bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Drama Into The Beat (2020)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 11 September 2021

Katya bersiap mengikuti audisi balet yang akan digelar beberapa minggu lagi. Balet adalah sesuatu yang sudah menjadi tradisi dalam keluarga. Ayahnya Victor Orlow adalah Ballerino terkenal yang penampilannya selalu ditunggu banyak orang.

Suatu hari dalam sebuah penampilan, Victor mengalami kecelakaan dan membuatnya tak bisa lagi menari balet. Kini, harapannya hanya tertumpu pada Katya. Namun, sesuatu yang tidak pernah diduga terjadi pada anak gadisnya. Katya mulai tertarik dan mengagumi tarian musik hip hop setelah tanpa sengaja diajak oleh sekelompok pemuda ke sebuah gedung perkumpulan.

Di sana dia terlihat menikmati street dance sebagai sesuatu yang baru dan seru. Lalu, akankah Katya meninggalkan balet dan mulai belajar street dance? Film Into the Beat (2020) akan menjawabnya untuk Anda, tapi sebelum itu mari simak bersama sinopsis dan ulasannya!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 16 Juli 2020
  • Genre: Drama, Music, Romance
  • Produksi: Wild Bunch, Lieblings Film, Flying Steps Academy
  • Sutradara: Stefan Westerwelle
  • Pemeran: Alexandra Pfeifer, Yalany Marschner, Helen Schneider, Trystan Putter

Frau Rosebloom (Helen Schneider) mengingatkan bahwa ada waktu delapan minggu lagi menuju audisi yang diadakan oleh Akademi Balet New York. Katya Orlow (Alexandra Pfeifer) bersama anggota yang lain pun bersiap.

Gadis-gadis tersebut bersaing karena hanya ada satu pemenang yang akan mendapat beasiswa dari audisi itu. Sepulang latihan, bersama adik lelakinya, Paul Orlow (Anton Wichers), keduanya mendatangi tempat kerja sang ayah.

Victor Orlow (Trystan Putter) terlihat sedang melakukan pemotretan ketika dua buah hatinya datang. Mereka kemudian berfoto bersama. Victor Orlow adalah seorang ballerino terkenal. Dia mewariskan bakat baletnya pada sang putri.

Sayang di satu pertunjukan, dia mengalami kecelakaan. Victor cedera dan harus mendapat perawatan. Kejadian yang dilihat langsung oleh matanya ini cukup mengganggu konsentrasi Katya. Nama besar sang ayah rupanya menjadi beban tersendiri bagi Katya.

Anggapan bahwa dia ‘menumpang’ ketenaran sang ayah, bahkan sempat diutarakan teman satu klub baletnya, Janine (Julia Strowski). Namun bagaimana pun gadis ini harus tetap menjalani hidupnya. Selain itu, dia juga sedih melihat keadaan Victor yang mungkin tidak bisa melanjutkan karir baletnya lagi.

Dengan segala hal yang mengganggu pikiran, malam itu Katya mencoba mengatasi kegusarannya dengan bersepeda. Sial sepeda yang ditumpanginya rusak di tengah jalan. Saat berhenti dan duduk di trotoar, seorang perempuan menghampirinya, tak lama segerombolan pemuda menyusul. Perempuan itu lalu meminta salah satu temannya, DJ Karim  (Yehudi Baptiste), untuk memperbaiki sepeda Katya.

Katya dan sepedanya kemudian dibawa ke sebuah tempat berkumpul bernama Battle Land. Di sana ada banyak sekali muda-mudi yang terlihat sangat menikmati musik hip hop dan tariannya. Katya yang ikut menyaksikan dari kejauhan, tampak terpukau dan ikut menikmati.

Esok harinya sepulang latihan balet, Katya kembali mendatangi Battle Land untuk mengambil sepedanya. Di sana dia melihat banyak anak muda seusianya berlatih tarian tersebut dengan perasaan bebas. Katya lagi-lagi mengagumi yang dilihatnya, seperti tak pernah menemukan hal itu di hidupnya.

Perempuan yang membantu Katya memperbaiki sepeda kemudian menjelaskan bahwa Battle Land adalah tempat bermain yang tidak memedulikan latar belakang seseorang. Siapa pun boleh menari dan berkumpul di sana.

Katya lantas ditawari untuk gabung dalam kelas yang diajarnya. Katya mencoba dan kesulitan karena tidak terbiasa dengan gerakan ala street dance yang cepat. Sesekali dia menunjukkan gerakan baletnya tanpa disadari. Walau begitu Katya terlihat luwes dan sangat menikmati.

Teman-teman barunya juga tampak suka dengan usahanya dan mengapresiasi. Saat Katya hendak pulang dia bertemu seorang pemuda bernama Marlon (Yalany Marschner) dari Battle Land. Dia ingin melihat gerakan Katya untuk kedua kalinya.

Saat Katya menari, Marlon protes karena ingin melihat gerakan Katya yang lain tapi gadis itu bingung gerakan mana yang dimaksud. Sesampainya di rumah, Katya diam-diam mencari tahu mengenai tarian yang dilakukan tadi. Dia tak ingin ayahnya tahu.

Esok harinya, Katya dengan percaya diri kembali datang ke Battle Land dan menemui Marlon. Sayang pemuda itu kembali meremehkannya karena menganggap Katya sebagai peniru gerakan orang lain. Dengan sedikit perdebatan di awal, keduanya menjadi dekat.

Katya belajar banyak dari pemuda itu. Sementara di tempat baletnya, Katya mulai terlihat kelelahan dan tidak konsentrasi mengikuti persiapan, padahal audisi tinggal beberapa hari lagi.

Katya meminta izin pada Rosebloom untuk tidak mengikuti latihan selama beberapa hari karena Victor harus menjalani beberapa treatment di rumah sakit. Gadis itu diberi waktu dua hari karena penampilan Katya masih jauh dari performa terbaiknya.

Seperti dugaan, Katya menggunakan waktu dua harinya untuk bergabung bersama anak-anak Battle Land yang lain. Dia menghabiskan waktu bersama Marlon dan terlihat menikmati petualangannya.

Di sisi lain, sang ayah sangat terpukul ketika mengetahui bahwa dirinya kemungkinan besar tidak bisa menari balet lagi karena patah tulang yang dideritanya. Katya berada dalam kebingungan antara meneruskan cita-cita ayahnya, meneruskan nama besar keluarganya atau mengikuti keinginannya.

Ketika dia mendatangi Marlon pemuda itu malah mengajaknya ikut audisi sebagai pasangan dan semakin membuat Katya terpuruk, merasa bersalah sekaligus merasa dihukum.

Rahasia Katya yang disembunyikan dari Victor akhirnya terbongkar. Sang ayah yang mendatangi tempat latihan Katya tidak mendapati sang putri ada di sana. Katya tak bisa lagi berbohong dan mencoba menjelaskan semua pada Victor.

Bagaimana Victor mendengar pengakuan Katya? Apa reaksinya ketika dia mengetahui bahwa putri yang menjadi harapannya dalam meneruskan balet justru menyukai street dance?

Chemistry dalam Akting dan Gerakan Dance yang Asyik

Chemistry dalam Akting dan Gerakan Dance yang Asyik

Into the Beat (2020) bukan film pertama yang mengangkat tema tentang tarian hip hop atau street dance yang dibumbui dengan romansa. Sebelumnya ada Step Up (2006) dan Save The Last Dance (2001) yang juga menyuguhkan gerakan-gerakan tarian yang solid sekaligus kisah cinta dalam ceritanya. Meski begitu, film berdurasi 1 jam 42 menit ini tawarkan kesegaran lain.

Melalui pemilihan pemain yang masih terhitung muda, Into the Beat tampil cukup berbeda. Walau demikian chemistry yang diperlihatkan oleh dua karakter utamanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Alexandra Pfeifer dan Yalany Marschner menjalani peran masing-masing dengan sangat meyakinkan.

Keduanya terhubung dengan baik melalui akting atau pun gerakan tarian, sehingga scene yang menampilkan Katya dan Marlon terasa passionate. Dalam beberapa kali kesempatan Anda akan melihat chemistry mereka melalui adegan menari dengan sangat apik.

Gerakan yang penuh tenaga dan ambisi, terlihat pula melalui hentakan-hentakan dance hip-hop yang asyik. Begitu pun scene yang mempertontonkan hubungan mereka sebagai dua anak muda yang jatuh cinta; keduanya sama-sama bisa dirasakan tanpa rasa berlebihan.

Sinematografi Cantik

Sinematografi Cantik

Film berbahasa Jerman arahan sutradara Stefan Westerwelle juga punya kekuatan lain yang akan membuat penontonnya betah. Kekuatan lain yang dimaksud adalah sisi sinematografinya. Sinematografi dalam Into the Beat terlihat dikonsep secara rapi dengan memperlihatkan keindahan-keindahan sekaligus poin utama dalam film, baik ekspresi setiap pemain atau suasana di sekitar mereka.

Pengambilan gambar dirangkai sedemikian rupa mendukung alur cerita hingga emosi di dalam film mampu tersampaikan. Anda bisa ikut merasakan kesedihan sekaligus kebimbangan Katya melalui pengambilan gambar yang pas.

Salah satunya terlihat pada gabungan scene ketika Katya dan Marlon menari di tengah kesedihan mereka sehingga ia jadi satu pertunjukan yang emosional dalam film ini.

Pencarian Jati Diri dalam Tarian

Pencarian Jati Diri dalam Tarian

Premis Into the Beat (2020) boleh jadi tidak terlalu mengejutkan. Alur ceritanya pun harus diakui tidak ada yang baru; Anda bisa ikut menebak arahnya tanpa menonton sampai selesai. Hanya sebagai sebuah film, ia adalah tontonan yang cukup menarik karena beberapa aspek.

Selain chemistry dan sinematografi yang cantik, film ini punya karakter-karakter yang secara garis besar, cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam film ini, Anda akan mengenal anak-anak muda yang menemukan jati dirinya melalui tarian.

Lewat karakter Katya yang diperankan oleh Alexandra Pfeifer, penonton bisa turut merasakan kebimbangan yang sama dengannya; memilih antara membahagiakan keluarga atau jujur dengan kebahagiaan diri sendiri. Kondisi Katya yang semacam ini rasanya lumrah ditemukan pada diri anak muda di luar sana.

Berapa banyak di antara mereka yang mendapat kesempatan mengikuti passion-nya dan mendapat restu orangtua? Berapa banyak yang harus mengalah lalu melupakan mimpinya? Katya dan usahanya dalam film ini, seperti berusaha menularkan energi positif bahwa semua orang bisa dan berhak mewujudkan kebahagiaannya yang sekaligus berarti menemukan jati dirinya.

Jadi apakah tertarik menyaksikan perjuangan Katya dan sang ayah? Into the Beat bisa Anda saksikan di Netflix sekarang juga!

Into The Beat
Rating: 
4/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram