bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Carriers, Film tentang Wabah Virus

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 11 September 2021

Perjalanan empat pemuda dan pemudi menuju pantai berakhir dengan sesuatu yang tidak terduga. Satu persatu dari mereka mulai terserang virus mematikan yang mengharuskannya berpisah dari rombongan. Perpisahan antara empat orang tersebut membekaskan kesedihan dan penyesalan mendalam, tapi bagaimana pun keputusan harus tetap dibuat.

Film Carriers yang rilis pada 2009 tidak seperti film post apocalyptic kebanyakan. Ketegangan yang mereka tampilkan lebih bercitarasa drama. Anda akan melihat bagaimana sifat asli seseorang ketika berhadapan dengan kondisi sulit seperti yang dialami Brian dan kawan-kawan. Bagaimana keseluruhan jalan cerita Carriers? Anda harus menontonnya langsung tapi sebelum itu mari simak sinopsis dan ulasannya berikut ini! 

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 4 September 2009
  • Genre: Post Apocalyptic
  • Produksi: Likely Story, This is That
  • Sutradara: Alex Pastor, David Pastor
  • Pemeran: Lou Taylor Pucci, Chris Pine, Piper Perabo, Emily VanCamp

Brian (Chris Pine), Bobby (Piper Perabo), adik Brian, Danny (Lou Taylor Pucci) dan Kate (Emily VanCamp) berkendara menggunakan mobil, entah milik siapa, menuju sebuah pantai di tengah keadaan kota yang berantakan karena serangan virus mematikan. Di tengah perjalanan mereka bertemu seorang lelaki yang tampak kehabisan bensin.

Mobil lelaki tersebut posisinya melintang di tengah jalan sehingga menghalangi mobil Brian untuk terus maju dan mengabaikan. Mewaspadai segala sesuatu, termasuk orang baru, Brian berbicara dengan pria tersebut dengan tetap berada dalam mobil.

Benar saja, lelaki itu kehabisan bensi dan berniat melakukan barter dengan menawarkan persediaan makanan dan air miliknya pada Brian dan kawan-kawan. Namun, dari dalam mobil si lelaki tersebut, Brian melihat seorang anak kecil perempuan mengintip, menggunakan masker yang terlihat berdarah.

Panik dan khwatir, Brian segera tancap gas karena mengira putri lelaki tersebut sudah terinfeksi virus. Brian membawa mobil terlalu ke luar jalur hingga mengakibatkan mobil yang dikendarai rusak.

Merasa tidak punya pilihan lain, mereka berempat kembali menghampiri lelaki tadi, lengkap menggunakan masker dengan tujuan mengambil kendaraannya. Frank (Christopher Meloni) lalu mengatakan bahwa dirinya mendengar berita dari saluran radio darurat untuk pergi ke sebuah sekolah bernama Farmington.

Di sana terdapat sebuah organisasi bernama CDC yang membuat pusat penangan darurat. Organisasi tersebut konon juga sudah menciptakan sebuah serum baru untuk mengatasi virus itu. Frank sendiri berencana pergi ke sana untuk mengobati putrinya, Jodie (Kiernan Shipka) yang telah terinfeksi.

Brian tidak percaya begitu saja. bobby malah menyarankan Brian untuk langsung menembak kepala Frank dan segera mengambil mobil lelaki tersebut. Namun, Danny menyarankan hal lain, yaitu menyiapkan bangku belakang untuk Frank dan putrinya.

Mereka lalu dibatasi menggunakan plastik yang direkatkan secara rapat. Tujuannya tentu saja agar anak kecil itu tidak menulari mereka. Seisi mobil juga dibersihkan menggunakan disinfektan. Setelah dirasa cukup aman, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan mobil Frank menuju Farmington.

Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah mobil yang terlihat mogok. Ide untuk mengambil bensin sebagai persediaan pun muncul sebagai naluri bertahan. Danny dan Brian melakukan itu tanpa ragu. Hingga saat akan memindahkan bensin dari tangki mobil, tangki tersebut terkunci. Dengan terpaksa Danny harus mengambil kunci untuk membukanya yang menggantung di dekat setir.

Saat mobil dibuka, Danny melihat sesosok mayat telah membusuk dengan posisi duduk di belakang kemudi. Saat sedang berusaha mengambil kunci tersebut, mayat itu membuka mata dan mengagetkan Danny. Beruntung dia bergerak secepat kilat hingga tidak sampai diserang oleh mayat hidup. Perjalanan mereka pun berlanjut hingga akhirnya sampai ke tujuan.

Frank meminta putrinya untuk menunggu di mobil. Bobby yang merasa tak tega meninggalkan gadis cilik itu sendirian, memutuskan untuk menemaninya. Tanpa Bobby, mereka kemudian masuk ke bangunan sekolah yang dimaksud tapi tidak melihat siapa pun hingga sekelebat bayangan anak kecil terlihat berlari di belakang Kate.

Akhirnya setelah lama berjalan mereka menemukan sebuah ruangan yang dipenuhi plastik. Di sana terdapat seorang dokter dan beberapa anak kecil. Tidak ingin buang waktu, Frank segera bertanya pada sang dokter mengenai obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan Jodie. Rupanya, dokter tersebut juga sudah terinfeksi oleh virus penyakit, terlihat dari wajah sebelah kanan yang berubah memburuk.

Serum yang didengar Frank dalam siaran radio ternyata hanya mampu menahan laju infeksi selama tiga hari. Setelah itu mereka yang terinfeksi akan lebih menderita sebelum akhirnya meninggal dunia. Merasa tak punya harapan hidup, sang dokter berniat bunuh diri dengan cara menyuntikkan cairan ke tubuhnya dan tubuh anak-anak di sana.

Melihat hal itu, Frank tidak bisa tinggal diam. Sementara sang dokter merasa bahwa kematian adalah yang terbaik daripada harus menghadapi infeksi dan kelaparan. Mendengar pernyataan dokter, Frank dan yang lain merasakan kesedihan dan segera meninggalkan ruangan tersebut. Di mobil, Jodie yang ditemani Bobby mengalami sesak napas dan membutuhkan oksigen.

Melihat gadis kecil itu tak berdaya, Bobby menerobos batasan yang dibuatnya dan segera menolong. Begitu masker dibuka, Jodie memuntahkan darah dan mengenai Bobby. Perempuan ini super khawatir dan segera membereskan apa pun sebelum kawan yang lain datang. Tak lama Frank dan yang lain pun datang.

Melihat sang ayah tiba, Jodie mengeluh ingin buang air kecil. Frank membiarkan gadis ciliknya pergi ke toilet sendiri dengan maksud hendak meninggalkannya. Dia merasa Jodie tidak lagi punya harapan hidup dan memilih meninggalkannya di sana daripada harus membunuhnya.

Namun Jodie yang sangat lemas ternyata tidak kuat jalan sendiri. Frank memutuskan untuk mengendong putrinya menuju toilet dan akan mengatakan kembali tak lama lagi.

Melihat kesempatan untuk membawa kabur mobil milik Frank, Brian berencana kabur dengan mengajak Danny pergi dari sana. Danny tampak berat tapi dia juga tidak punya pilihan lain untuk ikut. Lalu, bagaimana nasib Frank dan Jodie? Bagaimana perjalanan Brian dan kawan-kawan selanjutnya?

Perjalanan Menuju Pantai Tak Semudah Itu

Perjalanan Menuju Pantai Tak Semudah Itu

Premis film Carriers ini cukup sederhana; empat pemuda dan pemudi melakukan perjalanan dengan tujuan akhir sebuah pantai. Di sana mereka berencana tinggal hingga pandemi virus mematikan usai. Namun, rencana tinggallah rencana karena kenyataannya mereka sedang berada di masa sulit.

Perjalanan menuju pantai tidak semudah itu sebab mereka harus mengalami berbagai masalah. Terutama berkaitan dengan ego manusia. Film ini bukan sejenis film zombie atau film tentang virus yang didramatisir dengan scene yang menampilkan mayat-mayat berserakan, melainkan lebih manusiawi dan realistis. Pasalnya, masalah-masalah yang muncul dalam film ini mengedepankan sisi emosional.

Film Wabah dengan Banyak Unsur Drama

Film Wabah dengan Banyak Unsur Drama

Saat menyaksikan Carriers Anda tidak akan melihat para karakternya berlari-lari dikejar zombie yang bergerak cepat dan dalam jumlah banyak. Tidak ada juga scene kepanikan di sebuah rumah sakit yang penuh sesak dengan pasien.

Ketegangan serta unsur-unsur teror dalam film ini disuguhkan dengan cara berbeda, yakni bagaimana nurani kita sebagai manusia dituntut bekerja sementara akal juga harus tetap rasional guna memutuskan sesuatu dalam waktu singkat.

Terdapat unsur drama dalam film yang bercerita tentang wabah ini. Anda bisa melihat itu pada gambaran hubungan antara empat karakter utamanya, terutama Danny dan Brian sebagai kakak beradik. Belum lagi karakter ayah dan anak gadisnya yang membuat iba.

Scene ketika Jodie dibiarkan pergi sendiri ke toilet, rasanya mampu membuat Anda ikut merasakan kesedihan sekaligus kebingungan. Hingga film menjelang usai, unsur drama justru menjadi yang lebih dominan dipertontonkan.

Wabah virus yang diusung sejak awal, terasa sebagai makanan pendamping, sementara hidangan utamanya adalah pergolakan batin antara dua pilihan, yaitu meninggalkan orang yang kita kasihi atau membahayakan diri sendiri.

Plot Rapi dengan Durasi Singkat

Plot Rapi dengan Durasi Singkat

Durasi film Carriers terhitung singkat, yaitu hanya 85 menit. Durasi yang singkat tersebut terasa semakin sebentar karena plot cerita dibuat dengan rapi. Tidak ada lompatan-lompatan scene yang membingungkan, kecuali sedikit flashback mengenai kehidupan Danny dan Brian di masa kecil.

Anda bisa mudah menceritakan ulang alur film ini tanpa teori-teori atau apa pun yang sulit dijelaskan. Jika menyukai film dengan sensasi ketegangan saat dikejar mayat hidup, Carriers bukan tontonan yang Anda cari. Apabila Anda juga suka dengan penjelasan-penjelasan ilmiah yang rumit mengenai sebuah virus, lagi-lagi Carriers bukan jawabannya. Walau demikian, film ini berhasil tampil dengan ‘teror’ yang berbeda.

Pengambilan gambar film Carriers dilakukan di New Mexico dan Texas pada 2006 lalu, tapi film ini baru bisa rilis pada 2009. Butuh waktu selama tiga tahun bagi Carriers untuk bisa dinikmati para penonton. Bersamaan dengan pandemi Covid-19, film ini pun mulai kembali banyak dibicarakan. Tertarik dan ingin tahu mengenai jalan ceritanya? Saksikan segera yuk!

Carriers
Rating: 
4/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram