ini, penonton juga diperlihatkan bagaimana kondisi yang tak ideal antara Pak Musa dengan anak-anaknya yang dikarenakan kesalahan pola asuh yang ia lakukan. Hal ini juga menjadi semacam kritik dan pesan bagi para orang tua untuk lebih terbuka pada anak-anak mereka sehingga anak-anak pun bisa merasa dekat dan diperhatikan oleh orang tua mereka.

Kritik sosial lainnya juga bisa dilihat pada adegan saat Ibra menghajar lelaki hidung belang di tempatnya bekerja karena melecehkan pelayan wanita di bar tersebut. Saat Ibra menghajar lelaki itu, pemilik bar justru menyalahkan Ibra, sementara Ibra tetap berpendapat bahwa wanita itu tak layak dilecehkan hanya karena ia bekerja sebagai pelayan bar. 

Karakter-Karakter yang Dicitrakan Begitu Maskulin

Karakter-Karakter yang Dicitrakan Begitu Maskulin

Film Pertaruhan tampaknya hendak mengangkat isu mengenai maskulinitas. Hal ini terlihat dari pemilihan karakter utama, seorang ayah dengan empat anak laki-lakinya. Penggambaran karakter-karakter utama ini tampak dibuat begitu maskulin. Bahkan hal ini juga ditunjukkan dari dialog-dialog para karakter utama ini.

Misalnya saja seperti Pak Musa yang tidak peduli saat anak-anaknya memintanya istirahat. Baginya, seorang lelaki harus kuat dan tidak boleh menyerah hanya karena sakit. Begitu pula dengan anak-anaknya, seperti Ibra yang selalu menasihati adik-adiknya, terutama Ical untuk menjadi laki-laki yang bisa melawan saat ada orang yang menindasnya.

Keseharian para pemeran utama ini juga dibuat terkesan begitu macho dengan banyaknya adegan pertarungan antara Ibra dan adik-adiknya dengan orang-orang lain yang menjadi musuh mereka. Banyaknya adegan perkelahian ini juga membuat film Pertaruhan banyak menggunakan teknik sinematografi dengan shot-shot cepat dan pergerakan kamera yang dinamis.

Bertabur Bintang, Dari Aktor Muda Hingga Aktor Senior

Bertabur Bintang, Dari Aktor Muda Hingga Aktor Senior

Film Pertaruhan juga menjadi salah satu film Indonesia yang bertabur bintang-bintang ternama. Di film ini, kita bisa melihat empat aktor muda berbakat yang tengah populer berakting bersama dan berperan sebagai empat saudara. Adipati Dolken memerankan tokoh Ibra, Jefri Nichol memerankan tokoh Elzan, Aliando Syarief memerankan tokoh Amar, dan Giulio Parengkuan memerankan tokoh Ical.

Selain empat aktor muda yang popularitasnya tengah naik daun saat ini, Pertaruhan juga menghadirkan aktor senior Indonesia Tio Pakusadewo sebagai tokoh Pak Musa yang menjadi karakter ayah dari anak-anak ini. Banyaknya aktor-aktor ternama yang bermain dalam film Pertaruhan membuat film ini semakin menarik untuk disaksikan.

Itulah review dan sinopsis film Pertaruhan, film mengenai keluarga yang berisikan banyak kritik sosial dan pesan moral serta bertabur bintang ternama. Apakah kamu sudah menonton film ini? Adegan mana yang paling berkesan untukmu dari film Pertaruhan ini? Ceritakan di kolom komentar ya!

Pertaruhan
Rating: 
3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram