bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Lady Vengeance (2005)

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 14 November 2021

Film ini merupakan seri ketiga sekaligus terakhir dalam trilogi Vengeance garapan sutradara kenamaan Korea Selatan, Park Chan-wook. Lady Vengeance dibintangi oleh Lee Young-ae sebagai Lee Geum-ja, seorang perempuan yang dibebaskan dari penjara setelah menjalani hukuman atas pembunuhan yang tidak dilakukannya. Film ini menceritakan kisah balas dendamnya terhadap pembunuh yang sebenarnya.

Lady Vengeance sendiri rilis pada tanggal 29 Juli 2005 di Korea Selatan, dan mendapatkan kesempatan untuk bersaing meraih penghargaan Golden Lion di ajang Festival Film Internasional Venesia ke-62. Di negara asalnya, film ini kemudian memenangkan penghargaan di kategori Film Terbaik pada Blue Dragon Film Awards ke-26.

Baca juga: Sinopsis dan Review Kill Bill Vol 1, Balas Dendam Mematikan

Sinopsis

Sinopsis

Seorang perempuan muda yang bernama Lee Geum-ja dipenjara karena menculik, dan membunuh anak laki-laki berusia 5 tahun, Won-mo. Peristiwa pembunuhan tersebut menjadi sensasi seluruh Korea Selatan karena usia Geum-ja yang masih belia, dan penampilannya yang masih terlihat lugu serta polos.

Selama berada di dalam penjara, Geum-ja mendapatkan semacam bentuk perjalanan spiritualnya, dan menjadi sosok inspiratif bagi para tahanan lainnya. Di sisi lain, ia kerap berperilaku baik hati di penjara karena ingin mendapatkan pemotongan hukuman agar bisa bebas secepatnya.

Setelah dibebaskan bersyarat, Geum-ja memotong jari kelingkingnya, dan merubah penampilannya karena ingin melakukan balas dendam. Ia lalu mengunjungi teman mantan narapidana lainnya, yang kini telah bebas, untuk meminta bantuan berupa tempat tinggal, dan senjata. Ia juga bekerja di sebuah toko kue, dan menjalin hubungan rahasia dengan asisten toko, seorang pemuda bernama Geun-shik.

Kemudian terungkap fakta bahwa Geum-ja sebenarnya tidak mencekik Won-Mo, dan detektif yang menangani kasus tersebut sudah menyadari bahwa ia tidak bersalah.

Ketika Geum-ja masih menjadi seorang siswi SMA, ia hamil dan takut untuk memberitahukan hal itu kepada orangtuanya. Oleh karenanya, ia meminta bantuan kepada gurunya yang bernama Baek Han-sang alias Mr. Baek

Mr. Baek sangat ingin membantunya, namun ia memberikan syarat kepada Geum-ja untuk melakukan hubungan intim dengannya terlebih dahulu. Bukan hanya itu saja, Mr. Baek juga meminta kepadanya untuk ikut terlibat dalam aksi penculikan yang akan dilakukan olehnya.

Ia lalu menggunakan Geum-ja untuk menculik Won-mo, yang berusia 5 tahun, dengan tujuan agar orang tuanya dapat menebusnya, tetapi sang anak tidak sengaja terbunuh olehnya. Mr. Baek kemudian menculik bayi perempuan Geum-ja, serta mengancam akan membunuh bayinya jika ia tidak segera menyerahkan diri, dan bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Geum-ja selanjutnya menghabiskan 13 tahun di penjara, dan selama waktu tersebut ia merencanakan aksi balas dendam kepada Mr. Baek atas pembunuhan Won-mo. Sementara itu, putri Geum-ja tumbuh tanpa seorang ibu, dan dia akhirnya diadopsi oleh orang tua yang berasal dari Australia.

Ia memang pada akhirnya bisa bertemu dan membawa putrinya yang bernama Jenny ke Korea. Meski sang putri tidak bisa berbahasa Korea, keduanya berusaha untuk menjalin ikatan antara ibu dan anak.

Sekarang, Geum-ja dengan bantuan teman-temannya berencana untuk menculik, dan membunuh Mr. Baek, yang sekarang bekerja sebagai seorang guru anak-anak di sebuah TK.

Brutal dan Sangat Liar

Brutal dan Sangat Liar

Sesuai dengan nama judulnya, dan konsep trilogi yang diusung oleh Park Chan-wook, film ini berjalan dengan nada yang dingin, namun penuh amarah, dan rasa dendam yang dibawa oleh karakter utamanya, Geum- ja (Lee Young-ae). Sepanjang 1 jam 56 menit kita akan terpuaskan, dan bakal melihat alur cerita yang mengeksplorasi perencanaan balas dendam yang begitu bengis dan penuh darah.

Melihat tindakan yang dilakukan oleh Geum-ja dalam aksi balas dendamnya, seolah mengingatkan kita akan sepak terjang pembalasan dendam yang dilakukan oleh Uma Thurman sebagai Beatrix Kiddo alias Black Mamba di film Kill Bill Vol.1 (2003), dan Vol. 2 (2004).

Aksi yang dilakukan oleh Geum-ja, dan Beatrix Kiddo sama-sama dilandaskan untuk mencari keadilan dengan cara pertumpahan darah yang sadis.

Dengan konsep cerita seperti itu, Lady Vengeance bisa dibilang bukan sebuah film yang ramah, dan “menyenangkan.” Film ini memang terkesan tenang pada awalnya, ditambah lagi karakter Geum-ja yang dingin, dan berwajah manis serta polos, membuat Lady Vengeance tidak terlihat brutal sama sekali.

Akan tetapi, kemarahan dan frustasi yang terpendam dari karakter Geum-ja akhirnya meledak menjadi kekerasan yang mengerikan. Namun, tingkat emosi yang diberikan oleh film ini kaya akan tekstur sehingga Kebrutalan yang tersaji bakal terhubung dengan kesedihan luar biasa yang dialami oleh Geum-ja, beserta teman-temannya yang ikut membalas dendam kepada Mr.Baek.

Lady Vengeance adalah film unik, dan bukanlah sebuah tontonan yang menyoroti moralitas yang patut diterima. Film ini terlihat kompleks dan sangat liar, baik dari segi karakternya maupun aksi balas dendam penuh darah yang dilakukan oleh semua pemeran.

Menawarkan Kualitas Emosional yang Penuh Kesan

rkan Kualitas Emosional yang Penuh Kesan

Park Chan-wook menutup trilogi Vengeance garapannya dengan cara yang tetap berkesan. Lewat film ini, Chan-wook sekali lagi memukau kita dengan keahlian sinematografinya yang handal.

Setiap urutan adegan dibingkai dengan kontrol yang cermat. Perspektif fotogenik yang ia bawa menjadi semakin liar lewat gaya film ini yang cenderung mengeksplorasi konten kekerasaan yang cukup sadis.

Menonton film ini secara tidak langsung mampu memancing respon kuat dari para penontonnya. Lady Vengeance mencoba memaksa kita untuk mempertimbangkan realitas dunia, dimana niat baik menjadi sikap yang serba salah, orang-orang baik melakukan perbuatan yang buruk, dan nasib malah membuat mereka untuk melakukan sesuatu yang kejam.

Di saat-saat tergelap yang terjadi di film ini, orang-orang yang seharusnya menjadi baik, khususnya karakter Geum-ja, pada akhirnya menemukan secercah harapan bernama rasa kemanusian yang mengejutkan, dan memilukan bagi kehidupannya.

Rasa marah yang dibawa oleh Geum-ja secara tidak langsung mencoba membawa kita ke suatu tempat yang gelap, dan kemudian mengganggu kita dengan manipulasi emosi yang luar biasa. 

Film ini memang cukup eksklusif memberikan tema tentang penderitaan, balas dendam, hingga penebusan dosa. Maka tak berlebihan juga jika provokasi emosional yang diberikan oleh Geum-ja bisa dirasakan oleh penonton.

Meski begitu, kualitas emosional yang terdapat di film ini masih lebih tenang dibandingkan dengan dua film sebelumnya dari Park Chan-wook, yakni Sympathy for Mr. Vengeance (2002), dan Oldboy (2003).

Lady Vengeance pada akhirnya masih sama kuatnya dengan dua film tersebut, dan menawarkan bentuk cerita yang tidak akan mengecewakan.

Nuansa Psikologis Thriller yang Cukup Menjanjikan

Nuansa Psikologis Thriller yang Cukup Menjanjikan

Selain penggarapan skenarionya yang bagus, Lee Yeong-ae sebagai Geum-ja, dan Choi Min-sik sebagai Mr. Baek adalah fondasi kekuatan utama dalam film ini.

Yeong-ae melakukan pekerjaannya dengan baik, ia mampu menggambarkan seorang wanita yang penuh belas kasih, tetapi di sisi lain ia dapat melakukan segala tindakan pembunuhan dengan rasa dendam penuh amarah.

Penampilannya begitu menjanjikan sepanjang film ini berjalan, dan sikap misterius yang ia berikan ke dalam diri Geum-ja menjadi sangat efektif. Lalu, Min-sik yang memerankan Mr. Baek terlihat mumpuni, dan tampil meyakinkan seperti yang dilakukan oleh lawan mainnya tersebut.

Mr. Baek adalah sosok antagonis sebenarnya di film ini, dan ia harus mendapatkan siksaan balas dendam penuh derita oleh Geum-ja dan teman-temannya.

Min-sik kemudian terbilang cukup berhasil dalam menggambarkan sosok Mr. Baek yang memiliki karakteristik tanpa moralitas, dan berkedok sebagai seorang guru TK yang ramah tamah, berbanding terbalik dengan sifat asli dari Mr. Baek sebenarnya.

Secara kesimpulan, Lady Vengeance adalah film bernuansa psikologis thriller yang solid, dan tidak mengecewakan. Film ini menawarkan konten kekerasan yang cukup liar, dan premis cerita balas dendam ala film Kill Bill garapan Quentin Tarantino.

Film Lady Vengeance tentunya sangat layak masuk ke dalam daftar tontonan kalian semua, dan sekarang ini bisa disaksikan pada layanan streaming Netflix.

Lady Vengeance
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram