bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Everest, Perjuangan Menuju Puncak

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 11 September 2021

Pada akhir Maret 1996, Robert Edwin Hall atau Rob Hall pemilik agen pendakian Everest, Adventure Consultants, membawa beberapa klien untuk sama-sama mencapai puncak Everest di tanggal 10 Mei 1996. Cerita keberangkatannya menjadi di luar perkiraan karena di sana terdapat 20 agen pendakian lain yang punya agenda sama.

Kepadatan jalur pendakian sempat mengganggunya dan Scott Fischer, pemilik Mountain Madness, agen pendakian saingannya. Pasalnya hal tersebut bisa membuat waktu pendakian menjadi lebih lama, yang artinya cukup berisiko untuk para pendaki. Akankah Rob Hall dan Scott Fischer berhasil membawa klien-kliennya ke puncak dan kembali turun dengan selamat?

Film Everest (2015) menggambarkan peristiwa tragis yang berlangsung pada 1996 dengan cukup sama persis. Dibintangi Jason Clarke dan Jake Gyllenhaal, keduanya berhasil menghidupkan kembali Rob Hall dan Scott Fischer dalam film ini. Penasaran dengan keseluruhan alurnya? Berikut informasinya untuk Anda.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 23 Juni 2015
  • Genre: Adventure Film
  • Produksi: Cross Creek Pictures, Walden Media, Working Title Films
  • Sutradara: Baltasar Kormákur
  • Pemeran: Jason Clarke, Jake Gyllenhaal, Josh Brolin, John Hawkes

Tahun 1992, Rob Hall (Jason Clarke) membuat agen pemandu komersial menuju Puncak Everest bernama Adventure Consultants. Agen tersebut berhasil memandu 19 pendaki tanpa ada korban jiwa satu pun.

Tahun 1996 setidaknya ada sekitar 20 agen pemandu yang saling bersaing untuk sampai ke Puncak Everest, termasuk Mountain Madness milik Scott Fischer (Jake Gyllenhaal). Rob Hall dan para kliennya sudah berada di ketinggian sekitar 2000 kaki dan bersiap menuju camp ke 4.

Mereka memulai pendakian di tengah embusan angin yang sangat kencang. Alur kembali ke enam minggu sebelum pendakian. Di sana Rob dan tim sedang bersiap-siap karena tahu pendakian kali ini akan cukup padat sebab terdapat 20 agen lain yang sama-sama mendaki.

Seorang jurnalis bernama Jon Krakauer (Michael Kelly) akan ikut dan menuliskan perjalanan agennya serta memajang foto mereka di sampul majalah. Istri Rob yang sedang hamil bernama Jan Arnold (Keira Knighley) melepas suaminya hari itu, tepatnya 30 Maret 1996.

Rob dan beberapa klien besera tim sudah sampai di Nepal. Mereka adalah Beck Weathers (Josh Brolin), Doug Hansen (John Hawkes), dan Jon jurnalis tadi. Di penginapan Rob memberi sedikit informasi pada para kliennya mengenai zona maut di Everest; ketika mereka melewati South Col tubuh akan mulai sekarat karena suhu yang sangat ekstrem.

Rob berencana mencapai puncak tanggal 10 Mei dan di tanggal-tanggal itu cuaca diperkirakan stabil. Dari Nepal rombongan berangkat dan sampai ke sebuah kota kecil bernama Lukla yang berada di ketinggian 2.860 mdpl.

Setelah melewati jembatan gantung yang panjang, rombongan Rob sampai ke Namche Bazaar yang berada di ketinggian 3.750 mdpl. Di perjalanan Rob sempat berbincang dengan salah satu kliennya, Dough dan mengatakan bahwa kali ini dia akan membawanya ke puncak. Pasalnya sebelum ini Dough tidak pernah sampai puncak karena cuaca yang tidak mendukung.

Rombongan Rob akhirnya sampai ke camp Everest yang berada di ketinggian 5.367 mdpl. Helen Wilton (Emily Watson) sebagai pengelola camp Adventure Consultants menyambut rombongan sekaligus mengenalkan Ang Dorjee, seorang pemandu lokal.

Di sana Rob kebetulan melihat salah satu dari 20 agen pendakian yang baru mengenalkan cara memasang sepatu ke kliennya. Dia juga bertemu dengan Scott Fischer, pemilik agen Mountain Madness yang tampak santai tanpa pakaian.

Cerita berlanjut saat tim dokter Adventure Consultants yang diwakili Caroline memberi briefing pada seluruh klien mengenai betapa pentingnya oksigen untuk mencapai Puncak Everest karena udara di sana sangat tipis. Selama satu bulan ke depan, klien akan menghadapi tiga tahapan pendakian untuk beradaptasi dengan cuaca sebelum akhirnya benar-benar mendaki ke puncak.

Tiga tahapan yang dimaksud berupa camp 1, camp 2 dan camp 3. Pada tahapan pendakian pertama, Rob dan yang lain harus melewati sebuah area bernama ice fall. Medannya bukan main-main karena  sudah ada 19 pendaki yang tewas di area ini.

Para pendaki sampai di camp 1 yang ada di ketinggian 5.944 mdpl dan harus kembali melanjutkan perjalanannya dengan tetap waspada terhadap gejala hipotermia, pembengkakan otak yang berakibat fatal. Tanggal sudah menginjak 23 April, para pendaki akhirnya berhasil sampai di camp 2 yang berada di ketinggian 6.492 mdpl. Di sini Rob khawatir dengan kondisi Dough yang terlihat batuk-batuk.

Rob kemudian memintanya memeriksakan kondisi pada Caroline; lelaki itu pun mendapatkan obat. Sementara Beck yang terlihat sombong menjadi melankolis setelah menelepon istrinya menggunakan telepon satelit yang digratiskan oleh Rob.

Malam hari para pendaki menghabiskan waktu untuk berpesta sebelum mulai mendaki lagi besok. Di tempat terpisah Scott berpikir bahwa tahun ini akan lebih sulit mencapai puncak karena jumlah pendaki yang terlalu banyak.

Rekannya, Anatoli (Ingvar Eggert Sigurðsson) mengatakan bahwa yang bersaing sesungguhnya adalah bukan antara para grup pendakian, melainkan mereka semua dengan Everest itu sendiri. Pada akhirnya Everest yang menentukan siapa yang layak.

Pendakian pun dilanjut dan para pendaki yang sudah berada di Lhotse Face, di ketinggian 7.132 mdpl harus kembali ke basecamp karena cuaca buruk. Untuk kembali mereka harus melalui jurang yang sangat dalam dengan meniti jembatan yang tersusun dari beberapa tangga.

Kondisi pendaki yang sudah sangat kedinginan diperparah dengan antrean panjang karena jumlah orang di sana cukup banyak. Setelah menunggu sekitar 45 menit lebih akhirnya tiba giliran rombongan Rob dan orang pertama yang melintas adalah Beck.

Nahas di tengah jalan, secara tiba-tiba tumpukan es raksasa yang ada di dekat mereka runtuh. Beck yang sudah kehabisan tenaga dan kedinginan berada di posisi menggantung terbalik. Rob segera mendatanginya dan mencoba menyelamatkan lelaki itu. Akankah Rob berhasil? Bisakah Beck bertahan dalam keadaan seperti itu?

Visualisasi Tampak Nyata

Visualisasi Tampak Nyata

Menggunakan dukungan visual efek yang dibuat dengan teknik tinggi, visualisasi gambar yang ditampilkan dalam film Everest (2015) terlihat sekaligus terasa sangat nyata.

Salju tebal serta tebing yang tinggi menjulang jadi sebuah sajian visual yang terasa magis. Anda bisa membayangkan betapa dingin suhu di sana, betapa berat dan ekstrem perjalanan yang harus dilalui Rob Hall dan kawan-kawan saat mendaki hanya dengan menontonnya.

Sinematografi yang dramatis tak ketinggalan disuguhkan dalam film ini. Salvatore Totino memperlihatkan kejeliannya dalam merangkai gambar-gambar hingga bisa turut bercerita mengenai perjuangan Rob Hall dan pendaki lainnya.

Beberapa kali pengambilan gambar juga dilakukan dari arah atas dan jarak jauh, sehingga tumpukan es dan bebatuan yang tinggi terlihat sangat gagah, sementara manusia sangat kecil. Efek dramatis semacam ini memegang peran penting dalam kesuksesan Everest (2015).  

Alur Rapi dan Scoring yang Membuat Cerita Lebih Hidup

Alur Rapi dan Scoring yang Membuat Cerita Lebih Hidup

Anda tidak akan kesulitan mencerna alur cerita film Everest (2015) sebab alurnya dikemas secara rapi. Penceritaan setiap stage penting dalam perjalanan Rob Hall dan pendaki lain menuju Everest tidak bertele-tele; semua terasa cepat untuk film berdurasi 121 menit.

Anda akan tersentuh mengikuti cerita perjuangan Rob untuk turun bersama Doug hingga akhirnya sendiri dan meninggal setelah bertelepon dengan istrinya untuk terakhir kali.

Pada bagian ini, Anda juga akan turut merasa emosional karena scene berpindah-pindah memperlihatkan kekhawatiran dan was-was sekaligus bersedih antara Jan, istri Rob, Helen, Guy dan Caroline yang ada di basecamp sebab membayangkan nasib Rob di atas sana. Semua itu bisa dirasakan berkat teknik penceritaan yang baik.

Cerita Perjalanan Menaklukkan Ego

Cerita Perjalanan Menaklukkan Ego

Everest (2015) rasanya menjadi tontonan wajib bagi para pendaki. Ia bukan sekadar film yang dikemas dengan visualisasi yang nyata, melainkan sebuah refleksi diri tentang penaklukkan ego.

Dalam salah satu scene ketika Scott merasa khawatir dengan pendakian karena terlalu banyak orang di sana, karakter bernama Anatoli mengatakan bahwa persaingan sebenarnya adalah antara manusia dan Everest itu sendiri. Jika ada yang harus dikhawatirkan, itu adalah diri sendiri dan ego yang besar.

Selain itu, jika Anda menonton film ini sampai habis, karakter Rob Hall dan Harold sebenarnya bisa saja selamat karena tak lama setelah mencapai puncak, dia dan beberapa yang lain bergegas turun sebelum badai datang. Namun, Doug Hansen yang sempat tertinggal di belakang, bersikeras untuk naik sementara waktu sudah sangat mepet dan keadaan juga tidak terlalu baik.

Rob Hall yang tidak ingin meninggalkan kliennya, terpaksa menuruti keinginan Doug. Benar saja, dalam perjalanan turun setelah mencapai puncak itulah keduanya tidak selamat. Karakter Doug diceritakan lebih dulu terjatuh sementara Rob bertahan selama beberapa jam ke depan sebelum akhirnya tewas.

Sebagai seseorang yang beberapa kali gagal mencapai puncak, Doug bertekad kuat. Namun, sebagai pemandu, bagi Rob keselamatan klien adalah yang paling utama. Pada salah satu scene dia mengatakan bahwa mengantarkan klien sampai puncak memang tujuannya, tapi yang paling penting adalah membawa klien-kliennya turun dengan selamat.

Pada akhirnya melalui dua karakter tersebut, pelajaran tentang menaklukkan ego sendiri bukan hanya berlaku bagi para pendaki, melainkan kita sebagai manusia. Bagaimana pun kuatnya keinginan menaklukkan sesuatu, keselamatan diri sendiri adalah yang paling penting.

Everest (2015) menjadi satu dari beberapa film yang mengangkat tema pendakian Gunung Everest. Hal paling membedakannya dari film sejenis adalah ia diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang pendaki gunung profesional bernama Rob Hall dan Scott Fischer yang harus meninggal di Everest.

Menonton film ini, sama dengan mengikuti perjalanan terakhir dan perjuangannya di dunia. Jika penasaran dengan keseluruhan jalan ceritanya, Everest (2015) sudah bisa Anda saksikan di Netflix. Selamat menonton!

Everest
Rating: 
4.3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram