bacaterus web banner retina
Bacaterus / Film Asia / Sinopsis & Review Film Ada Apa dengan Cinta? (AADC) 2002

Sinopsis & Review Film Ada Apa dengan Cinta? (AADC) 2002

Ditulis oleh Syuri - Diperbaharui 24 Maret 2021

Ada apa, ya, dengan cinta? Kebetulan, dalam film "AADC" ini topik utamanya tentang cinta dan karakter utamanya bernama Cinta. Dari judulnya saja bisa bermakna ganda. Tapi, karena judul official film ini dalam bahasa Inggris adalah "What's Up With Love", berarti yang dimaksud 'Cinta' di sini adalah cinta yang berarti sebuah kata, ya.

Anyway, film drama romantis remaja ini sangat berhasil secara komersial juga begitu melekat di benak penonton, terutama yang betul-betul menonton saat penayangan di bioskop (generasi 2000-an). Saking suksesnya, "AADC" dirilis juga di Malaysia, Brunei, Filipina, dan Singapura.

Film ini memenangkan banyak sekali penghargaan, seperti Lagu Terbaik dari Anugerah Musik Indonesia, Film Terpuji &  Skenario Terpuji dari Festival Film Bandung, Aktris Terbaik dan Sutradara Terbaik dari Festival Film Indonesia, serta masih banyak lagi pencapaian lainnya. Ingin tahu sinopsis dan review-nya dari Bacaterus? Yuk, langsung saja disimak!

Disclaimer:

Artikel ini mengandung spoiler (bocoran) isi dan plot film. Jika kamu belum menonton filmnya, dengan membaca artikel ini berarti kamu bisa mengetahui keseluruhan cerita. So, lebih baik kamu nonton filmnya dulu sebelum membaca. Tapi, kalau kamu tidak masalah dengan itu, silakan lanjut membacanya, ya.

Sinopsis

  • Tahun rilis: 2002
  • Genre: Romansa, Drama
  • Produksi: Miles Films
  • Sutradara: Rudi Soedjarwo
  • Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Ladya Cheryl, Adinia Wirasti, Titi Kamal, Sissy Priscillia, Dennis Adhiswara, Mang Diman, Fabian Ricardo

Bertemakan cinta SMA, tokoh utama film ini adalah Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra). Cinta digambarkan sebagai gadis yang cantik, pintar, periang, dan sangat menyukai sastra. Itulah yang mendorong Cinta untuk rutin mengikuti lomba puisi di sekolahnya, dan tentu dia yang menjadi pemenang setiap tahunnya. Seperti kebanyakan anak SMA, Cinta ngegeng juga.

Teman-temannya terdiri dari Alya (Ladya Cheryl), Carmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal), dan Milly (Sissy Priscillia). Walaupun terkesan hepi-hepi aja, ada salah satu teman Cinta yang ternyata menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Adalah Alya yang sering kena jotos ayahnya akibat percek-cokan dengan ibu Alya. Karakter dan kehidupan Alya cukup penting dalam film ini, tapi itu akan dibahas lagi nanti.

Kembali ke latar sekolah. Tahun ini pun sekolah Cinta mengadakan lomba puisi. Karena telah menjadi langganan pemenang, semua siswa yakin kalau yang menjadi juara pertama pasti Cinta lagi. Tapi, ternyata anggapan itu salah, karena pemenang juara lomba puisi tahun ini adalah Rangga.

Cinta cukup kecewa karena tidak menang, tapi dia harus bersikap profesional. Sebagai pengurus mading sekolah, Cinta and the genk merasa perlu mewawancarai Rangga. Cinta pun turun tangan untuk menghampiri Rangga sendirian.

Ternyata, Rangga adalah tipe orang yang irit bicara, suka menyendiri, dan.. sangat dingin, terutama pada orang asing. Pertemuan pertama mereka tidak meninggalkan kesan baik. Karena Rangga emosi, dia tidak sadar buku yang sedang dibacanya, yaitu "Aku" karya Sjumandjaja, terjatuh. Cinta memungutnya dan membacanya sebelum berniat mengembalikan buku itu besok di sekolah.

Cinta menghampiri Rangga di sekolah esok harinya. Saat itu, Rangga sedang kebingungan mencari bukunya. Rangga pun merasa sangat berterima kasih karena itu adalah buku favoritnya, dan bukunya sudah susah dicari. Semenjak itu, Cinta dan Rangga jadi civil, nggak berantem lagi tiap ketemu. Karena Cinta terlihat tertarik dengan buku "Aku", Rangga pun mengajak Cinta pergi ke Kwitang, pasar buku bekas di mana Rangga sering belanja buku.

Hubungan Cinta dan Rangga semakin dekat saja, Cinta bahkan pernah berkunjung ke rumah Rangga dan bertemu ayahnya (ada insiden politik di sana, scene yang cukup mendebarkan). Ternyata ayah Rangga adalah seorang jurnalis dan pemimipin negara atau pendukungnya yang dia kritik tidak terima, sehingga rumah Rangga menjadi incaran pelemparan batu.

Suatu hari, Rangga dan Cinta berjanji untuk nge-date. Tepat sebelum Cinta berangkat, ada telepon dari Alya yang meminta Cinta datang ke rumahnya. Cinta tidak menyadari nada tangis dari Alya karena terlalu excited untuk berkencan. Cinta pun berbohong mau pergi ke rumah sakit, Alya pun mengerti dan tidak memaksa Cinta untuk datang. Padahal, saat itu Alya sedang memiliki suicidal thought..

Sepulang kencan, mamanya Cinta langsung mengajak Cinta pergi ke rumah sakit. Ternyata, malam itu Alya melakukan percobaan bunuh diri. Cinta merasa telah menjadi sahabat yang buruk, karena diantara geng mereka, Alya memang paling dekat dengan Cinta. Apalagi kali ini masalahnya sangat fatal, dan Cinta malah memilih pergi bersama Rangga daripada datang menolong sahabatnya.

Cinta merasa kehadiraan Rangga jadi mengganggu dan membuat persahabatan dia dengan gengnya merenggang. Sehingga, saat Rangga menghampiri Cinta di sekolah, Cinta malah bersikap acuh dan berkata ketus untuk tidak mendekati dia lagi. Rangga tersinggung dan dia berpikir kalau Cinta selama ini hanya main-main. Dia pun setuju kalau mereka tidak perlu berhubungan lagi.

Di rumah sakit, Cinta jujur pada Alya kalau malam itu sebenarnya Cinta tidak pergi ke RS, tapi pergi dengan Rangga. Alya pun sebenarnya tahu karena setelah berbicara dengan Cinta di telepon, Alya mencoba menelepon lagi dan yang mengangkat adalah mamanya Cinta, tentu mamanya tidak tahu Cinta berbohong sebelumnya dan berkata sejujurnya saja kalau Cinta sedang pergi dengan seorang cowok.

Beruntung Cinta memiliki sahabat yang pemaaf dan pengertian, sehingga masalah pertemanannya beres. Tiba-tiba saja Rangga akan pindah ke Amerika Serikat, dia akan bersekolah dan tinggal di sana bersama ayahnya. Rangga yang sudah berada di airport disusul oleh Cinta dan kawan-kawan. Terjadilah scene pernyataan cinta yang ikonik banget.

Ternyata, perasaan mereka berbalas satu sama lain. Namun, Rangga tidak bisa tidak pergi. Dia hanya memberi Cinta bukunya yang dia bawa-bawa. Di halaman terakhir ada puisi yang ditulis Rangga, judulnya adalah 'Ada Apa dengan Cinta?'. Dan, Rangga berjanji kalau dia akan kembali 'saat bulan purnama'.

Film Terlaris di Indonesia pada Masanya

Film "AADC" (2002) ini sering disebut sebagai pembangkit semangat dunia perfilman Indonesia yang sepat terpuruk. Bioskop 21 (sekarang XXI), sebagai satu-satunya bioskop besar di negeri kita, mengalami antrian yang sangat panjang selama beberapa minggu awal penayangan.

Makanya, jangan kaget kalau "AADC" memecahkan rekor film Indonesia yang berhasil mendapatkan lebih dari 2 juta penonton (total sebenarnya adalah 2,5 juta penonton). Pendapatan kotor film ini bahkan sampai 24 miliar rupiah, loh!

Dialog yang Ikonik

"Basi! Madingnya udah siap terbit!", ayo ngaku, kamu membaca ini ~bernada~ dengan suara Cinta, kan? Saya tidak terlalu banyak menonton ulang film ini, hanya dua kali saja saya menontonnya dengan sengaja dan kalau ada di televisi saya kadang nonton lagi walaupun tidak khusyuk.

Tapi, entah kenapa saya hapal scene dan dialog apa yang akan dikatakan oleh para pemain. Kebanyakan dialog yang paling saya ingat adalah ketika Cinta dan Rangga bertengkar, karena banyak dialog yang malah terdengar lucu dan pernah dijadikan meme hingga menjadi kosakata baru untuk digunakan orang-orang.

"Salah gue? Salah Temen-temen gue?" juga merupakan dialog yang paling ikonik dari film ini. Tuh, scene-nya ada pada gambar di atas. Tadinya Rangga mau minta maaf atas sikapnya yang dingin tidak jelas, tapi Cinta tersulut emosi karena omongan Rangga, jadinya mereka bertengkar lagi.

Terus, waktu Rangga sama Cinta pergi ke toko buku bekas. Cinta ngambek dan pulang duluan. Nah, Bang Limbong (pemilik toko buku langganan Rangga) bilang begini, "Kau perhatiin ya. Kalau sampai dia nengok kemari berarti dia mengharap kau mengejar dia.". Dan, benar saja, Cinta nengok lagi ke belakang. Memang, Cinta maunya dingertiin tapi gak mau bilang.

Musik yang Abadi

Album OST. Ada Apa dengan Cinta? ikut meledak juga di pasaran. Album dan seluruh musik pengiring film ini diciptakan oleh Anto Hoed dan Melly Goeslaw. Suami istri ini memang legendanya musik Indonesia, terutama kalau sudah membuat lagu buat film, beuh, enak-enak semua! Dan, proyek pertama mereka dalam menggarap lagu-lagu film tuh ya buat film "AADC" ini.

Lagu tema utama untuk film ini berjudul sama, yaitu "Ada apa Dengan Cinta?" yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw dan Eric Erlangga. Padahal waktu itu kan masih berbentuk kaset dan CD, ya, tapi albumnya langsung laris manis. Total 323 ribu kaset dan 10 ribu CD ludes dalam waktu satu bulan!

Tak Luput dari Tanggapan Kritis

Tentu film populer seperti "AADC" juga tidak lepas dari pandangan kritis, terutama bagi penikmat film sejati dan kritikus. Bagaimanapun, tema film ini cukup 'biasa', trope enemy to lovers dan cowok-dingin-cewek-bubbly yang bakal ditelan bulat-bulat oleh penyuka genre romantis.

Tapi, memang cukup banyak bumbu di sana sini seperti isu politik, serta pembahasan dan penampilan karya sastra yang disisipkan, yang membuat film ini 'berbeda' dan lebih wah dari film romantis Indonesia yang beredar pada masa itu. Tapi, lebih banyak respon positif yang didapatkan dari film ini. Pujian-pujian itu dilontarkan untuk aktor, skenario, penataan musik, dan betapa film ini 'menyegarkan' industri perfilman Indonesia yang sempat turun.

Favorit saya pribadi, sih, dari sisi betapa puitisnya karakter utama dalam film AADC ini. Terutama jika dibandingkan film romantis masa kini yang hanya menggambarkan betapa glamornya kehidupan remaja kekinian, seakan tidak peduli lagi dengan pendidikan apalagi karya sastra.

Di balik sanjungan dan komentar, "AADC" merupakan film yang sangat fresh dan seru untuk ditonton, walau berulang-ulang sekali pun. "AADC" menjelma menjadi film yang ikonik dan abadi. Menurut kamu, poin apa yang membuat "AADC" tak lekang oleh waktu?

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram