bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Review dan Sinopsis Film Paper Lives, Melodrama dari Turki

Review dan Sinopsis Film Paper Lives, Melodrama dari Turki

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 10 Mei 2021

Paper Lives atau dalam bahasa Turki berjudul Kagıttan Hayatlar merupakan sebuah film drama yang memiliki jalan cerita cukup dramatis. Film ini sendiri dibintangi oleh Cagatay Ulusoy sebagai Mehmet, seorang pemuda yang mencari nafkah dengan mengumpulkan berbagai macam sampah di jalanan pinggiran Kota Istanbul.

Film ini sendiri digarap oleh sutradara bernama Can Ulkay, dan ditulis oleh Ercan Mehmet Erdem. Paper Lives sudah ditayangkan pada layanan streaming Netflix di tanggal 12 Maret 2021 kemarin. Bagi yang penasaran dengan jalan cerita dramatis dalam film yang satu ini, berikut adalah sinopsis dan ulasan selengkapnya dari Bacaterus.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2021
  • Genre: Drama
  • Rumah produksi: OGM Pictures
  • Sutradara: Can Ulkay
  • Pemeran Utama: Çagatay Ulusoy, Emir Ali Dogrul, Ersin Arici, Turgay Tanulku, dan Selen ozturk

Suatu malam, di sebuah jalanan di pinggiran Kota Istanbul, Mehmet tengah mengambil karton dari tempat sampah, dan memasukkannya ke dalam gerobak sampah miliknya. Malam kemudian semakin larut, dan hujan mulai membasahi tempat Mehmet berada. Ia lalu segera bergegas pergi ke gudang miliknya dengan kondisi yang basah kuyup.

Penyakit ginjal Mehmet lalu kambuh lagi pada saat itu, dan ia merasa kesakitan hingga jatuh ke kursi. Temannya yang bernama Gonzi datang tepat waktu, dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Mehmet lalu dibawa ke ruang gawat darurat untuk diperiksa oleh seorang dokter. Selepas dari sana, Gonzi mengantarkan pulang Mehmet ke rumahnya yang kumuh untuk segera beristirahat.

Keesokan harinya, dia nampak lebih bugar dari hari sebelumnya. Mehmet langsung bangun, dan segera membersihkan rumahnya itu. Selepas sarapan, dan mandi, Mehmet bersiap kembali ke gudang sampah miliknya. Di tengah perjalanan, ia nampak sangat ceria dengan sesekali menyapa orang-orang yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

Selain bekerja sebagai pemulung sampah, Mehmet juga menjalankan usaha gudang sampah dengan memperkerjakan anak-anak yatim piatu yang tidak memiliki pekerjaan. Mereka mengumpulkan segala jenis sampah mulai dari kardus, plastik, dan botol untuk ditukarkan dengan uang.

Mehmet dan semua pemulung, yang bekerja kepadanya, memanggil satu sama lain dengan sebutan “saudara.” Ia sudah menggangap mereka sebagai layaknya keluarganya sendiri, dan tak jarang mereka juga pergi ke pemandian bersama-sama untuk bersenang-senang.

Suatu hari, ada hal aneh yang berada di gerobak miliknya Gonzi. Mehmet yang curiga lalu mengambil tongkat kayu, dan beranggapan jika itu adalah tikus yang mengganggu. Saat gerobak tersebut terjatuh, seorang anak laki-laki tiba-tiba keluar dari sana. Ia lalu bersembunyi karena melihat Mehmet yang sedang membawa tongkat pemukul.

Mehmet kemudian membujuk anak itu untuk keluar, dan mengajaknya makan. Anak tersebut diketahui bernama Ali, dan tubuhnya penuh luka memar. Ali mengatakan kepada Mehmet jika ibunya sengaja menyembunyikan ke dalam gerobak sampah untuk menyelamatkannya dari ayah tirinya yang kejam.

Karena cerita itu, Mehmet memutuskan merawat Ali di rumahnya sendiri. Waktu demi waktu, keduanya semakin dekat, dan Mehmet pun mengadakan pesta untuknya, mengajarinya cara berenang, hingga membuatkan gerobak sampah untuknya. Mehmet lalu mengatakan dia akan membantu Ali menemukan ibunya dan menyelamatkannya dari ayah tiri yang jahat.

Para Pemeran Tampil Cukup Maksimal

Para Pemeran Tampil Cukup Maksimal

Paper Lives mencoba menggambarkan sekilas tentang kehidupan, dan perjuangan orang-orang miskin di Turki. Semua pemeran yang bermain dalam film ini kemudian lumayan mampu memberikan penampilan terbaik dalam memperlihatkan kondisi tersebut.

Çagatay Ulusoy menjelaskan peran Mehmet dengan sempurna. Mehmet digambarkan sebagai pribadi yang baik, perhatian, dan murah hati meskipun menjadi anak jalanan untuk sebagian besar hidupnya. Dia mengawasi keluarganya, “para pemulung sampah,” dan berbagi dengan mereka apa pun yang dia bisa.

Mehmet sendiri mempunyai masa kanak-kanak yang penuh dengan gejolak, dan traumatis. Maka dari itu, ia begitu memahami kondisi yang dialami oleh Ali, yang secara tidak langsung menggambarkan dirinya sewaktu kecil dulu.  Ulusoy mampu menampilkan semua kondisi emosi Mehmet secara cukup baik seperti ketidakstabilan emosinya, kebaikan hatinya, kegembiraannya, hingga rasa amarahnya.

Selain itu, Emir Ali Dogrul sebagai Ali tampil cukup sederhana, dan brillian. Aktor cilik Turki ini memiliki keterampilan dan bakat pada usia yang begitu muda. Di film ini, tak jarang juga ia mampu mendominasi adegan, di mana dia tampil bersama aktor dewasa, yang jauh lebih berpengalaman dan terampil. Ia setidaknya cukup piawai menarik simpati para penonton lewat setiap akting yang ia lakukan di film ini.

Lalu, ada juga nama Ersin Arici yang berperan sebagai Gonzi, teman terdekat Mehmet. Bersama-sama, mereka telah berjuang sendiri selama beberapa tahun di jalanan Kota Istanbul. Gonzi dijelaskan sebagai sosok yang bertanggung jawab, dan sangat peduli terhadap Mehmet. Arici yang memainkan peran ini menjadi pelapis yang bagus untuk peran yang dimainkan oleh Ulusoy sebagai Mehmet.

Mereka memiliki chemistry yang hebat ketika berhadapan dalam satu adegan. Aspek persaudaraan yang menyenangkan di antara mereka membuat film ini semakin menghangatkan hati. Di sisi lain, pemeran pendukung memang tidak banyak mendapat perhatian, tetapi mereka membuat film ini semakin detail, dan berwarna.

Atmosfer Drama Cukup Berkesan

Atmosfer Drama Cukup Berkesan

Paper Lives adalah kisah sedih tentang keluarga, persahabatan, dan yang terpenting menggali aspek trauma, yang digambarkan oleh sosok Mehmet. Film ini juga memiliki atmosfer drama yang dikemas lumayan baik. Selain itu, Paper Lives menghadirkan twist yang cukup mengejutkan saat film ini akhirnya membongkar siapa sebenarnya Ali itu, dan mengapa Mehmet begitu merasa sangat dekat dengannya.

Meskipun fokus utama Paper Lives adalah pada masalah anak-anak tunawisma, yang ada di pinggiran Kota Istanbul. Film ini juga berusaha menggambarkan pembagian kelas sosial, tidak hanya antara yang kaya dan yang miskin, tetapi juga kelas-kelas di dalam kelompok miskin juga.

Selain itu, Paper Lives memiliki sinematografi yang lumayan apik di sepanjang film berjalan. Beberapa adegan dibingkai dengan menggunakan pengambilan kamera jarak dekat, dan jarak jauh di semua lokasi, dimana pemandangan Kota Istanbul bisa terlihat lewat sudut pandang yang berbeda.

Film ini juga menyajikan musik lokal dari Turki yang bervariasi, dan membuat jalan ceritanya semakin lebih hidup. Lewat suguhan latar belakang musik tersebut, Paper Lives jauh lebih emosional karena berpadu dengan adegan drama diantara Mehmet dan Ali. Film ini ada akhirnya masih menarik untuk ditonton, dan memiliki adegan berkesan ketika twist dari jalan ceritanya mulai terungkap saat berada di penghujung film.

Masih Menarik Meski Ada Aspek yang Kurang Mendalam

Masih Menarik Meski Ada Aspek yang Kurang Mendalam

Meskipun Paper Lives mempunyai jalan cerita yang menarik, dan ending yang memilukan, separuh film ini nyatanya sedikit terlalu kurang mendalam, dan cenderung dipaksakan juga. Sebagian besar karakter di dalam Paper Lives memiliki latar belakang yang tragis, dan hal itu dirasa masih masuk akal mengingat keadaan mereka yang suram.

Film ini menunjukkan mereka semua bahagia, dan riang meski ada kekhawatiran yang selalu menyelimuti pikiran serta perasaan mereka. Hal yang disayangkan muncul ketika tragedi mereka hanya dieksplorasi melalui dialog-dialog singkat saja. Tidak ada ruang lebih untuk para penonton memahami penderitaan yang sebenarnya mereka alami.

Mereka tampaknya dimaksudkan hanya untuk menarik hati penonton saja tanpa memiliki kedalaman latar belakang karakter, khususnya para pemungut sampah yang bekerja dengan Mehmet. Walaupun mereka memberi warna cerita di dalam Paper Lives, namun sayangnya film ini masih kurang baik dalam memaksimalkan potensi dimensi cerita tersebut.

Dengan segala kekurangannya, Paper Lives masihlah terbilang memuaskan, dan berkesan juga. Paper Lives memang bukanlah film Turki terbaik dari segi eksekusi ceritanya, namun apa yang diperlihatkan oleh kepribadian Mehmet membuat film ini memiliki ending yang miris, dan menjadi salah satu tontonan yang memiliki drama twist yang cukup mengejutkan.

Paper Lives
7.5 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram