bacaterus web banner retina

Review & Sinopsis Film ’76: Percobaan Kudeta Militer di Nigeria

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 20 November 2021

Film ’76 atau yang sebelumnya berjudul Lions of ’76 ini merupakan film asal Nigeria yang telah rilis pada tahun 2016 silam. Film ini saat ini telah ditayangkan secara global melalui layanan streaming Netflix.

Film ini sebelumnya terpilih untuk melakukan penayangan perdananya di Festival Film Internasional Toronto pada bulan Septembr 2016, dan juga di Festival Film BFI London.

Film yang berlatar belakang tahun 1970an ini memadukan antara cerita sejarah Perang Saudara di Nigeria, dan drama fiksi diantara Perwira Muda, Kapten Joseph Dewa, dengan seorang perempuan yang berasal dari wilayah tenggara Nigeria bernama Suzanne.

Selain itu juga, film ini mencoba memperlihatkan drama percobaan kudeta militer, dan aksi pembunuhan kepada Jenderal Murtala Mohammed di tahun 1976.

Baca juga: 10 Film Perang Terbaik Sebelum Perang Dunia 2

Sinopsis

Sinopsis

Enam tahun setelah Perang Saudara Nigeria, Kapten Joseph Dewa tinggal bersama istrinya, Suzanne “Suzie”, yang sedang hamil muda di sebuah barak pemukiman tentara.

Dewa sendiri berasal dari wilayah yang disebut dengan Middle Belt, dan Suzie berasal dari daerah tenggara Nigeria. Perbedaan etnis keduanya tak jarang menyebabkan perselisihan tertentu diantara mereka.

Selain itu, hubungan harmonis mereka juga kerap tegang oleh keluarga Suzie yang terus mengeluh karena tidak boleh mengetahui identitas asli dari keluarga Dewa.

Suatu waktu, rekan seperjuangannya yang bernama Gomos datang menemuinya untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting. Gomos ternyata berniat melibatkan Dewa untuk ikut dalam aksi pembunuhan Jenderal Murtala Mohammed.

Dewa lantas berselisih cukup tegang dengan para perwira yang merencankan kudeta militer, dan aksi pembunuhan tersebut. Dalam serangkaian peristiwa pemberontakna, Dewa kemudian dikhianati, dan tertuduh karena terlibat perencanaan dalam aksi kudeta, dan pembunuhan sang jenderal.

Meski aksi kudeta militer yang dilakukan oleh para pemberontak gagal, Dewa terjebak dan tertangkap menjadi tahanan. Di lain sisi, Suzie berada dalam situasi pelik penuh emosional karena selain kondisinya sedang hamil, ia juga ketakutan akan keselamatan suaminya. Suzie lalu melakukan semua yang dia bisa untuk membuktikan bahwa suaminya tidak bersalah.

Sajian Drama dan Peristiwa Sejarah Disusun Lumayan Baik

Sajian Drama dan Peristiwa Sejarah Disusun Lumayan Baik

Film ’76 dibintangi oleh dua pemain papan atas dari Nigeria yaitu Ramsey Nouah sebagai Kapten Joseph Dewa, dan Rita Dominic, yang berperan menjadi Suzie.

Film ini juga diarahkan oleh seorang sutradara kawakan Nigeria, Izu Ojukwu, yang karya-karya filmnya kerap mendapatkan penghargaan dari Akademi Film Afirka seperti White Waters (2008), dan Sitanda (2007).

Satu Jam pertama dalam film ini bergerak secara dinamis dalam membangun ketegangan ketika rencana kudeta akan dibentuk, dan cukup dramatis saat menunjukan tekanan dalam kehidupan rumah tangga Dewa, serta Suzie.

Kedua sketsa tersebut kemudian membuat alur cerita ’76 terbungkus dalam suasana cukup menegangkan dengan visual sinematografi apik berlatar belakang Nigeria pertengahan 1970an.

Sementara itu, efektivitas thriller dalam film ini kurang terjaga dengan baik karena terlalu banyak adegan dialog yang tumpah tindih, dan sulit untuk diikuti tujuannya.

Di sisi lain, setelah pembunuhan terjadi, dan aksi kudeta gagal, film ini sedikit kehilangan momentum karena berputar-putar pada aksi penyelidikan oleh petugas militer yang licik dan kejam kepada Kapten Joseph Dewa yang sedang dipenjara

Dalam beberapa bagian, adegan film ini diambil dalam bentuk warna hitam putih, dan juga berwarna untuk memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi di Nigeria tahun 1976 dengan tone yang klasik.

Lewat cara seperti itu, film ’76 memang berusaha membangkitkan periode, dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Nigeria di masa-masa kelam tersebut.

Akan tetapi, bagi kita yang tidak mengetahui sejarah pasti terkait peristiwa tersebut, film ini rasanya hanya menjadi drama sejarah yang ceritanya lumayan mumpuni, dan diwarnai dengan bumbu-bumbu romansa antara Dewa, dan Suzie.

Selama kurang lebih dua jam, film ’76 memberikan atmosfer menegangkan yang cukup baik, dan gaya pembawaan dalam film ini rasanya seperti hampir mirip dengan film Indonesia berjudul Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, yang rilis pada tahun 1984 silam.

Disajikan dengan Cara yang Otentik

Disajikan dengan Cara yang Otentik

‘76 adalah film penuh polemik yang menggambarkan salah satu masa paling bergejolak dalam sejarah Nigeria, dan Afrika di masa-masa modern.

Film ini memiliki konsep cerita yang sebenarnya harus dipuji, apalagi dengan anggarannya yang terbatas sekitar 3 juta dollar, ’76 mampu menyajikan film yang memberikan efek dramatis yang lumayan menantang, dan visual klasik yang terlihat natural.

Selain itu, sutradara Izu Ojukwu beserta timnya benar-benar serius dalam memperhatikan detail film ini mulai dari pemilihan kostum, furnitur lokasi syuting, senjata, hingga mobil yang dikendarai oleh para pemeran.

Semuanya diperhatikan dengan baik sehingga akhirnya kesan asli dan otentik yang disajikan di film ini harus diapresiasi sebaik-baiknya.

Lalu, transisi urutan adegan di keseluruhan film ini memang masih terasa kurang rapih, dan mulus. Tetapi harus diakui, hal teknis seperti itu tidak menghilangkan sensasi menonton film ini yang berdurasi selama 1 jam 58 menit.

Film ini juga terdapat beberapa dialog yang agak monoton, dan cenderung kaku, namun penyajiaan cerita yang terasa otentik, dan asli membuat ’76 tetap menarik untuk dinikmati.

Untuk urusan para pemerannya, Ramsey Nouah (Dewa), Rita Dominic (Suzie), dan Chidi Mokeme (Gomos) secara natural bermain cukup baik.

Kredit paling utama terdapat pada Nouah sebagai pemeran utamanya, ia rasanya sangat berwibawa dalam memainkan karakter Kapten Joseph Dewa yang disegani. Gaya berjalannya, ucapannya, posturnya layak untuk seorang prajurit yang dihormati di barak militer.

Film ini selain mengisahkan sejarah kudeta militer yang kelam di Nigeria, pada sisi lainnya juga menyoroti tentang permasalahan kesukuan, cinta dan pengkhianatan. ’76 memberikan penggambaran sejarah yang terlihat jujur, realistis dan otentik.

Film Keluaran Afrika yang Patut Diperhitungkan

Film Keluaran Afrika yang Patut Diperhitungkan

Meski berisikan cerita sejarah aksi pembunuhan terhadap Jenderal Murtala Mohammed, nyatanya pada film ini namanya tidak pernah disebutkan sama sekali sebenarnya, dan kematiannya pun hanya muncul sekilas dalam urutan hitam putih yang cukup singkat.

Mungkin salah satu kekurangan penting dalam film ini tidak menghadirkan sosok tersebut yang menjadi polemik bernuansa politik yang penuh darah.

Sebaliknya, seperti yang sudah dibahas film ini banyak berfokus pada kisah dramatis diantara Dewa, dan Suzie, yang sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka.

Sementara di sisi lain, para perwira di barak militer mulai menyelesaikan rencana kudeta, sedangkan Dewa menolak tekanan dari mereka untuk bergabung dalam rencana tersebut. 

Khawatir penyamaran dan rencana mereka akan terbongkar, para perwira pemberontak lalu berusaha mencegah Dewa meninggalkan barak militer, bahkan mereka tak jarang menggunakan kekerasan jika perlu.

Pada akhirnya, film ini pun mengisahkan Dewa yang dijebak, ditangkap karena difitnah ikut merencanakan kudeta, sedangkan istrinya, Suzie, berusaha segala cara mengeluarkannya dari penjara.

Secara garis besar, ’76 adalah film yang sebenarnya sudah cukup lama dirilis sejak tahun 2016 lalu, dan sekarang film ini bisa dinikmati di layanan streaming Netflix. ’76 memang bukanlah film besar produksi Hollywood, tetapi keaslian premis cerita yang diberikan oleh film ini memberikan rasa penasaran, dan setidaknya layak untuk ditonton.

76
Rating: 
3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram