bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Mantan Manten, Wanita Karier Jadi Dukun Manten

Bagi masyarakat Jawa dalam setiap pernikahan “paes” selalu menjadi hal yang penting dan sakral. Paes sendiri adalah doa, panduan dan tuntunan untuk menjadi seorang perempuan yang semestinya. Apalagi dukun manten bukanlah orang sembarangan, hal inilah yang tidak diketahui oleh Atiqah Hasiholan.

Ia baru memahami pentingnya suatu budaya dan adat, setelah ia jadi asisten dari seorang dukun manten. The Wedding Shaman (2019) atau yang lebih dikenal dengan nama Mantan Manten adalah film yang digarap oleh Farishad Latjuba.

Ceritanya sendiri ditulis oleh Farishad Latjuba bersama dengan Jenny Jusuf, sayangnya banyak yang berkomentar ceritanya kurang dalam. Pasalnya film ini tidak bisa menunjukkan filosofi dari “paes” yang sakral dengan ilmu klenik dan kepercayaan bagi orang awam.

Makanya kali ini kita akan mengikuti kisah Atiqah Hasiholan yang berubah dari seorang wanita karir menjadi dukun manten adat Jawa. Penasaran? Kamu bisa mendapatkan jawaban lebih lengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Sinopsis dan Review Film Indonesia Mariposa (2020)

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2019
  • Genre: Drama
  • Sutradara: Farishad Latjuba
  • Pemeran: Atiqah Hasiholan, Arifin Putra, Tutie Kirana, Tio Pakusadewo, Marthino Lio, Oxcel, Dodit Mulyanto
  • Produksi: Visinema Pictures, JD.ID, Kaskus

Yasnina Putri (Atiqah Hasiholan) bukanlah nama sembarangan di dunia investasi, perempuan berusia 29 tahun ini dikenal sebagai manajer investasi terkenal di Indonesia. Ada banyak proyek perusahaan yang telah ia bantu, hasilnya banyak orang yang puas dengan nasihat investasi darinya.

Sukses dalam karir, perempuan yang akrab disapa Nina ini juga memiliki kekasih yang tampan. Sedang menikmati kesuksesan dalam hidupnya, tiba-tiba saja sebuah masalah membuatnya harus kehilangan segalanya.

Nina harus merasakan yang namanya sakitnya dikhianati oleh orang yang paling ia percaya yaitu Arifin Iskandar (Tio Pakusadewo). Sialnya lagi, masalah ini juga berimbas pada hubungannya dengan sang tunangan Surya (Arifin Putra).

Karirnya hancur dan seluruh asetnya telah dibekukan, satu-satunya tempat yang bisa ia datangi sekarang hanyalah panti asuhan. Di sana juga akhirnya Nina dan Surya kembali bertemu, pria itu meminta maaf dan berjanji akan membantunya melawan ayahnya sendiri.

Setelah beberapa kali bertemu dengan pengacara, Nina harus memiliki jaminan agar bisa melayangkan gugatannya. Hingga ia ingat pernah membeli sebuah rumah di Tawangmangu, hanya saja rumah itu belum sempat ia balik nama.

Demi bisa membalaskan dendamnya pada Arifin Iskandar, Nina nekat pergi ke Tawangmangu mengurus semua proses balik nama dan penjualan rumah tersebut. Sejak pertama datang, Nina melihat bagaimana ibu Marjanti melakukan tugasnya sebagai perias pengantin.

Saat itu Nina terkesima melihat bagaimana cara ibu Marjanti (Tutie Kirana) menenangkan pengantin pria karena bajunya yang kekecilan. Ia memberikan calon manten minum, sambil berkata tenang, sabar dan berserah diri. Lalu ia meniupkan asap rokok ke baju yang akan dikenakan manten, secara ajaib baju yang awalnya kekecilan langsung pas.

Setelah insiden itu Nina kembali ingat dengan tujuannya, ia berusaha meminta tanda tangan ibu Marjanti. Namun tanda tangan itu tidak bisa didapatkannya dengan mudah, pasalnya Nina malah harus jadi asistennya Ibu Mar selama beberapa bulan. Tidak memiliki pilihan lain, dengan terpaksa Nina menerima syarat yang diberikan oleh Ibu Mar.

Selama tinggal disana, Nina mulai menyadari bahwa ada banyak nilai budaya dan arti sebuah paes bagi para manten. Pada awalnya Nina merasa hal ini sangatlah tidak masuk akal, pasalnya rumah tangga bisa hancur kapan saja dengan alasan sepele sekalipun.

Namun kata-kata yang diutarakan oleh Bu Mar sedikit-sedikit membuat ia mulai menyadari kesalahan dalam cara pandangnya. Tidak muda bagi Bu Mar dan Nina untuk saling menerima dan hidup rukun bersama. Namuan perjalanan spiritual yang mereka berdua lalui lewat mimpi, mempererat hubungan keduanya.

Di saat-saat itulah rintangan lain datang, ketika Bu Mar merasa dilema untuk memilih Nina atau janjinya. Kala itu Arifin Iskandar datang dan memintanya untuk mengurus pernikahan putranya yang akan segera dilaksanakan.

Nina yang tahu akan hal ini merasa sangat dikhianati, perempuan ini pergi dari rumah Bu Mar. Namun mimpi membawanya kembali, sayangnya ia menemukan Bu Mar telah meninggal dunia.

Kini Nina dihadapkan dengan masa tersulitnya, apakah ia harus membantu pernikahan anak Arifin Iskandar? Pikiran ini membuatnya sangat gelisah, bisakah Nina berdamai dengan dirinya dan menerima takdir?

Filosofi Dukun Manten dan Paes Kurang Tersampaikan

Filosofi Dukun Manten dan Paes Kurang Tersampaikan

Jujur saja, saya sangat kagum karena premis yang diangkat Mantan Manten /The Wedding Shaman (2019) memang sangat unik. Bagi masyarakat Jawa, paes memang hal yang biasa, namun beda jika hal sakral ini diangkat menjadi sebuah film.

Sayangnya saya kurang mendapatkan pesan mengenai filosofi dari pentingnya paes pengantin. Pasalnya film ini sepertinya kurang bisa mengeksplore arti paes dan dukun manten ke dialog-dialognya.

Alhasil hanya penjabaran hanya secara umum saja, seperti paes adalah doa bagi pengantin agar bisa memasuki bahtera rumah tangga. Lalu ulasan singkat kenapa dukun manten harus puasa mutih dan kenapa tanggal pernikahan harus dihitung sesuai adat Jawa.

Semua ini sebenarnya bisa menjadi materi yang sangat luar biasa dan menjadikan film ini lebih bermakna lagi. Sayangnya semua materi di atas tidak bisa diaplikasikan dan diperlihatkan secara detail lagi.

Padahal kalau soal akting dari Atiqah Hasiholan dan Tutie Kirana, keduanya memiliki kemistri ibu dan anak yang sangat baik. Pengembangan karakter mereka sangat baik, hanya saja sisi sakral paes, dukun manten, klenik hingga kepercayaan Jawanya kurang dieksplore.

Sehingga pesan yang tersampaikan hanya, ayo untuk anak muda jangan melupakan adat yang kamu miliki. Padahal ada nilai budaya yang lebih dalam lagi.

Jika saja sutradara dan penulis bisa mengaitkannya dengan zaman modern sehingga film ini tidak akan jadi sekedar tontonan, tapi sebuah film yang menyadarkan anak muda untuk tidak meninggalkan budaya dan tradisi.

Eksekusinya Kurang Memuaskan dan Banyak Plot Hole

Eksekusinya Kurang Memuaskan dan Banyak Plot Hole

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Mantan Manten (2019) memang memiliki premis yang sangat bagus dan unik. Sayangnya premis ini memang tidak didukung dengan materi-materi yang lebih dalam, alhasil pesan yang tersampaikan pun tidak maksimal.

Bagi saya semua ini karena jalan cerita yang diberikan terlalu fokus untuk menunjukkan perubahan karakter seorang Yasnina Putri. Karakter yang diperankan oleh Atiqah Hasiholan ini memang menjadi karakter paling kuat, sebagai wanita modern yang berusaha menerima kepercayaan suatu adat.

Karakternya sangat berseberangan dengan karakter gadis jawa yang lembut dan penuh kasih sayang. Untuk hal ini saya tidak ada masalah, justru saya bermasalah dengan konflik antara Yasnina dengan Arifin Iskandar.

Sebenarnya konflik apa yang membuat mereka harus saling bertentangan? Apa yang membuat Arifin Iskandar bisa menjadikan Nina sebagai kambing hitam atas kesalahannya.

Terlebih lagi, konflik ini pada akhirnya dilupakan begitu saja dengan narasi pernikahan Surya. Lalu karakter Surya dan Ardy, dua karakter yang sama-sama misterius dengan cara yang berbeda.

Pasalnya pengembangan karakter keduanya ini agak tersendat-sendat, karena background story untuk keduanya tidak ada. Sehingga saya sebagai penonton tidak tahu apa manfaat dan fungsi dari kedua karakter ini. Meski begitu akting dari Arifin Putra dan Marthino Lio memang tidak bisa diragukan lagi kehebatannya. 

Sebenarnya ada banyak plot hole di film ini, tapi saya cukup terhibur dengan efek visualnya. Meski sederhana, saya bisa merasakan ketika Nina dan Bu Mar masuk dalam mimpi yang sama.

Kesan merinding dari perjalanan spiritual keduanya tersampaikan dengan sangat baik. Sinematografi, tata suara, tata busana, hingga editing gambarnya juga sangat bagus dan enjoyable.

Penuh Pesan Moral yang Sering Dilupakan Wanita Modern

Penuh Pesan Moral yang Sering Dilupakan Wanita Modern

Salah satu karakter yang paling saya sukai di film ini adalah karakter Bu Mar si dukun manten. Pasalnya tidak hanya menunjukkan betapa sakralnya sebuah budaya meski sudah memasuki dunia modern. Dari sisi Bu Mar lah kita bisa menyadari, budaya adalah sesuatu yang tidak bisa diganggu dengan adanya barang-barang modern.

Dari karakter Bu Mar lah terdapat banyak sekali dialog-dialog yang penuh makna. Contohnya seperti dialog di bawah, “Cerita orang itu beda-beda. Jangan memakai pengalaman satu orang untuk membandingkan dengan diri sendiri. Kalau kamu terus membandingkan, nanti kamu jadi susah bersyukurnya”.

Dialog inilah yang membuat saya cukup terkejut, pasalnya setelah dipikirkan memang ada benarnya. Jika kita terus saja menjadikan hidup dengan orang, kapan kita akan bersyukur dengan yang dimiliki?

Hal ini menjadi salah tamparan bagi banyak orang. Terutama mereka yang hanya fokus untuk mengejar hal-hal duniawi, mereka mungkin lupa dengan kata bersyukur.

Pada akhirnya kita tidak akan merasa puas, selalu saja menginginkan hal lainnya yang lebih dari orang lain. Pada akhirnya bukannya bersyukur, tapi malah memaksakan kehendak hingga membuat diri sendiri terjerumus pada hal yang salah.

Dialog di atas sangat relate dengan kehidupan kita di zaman serba modern ini, bahkan masih ada dialog lainnya yang tidak kalah penuh makna lho.

Inilah review saya setelah menonton Mantan Manten (2019) atau yang dikenal juga dengan nama mantan Manten. Bagi saya film ini tidak hanya menunjukkan betapa sakralnya sebuah adat dan budaya, tapi ada banyak pesan moral dan sosial didalamnya. Bagaimana menurutmu? Jangan lupa bagikan pendapatmu soal film ini di kolom komentar di bawah ini.

Mantan Manten
Rating: 
3/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram