bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Fiksi, Obsesi Cinta Berujung Tragedi

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 15 September 2021

Secara garis besar, film Fiksi mengisahkan tentang seorang gadis yang mempunyai karakter dengan kecenderungan psikopat. Ia tinggal di sebuah rumah susun Jakarta, yang di dalamnya terdapat kehidupan unik lewat berbagai macam karakter dengan latar belakang berbeda. Gadis muda tersebut mencintai salah satu penghuni pria yang tinggal di rumah susun itu, dan ia begitu terobsesi kepadanya.

Fiksi adalah sebuah film sukses garapan Mouly Surya bersama Joko Anwar. Film ini lalu dinominasikan untuk 10 penghargaan dalam Festival Film Indonesia 2008, dan memenangkan 4 penghargaan yang di antaranya, Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Mouly Surya), Skenario Asli Terbaik (Mouly Surya bersama Joko Anwar), dan Tata Musik Terbaik.

Sinopsis

Film Fiksi
*sumber: https://www.kompas.com/hype/read/2020/12/01/164659466/sinopsis-film-fiksi-hilangnya-batas-antara-realita-dan-cerita-fiksi?page=all

Alisha adalah seorang gadis muda yang dilahirkan di sebuah keluarga kaya raya. Meski begitu, kehidupan di rumah mewahnya itu tidak membuat kondisinya baik-baik saja. Alisha ternyata mempunyai rasa traumatik, dan tekanan mental akibat masa kecilnya yang kelam. Pada waktu itu, ia menyaksikan ibu kandungnya mati bunuh diri menggunakan pistol milik ayahnya.

Oleh karena itu, Alisha tumbuh menjadi seorang gadis penyendiri, dan kerap “bermain-main” dengan dunia fantasinya sendiri. Di dalam rumahnya, ia kerap bermain cello sebagai pengusir rasa sepinya. Pada suatu hari, ada seorang pria bernama Bari datang ke rumahnya untuk bekerja sebagai pembersih kolam renang di rumah Alisha.

Karena sering melihatnya secara diam-diam, Alisha perlahan-lahan mulai terobsesi kepadanya. Ketika Bari tidak bekerja lagi di rumahnya, ia menguntitnya menuju tempat tinggalnya yang berada di sebuah rumah susun. Alisha lalu mengetahui jika Bari tinggal bersama pacarnya yang bernama Renta.

Alisha lalu memutuskan untuk tinggal di salah satu kamar kosong yang berada di rumah susun tersebut. Selama berada di rumah susun, Alisha menggunakan identitas baru dengan nama samaran sebagai Mia. Ia kemudian berkenalan dengan Bari, serta Renta, dan mereka mulai mengenal satu sama lain hingga akhirnya menjadi teman.

Di sebuah kesempatan, Alisha berbicara kepada Bari mengenai tulisan-tulisannya yang akan dijadikan sebuah novel. Bari lalu mengatakan jika sumber inspirasi tulisannya berasal dari rumah susun ini, yang kebetulan para penghuninya mempunyai latar belakang yang bermacam-macam, dan unik.

Namun, tulisannya belum sempat diselesaikan karena Bari masih bingung untuk mengakhiri ceritanya. Dari situlah Alisha mulai bermain dalam dunia fantasinya, dan ia tidak bisa membedakan antara realitas dan fiksi.

Ia berencana untuk mengakhiri ketiga kisah yang ditulis oleh Bari tanpa sepengetahuannya, dimulai dari kisah pertama tentang pasangan sesama jenis Rudi dan Dani yang tinggal di rumah susun tersebut. Alisha kemudian membantu Dani untuk mengerjakan tugas kuliahnya, dan di sela-sela itu juga, ia menghubungi ibunya Dani untuk memberitahu keberadaan anaknya itu, termasuk Rudi yang menjadi pasangannya.

Pada jumat malam, ada sebuah pesta yang berada di salah satu lantai di rumah susun itu, yang kebetulan juga Dani dan Rudi hadir di acara tersebut. Alisha datang kesana, dan menyelesaikan akhir kisah pertama dari tulisan Bari dengan sang ibu menembak mati Rudi.

Setelah dari kejadian itu, Alisha berencana untuk mengakhiri cerita kedua dari tulisan Bari, yakni tentang seorang wanita penyuka kucing bernama Bu Dirah. Singkat cerita, Bu Dirah tewas meloncat dari lantainya karena ingin mencari kucing-kucingnya yang dibuang oleh Alisha. Kini, dirinya harus menyelesaikan bagian ketiga, tapi di saat yang sama, Bari sudah mencurigai bahwa ada yang aneh dalam diri Alisha.

Psikologi Thriller yang Kompleks

Psikologi Thriller yang Kompleks
*sumber: https://apabedanya.com/review-film-fiksi-mouly-surya-ladya-cheryl/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-film-fiksi-mouly-surya-ladya-cheryl

Film berjudul Fiksi ini bukanlah mengisahkan tentang seorang gadis “psikopat” yang tiba-tiba berubah menjadi pembunuh berantai. Film ini tidak membawa premis ceritanya seperti itu, dan Fiksi menampilkan suasana thriller yang kompleks lewat batasan antara realitas dan fantasi. Batasan tersebut pada akhirnya menjadi kabur ketika Alisha menyimpan rasa obsesi cinta berlebihan kepada pria yang disukainya, Bari.

Fiksi adalah panggungnya Alisha dalam hal menciptakan dunia imajinasinya sendiri. Lewat kesendirian yang ia pertontonkan di menit-menit awal, kita yang melihatnya seakan terjebak ke dalam kepribadiannya yang rumit. Alisha memberikan sebuah kondisi yang kelihatannya sebagai seorang gadis lemah tak berdaya, namun ternyata ia begitu impulsif lewat tindakan ekstrim yang tidak terduga.

Pemicunya sudah jelas bahwa ia terobsesi dengan Bari, dan ia mencoba membantu tulisan-tulisannya agar mempunyai ending yang diinginkannya. Pikirannya begitu misterius, sama hal dengan tindakan “membunuh” yang ia ambil terhadap karakter-karakter dalam cerita Bari, yang kebetulan semuanya adalah penghuni di rumah susun.

Demi sebuah makna cinta yang ia rasakan, Alisha rela melakukan apa pun, dan harus mengaburkan batasan antara dunia nyata, dan fantasi. Pada akhirnya ia memang terlihat seperti seorang pembunuh polos, dan ia pun menjadi salah satu karakter yang berada dalam cerita yang ditulis oleh Bari sendiri.

Di sisi lain, sutradara Mouly Surya menggambarkan sosok Alisha dengan dua karakter berbeda. Awalnya, Alisha menjadi sosok yang mandiri, dan tidak memanfaatkan kekayaan yang dimiliki keluarganya. Sikapnya itu ia perlihatkan meski berada dalam rasa kesendiriannya. Ia lalu memberontak pikiran dan emosinya ketika bertemu Bari, dan traumatik masa kecilnya mulai perlahan-lahan mengganggunya lagi.

Suram dengan Sedikit Sentuhan Cinta

Suram dengan Sedikit Sentuhan Cinta
*sumber: https://apabedanya.com/review-film-fiksi-mouly-surya-ladya-cheryl/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-film-fiksi-mouly-surya-ladya-cheryl

Tidak selamanya film bernuansa gelap, dan suram menjadi sebuah tontonan yang tidak bisa dinikmati. Beberapa film mungkin akan seperti itu, tapi Fiksi sendiri sejauh durasi yang disuguhkan sekitar dua jam, film ini baik-baik saja, dan rasanya nyaman untuk ditonton hingga akhir.

Fiksi memang menawarkan kisah Alisha dengan segala kecenderungan psikopatnya, namun bukan berarti dari awal kita disuguhkan hal-hal tragis saja. Di bagian tertentu, ada beberapa momen manis yang disajikan oleh Alisha kepada Bari. Momen tersebut tersaji ketika keduanya pertama kali bertemu, saling berinteraksi, hingga Alisha mencoba membantu tulisanya Bari sebelum tragedi pembunuhan terjadi.

Momen itu secara tidak langsung membuat film ini terasa sedikit hangat, dan tidak melulu suram serta dingin. Film bertemakan thriller memang sah-sah saja membawa elemen cinta, asal hal itu tidak mengganggu keseluruhan jalan ceritanya. Fiksi pun berusaha mengambil formula itu, dan nuansa asmara di filmnya tidak merusak inti cerita, malah memperkuat motif obsesi cinta yang dimiliki oleh Alisha.

Film Fiksi menyajikan sebuah premis cerita thriller yang memusatkan pada eksplorasi karakter Alisha. Film ini mungkin menjadi salah satu pemberharu dalam industri perfilman Indonesia para periode itu. Maka tak heran banyak penghargaan yang diterima oleh film garapan Mouly Surya ini.

Naskah yang ditulis oleh Mouly bersama Joko Anwar membuat Fiksi tak sekedar film bergenre thriller biasa saja. Film ini tidak bertele-tele dalam memperlihatkan motif Alisha untuk menyelesaikan akhir cerita dari ketiga kisah yang ditulis oleh Bari. Meski terkesan suram dan gelap, ada setitik kehangatan yang tersaji dalam film ini.

Karakter Pendukung dan Latarnya Menunjang Cerita Filmnya

Karakter Pendukung dan Latarnya Menunjang Cerita Filmnya
*sumber: https://apabedanya.com/review-film-fiksi-mouly-surya-ladya-cheryl/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-film-fiksi-mouly-surya-ladya-cheryl

Ladya Cheryl dikenal karena membintangi film Ada Apa Dengan Cinta (2002) bersama dengan Dian Sastro. Setelah dari itu, ia berperan di film ini sebagai Alisha begitu baik dalam memperlihatkan sosok gadis yang psikopat. Secara pribadi, ia memang sudah cukup manis sebagai wanita, dan lewat auranya itu ia teramat mumpuni berperan sebagai Alisha dengan segala sisi misteriusnya.

Film ini tidak akan sukses jika tidak didukung oleh pemeran lainnya, seperti Dony Alamsyah (Bari), dan Kinaryosih (Renta). Keduanya adalah pendukung yang baik dalam menunjang segala kerumitan psikopat yang dialami oleh Alisha. Apalagi, Bari menjadi salah satu sosok pemicu yang membuat Alisha hingga berbuat tindakan diluar batas kendalinya.

Renta menjadi sosok teman baru yang baik untuk Alisha, meski pada akhirnya ia menjadi pusat kecemburuaan dari Alisha karena hubungannya bersama Bari. Selain mereka ada juga, pasangan sesama jenis, Rudi dan Dani, Bu Dirah, dan seorang lansia, yang semuanya menjadi karakter dalam tulisannya Bari, dimana mereka menjadi korban akibat tindakan Alishan.

Di lain sisi, rumah susun yang menjadi latar di film ini pun mempunyai daya tarik yang unik, dan menarik. Tiap lantai di rumah susun tersebut ternyata ditempati oleh latar belakang penghuni yang berbeda-beda, mulai dari pengedar narkotika, perempuan simpanan, transgender, pegawai kantoran, keluarga biasa, hingga pebisnis.

Semua aspek, baik karakter pendukung maupun latar tempatnya, menjadikan film Fiksi ini tidak hambar, dan sepi. Meski rumah susunnya tidak dieksplorasi secara penuh, tapi itu tidak masalah, dan tak membuat Fiksi menjadi mengecewakan. Film ini pada dasarnya adalah tentang Alisha, dan ia terjebak pada fakta antara realitas dan fantasi.

Fiksi
Rating: 
3.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram