bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Blue, Painful, Fragile (2020)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 4 November 2021

Kaede Tabata tidak suka menjalin kedekatan dengan seseorang. Dia enggan tampil mencolok dan buat masalah. Sampai suatu hari dia bertemu Hisano Akiyoshi; gadis periang dan bersemangat dengan sejuta mimpi yang terdengar naif. Akiyoshi membuat Tabata mau keluar dari zona nyaman. Untuk pertama kalinya dia ‘betah’ dengan seseorang.

Namun, masalah mulai terjadi ketika Akiyoshi punya teman baru. Tabata merasa diabaikan dan dibuang hingga membuat masalah besar yang menyakiti Akiyoshi dan dirinya sendiri. Konflik dua anak muda ini bisa kamu lihat dalam film Jepang berjudul Blue, Painful, Fragile (2020) ini. Seperti apa ceritanya? Simak ulasannya untukmu berikut ini ya!

Baca juga: 7 Pemain Film Blue, Painful, Fragile (2020)

Sinopsis

Sinopsis

Kaede Tabata (Ryo Yoshizawa) adalah pemuda yang tidak suka menarik perhatian. Dia tidak ingin terlibat dengan siapa pun karena kedekatan bisa membuat dua orang saling menyakiti.

Suatu hari saat kuliah bersama dia melihat seorang mahasiswi berapi-api mengatakan pendapatnya tentang kehidupan bersosial yang ideal, yaitu tanpa peperangan. Mahasiswi itu bernama Hisano Akiyoshi (Hana Sugisaki).

Pendapatnya sontak mengundang cemooh dari mahasiswa lain, sekaligus dari dosen yang mengajar. Tabata tertarik dan melihat ke arahnya bukan karena idealisme yang disampaikan Akiyoshi, melainkan sebatas melihatnya sebagai seseorang yang dipermalukan. Sadar ada seseorang yang menatapnya, Akiyoshi coba menyapa Tabata di kantin sekolah.

Tabata tidak menolak, tapi tidak juga antusias. Akiyoshi terus mendekati Tabata yang sebenarnya kurang nyaman dan ingin melarikan diri. Namun, Akiyoshi malah mengajaknya membuat sebuah klub rahasia bernama Moai yang tujukan untuk mengubah dunia. Gadis itu benar-benar bersemangat dan optimis mengenalkan Moai, sebuah klub yang dianggap gila dan nonsense, pada para mahasiswa.

Tiga tahun kemudian Tabata terlihat mendatangi sebuah job center karena berhasil mendapatkan tawaran pekerjaan. Di job center tersebut diputar video tentang organisasi Moai, yang tampaknya semakin besar. Moai kini menjadi sebuah organisasi yang menghubungkan para pencari kerja dengan perusahaan sesuai dengan keinginannya.

Klub itu menjadi jauh dari misi awal yang diinginkan Akiyoshi dan Tabata. Dari sana Tabata bertekad untuk kembali memulai misi yang dimiliki Moai di awal pembentukan.

Dia akan menghancurkan Moai yang sekarang dan membangunnya ulang untuk mengenang Akiyoshi yang sudah meninggal. Untuk menjalankan rencananya, Tosuke Maekawa (Amane Okayama) bersedia membantu.

Tabata teringat semangat Akiyoshi di masa lalu saat menjalankan Moai. Gadis itu memulai segalanya dari hal kecil dan yang bisa dia lakukan agar tidak ada lagi perang di masa mendatang. Pelan-pelan, Tabata mulai merasa bahwa impian yang muluk dan naif itu sesungguhnya tidak terlalu buruk.

Menurut Akiyoshi, Moai nantinya harus mampu mewujudkan perdamaian dunia, memberantas perang, menghapus diskriminasi rasial. Hal-hal yang terdengar besar itu menurut Akiyoshi bisa dimulai dengan menjadi sukarela untuk kegiatan lokal atau apa pun yang bisa dilakukan di sekitar. Gadis itu berpesan jika sesuatu terjadi padanya, Tabata harus melanjutkan misi Moai.

Tabata akan memulai melanjutkan misi itu, tapi sebelumnya dia harus menghancurkan Moai yang sekarang, yang sudah berbeda misi, dengan cara memviralkan kebobrokan mereka. Bersama Tosuke, Tabata berencana menyusup ke acara/bursa Moai.

Bursa Moai pun digelar. Tabata menunggu di sebuah cafe sementara Tosuke masuk ke bursa tersebut ditemani gadis kenalannya yang merupakan anggota Moai tidak aktif bernama Asami Honda/Pon (Honoka Matsumoto). Di cafe, tiga orang gadis dari Moai tampak makan dan bergosip tentang seseorang. Tabata tertarik dan mulai mendekat.

Mereka terdengar membicarakan seorang pria yang punya kebiasaan menggaet lalu meniduri setelah itu mencampakkan gadis-gadis peserta bursa Moai. Setelah mencari tahu dengan menggunakan petunjuk seadanya, Tabata menemukan bahwa pria yang dimaksud adalah Ten (Hiroya Shimizu). Dia lalu mengabarkan hal ini pada Tosuke yang berada di dalam.

Ten sendiri sepertinya merupakan salah satu orang penting di Moai. Dia tampak membawakan acara dan mengenal banyak orang di sana. Tosuke terus mengikuti Ten sambil terhubung video call dengan Tabata, sehingga Tabata bisa ikut memonitornya. Tosuke sampai nekat masuk ke ruangan khusus pengurus Moai dan mengatakan ingin bicara dengan Ten.

Saat sedang serius mengikuti Tosuke, seorang pria menyapa Tabata. Tabata terlihat kurang nyaman dan langsung meninggalkannya. Ingatan Tabata kembali ke masa lalu saat dia dan Akiyoshi melakukan kegiatan di sekolah terbuka.

Sepulang dari sana energi mereka tampak penuh karena berhasil berguna. Tiba-tiba seorang pemuda bernama Wakisaka (Emoto Tasuku) datang menemui mereka. Wakisaka bekerja di laboratorium pascasarjana dan belajar Kesejahteraan Sosial di pascasarjana.

Wakisaka buntu dengan hidupnya lalu tertarik dengan Moai. Pemuda itu mulai melibatkan diri dengan kegiatan Moai bersama Tabata dan Akiyoshi, termasuk kegiatan di sekolah terbuka. Ketika Moai semakin ramai dan Akiyoshi banyak berbaur dan beraktivitas dengan yang lain, Tabata lebih banyak berdiam diri dan melihat dari kejauhan. Posisinya dengan mudah digantikan Wakisaka.

Akiyoshi sendiri merasa kedatangan Wakisaka membawa perubahan pada Moai; sekarang lebih banyak orang yang mengetahuinya. Namun, jika Tabata tidak mengharapkan hal itu dari Moai, dia bersedia mengubahnya. Tak lama terdengar kabar Akiyoshi berpacaran dengan Wakisaka. Bagaimana kelanjutan Moai, hubungan Tabata dan Akiyoshi?

Ketika Anak Muda Bercita-cita Mengubah Dunia

Ketika Anak Muda Bercita-cita Mengubah Dunia

Film dengan latar penokohan anak muda atau anak kuliah, bukan sesuatu yang baru. Blue, Painful, Fragile (2020) menambah panjang daftar pilihannya. Film ini menangkap fenomena cita-cita dan semangat yang dimiliki kaum muda untuk mengubah dunia.

Alurnya di awal film cukup klise karena kamu akan diajak melihat dua orang mahasiswa tingkat awal yang naif, yang berambisi, yang memulai mimpi besarnya dengan hal-hal kecil tapi emosional dan berkesan.

Film ini suguhkan alur maju-mundur antara kesibukan dan semangat di awal-awal pembentukan klub rahasia bernama Moai dan situasi saat ini ketika dua pendirinya mengalami perselisihan. Alur maju-mundur tersebut disajikan melalui transisi yang nyaman dan pilihan tone yang berbeda, sehingga penonton gak kesulitan  mengikutinya.

Konflik Batin Pemuda yang Merasa Disakiti

Konflik Batin Pemuda yang Merasa Disakiti

Konflik film Blue, Painful, Fragile (2020) cukup realistis sekaligus sensitif karena semua tentang konflik batin yang dialami seorang pemuda.

Ide semacam ini rasanya cukup jarang karena biasanya dalam kebanyakan film atau serial yang digambarkan selalu bermasalah adalah karakter perempuan. Di sini kamu akan menemukan sudut pandang lain bahwa rasa insecure seorang pria juga bisa berbahaya.

Dalam durasi sekitar 1 jam 58 menit, kamu akan mengenal Tabata sebagai seorang pemuda yang tidak suka terlalu dekat dengan orang lain karena dia tak ingin saling menyakiti. Karakter tersebut mengalami perkembangan yang tidak tertebak pasalnya dia berubah jadi orang yang justru menyakiti orang lain karena egonya.

Plot Twist di Tengah Cerita

Plot Twist di Tengah Cerita

Bagian menarik pada film Blue, Painful, Fragile (2020) adalah plot twist yang ditempatkan di tengah cerita, serta sedikit di akhir.

Melalui sinematografi yang pas dan tone yang tidak terlalu mencolok, kamu akan menemukan kejutan saat film memasuki bagian pertengahan awal. Seketika tensi keseruan cerita jadi naik setelah sebelumnya terbawa suasana dan perasaan kehilangan yang dimiliki Tabata.

Kamu jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, terutama dari sudut pandang Akiyoshi. Selama film berlangsung, terutama sejak plot twist, karakter Tabata semakin menunjukkan aslinya. Perubahan ini jadi salah satu unsur mengejutkan yang coba ditawarkan film Blue, Painful, Fragile (2020).

Film Blue, Painful, Fragile (2021) diadaptasi dari sebuah novel karya Yoru Sumino berjudul Aokute Itakute Moroi. Ia akan cocok untuk kamu penyuka film Jepang dengan konflik tersembunyi pada karakternya. Sayang, film yang seharusnya bisa menguras emosi ini tidak didukung dengan script yang dalam. Hasilnya, cukup standar dan mudah dilupakan.

Blue, Painful, Fragile
Rating: 
2.6/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram