Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Film Bloodshot (2020), Hot Blooded Hero

Sinopsis dan Film Bloodshot (2020), Hot Blooded Hero

Ditulis oleh - Diperbaharui 9 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Superhero baru telah hadir – seharusnya di layar lebar – di layar kaca, teman-teman. Sempat tertunda karena masa pandemi, Bloodshot kini dapat disaksikan lewat jaringan Netflix. Film ini merupakan adaptasi dari komik dengan judul yang sama. Bukan, bukan milik DC atau Marvel, tapi Valiant Comics, salah satu penerbit komik kenamaan di Amerika Serikat.

Lahir lewat karya tangan trio komikus Kevin VanHook, Don Perlin, dan Bob Layton, Bloodshot dirilis pertama kali pada tahun 1992. Kami senang karena para penerbit komik lain bergabung menyusul DC dan Marvel di kancah perfilman. Setidaknya, akan memberikan sedikit variasi, meskipun mungkin temanya masih mirip-mirip. Lantas bagaimana dengan Bloodshot?

Sinopsis

Bloodshot (2020)

*http://watch-movie-bloodshot-2020-123-full-online.over-blog.com/dyfruyfkuydkyt

  • Tahun rilis: 2020
  • Genre: Action, superhero
  • Produksi: Columbia Pictures
  • Sutradara: David S.F. Wilson
  • Pemeran: Vin Diesel, Eiza Gonzales, Lamorne Morris, Guy Pearce

Seorang Marinir angkatan bersenjata Amerika Serikat bernama Ray Garrison (Vin Diesel) memimpin sebuah operasi di Mombasa, Kenya. Ia berhasil mengakhiri misi dengan sukses, kemudian pulang dan disambut oleh Gina (Talulah Riley), sang istri. Keduanya pun berlibur di sebuah kawasan pantai bernama Amalfi Coast yang terletak di negara Italia.

Menghabiskan waktu berdua dengan sang istri, pada pagi harinya Ray bangun sementara Gina pergi untuk mencari sarapan. Saat Ray bermaksud untuk pergi mandi, ia menyadari bahwa dirinya disergap oleh dua orang tak dikenal. Berhasil melumpuhkan lawan, ia berlari keluar untuk mencari Gina, dan secara tidak sengaja menabrak seorang pria.

Tanpa Ray sangka, orang yang bersinggungan dengannya tersebut ternyata telah melumpuhkan dirinya. Ia pun disekap sementara pria tersebut bertanya tentang misi yang dijalankan oleh Ray di Mombasa. Sang prajurit menjawab dengan tidak mengetahui hal tersebut.

Namun si pria ternyata memaksa hingga menghadirkan Gina sebagai ancaman. Ray masih tidak mampu menjawab pertanyaan pria misterius tersebut hingga akhirnya ia membunuh Gina. Lantas, pria itu juga menghabisi Ray.

Tiba-tiba saja, Ray menemukan dirinya bangun di sebuah fasilitas milik Rising Spirit Tech (RST) yang berada di Kuala Lumpur. Di situ, ia bertemu dengan Dr. Emil Harting (Guy Pearce) dan seorang wanita mantan anggota Marinir bernama KT (Eiza Gonzales) yang menjelaskan bahwa dirinya merupakan salah satu subyek dari percobaan RST yang disebut dengan program ‘Bloodshot’.

Ray yang sebenarnya telah mati, dibangkitkan kembali menggunakan nanite technology yang telah berada dalam darahnya. Atau lebih tepatnya lagi, sebuah teknologi canggih semacam mikroorganisme mekanis yang kini telah menjadi ‘darah’-nya. Para nanite itu membuat Ray memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, bahkan ia mampu untuk menyembuhkan diri dari luka dengan sangat cepat.

Ia juga kemudian diperkenalkan dengan dua prajurit lain yang juga telah menjalani proses rekayasa genetika bersama RST. Yaitu, Marcus Tibbs (Alex Hernandez) dan Jimmy Dalton (Sam Heughan). Suatu malam, Ray bangun dari mimpi buruknya dan mulai menguji kekuatan barunya tersebut. Ia kemudian berbincang-bincang dengan KT, namun tiba-tiba sebuah musik menggugah kesadarannya.

Ray yang bangun dalam keadaan hilang ingatan tiba-tiba saja menjadi beringas. Karena, yang ia ingat adalah peristiwa di mana ia dan Gina dibunuh oleh seorang pria misterius. Memanfaatkan teknologi yang kini tertanam dalam tubuhnya, Ray berhasil mengungkap bahwa pembunuh tersebut adalah seseorang bernama Martin Axe.

Kini, Ray memburu Martin yang berada di Budapest, Hungaria untuk menuntut balas kematian Gina. Namun, Martin justru menunjukan tanda-tanda bahwa tindakan sang mantan prajurit Marinir tersebut adalah hal yang salah. Perburuan Ray akan Martin tersebut mulai mengungkap apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya saat ini.

Alur yang Cepat

Alur yang Cepat

*https://halifaxbloggers.ca/flawintheiris/2020/03/bloodshot-review-mechanical-actioner-a-waste-of-time/

Adalah sebuah kebiasaan di mana film pertama dari kisah superhero yang diangkat ke layar lebar, biasanya, ‘garing’. Wajar. Dana awal untuk membuat sebuah film bergenre ini biasanya memang terbatas. Bahkan Captain America the First Avengers milik Marvel Studios juga mengalaminya. Tapi kami tidak menyangka bahwa Bloodshot, ya, tidak segaring itu.

Salah satu yang membuat film yang dibintangi Vin Diesel ini terasa tidak garing adalah, David S.F. Wilson selaku sutradara cukup cerdas dengan menghadirkan alur yang terasa cepat. Penjelasan tentang kemampuan Bloodshot dibuat singkat, dan langsung muncul sejak awal. Sejujurnya, kami juga menikmati adegan penyergapan di Kenya tersebut. Hingga berharap bahwa selanjutnya akan banyak adegan sejenis.

Penggarapan low budget-nya memang agak terlihat jelas, terutama karena Vin Diesel dan kawan-kawan tampak beradu akting di ruangan-ruangan sempit. Tapi paling tidak, propertinya tidak terlihat murahan. Malahan cukup mewakili kesan futuristik.

Sedikit Kesan ‘Nolan-ish’

Sedikit Kesan ‘Nolan-ish’

*https://www.caseymoviemania.com/2020/03/bloodshot-2020-review/

Salah satu poin plus dari film ini adalah, konsep di mana ternyata Ray diberikan semacam memori palsu dalam kepalanya. Di mana ia terus dibuat menjalani misi di Kenya, lantas istrinya dibunuh oleh orang yang menyekap mereka. Betul, peristiwa tersebut ternyata tidak benar-benar terjadi. Melainkan hanya manipulasi dari Dr. Harting untuk menyingkirkan orang-orang yang berseberangan dengannya.

Tapi, kita baru akan menyadarinya setelah film berlangsung sekian lama. Lalu kita akan melihat efek yang kurang lebih mirip dengan yang ditampilkan sutradara Christopher Nolan dalam Inception. Lantas, kita juga sadar bahwa apa yang dialami oleh Ray sehingga membuat ia menjadi berang hanyalah sebuah ilusi buatan Harting semata.

Untuk satu hal ini, kita harus memuji para sineasnya, karena kita telah dibuat tertipu. Paling tidak, plot twist untuk menipu penonton biasanya tidak terjadi di film perdana seorang superhero. Lazimnya, kita akan disuguhkan dengan laga, laga dan laga yang semakin membuat kita dapat melihat bahwa dana yang digunakan sebenarnya sangat terbatas.

Lingkaran Kecil

Lingkaran Kecil

*https://www.empireonline.com/movies/reviews/bloodshot/

Ada salah satu kebiasaan film superhero atau sejenis yang menggunakan sebuah ‘plot besar’ untuk meraih hati penonton. Plot tersebut diantaranya ancaman teroris internasional, rencana pembunuhan terhadap POTUS (President of United States) atau tokoh perdamaian dunia. Bloodshot tidak melakukannya, guys. Yang di mana kita patut mengapresiasinya.

Konflik sang jagoan tetap terjaga dalam lingkaran kecil, atau lingkaran terdekatnya saja. Tidak melibatkan sebuah skenario yang sok keren agar film ini terlihat bagai sebuah tayangan laga yang luar biasa. Sekali lagi, dengan budget yang agak terbatas, ini adalah cara paling aman untuk dapat membuat sebuah film terlihat lebih baik. Dari pada sok amazing tapi malah jadi gunjingan para pengamat.

Cukup Orisinil

Cukup Orisinil

*https://cinemags.co.id/review-film-bloodshot/

Sejujurnya, jika kita mengetahui Bloodshot, dan akan diangkat ke layar lebar, mungkin yang terbayang adalah The Punisher milik Marvel hanya saja dengan bumbu high tech. Setelah menyaksikannya, kita akan tahu bahwa ternyata, film dari superhero yang satu ini cukup orisinil.

Memang, dengan kekuatan yang ia miliki, Bloodshot bisa jalan petantang-petenteng, melumpuhkan lawan hanya dengan sekali pukul dan tidak dapat dilumpuhkan semudah itu bak Superman. Tapi, dia terhubung dengan teknologi dan penciptanya bisa saja menonaktifkan Bloodshot dalam sekali pencet tombol saja. Dan itu terjadi. Tidak ada yang bisa mematikan armor Iron Man selain dirinya sendiri bukan?

Para lawan dari Bloodshot juga cukup unik. Sebentar, mungkin perangkat yang digunakan oleh Jimmy Dalton memang sedikit mengingatkan kita pada Dr. Octopus, musuh Spider-Man. Tapi masih terlihat asyik dan berkesan sedikit seperti mecha buatan Jepang. Oh iya, kostum yang sempat dikenakan oleh Marcus Tibbs saat memburu Bloodshot juga keren.

Banyak review yang mengatakan bahwa film Bloodshot tidak bagus-bagus amat. Memang benar. Masih sangat standar. Tapi setidaknya para sineas film ini membuatnya dengan cukup niat. Tidak terlalu banyak hal yang membuat kita menepuk jidat. Percakapannya juga berlangsung dengan baik dan tidak membosankan.

Menurut kabar, Sony selaku studio yang menggarap film ini belum berencana untuk mengeluarkan sekuel dari Bloodshot. Dikutip dari Looper, pihak Sony lebih memilih untuk menunggu respon dari para penggemar dan penonton. Ya, semoga kalau ada lanjutannya akan lebih sangar dari yang sekarang.

Itulah obrolan kita tentang Bloodshot. Oh iya, saran kami, tonton saja. Tidak sekeren itu memang tapi untuk tontonan yang tidak sebagus itu, film ini layak untuk disaksikan, kok. Sampai ketemu di review film-film yang tayang di Netflix selanjutnya.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *