Bacaterus / Review Film Barat / Review dan Sinopsis Film Inception ‘Mission: Dreaming’

Review dan Sinopsis Film Inception ‘Mission: Dreaming’

Ditulis oleh - Diperbaharui 1 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Ada yang mengatakan bahwa mimpi dapat membawa orang melewati batas multi-dimensional. Baik itu melihat masa lalu, masa depan, malahan, dunia lain. Ada juga yang mempercayai bahwa mimpi memiliki arti-artinya tersendiri.

Seperti mimpi di kejar anjing, digigit oleh ular, dan lain-lain. Tapi, dalam film karya sutradara kawakan Christopher Nolan ini, kita akan melihat bagaimana mimpi adalah sebuah penglaman psikologis alam bawah sadar yang mampu merubah seseorang.

Baik pada saat film ini baru dirilis maupun sekarang, sebagian orang mungkin merasa kebingungan dengan konsep dari film yang dirilis pada tahun 2010 silam ini. Wajar, karena Nolan menawarkan sebuah ‘sensasi’ petualangan di alam mimpi yang apabila kita tidak dapat mengikuti penjelasannya dengan baik, maka akan membuat kita bertanya-tanya.

Penasaran dengan film tentang dunia mimpi ini? Simak review dan sinopsis dari film Inception berikut ini yuk!

Sinopsis

Sinopsis

Dominick ‘Dom’ Cobb (Leonardo DiCaprio) terdampar di pesisir pantai yang diperkirakan berada di dataran Jepang. Setelah sekelompok militan menyelematkannya, Dom kemudian berbincang-bincang dengan seorang pria tua renta, lantas dengan cepat kita dibawa pada pertemuan Dom dan Arthur (Joseph Gordon-Levitt) dengan seorang pria bernama Mr. Saito (Ken Watanabe).

Saat berbincang-bincang mengenai sebuah teori, keadaan berubah menjadi rusuh. Dom kemudian bertemu dengan Mal (Marion Cotillard), seorang wanita yang merupakan rivalnya. Kita pun kemudian tahu bahwa saat itu, Dom, Arthur dan Saito tengah berada dalam sebuah mimpi sementara ketiganya tertidur di sebuah negara yang tengah mengalami konflik.

Sinopsis inception

Dengan bantuan Nash (Lukas Haas), ketiganya terbangun. Tapi sekali lagi, kita mengetahui bahwa itupun juga adalah sebuah mimpi. Pada kenyataannya, keempat orang tersebut tengah tertidur dalam sebuah kereta cepat di Jepang dan terhubung dengan sebuah perangkat. Singkatnya, mereka bermimpi dalam sebuah mimpi atau mengalami petualangan di dua tingkat dunia mimpi.

Beberapa hari kemudian, Saito kemudian menjumpai Dom dan Arthur yang bekerja sebagai mata-mata korporat untuk memanfaatkan sebuah perangkat teknologi yang merupakan alat eksperimen milik pihak militer. Dimana, alat tersebut dapat mengekstrak informasi melalui dunia mimpi.

Saito meminta keduanya untuk melakukan hal yang nyaris mustahil, yaitu, ‘merubah’ pemikiran Robert Michael Fischer (Cillian Murphy) karena memiliki cara berbisnis yang dapat menjatuhkan semua kompetitornya, termasuk Saito.

Sinopsis inception2

Awalnya, Dom sempat ragu untuk menerima tawaran Saito tersebut. Namun, sang taipan berjanji bahwa ia dapat menghapus status Dom sebagai seorang kriminal, sehingga ia akan dapat bisa kembali bertemu dengan putra-putrinya setelah selama sekian lama hidup bagai seorang buronan.

Dom memutuskan menerima misi yang ditawarkan oleh Saito tersebut, dan mulai mengumpulkan orang-orang yang mahir dibidangnya untuk menjalankan misi ‘inception’. Karena berarti, kali ini mereka akan mengarungi tiga lapisan mimpi.

Dom berhasil mendirikan sebuah tim yang terdiri dari Eames (Tom Hardy), Yusuf (Dileep Rao), dan seorang mahasiswi arsitektur bernama Ariadne (Ellen Page). Dalam persiapan mereka untuk menjalani misi, Ariadne masuk dalam mimpi Dom dan menemukan bahwa Mal, wanita yang selama ini dikenal sebagai lawan dari Dom ternyata adalah istri dari sang spion ekonomi yang telah meninggal dunia.

Misi inception pun berhasil dijalankan namun semuanya tidak berjalan sesuai yang diperkirakan oleh Dom dan kawan-kawan. Apalagi, Dom juga masih dihantui dengan kenangan buruk bersama Mal yang semakin membuat aksi mereka tidak berjalan mulus.

Antara Realita dan Mimpi

Antara Realita dan Mimpi

Wajar memang jika penonton film ini awalnya akan dibuat bingung dengan konsep mimpi dan realita. Pasalnya, Chrsitopher Nolan sebagai sutradara memang tidak menaruh ‘bumper’ yang akan membuat orang merasa ‘ngeh’, mana dunia mimpi, mana dunia nyata.

Jadi tidak mengherankan jika rasanya, terutama di awal-awal cerita, pikiran kita seolah dikocok dan mulai mengalami disorientasi. Apakah ini mimpi, atau bukan. Harus diakui, Nolan memang adalah seorang sineas jempolan. Mereka yang menyaksikan Inception tidak akan dibiarkan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Penjelasan tentang bagaimana Leonardo DiCaprio, Joseph Gordon-Levitt dan kawan-kawan bisa mengarungi dunia mimpi pun dijelaskan. Dan penjelasan ini juga tidak melalui sebuah adegan penuh dialog membosankan yang bisa bikin kamu tertidur.

Malahan, penjabaran tentang dunia mimpi bisa dibilang berlangsung dengan cepat sehingga mungkin orang-orang akan dibuat ‘eh…gimana…oh, begitu rupanya…’. Namun seiring berjalannya cerita, kita akan mengetahui apa yang dimaksud dalam pembicaraan para tokohnya. Jadi sebenarnya, film ini seolah telah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga penontonnya tidak akan kebingungan.

Fiksi Ilmiah yang Menyenangkan

Fiksi Ilmiah yang Menyenangkan

Sekali lagi, kreatifitas Chrisopher Nolan sebagai seorang sutradara harus diakui dalam film yang juga turut diproduseri oleh istrinya, Emma Thomas Nolan ini. Dan ada satu hal yang membuat Inception terasa menyenangkan saat kita menyaksikannya, yaitu bagaimana kondisi eksternal akan berpengaruh pada mimpi para karakternya.

Seperti saat tim Dom berada dalam mobil yang terguling, tokoh Arthur yang diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt merasakan bagaimana dalam mimpinya, koridor hotel tempat ia berpijak juga terbolak-balik. Lantas, hal-hal seperti itu juga dihadirkan dengan efek visual yang keren.

Hal seperti itu bisa terjadi di kehidupan nyata, bukan? Misalkan, dalam mimpi, kita sedang melompat masuk ke dalam kolam renang, padahal kenyataannya, saat itu kita sebenarnya tengah terjatuh dari atas kasur. Konsep inilah yang mungkin akan membuat kamu tertawa sendiri karena merasa related dengan kehidupan sehari-hari.

Fiksi Ilmiah yang Menyenangkan2

Kemudian, ada juga konsep ‘kick’. Dimana, kick merupakan semacam kode bagi seseorang untuk terbangun dari mimpinya. Dalam film ini, orang yang tengah tertidur dibangunkan dengan suara alunan musik atau diceburkan ke dalam bak mandi. Siapa yang pernah dibangunkan dengan cara wajahnya dibasahi oleh air? Ya, dalam film ini, cara-cara tersebut merupakan salah satu metode untuk menyadarkan orang dari mimpi mereka.

Konsep tentang bagaimana kita dapat mengatur mimpi atau masuk ke mimpi orang lain dengan cara melatihnya terlebih dahulu juga seolah-olah sangat mungkin terjadi. Satu lagi unsur yang mengasyikan adalah, bagaimana Dom membutuhkan seorang arsitek untuk membangun infrastruktur dari mimpi yang akan mereka masuki.

Tugas dari seorang arsitek adalah membangun jalan, jembatan, dan lain-lain, cukup dengan membayangkannya saja. Seandaikan saja Inception itu nyata…

Dark Side of Dreaming

Dark Side of Dreaming

Berada dalam dunia mimpi, mengontrol, menciptakan kehidupan sekeliling sesuai kehendak memang terlihat begitu fantastis dan fun. Namun The Nolans sepertinya juga menyampaikan pesan tersirat dalam film mereka yaitu bagaimana seseorang tidak dapat terjebak dalam dunia mimpi yang membuai, menawarkan sebuah zona nyaman yang sesuai dengan kehendak kita sendiri.

Kemampuan Dom untuk menciptakan dunia sendiri dalam mimpi berdampak buruk terhadap Mal, yang pernah dibawanya untuk membangun sebuah mimpi yang begitu indah. Istri dari Dom itu seolah terobsesi untuk terus tinggal dalam kesemuan alam mimpi yang ia idamkan, dan menganggap bahwa dunia maya itu adalah realitas yang sebenarnya.

Di luar aksi yang disertai efek visual yang memanjakan mata, plot Mal ini menghadirkan sebuah drama tragedi yang memilukan. Sementara, Marion Cotillard menunjukan kelas aktingnya dengan begitu memukau. Ia dapat muncul sebagai tokoh antagonis yang selalu berusaha menggagalkan misi Dom, tapi dia juga mampu tampil sebagai seorang wanita cantik yang rapuh.

Mengingatkan pada The Matrix

Mengingatkan pada The Matrix

Dengan segala keseruan dan konsep brilian yang dimiliki oleh Inception, bisa dikatakan apa yang dihadirkan oleh Chrisopher Nolan dalam filmnya ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Kisah keberadaan kehidupan di dunia maya dalam kepala seseorang juga sebenarnya adalah konsep yang digunakan dalam film The Matrix yang dibintangi oleh Keanu Reeves.

Perbedaannya adalah, sementara Christopher Nolan menghadirkan sebuah konsep dunia sureal yang dapat diarungi sementara waktu, dalam The Matrix, dikisahkan bagaimana manusia –terpaksa- hidup dalam dunia maya karena kalah dalam pertempuran menghadapi mesin-mesin yang telah mengambil alih kekuasaan atas Bumi.

Secara keseluruhan, tentu saja Inception adalah film yang wajib untuk disaksikan. Apalagi, jika kamu memang termasuk orang yang menyukai genre science fiction dan action, film ini seharusnya ada dalam daftar film favorit kamu. Dan bagi para ‘Nolan posse’ kamu pasti akan menyebut film ini sebagai salah satu film terbaik karya sang sutradara selain Interstellar.

Dari segi box office, Inception berhasil meraih kesuksesan dengan meraup keuntungan total sebesar 825 juta USD lebih di seluruh dunia. Keberhasilan Christopher Nolan ini berhasil membuat Inception menjadi film dengan peraihan laba terbesar ke-4 pada tahun 2010 dibelakang Toy Story 3, Alice in Wonderland, dan Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1.

Jika kamu belum menyaksikan Inception, silahkan ditonton karena kamu mungkin melewatkan salah satu film laga terbaik selama satu dekade terakhir ini –sebelum negara Marvel menyerang- yang akan menambah perbendaharaan film science fiction mengasyikan yang pernah kamu tonton.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *