Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review Indiana Jones and the Last Crusade (1989)

Sinopsis & Review Indiana Jones and the Last Crusade (1989)

Ditulis oleh - Diperbaharui 25 Desember 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Pada tahun 1938, setelah ayahnya, Dr. Henry Jones, Sr., menghilang saat mencari “Cawan Suci”, Dr. Henry “Indiana” Jones, Jr. harus berhadapan lagi dengan Nazi pimpinan Adolf Hitler untuk menghentikan mereka agar tidak menggunakan kekuatan benda suci tersebut. Sean Connery bergabung dengan Harrison Ford dalam petualangan kali ini yang menjadi film terlaris di tahun 1989.

Indiana Jones and the Last Crusade adalah film ketiga dari franchise Indiana Jones yang menggenapkan janji Steven Spielberg kepada George Lucas untuk membuatnya menjadi trilogi. Mereka mengurangi kadar kesuraman dan kekerasan di film sebelumnya, Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), yang dikritik oleh banyak pihak, dengan menambah kadar petualangan yang penuh keseruan.

Film yang dirilis pada 24 Mei 1989 oleh Paramount Pictures ini sudah bisa ditonton kembali di layar Netflix bersama film lainnya dari franchise petualangan Indiana Jones ini. Berikut kami suguhkan ulasan film yang menampilkan akting memukau dan penuh kharisma dari Sean Connery yang baru saja wafat di akhir Oktober 2020.

Sinopsis

Indiana Jones and the Last Crusade

*https://usa.newonnetflix.info/info/60010487

  • Tahun: 1989
  • Genre: Action / Adventure
  • Produksi: Paramount Pictures, Lucasfilm
  • Sutradara: Steven Spielberg
  • Pemeran: Harrison Ford, Sean Connery, Alison Doody

Film dibuka dengan aksi dari Indy muda (yang diperankan oleh mendiang River Phoenix) yang ditampilkan dalam prolog yang cepat, menyiratkan akar hasratnya atas petualangan, ketakutannya pada ular, niat yang baik untuk menyerahkan artefak bersejarah dari tangan orang jahat kepada pihak yang berwenang. Untuk membawa Salib Coronado itu, Indy harus dikejar di atas kereta oleh kelompok penjahat.

Dari tahun 1912 cerita langsung loncat ke tahun 1938 dimana Indy harus berjuang merebut Salib Coronado dengan berkelahi di atas kapal di tengah badai lautan. Beberapa waktu kemudian, dia menyerahkan salib itu kepada temannya yang mengelola museum. Setelah selesai mengajar di kampusnya, Indy diajak menemui seorang kolektor benda antik, Walter Donovan, yang mengabarkan tentang ayah Indy.

Indy langsung terbang ke Italia untuk mencari keberadaan ayahnya sekaligus “Cawan Suci” yang diminta oleh Walter. Bersama rekannya, Marcus Brody, dan asisten ayahnya, Dr. Elsa Schneider, Indy menemukan petunjuk untuk melengkapi catatan milik ayahnya. Setelah menyelamatkan ayahnya dari sekapan Nazi di Austria, mereka berdua harus menghindari kejaran tentara Nazi yang juga mengincar artefak itu.

Dari Venice, ke Berlin, hingga wilayah Timur Tengah, ayah dan anak ini harus menghadapi berbagai situasi yang sulit juga dari pengkhianatan Dr. Schneider yang cantik dan pintar tapi ternyata adalah agen Nazi. Terbukti, pencarian akan “Cawan Suci” ini adalah petualangan yang berbahaya, yang harus mengedepankan keimanan daripada kepentingan pribadi untuk hidup abadi.

Penantian Lama Demi Menciptakan Naskah yang Bagus

Penantian Lama Demi Menciptakan Naskah yang Bagus

*https://www.imdb.com/title/tt0097576/mediaviewer/rm1920519168

Setelah respon beragam atas Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), Steven Spielberg dan George Lucas mencari naskah yang pantas dan ringan untuk dijadikan film penutup dari trilogy Indiana Jones ini. Perjalanan panjang penulisan naskah dimulai pada bulan Mei 1985 oleh Chris Columbus yang mengajukan sosok Monkey King di tanah Afrika.

Perubahan dibuat oleh Columbus pada Agustus 1985 dengan menghilangkan Monkey King yang tidak disetujui oleh Spielberg. Pada Januari 1986, Menno Meyjes direkrut untuk memperbaiki naskah dengan menambahkan kisah petualangan hingga ke kawasan Timur Tengah dan diakhiri di Mexico. Kemudian Jeffrey Boam membuat penambahan lagi pada Februari 1988 yang disetujui oleh Spielberg.

Naskah terakhir ini memasukkan ayah Indy dan penampilan Indy muda di awal film. Dengan luasnya lokasi di dalam naskah, tim produksi menggelar syuting di beberapa negara, terutama di Italia, Spanyol, Jerman, Yordania, Inggris dan Amerika Serikat. Uniknya syuting perdananya adalah mengambil adegan pertarungan Indy dengan tank yang ditampilkan menjelang akhir film.

Al-Khazneh, Situs Bersejarah yang Mengagumkan

Al-Khazneh, Situs Bersejarah yang Mengagumkan

*https://www.imdb.com/title/tt0097576/mediaviewer/rm941602561

Al-Khazneh adalah salah satu kuil yang berada di situs bersejarah di Petra, Yordania. Kuil dan lokasi sekitarnya ini merupakan peninggalan dari kebudayaan Nabatea yang merupakan salah satu bangsa Arab kuno. Kemahiran mereka membuat bangunan di dalam gunung mengingatkan tentang sebuah kaum yang di azab di masa Nabi Shalih, yaitu Tsamud.

Saat ini, Petra dan sekitarnya yang termasuk situs bersejarah, dilindungi oleh UNESCO World Heritage Site sejak 1985. Al-Khazneh juga termasuk ke dalam New7Wonders of the World yang menjadi simbol negara Yordania dan juga sekaligus sebagai lokasi wisata paling terkenal dan tersering dikunjungi, sebelum munculnya pertikaian di tanah Arab dan pandemi Covid-19 yang membuat Petra menjadi kosong.

Al-Khazneh sendiri cukup sering dipakai untuk lokasi syuting film, tentu saja atas persetujuan pemerintah Yordania yang biasanya mengundang seluruh kru film untuk makan malam di istana kepresidenan. Tidak terkecuali bagi kru film Indiana Jones and the Last Crusade ini.

Paling tidak ada dua film produksi Hollywood lainnya yang pernah syuting di sana, yaitu Sinbad and the Eye of the Tiger (1977) dan Mortal Kombat: Annihilation (1997). Selain itu beberapa serial TV dan film dokumenter pernah juga mengangkat situs bersejarah ini dalam produksi mereka. Tapi untuk interior di dalamnya, tim produksi Indiana Jones mengambil syuting di sebuah studio di Inggris.

Chemistry Sempurna Harrison Ford dan Sean Connery

Chemistry Sempurna Harrison Ford dan Sean Connery

*https://www.imdb.com/title/tt0097576/mediaviewer/rm2766977281

Ide untuk menampilkan ayah Indy, Dr. Henry Jones, Sr., adalah sebuah gagasan brilian yang diajukan oleh Steven Spielberg untuk menguatkan penceritaan tentang hubungan ayah dan anak yang renggang ini. Meski mereka berdua sama-sama ahli di bidang sejarah, tetapi dalam masalah petualangan, Indiana Jones lebih terdepan dibandingkan ayahnya yang lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan.

Sedikit diungkit di prolog film tentang Indy yang kehilangan sosok ayahnya, meski menurunkan bakat di bidang sejarah dan artefak kuno, bahkan mereka baru bertemu lagi setelah terpisah selama 20 tahun! Satu sama lain sibuk dalam mencari bukti-bukti sejarah. Jika Indy akhirnya berhasil menyerahkan Salib Coronado yang sudah lama dicarinya kepada museum, maka ayahnya terobsesi kepada “Cawan Suci”.

Sosok ayah bagi Indiana Jones haruslah diperankan oleh aktor yang memiliki kharisma di atas Harrison Ford. Dan Sean Connery, mantan James Bond pertama, adalah pilihan tepat. Sepanjang film, Connery mampu tampil komikal tapi tidak kehilangan kharismanya. Oleh karenanya, Connery berhasil meraih penghargaan di Golden Globe sebagai Best Supporting Actor. Dan film ini adalah salah satu film terbaiknya.

Elemen Komplit Film Petualangan

Elemen Komplit Film Petualangan

*https://www.imdb.com/title/tt0097576/mediaviewer/rm3339761665

Seperti yang kita tahu, franchise Indiana Jones adalah tolok ukur film-film bertema petualangan. Karena memang semua elemen yang dibutuhkan oleh fim sejenis ini tersedia semua secara lengkap dalam ketiga filmnya, menjadi empat dengan Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008). Film seperti Tomb Raider, National Treasure, dan sejenisnya pasti mengambil salah satu elemen dari franchise ini.

Apa saja elemen itu? Cerita seru dan menarik, lokasi yang beragam di beberapa negara, adegan aksi kejar-kejaran dan perkelahian, teka-teki yang harus dipecahkan, sosok pengkhianat dari orang terdekat, dialog dan aksi komedi, dan musuh besar yang misterius atau tidak terduga. Paling tidak elemen-elemen ini ada di salah satu film petualangan manapun.

Indiana Jones and the Last Crusade menjadi film petualangan yang ringan tetapi detil dalam penceritaan. Fakta sejarah, mitos, legenda, semua dirangkai dalam cerita yang menarik. Perpaduan Harrison Ford dan Sean Connery menjadi nilai tambah tersendiri, dimana film ini ditaburi oleh kharisma mereka berdua.

Tidak salah jika kita menonton ulang berkali-kali lagi, apalagi sekarang sudah tersedia di layar Netflix. Kita bisa menyimak kembali kedetilan cerita dengan seksama hingga faktor keseruan itu membuncah di dalam diri kita. Jangan tunggu lama, mari kita mulai berpetualang bersama Indiana Jones!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *