bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Historical Drama Mudbound (2017)

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 11 September 2021

Mudbound adalah sebuah film yang ceritanya berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Hillary Jordan pada tahun 2008 lalu. Film ini terbilang cukup menarik karena membawa tema rasial di Amerika Serikat, lebih tepatnya di pedesaan Mississippi, saat Perang Dunia II tengah berkecamuk di Eropa. Mudbound sendiri ditayangkan perdana di Festival Film Sundance 2017 pada 21 Januari 2017, dan dirilis di Netflix di tanggal 17 November 2017.

Pada ajang Academy Awards ke-90, film ini menerima berbagai macam nominasi mulai dari kategori Best Supporting Actress untuk peran Mary J. Blige sebagai Florence Jackson, Best Original Song, Best Adapted Screenplay, dan Best Cinematography. Selain itu pada Rotten Tomatoes, Mubdound menerima ulasan yang sangat positif dengan mendapatkan rating 97% dari para kritikus, dan 87% dari para penonton.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2017
  • Genre: Historical drama
  • Rumah produksi: Elevated Films dan Joule Films
  • Sutradara: Dee Rees
  • Pemeran utama: Carey Mulligan, Garrett Hedlund, Jason Clarke, Jason Mitchell, Mary J. Blige, Rob Morgan, Jonathan Banks

Keluarga McAllan, yang berkulit putih, baru saja membeli sebuah lahan pertanian di wilayah Mississippi, Amerika Serikat. Henry McAllan bersama dengan istrinya, Laura, putri mereka, dan ayahnya yang sangat rasis, Pappy, kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat tersebut.

Sementara itu, di tempat yang sama, keluarga Jackson, yang berkulit hitam, menghabiskan waktunya sebagai petani bersama anak-anaknya. Hap Jackson, dan istrinya, Florence, mempunyai mimpi bahwa suatu hari nanti mereka ingin memiliki lahan pertanian sendiri tanpa harus menyewa kepada orang-orang kulit putih.

Saat Perang Dunia II dimulai, Jamie McAllan, adik dari Henry, bergabung dengan Angkatan Udara Amerika Serikat, sedangkan anak tertua keluarga Jacksons, Ronsel, ikut berpartisipasi sebagai prajurit Angkatan Darat Amerika Serikat. Jamie mengalami masa-masa yang sulit selama perang karena rekan pilotnya tewas tertembak oleh musuh.

Ronsel pun mengalami hal yang serupa, namun dirinya terbilang beruntung karena jatuh cinta dengan seorang wanita Jerman berkulit putih. Di Mississippi, kehidupan keluarga Jackson mulai dilanda kesulitan ketika Hap jatuh saat membantu membangun gereja.

Kakinya patah, dan membuatnya untuk sementara waktu tidak bisa bekerja di ladang. Di sisi lain, Florence ikut membantu merawat putri Laura yang sakit. Akibat hal tersebut, Laura pun lalu membalas kebaikannya dengan membawa dokter untuk mengobati luka yang ada di kaki Hap.

Tindakan yang dilakukan Laura tentunya tidak disukai oleh Henry, dan Pappy. Kehidupan rumah Henry dan Laura pun sedikit demi sedikit mulai berjalan tidak baik. Saat perang berakhir, Ronsel dan Jamie kembali ke rumah dengan kondisi yang berbeda. Jamie menjadi pecandu alkohol karena trauma saat peperangan, dan menderita PTSD.

Ronsel pun demikian, ia tidak bisa berhenti dari bayang-bayang peperangan, dan juga masih memikirkan pujaan hatinya di Jerman. Selain itu, Ronsel juga berusaha berjuang melawan rasisme yang ada di Mississippi. Keduanya lalu bertemu, dan saling memahami satu sama lain sebagai mantan tentara Perang Dunia II.

Berbeda dengan Henry, dan Pappy, Jamie memperlakukan Ronsel sebagai sahabat, dan menaruh hormat kepadanya. Jamie melakukan hal itu kepadanya karena saat perang ada seorang pilot pesawat tempur yang berkulit hitam menyelamatkan nyawanya. Atas dasar itu, keduanya menjadi sahabat dekat, dan saling bercerita tentang kesulitan yang mereka alami saat ini selepas berperang di Eropa.

Pertemanan mereka kemudian sangat dibenci oleh Pappy, dan Hap sangat heran kenapa Jamie begitu baik kepada anaknya. Di suatu malam, Ronsel disergap, dan dipukuli oleh Pappy beserta anggota Ku Klux Klan. Jamie lalu mencoba menyelamatkannya sahabatnya itu, namun ia pun tersiksa dan dihadapkan pada pilihan untuk membunuh Ronsel atau ayahnya sendiri.

Cukup Baik dalam Membingkai Masalah Rasisme

Cukup Baik Dalam Membingkai Masalah Rasisme

Jalan cerita Mudbound mencoba menggambarkan sebagian kecil kejadian rasisme, dan ketidakadilan di Amerika pada periode 1940an. Dengan konsep permasalahanan yang seperti itu, film ini mempunyai pesan yang mendalam tentang kemanusiaan, dan disampaikan lewat alur cerita yang lugas serta kritis. Oleh karenanya, film yang berdurasi 2 jam 14 menit ini memiliki cukup banyak momen-momen yang dapat menggugah rasa kemanusian kita tentang perbedaan.

Bentuk perwujudan konflik rasial tersebut kemudian mampu dibangun dengan baik lewat akting dari setiap pemainnya. Mereka yang berkulit putih, terutama Henry, Pappy, dan kelompok Ku Klux Klan (KKK) mampu memperlihatkan kebenciannya, sementara keluarga Jackson sebagai objek korban hanya mampu pasrah menahan diri atas perlakuan mereka.

Rasa kebencian dibingkai secara meyakinkan, dan kita bisa melihat bahwa Henry serta Pappy bertindak sebagai orang yang benar-benar menyebalkan. Di sisi lain, Hap sebagai kepala keluarga Jackson adalah seorang pribadi yang taat dalam beribadah, dan ia kerap memberikan khutbah di gereja untuk orang-orang berkulit hitam di Mississippi.

Film Mudbound begitu baik saat menyuguhkan keironisan masalah rasial yang menimpa diantara keluarga McAllan, dan Jackson. Meski ada titik cerah ketika Laura dan Jamie memperlakukan keluarga Jackson secara layak, namun sepanjang film ini kita bakal dihadapkan pada situasi rumit tentang rasisme. Selain itu, tema keluarga, persahabatan, dan gejala trauma PTSD menambah kompleksitas permasalahan yang ada di film ini.

Film yang Sangat Menjanjikan

Film yang Sangat Menjanjikan

Sang sutradara, Dee Rees, beserta penulis skenario, Virgil Williams, telah cukup baik dalam membentuk materi cerita film adaptasi ini secara indah. Mudbound mempunyai perspektif narasi yang menarik, film ini diceritakan dari sudut pandang setiap karakter utamanya, baik dari keluarga McAllan dan Jackson. Walaupun begitu, penyampaian tersebut tidak pernah terasa berantakan atau membingungkan.

Di bagian yang lain, film ini terlihat sedikit suram dengan menit-menit awal kita akan diperlihatkan adegan Henry, dan Jamie yang sedang menggali tanah untuk menguburkan ayahnya. Suasana tersebut terlihat menyedihkan karena hujan turun deras, tanah penuh dengan lumpur, dan tone film pun berubah menjadi gelap. Setelah itu, jalan cerita kemudian flashback menyoroti kehidupan keluarga McAllan sebelum bertemu dengan keluarga Jackson di Mississippi.

Kesuraman pada bagian awal tersebut ternyata tidak berhenti di bagian awal, namun terus dikembangkan di setiap bagiannya, tapi lewat pendekatan visual yang berbeda. Rachel Morrison, yang bertindak sebagai sinematografer atau DoP (Director of Photography), memberikan bukti visual yang mumpuni terhadap kedalaman jalan cerita film ini.

Ia tak hanya memainkan warna-warna yang suram, tapi juga sedikit memberikan visual yang sedikit lebih cerah, namun tidak menghilangkan esensi kesuraman tersebut. Sajian kreatif yang diberikan oleh Rachel Morrison, Dee Rees, dan Virgil Williams, pada akhirnya membuat Mudbound terasa memuaskan untuk dilihat.

Dari segi cerita, dan visual gambar, film ini cukup solid, dan tidak buruk sama sekali. Maka tak heran, pada ajang New York Film Critics Circle film ini meraih Best Cinematographer, dan mendapatkan Best Adapted Screenplay dari San Francisco Film Critics Circle.

Para Pemeran Utama Tampil Memuaskan

Para Pemeran Utama Tampil Memuaskan

Wajah-wajah pemeran Mudbound mungkin saja bisa sangat melekat bagi kita yang menikmati film ini secara utuh. Aktris Carey Mulligan nampak tidak asing bagi kita yang sudah menonton film Never Let Me Go di tahun 2010 lalu.

Di sini, ia berperan sebagai Laura McAllan, seorang istri dari Henry, yang sebenarnya tidak bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Mulligan mampu memberikan penggambaran sebagai seorang istri yang tabah, dan begitu baik dalam memperlakukan Florence beserta keluarganya.

Sedangkan Florence Jackson sendiri, yang diperankan oleh Mary J. Blige, memiliki Kehidupa lebih sulit, dan dipenuhi dengan rintangan yang lebih besar. Saat Blige memerankannya, dia adalah wanita yang sangat keibuan, tegar, dan tangguh melihat situasi keluarganya yang rumit. Ia tidak pernah menyerah dengan kondisinya, dan menjadi seorang istri yang baik untuk menopang kehidupan keluarganya.

Sementara itu, Hap Jackson diperankan oleh Rob Morgan, dan ia memperlihatkan karakternya itu sebagai seorang kepala rumah tangga, yang ingin melakukan segala kemungkinan untuk keluarganya, hingga mendorong dirinya sendiri sampai melewati batas fisiknya.

Lalu, Jamie McAllan (Garrett Hedlund), dan Henry McAllan (Jason Clarke) adalah dua saudara yang memiliki watak karakteristik berbeda. Sang aktor yang memerankan dua karakter tersebut tampil dengan sangat prima sepanjang film.

Jangan lupakan juga Jason Mitchell sebagai Ronsel Jackson, ia luar biasa sebagai seorang pemuda tangguh yang berjuang untuk negaranya, walaupun ujung-ujungnya ia mengalami momen pahit saat di serang oleh Pappy serta kelompok Ku Klux Klan (KKK).

Pada akhirnya, semua pemain di dalam film ini mampu membuktikan kualitasnya masing-masing tanpa harus malu-malu. Pemilihan aktor dan aktrisnya pun terasa cukup tepat karena semuanya mampu memberi nyawa pada karakter yang dimainkannya. Terlepas dari cerita film ini yang sangat menarik, para pemain yang terlibat pun secara tidak langsung menjadikan Mudbound sebagai film yang layak tonton.

Mudbound
Rating: 
4/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram