Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Bram Stoker’s Dracula (1992)

Sinopsis dan Review Film Bram Stoker’s Dracula (1992)

Ditulis oleh - Diperbaharui 15 Agustus 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Vampire berusia ratusan tahun, Count Dracula, datang ke Inggris untuk memenuhi hasratnya untuk memiliki Mina Murray, kekasih Jonathan Harker, pengacaranya, dan menyebarkan ketakutan di tanah orang. Garis besar kisah vampire karya Bram Stoker inilah yang diangkat ke layar lebar dengan nuansa gothic oleh sutradara Francis Ford Coppola dengan deretan aktor kawakan yang membintanginya.

Bram Stoker’s Dracula sukses secara komersial dan kualitas dengan raihan pendapatan sebesar tiga kali bujet yang dikeluarkan dan berhasil memenangkan beberapa piala dari berbagai gelaran festival film bergengsi. Kami akan paparkan secara ringkas dan padat tentang berbagai aspek dalam film horror klasik nan legendaris ini, yang sudah bisa disimak di layar Netflix sejak 1 Agustus 2020.

Sinopsis

Sinopsis dan Review Film Bram Stoker's Dracula (1992)

  • Tahun: 1992
  • Genre: Horror
  • Produksi: American Zoetrope, Columbia Pictures, Osiris Films
  • Sutradara: Francis Ford Coppola
  • Pemeran: Gary Oldman, Anthony Hopkins, Winona Ryder, Keanu Reeves

Film dibuka dengan sejarah singkat asal-muasal Count Dracula menjadi vampire yang memiliki usia yang panjang. Fakta sejarah diungkit secara ringkas, dimana Count Vlad Dracula (Gary Oldman) ikut bertempur dalam Perang Salib ketika pasukan Islam Turki melakukan invasi ke tanah Eropa, khususnya di daerah Romania pada tahun 1462. Tetapi kemudian berbalik menentang Tuhannya karena kematian istrinya.

Lalu di tahun 1897, Jonathan Harker (Keanu Reeves) dikirim oleh perusahaannya untuk mengurus akuisisi real estate milik Count Dracula di London. Dalam perjalanan yang dipenuhi aura mistis itu, Harker akhirnya bertemu dengan Dracula yang sempat melihat foto tunangannya yang ternyata mirip dengan Elisabeta, mendiang istri Dracula, dan Dracula yakin jika Mina (Winona Ryder) adalah reinkarnasi istrinya.

Dracula kemudian menyekap Harker bersama para pengantinnya, dan berangkat ke London demi merebut Mina. Sesampai di London, Dracula membuat berbagai insiden pembunuhan, salah satunya menimpa Lucy (Sadie Frost), sahabat Mina. Melihat gejala yang aneh, dokter yang menangani Lucy bingung dan memanggil Dr. Abraham van Helsing (Anthony Hopkins) untuk menelitinya.

Harker berhasil melarikan diri dari kastil Dracula di Transylvania, berlindung di sebuah gereja dan mengirimi surat kepada Mina yang segera menjemputnya untuk kembali ke London. Bersama Van Helsing dan rekan-rekannya, Harker memburu Dracula yang sudah merasuki pikiran Mina meski dia sudah menjadi istrinya, tetapi tetap diakui oleh Dracula sebagai pengantinnya.

Mereka membakar kotak-kotak berisi tanah Transylvania yang dibawa oleh Dracula untuk mengumpulkan kekuatannya di Carfax Abbey, tetapi Dracula sudah dalam perjalanan kembali ke Transylvania setelah menjadikan Mina sebagai vampire. Van Helsing menjadikan Mina sebagai detector untuk menemukan Dracula lewat cara hipnotis.

Memburu waktu agar Dracula tidak sampai ke tanah kekuasaannya, mereka mencari cara untuk mencegat perjalanan Dracula. Setelah melalui berbagai macam rintangan, akhirnya mereka bisa membunuh Dracula tepat pada waktunya, Harker melukai lehernya dan temannya menancapkan tombak ke jantungnya yang membuat Dracula tumbang. Tetapi Mina masih melindunginya dan membawanya masuk ke kastil.

Ketika meregang nyawa, Dracula kembali ke sosok ketika dia masih muda dan meminta Mina untuk memberinya “kedamaian”, yaitu dengan membunuhnya. Mina pun dengan berat hati melakukannya. Setelah itu dia memenggal kepala Dracula sehingga kutukannya terangkat. Dan diperlihatkan di akhir film, bahwa Dracula dan Elisabeta sudah kembali bersama di alam baka.

Pekat Akan Nuansa Gothic

Pekat Akan Nuansa Gothic

Bram Stoker’s Dracula diangkat dari novel Dracula karya Bram Stoker yang diterbitkan pada tahun 1897. Nuansa klasik dan gothic di dalam novelnya mampu divisualisasikan oleh sutradara Francis Ford Coppola ke layar lebar dengan sangat baik. Dari awal hingga akhir film, nuansa kelam ini tidak pernah menjadi cerah seiring hasrat membunuh Dracula yang semakin meninggi.

Coppola sendiri tidak ingin menampilkan sosok Count Dracula seperti yang sudah pernah ada di film-film sebelumnya. Hal ini diungkap oleh hair and make-up designer, Michele Burke, yang menyatakan bahwa Coppola tidak ingin Count Dracula tampil dalam jas hitam dengan kerah yang tinggi dan muka yang pucat. Di film ini kita bisa melihat berbagai bentuk Count Dracula dalam kondisi yang berbeda.

Dalam mewujudkan visualisasi yang “weird” menurut Coppola, dia menolak untuk menggunakan CGI (Computer Generated Imagery) dan memilih untuk menggunakan teknik klasik saja. Tim visual effects yang mengerjakannya mengatakan jika visualisasi yang diinginkan oleh Coppola tidak mungkin bisa terwujud tanpa bantuan CGI. Lalu Coppola segera memecat mereka.

Kemudian dia merekrut anaknya, Roman Coppola, untuk menjadi tim produksi kedua untuk film ini yang tidak hanya menangani visual effects, tetapi juga set produksi dan kerja kamera yang unik sehingga visualisasi kelam ala gothic yang diharapkan oleh Coppola bisa terwujud.

Count Dracula dalam Fakta Sejarah

Count Dracula dalam Fakta Sejarah

Sosok Count Dracula dalam film ini yang juga berdasarkan novelnya adalah Vlad the Impaler, yaitu salah seorang tokoh penting dalam sejarah Wallachian dan pahlawan nasional Romania. Dalam catatan sejarah, kekuasaan yang dipegangnya tidak pernah bisa bertahan lama dengan banyaknya konflik dari luar dan dalam kerajaannya sendiri.

Vlad dan adiknya, Radu, menjadi tawanan pasukan Ottoman di tahun 1442, ketika ayahnya masih menjadi penguasa Wallachia. Kemudian gubernur Hungaria, John Hunyadi, menginvasi Wallachia dan membunuh ayah dan kakaknya, Mircea. Sepupu Vlad, Vladislav II, dipercaya sebagai penguasa Wallachia. Ketika Hunyadi dan Vladislav II menyerang Ottoman, Vlad merebut tahta Wallachia dengan bantuan Ottoman.

Tetapi hal ini tidak bertahan lama karena tahta berhasil direbut kembali oleh Vladislav II dan membuat Vlad mengungsi ke Moldavia lalu ke Hungaria. Karena hubungan antara Vladislav II dan Hungaria merenggang, Vlad merebut tahta kembali, kali ini dengan bantuan Hungaria. Kemudian Vlad melakukan pemusnahan total terhadap lawannya untuk mengamankan tahtanya.

Metode penyiksaan yang dia lakukan ialah menusuk korbannya seperti sate dan membiarkannya di lapangan. Dari sinilah gelar “impaler” disematkan padanya. Utusan dari Sultan Ottoman, Mehmed II, yang mengirimkan surat permintaan Jizyah juga tidak ayal menjadi korban penyiksaannya. Dan setelahnya, Vlad dan pasukannya menyerang wilayah Ottoman yang menelan banyak korban jiwa.

Kesultanan Ottoman kemudian berniat menurunkan Vlad dari tahtanya dan menggantinya dengan Radu, dan mereka melakukan penyerangan ke Wallachia. Setelah pertempuran di Targoviste, yang anehnya kedua belah pihak menyatakan kemenangan masing-masing dalam sejarahnya, pasukan Ottoman memilih kembali ke wilayahnya dengan membawa harta rampasan perang yang banyak.

Pertempuran di Targoviste inilah yang menjadi latar belakang sejarah yang ditampilkan di Bram Stoker’s Dracula dan kembali ditampilkan di Dracula Untold [2014] yang sama-sama menceritakan kisah Vlad the Impaler sebagai Count Dracula. Setelah pertempuran, banyak pasukannya berpihak kepada Radu dan membuat Vlad mengungsi ke Transylvania, yang menjadi daerah kekuasaannya sejak saat itu.

Transylvania adalah sebuah wilayah yang diberikan oleh Raja Hungaria saat itu, Matthias Corvinus kepada Vlad, dengan imbalan dia harus membantu mereka dalam berbagai peperangan melawan Kesultanan Ottoman. Dari sinilah mulai beredar berita tentang kekejamannya dalam membantai pasukan Muslim sebagai musuhnya, bahkan ada yang mengabarkan jika dia meminum darah korban-korbannya.

Dracula yang Merindukan Cinta

Dracula yang Merindukan Cinta

Bram Stoker’s Dracula menjadi salah satu film horror tersukses dengan kualitas terbaik dan nilai komersialitas yang cukup baik pula. Tetapi jika dicermati, sebenarnya film ini bukanlah murni cerita horror yang menyeramkan, film ini cenderung menceritakan kerinduan Count Dracula akan cintanya yang hilang dan menemukan wanita yang mirip dengan mendiang istrinya.

Dia sanggup untuk mengarungi lautan yang luas menuju London demi bertemu Mina dan berusaha semaksimal mungkin untuk merebut hatinya, baik dengan cara halus maupun cara kasar tetapi dia tidak tega untuk menyakiti Mina. Bahkan ketika Mina bersikeras untuk menjadi vampire agar bisa bersama Dracula selamanya, dia masih ragu karena tidak ingin menyakiti hati orang yang dicintainya itu.

Pada akhirnya, kesetiaan Francis Ford Coppola kepada sumber aslinya berhasil menghasilkan film tentang Dracula yang terbaik yang pernah ada, lengkap dengan nuansa gothic yang kelam dan visualisasi yang murni tanpa penggunaan CGI. Dalam ajang Academy Award, film ini berhasil memenangi tiga Oscar dari empat kategori yang dinominasikan, yang membuktikan kualitas film ini.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *