bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Sinopsis & Review Bumi Manusia, Cinta di Masa Kolonial

Sinopsis & Review Bumi Manusia, Cinta di Masa Kolonial

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 1 Juni 2021

Bumi manusia merupakan sebuah film dari adaptasi novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer. Film di bintangi oleh Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Mawar Eva de Jongh menjadi Annelies Mellema, dan Sha Ine Febriyanti memerankan Nyai Ontosoroh.

Film ini ditayangkan pada 15 Agustus 2019, dan sempat menguasai perolehan jumlah penonton terbanyak selama dua minggu berturut-turut sebelum digantikan oleh film Gundala. Bumi manusia menggaet lebih dari satu juta penonton, dan meraih pendapatan kotor sekitar 52,7 miliar rupiah. Dalam ajang Festival Film Indonesia 2019, film ini dinominasikan dalam 12 kategori bergengsi.

Sinopsis

Bumi Manusia
  • Tahun rilis: 2019
  • Genre: Drama sejarah
  • Rumah produksi: Falcon Pictures
  • Sutradara: Hanung Bramantyo
  • Pemeran Utama: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, Donny Damara, Bryan Domani, Giorgino Abraham, dan Jerome Kurnia

Minke adalah seorang siswa yang belajar di sekolah elit Hogereburgerschool (HBS). Di suatu hari, teman sekolahnya, Rober Suurhof, mengajak Minke berkunjung ke rumah keluarga Mellema Boerderij Buitenzorg di Wonokromo. Sesampainya di sana, Minke dicurigai dan direndahkan oleh Robert Mellema, sebaliknya, anak pertama dari keluarga tersebut menyambut hangat kedatangan Robert Suurhof.

Meski begitu, adiknya yang bernama Annelies Mellema, serta ibunya Nyai Ontosoroh menerima kehadiran Minke dengan Hangat. Sejak perkenalan pertamanya dengan Annelies, Minke mulai suka kepadanya, dan nampaknya Annelies pun begitu. Nyai Ontosoroh cukup senang dengan kedatangan Minke yang bisa membuat Annelies tampak lebih bergembira.

Keesokan harinya, sehabis pulang sekolah, Minke menemui teman dekatnya yang berdarah Prancis, Jean Marais, dan anaknya yang masih kecil, May Marais. Kepada temannya itu, Minke menceritakan tentang kedatangannya ke Boerderij Buitenzorg, dan bagaimana ia terpukau dengan Annelies, serta Nyai Ontosoroh yang meski seorang pribumi, ia berdiri sejajar dengan perempuan-perempuan Eropa.

Saat Minke berkunjung kembali ke Boerderij Buitenzorg, Annelies menceritakan kehidupan ibunya yang dulu bernama Sanikem sebelum mengganti namanya menjadi Ontosoroh. Atas cerita yang dituturkan oleh Annelies, Minke menulis sebuah artikel di koran Surabaya dengan menggunakan nama pena, Max Tollenaar.

Karena tulisannya itu, Minke tiba-tiba ditangkap oleh polisi, dan dibawa jauh menuju sebuah daerah. Polisi tersebut ternyata membawa Minke ke rumah orangtuanya. Sang ayah lalu memarahi minke karena diketahui menjalin hubungan dengan Annelies, yang menurutnya telah melanggar nilai-nilai kebudayaan, dan tradisi jawa

Setelah mengikuti proses pengangkatan ayahnya menjadi Bupati, Minke menemui Annelies kembali. Saat keduanya sedang menaiki kereta kuda yang dikemudikan oleh Darsam, Minke dibuntuti Gendut Sipit lagi yang sebelumnya pernah membuntutinya juga di kereta api. Darsam yang mengetahui hal itu, meminta Minke untuk pulang dulu, dan jangan dulu menginap di Wonokromo.

Beberapa hari kemudian setelah peristiwa itu, Annelies yang sedang berkeliling pertanian tiba-tiba pingsan, dan dirinya dirawat oleh Dokter Martinet. Minke kemudian datang ke kamarnya, dan merawat Annelies dari sakitnya.

Keduanya lalu melakukan hubungan intim yang membuat luka traumatik Annelies muncul kembali. Menurut Dokter Martinet, Minke bukanlah orang pertama yang melakukan hal itu, karena sebelumnya Robert Suurhof, kakaknya sendiri, pernah memperkosa Annelies.

Sementara itu, Gendut Sipit kemudian kembali muncul di hadapan rumah Annelies, dan membuat heboh seisi rumah. Darsam, Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh mengejarnya hingga ke rumah pelacuran. Di tempat tersebut, Darsam menemukan ayahnya Annelies, Herman Mellema, yang tewas keracunan.

Tiga Jam yang Masih Terasa Kurang Sempurna

Tiga Jam yang Masih Terasa Kurang Sempurna (2)

Durasi tiga jam yang disajikan oleh Hanung Bramantyo masih terasa kurang cukup untuk menerjemahkan novel Bumi Manusia ke dalam layar lebar. Selama tiga jam tersebut, rasanya versi layar lebar ini terasa kurang menarik, dan entah kenapa membaca buku aslinya lebih berkesan, serta lebih bisa memaknai kehidupan pribumi di zaman Kolonial.

Bumi Manusia memang bukanlah novel sembarangan, dan Hanung cukup berani mengadaptasinya ke film layar lebar, meski ceritanya tidak sedetail yang ada dalam isi novelnya. Bumi Manusia juga menjadi novel pertama dari Tetralogi Buru, keempat novel tersebut ditulis oleh Pram sendiri selama dirinya menjalani masa pembuangan di Pulau Buru.

Pada masa rezim Orde Baru, novel ini sempat dilarang peredarannya. Tapi, sekarang Bumi Manusia bisa dibaca dengan bebas oleh siapa saja tanpa harus mengalami rasa takut. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dan menjadi mahakarya novel sastra Indonesia di tingkat dunia internasional.

Novel ini memang sangat menarik karena Pram mampu meramu berbagai macam elemen sejarah, drama, hingga problematika pribumi dengan bangsa Eropa. Aspek tersebut menjadi kekuatan dalam novelnya, termasuk ketiga novel Buru lainnya.

Karena kedalaman cerita yang disajikan itu begitu kompleks, dan penting, maka tiga jam yang disuguhkan oleh Hanung tidak cukup baik dalam menghadirkan aspek-aspek terpenting di novelnya. Novel Bumi Manusia sendiri cukup tebal dengan mempunyai lebih dari 500 halaman. Oleh karenanya, film ini tidak terlalu menonjolkan sisi sejarah Indonesia yang bergelut dengan orang-orang Eropa selama masa kolonial.

Film Bumi Manusia ini hanya tak lebih dari sekedar film cinta yang dikemas dengan latar Indonesia di era colonial. Film ini sudah kita ketahui berfokus pada kisah asmara antara Tirto Adhie Soerjo, yang dipanggil Minke, dengan Annelies Mellema. Minke seorang bangsawan Jawa, pribumi asli, sedangkan Annelies adalah gadis keturunan Indo-Belanda, seorang anak gundik, Nyai Ontosoroh.

Mencoba Menggaet Fans Milenial

Mencoba Menggaet Fans Milenial
*https://akuaktor.com/acting-review-bumi-manusia-muda-dan-masih-tumbuh/

Meski ada beberapa detail cerita yang masih kurang diperlihatkan, Hanung bersama timnya berusaha sebaik mungkin menginterpretasikan semua aspek yang ada di Bumi Manusia. Dalam urusan produksi, mereka cukup baik dengan memilih latar tempat yang terlihat otentik, dan pemilihan pemain yang terlibat pun harus diakui tidak terlalu buruk juga, hingga sampai menampilkan orang-orang Belanda asli.

Dari situ, Hanung berusaha menghadirkan gambaran Indonesia pada masa Kolonial, dan rasanya itu cukup berhasil. Tapi sekali lagi, sayangnya film ini terlalu berfokus pada kisah asmara Minke dan Annelies, hingga harus mengorbankan perjalanan Minke dari yang awalnya memuja hingga Eropa berubah menjadi sosok nasional sejati.

Bagi sebagian orang, pendekatan berbeda tersebut mungkin masih bisa dimaklumi. Namun, untuk yang pernah membaca novelnya, film adaptasi ini kurang memberikan ekspektasi yang diinginkan. Hanung nampaknya berusaha membawa Bumi Manusia untuk dikenal oleh remaja-remaja milenial, sembari memperkenalkan nama Pramoedya sebagai salah salah penulis terbaik di Indonesia kepada mereka.

Cara tersebut mungkin bisa dibilang berhasil dengan memilih Iqbaal, serta Mawar yang keduanya sedang naik daun. Pesona yang dimiliki oleh keduanya tentunya mampu menarik minat dari para milenial untuk menonton film Bumi Manusia. Iqbaal yang sukses memerankan sosok Dilan menjadi daya tarik yang sempurna, ditambah Mawar juga yang aslinya memang keturunan Indo-Belanda.

Iqbaal dan Mawar kemudian mampu membangun chemistry yang baik antara Minke serta Annelies. Bagi penonton milenial, hal tersebut sepertinya disukai, dan menjadi kekuatan untuk versi filmnya. Bumi Manusia sebagai sebuah film memang memiliki durasi yang panjang, namun tidak ada salahnya untuk menonton film ini sambil melihat lebih dekat kondisi Indonesia di zaman kolonial.

Para Pemeran Tampil Cukup Baik

Para Pemeran Tampil Cukup Baik
*https://www.bengkuluinteraktif.com/film-bumi-manusia-siapakah-nyai-ontosoroh

Selain ada Iqbaal, dan Mawar, film ini juga menghadirkan Sha Ine Febriyanti yang sangat memukau bermain sebagai sanikem alias Nyai Ontosoroh. Dirinya selalu tampil menguasai setiap adegan, dan karakternya ditampilkan begitu kuat lewat aktingnya yang ekspresif, dari mulai tenang hingga yang marah.

Penampilannya di sini sangat melebihi ekspektasi, dan ia berhasil mewujudkan karakter Nyai, yang zaman itu dipandang sebagai perempuan simpanan, menjadi sosok yang terhormat sejajar dengan wanita-wanita Eropa. Pemilihan Ine sebagai Nyai Ontosoroh adalah langkah yang tepat, ia juga mampu memperlihatkan karakternya begitu pintar, dan kharismatik, persis seperti apa yang diceritakan dalam novelnya.

Sementara itu, Mawar Eva de Jongh tampil tidak terlalu mengecewakan, ia rasanya menjadi gambaran yang tepat untuk Annelies lewat parasnya yang cantik karena sama-sama keturunan Indo-Belanda. Mawar pun di beberapa adegan cukup fasih berbicara bahasa Belanda. Ia memerankan peran yang sangat penting, baik di dalam novelnya, maupun di versi layar lebarnya ini.

Kemudian, Iqbaal yang sempat diragukan oleh sebagian orang saat dirinya memerankan Minke, ternyata cukup baik juga menggambarkan sosok pribumi yang cerdas, dan berpendirian teguh. Ia tidak canggung memainkan pribumi Jawa meski harus berhadapan dengan sosok yang lebih senior seperti Ine Febriyanti, Donny Damara, hingga Ayu Laksmi.

Dua nama terakhir yang disebutkan di atas, Donny, dan Ayu, berperan sebagai orang tuanya Minke. Ayu yang terkenal lewat peran Ibu di Pengabdi Setan, tampil sebagai sosok perempuan Jawa yang anggun, dan sosok ibu yang begitu peduli terhadap anaknya. Sementara Donny, ia menjadi ayah yang tegas lewat pendirian teguhnya sebagai seorang Bupati yang hidup dari nilai-nilai tradisi Jawa.

Nama lainnya yang menarik perhatian adalah Jerome Kurnia sebagai Robert Suurhof. Di film ini ia terlihat fasih berbicara bahasa Belanda, dan menjadi sosok karakter yang sangat pembangkang, dan sangat tidak menyukai Minke.

Tentunya masih banyak lagi pemeran lainnya yang tampil begitu menunjang, dan mereka memainkan perannya masing-masing secara baik. Bumi Manusia memang sangat menarik untuk ditonton, meski film ini tidak terlalu detail mewujudkan isi cerita dari novelnya sendiri.

Bumi Manusia
8 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram