bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Review dan Sinopsis Film Moxie, Feminisme ala Remaja

Review dan Sinopsis Film Moxie, Feminisme ala Remaja

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 10 Mei 2021

Moxie adalah sebuah film yang diadaptasi dari novel tahun 2015 berjudul sama karya karya Jennifer Mathieu. Skenario film ini ditulis oleh Tamara Chestna dan Dylan Meyer berdasarkan inti cerita dari novel tersebut. Selain itu juga, Chestna dalam film Moxie bertindak sebagai produser di bawah spanduk Paper Kite Productions, dan dirilis oleh Netflix di platform streaming mereka pada tanggal 3 Maret 2021.

Pengambilan gambar untuk film ini berlangsung di bulan Oktober 2019 di Kota Arcadia, California, dengan Amy Poehler berada di bangku sutradaranya. Moxie sendiri merupakan film bertemakan “coming-of-age,” yang menyajikan elemen feminisme dalam balutan film remaja.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2021
  • Genre: Drama Comedy
  • Rumah produksi: Paper Kite Productions,
  • Sutradara: Amy Poehler
  • Pemeran Utama: Hadley Robinson, Lauren Tsai, Patrick Schwarzenegger, Nico Hiraga, dan Sydney Park

Vivian adalah seorang gadis remaja berusia 16 tahun yang tinggal bersama ibunya, Lisa. Vivian bersekolah di Rockport High School, dan mempunyai seorang sahabat bernama Claudia. Di sekolahnya, Vivian mulai tertarik dengan Seth, teman satu kelasnya. Namun di sisi lain, ada temannya yang sangat menjengkelkan, dan merupakan siswa populer di sekolah bernama Mitchell.

Saat pelajaran akan dimulai, sang guru yang bernama Davies lalu memperkenalkan siswa baru, Lucy, kepada murid-muridnya di kelas. Di hari pertama sekolah, mulai terjadi perdebatan cukup panas karena Mitchell menyela pendapat Lucy tentang novel The Great Gatsby.

Tingkah menyebalkan Mitchell tidak berhenti di situ saja, ia mengambil soda yang coba dibeli Lucy, dan meludahinya. Kejadian tersebut disaksikan sendiri oleh Vivian, yang geram melihat tingkah lakunya, namun ia tidak bisa berbuah apa-apa. Lucy melaporkan Mitchell kepada Kepala Sekolah Shelly, tapi ia tidak ingin menghukum Mitchell, dan mencoba menghindari terlibat dalam masalah itu.

Ketika pulang ke rumah, Vivian memeriksa barang-barang milik ibunya, dan menemukan sebuah zine lama buatan ibunya tersebut. Lewat zine itu, Vivian mendapatkan inspirasi untuk membuat semacam gerakan perlawanan terhadap aksi semena-mena, yang dilakukan oleh siswa laki-laki kepada siswi perempuan di sekolahnya.

Vivian akhirnya membuat sebuah zine perlawanan yang disebut dengan Moxie, dan menyebarkan zine tersebut ke kamar mandi perempuan di sekolahnya itu. Moxie kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh siswi perempuan, dan mereka semua menyukai isinya. Vivan juga akhirnya berteman dengan Lucy beserta teman-temannya, yang sekarang lebih berani bersikap karena adanya zine Moxie.

Lucy bersama dengan semua siswa Rockport High School, termasuk Kepala Sekolah Shelly, masih belum mengetahui jika Vivian adalah pembuat dari Moxie. Namun, Seth ternyata mulai menyadari jika Vivian adalah orang dibalik Moxie, yang membuat sekolah menjadi heboh. Akan tetapi, ia tetap mendukung apa yang dilakukan olehnya, dan mereka berdua selanjutnya mulai pacaran.

Ketika semua siswi perempuan lebih berani bersikap, dan mengikuti pergerakan zine Moxie, Claudia nampaknya masih malu-malu untuk seperti itu. Karena hal tersebut juga, persahabatan diantara Vivian dan Claudia mulai sedikit menjauh.

Permasalah kemudian semakin rumit, ketika pihak sekolah tidak menanggapi apa yang dituliskan dalam Moxie. Vivian yang kesal lalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, dan malah memperburuk situasi. Claudia akhirnya ikut dalam pergerakan Moxie, dan sebenarnya ia juga mengetahui siapa pembuatnya. Ia lalu mendukung temannya itu, dan Vivian lalu bangkit untuk membuat Moxie lagi karena ada kasus pelecehan yang harus diselesaikan.

Film yang Lumayan Mencuri Perhatian

Film yang Lumayan Mencuri Perhatian

Di sepanjang jalan ceritanya, Moxie mencoba berusaha untuk memperlihatkan berbagai macam bentuk “perlawanan,” yang dilakukan oleh Vivian beserta teman-temannya atas tindakan merendahkan martabat perempuan di sekolahnya. Segala bentuk perlawanan tentunya tidak diaplikasikan secara ekstrim, dan berbahaya, karena memang konsep cerita film ini tidak seperti itu, dan lebih sedikit cheerful.

Vivian sendiri adalah sosok yang berperan sangat penting dalam pergerakan tersebut. Sebagai seorang yang tidak populer di Rockport High School, Vivian bisa dibilang menjadi sosok “pahlawan misterius,” yang menjadi jembatan untuk menyuarakan segala tindakan diskriminatif siswi perempuan di sekolahnya. Lewat zine Moxie, ia selanjutnya berhasil membangun solidaritas yang kuat diantara mereka.

Moxie bukanlah film remaja yang biasa saja, film ini setidaknya berhasil mencuri hati para penontonnya karena mampu memperlihatkan kekuatan perempuan yang selalu mendukung satu sama lain. Di film ini juga, para siswi perempuan yang memiliki latar belakang berbeda bisa saling berteman secara manis tanpa memandang perbedaan tersebut.

Selain itu, Vivian di film ini tidak selamanya digambarkan sebagai seorang revolusioner saja dengan zine Moxie miliknya. Namun, ia juga nyatanya adalah sosok gadis remaja biasa yang memiliki masalah keluarga, percintaan, hingga pertemanan.

Untuk menambah bumbu cerita, Moxie memperlihatkan drama diantara Vivian dengan ibunya Lisa, kekasihnya Seth, serta teman baiknya Claudia. Semuanya dihadirkan lewat tensi emosi naik turun, dimana kita bisa melihat gambaran anak remaja yang masih belum bisa berpikir jernih, dan mengambil keputusan secara bijak.

Kurang Relevan Secara Universal

Kurang Relevan Secara Universal

Meski menghadirkan permasalahan feminis yang menimpa gadis remaja di sekolah menengah atas, beberapa pemecahan solusi yang diperlihatkan nampaknya kurang relevan terhadap sekolah di negara-negara lain, khusus di wilayah Asia, yang cenderung tidak terlalu bebas seperti di Amerika. Konflik yang terjadi di film Moxie pun secara tidak langsung lebih dekat, dan personal terhadap sekolah-sekolah yang ada di Amerika.

Salah satu contoh yang paling kentara adalah ketika Kaitlynn berpakain terbuka dengan mengenakan tanktop di kelas. Kepala Sekolah Shelly lalu memanggil Kaitlynn ke ruangannya, namun ia membiarkan siswi lain, yang sama-sama menggunakan tanktop. Setelah kejadian itu, semua siswi perempuan kemudian menggunakan tanktop sebagai bentuk protes terhadap perlakuan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah Shelly

Isu feminisme yang coba diangkat oleh Moxie dalam lingkungan pendidikan tampaknya tidak terlalu mewakili secara global. Film ini kemudian hanya terlihat sebagai bentuk selebrasi dari gadis-gadis remaja Amerika, yang hanya ingin diperlakukan dengan baik, dan tidak diberikan perlakukan diskriminatif. Tapi, Moxie masih sangat menghibur, dan menyenangkan karena ada pesan moral feminisme, dibalut dengan film remaja yang fresh.

Selain mencoba mengungkap permasalahan isu seksisme maupun feminisme sedari remaja, Moxie juga sebenarnya berusaha menampilkan permasalahan rasial, dan disabilitas. Akan tetapi, isu sosial tersebut kurang dikemas secara baik, dan sepertinya tidak terlalu mengena bagi sebagian penonton di dunia. Moxie pada akhirnya hanya menjadi film remaja sederhana lewat balutan isu sosial sebagai kekuatan ceritanya.

Terlalu Banyak Selebrasi

Terlalu Banyak Selebrasi

Alih-alih memberikan solusi yang matang terhadap isu seksisme maupun feminisme di Rockport High School, film ini terlalu banyak menampilkan aksi selebrasi terhadap permasalahan tersebut. Vivian dengan Zine Moxie buatannya memang mampu menarik simpati seluruh siswi perempuan, namun gerakan “perlawanan” mereka hanya cenderung digambarkan secara simbolik saja

Gerakan protes Vivian dan teman-temannya lebih berfokus pada bentuk visual seperti merubah cara penampilan, membuat gambar khusus di tangan sebagai solidaritas, hingga corat-coret di lingkungan sekolah. Film ini rasanya terlalu memikirkan hal tersebut daripada memberikan suatu penyelesaian masalah yang jauh lebih konkret.

Jika dilihat dari konten film ini sebagai tontonan remaja, hal itu mungkin dirasa bisa dimaklumi. Moxie kemungkinannya hanya ingin memberikan bentuk perlawanan dari isu sensitif tersebut disesuaikan dengan sasaran penontonnya, yang kebanyakan adalah anak-anak remaja, dan dewasa muda. Tapi sayangnya, jika isu sosial ini bisa digarap secara matang, maka Moxie akan jauh lebih berkesan serta bermakna.

Moxie
7.5 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram