bacaterus web banner retina

Review & Sinopsis Film 1917 (2019), Perang Tanpa Henti

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 20 Juli 2021

6 April 1917, seiring pasukan militer yang berjalan menuju wilayah musuh, dua tentara ditugaskan untuk berpacu dengan waktu dan menyampaikan pesan yang akan menghentikan 1.600 prajurit yang menuju jebakan maut itu. Sutradara Sam Mendes terinspirasi dari kisah kakeknya yang pernah menjadi kurir pesan bagi Inggris di wilayah Western Front, area pertempuran di sekitar Prancis, Belgia, Swiss, dan Laut Utara.

1917 menjadi salah satu film perang terbaik yang memiliki keunikan tersendiri dengan tingkat kedetilan yang tinggi. Sam Mendes menulis naskahnya bersama dengan Krysty Wilson-Cairns yang dibintangi oleh dua aktor muda Inggris, George McKay dan Dean-Charles Chapman, dengan dukungan deretan aktor berkualitas lainnya, seperti Mark Strong, Colin Firth, hingga Benedict Cumberbatch.

Film yang dinanti oleh pencinta film bertema perang ini awalnya dirilis secara terbatas pada 25 Desember 2019 dan kemudian dirilis secara luas pada 10 Januari 2020 yang langsung mengantarkan film ini ke jalur Oscar. Mau tahu apa saja kelebihan film yang melakukan syuting di Inggris ini? Baca ulasan lengkap kami beserta sinopsisnya.

Sinopsis

Sinopsis 1917

*

  • Tahun: 2019
  • Genre: Drama / War
  • Produksi: DreamWorks Pictures, Reliance Entertainment, New Republic Pictures
  • Sutradara: Sam Mendes
  • Pemeran: George McKay, Dean-Charles Chapman, Mark Strong

Pada 6 April 1917, berdasarkan pengamatan udara, pasukan Jerman yang mundur dari wilayah Western Front di utara Prancis bukan kembali ke negaranya tetapi melakukan langkah strategis untuk menuju Hindenburg Line, wilayah pertahanan Jerman dan menunggu pasukan Inggris yang menuju wilayah itu. Pasukan Jerman ini bermaksud untuk mengalahkan pasukan Inggris dengan kekuatan artileri mereka.

Karena kerusakan alat komunikasi, yaitu telepon lapangan, Jenderal Erinmore mengutus dua prajuritnya yaitu Kopral William Schofield (George McKay) dan Kopral Thomas Blake untuk menyampaikan pesan kepada Kolonel Mackenzie, Komandan Pasukan Devonshire, yang sedang menuju wilayah yang kemungkinan besar menjadi jebakan bagi 1.600 prajurit, salah satunya adalah kakak dari Tom.

Mereka berdua melintasi wilayah tak bertuan untuk sampai ke daerah yang ditinggalkan pasukan Jerman. Di barak bawah tanah mereka menemukan ranjau yang meledak karena kabelnya tersentuh oleh tikus. Will nyaris terkena ledakan jika tidak diselamatkan oleh Tom. Kemudian mereka sampai di peternakan dimana sebuah pesawat Jerman terjatuh karena tembakan pesawat Sekutu.

Mereka menyelamatkan pilotnya, tetapi pilot itu justru menusuk Tom yang kemudian ditembak mati oleh Will. Berusaha menenangkan Tom saat maut menjemputnya, Will berjanji akan menyampaikan pesan itu dengan selamat dan menemukan kakak Tom serta menuliskan surat untuk ibunya. Will kemudian mencabut kalung nama Tom dan bergabung dengan pasukan bermobil yang lewat.

Perjalanan pasukan itu terpaksa berhenti karena jembatan yang harusnya dilalui mereka terputus. Will memilih berpisah dengan pasukan dan berjalan sendiri karena harus mengejar waktu. Begitu melintas di bawah jembatan, dia ditembaki oleh sniper. Mereka saling baku tembak hingga tembakan Will berhasil membunuh sniper, tetapi dia kemudian pingsan karena tembakan yang mengenai helmnya.

1917

* sumber: www.michigandaily.com

Ketika siuman, dia melihat desa yang terbakar. Dia menemukan seorang wanita bersembunyi bersama bayinya. Wanita itu mengobati lukanya dan memberikan dia makanan kaleng dan susu dari peternakan. Meski wanita itu memohonnya untuk tetap tinggal, Will tetap harus pergi dari desa itu karena waktu sudah semakin mepet.

Bertemu dengan tentara Jerman, dia berhasil membunuh seorang tentara dan berlari lalu terjun ke sungai. Dia terbawa arus deras dan tersapu ke air terjun sebelum mencapai tepi sungai. Di dalam hutan, dia bertemu dengan pasukan D yang merupakan pasukan terakhir dalam rencana penyerangan. Saat pasukan bergerak, Will berusaha menemukan Kolonel Mackenzie.

Menyadari jika parit itu terlalu ramai dan akan menghambatnya, Will nekat berlari di medan pertempuran seiring pasukan Inggris menyerang. Akhirnya dia berhasil menemukan Mackenzie yang langsung menghentikan penyerangan. Will juga berhasil menemukan Joseph, kakak dari Tom, dan menceritakan semuanya serta menyerahkan kalung nama milik Tom.

Meski merasakan penyesalan yang dalam arena kematian adiknya, Joseph berterima kasih kepada Will atas usaha dan jasanya. Will juga tidak lupa berpesan kepada Joseph untuk menuliskan surat kepada ibu mereka tentang kepahlawanan Tom di medan perang. Merasa kelelahan, Will kemudian duduk menyendiri sambal memandangi foto istri dan anaknya.

Pencapaian Teknis yang Mengesankan

Pencapaian Teknis yang Mengesankan

* sumber: www.newstatesman.com

1917 menjadi satu lagi perbendaharaan baru dalam film bertema perang, khususnya Perang Dunia I yang sangat jarang diekspos. Membuat film perang di era modern, apalagi sudah banyak sekali film perang sebelumnya yang sukses besar, merupakan tantangan tersendiri yang harus dijawab oleh seorang sineas kaliber Oscar, Sam Mendes. Dan dia mampu menjawab dan memenuhi harapan kita semua.

Kisah film yang hanya memiliki setting waktu yang singkat untuk diceritakan, digelar oleh Mendes dengan teknik one long takes yang membuat kita merasakan pengalaman baru dalam menonton film, yaitu menyaksikan situasi perang secara real time. Film ini dibagi menjadi dua adegan panjang, yaitu awal film hingga Will pingsan dan setelah dia siuman hingga ke akhir film. Semua disuguhkan secara real time.

Cinematographer Roger Deakins, yang pernah bekerja sama dengan Mendes dalam Skyfall (2012), menampilkan kerja kamera yang dinamis dan mampu menangkap semua area yang dibutuhkan dalam cerita yang mampu membuat kita terasa berada di sana bersama para karakternya. Apalagi di beberapa kesempatan, kamera berada pada sudut pandang tokoh utamanya.

Mendes menjelaskan pada Cinemablend, “Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa saya ingin film ini memiliki seting waktu dari siang hingga senja dan kemudian dari malam hingga fajar. Saya ingin menjadikannya dalam dua adegan panjang saja. Saya ingin membawa penonton seperti dalam halusinasi, lebih mendekati mimpi yang menjadi kenyataan. Dan tentunya mengerikan juga.”

Itulah yang ingin sutradara film ini rasakan pada kita sebagai penontonnya. Dengan adegan panjang tanpa terputus, memang kita merasakan keintiman pada karakternya dan kedalaman ceritanya. Hanya saja kita harus cepat dalam menyimak dialog yang juga berjalan sesuai ritme film yang lugas.

Harapan Mendes ternyata dijawab dengan respon yang sangat baik dari penontonnya dan membuat film ini menjadi film box-office pertama di tahun 2020 dengan pendapatan sebesar $159 juta di Amerika saja dan $384 juta untuk peredarannya di seluruh dunia.

Baca juga: Film Perang Terbaik Sepanjang Masa

Aroma Harum Oscar

Aroma Harum Oscar

* sumber: www.imdb.com

1917 membawa banyak pembaharuan dalam film perang dan membuat standar baru yang harus dicapai oleh film sejenis jika ingin mengalahkan kesuksesan film ini. Di ajang Academy Awards, film ini berhasil masuk nominasi di 10 kategori dan berhasil menang sebagai Best Cinematography (tentu saja!), Best Sound Mixing, dan Best Visual Effects.

Sedangkan di Golden Globe, meski hanya dinominasikan di tiga kategori, tapi film ini berhasil menang di kategori utama, yaitu Best Picture – Drama dan Best Director. Film ini sangat berjaya di ajang BAFTA dengan tujuh kemenangan untuk Best Film, Outstanding British Film, Best Director, Best Cinematography, Best Production Design, Best Sound, dan Best Special Visual Effects.

Waktu Adalah Musuh Utama

Waktu Adalah Musuh Utama

* sumber: www.imdb.com

Inti cerita 1917, terlepas dari ketegangan di medan perangnya, adalah tentang komunikasi. Bagaimana usaha kedua tokoh utamanya, meski pada akhirnya hanya seorang saja yang tersisa, menyampaikan pesan secara manual tanpa alat komunikasi di tengah medan perang yang berkecamuk dan waktu yang mendesak demi menyelamatkan nyawa 1.600 tentara dari jebakan musuh.

Rasanya, situasi kesulitan komunikasi di zaman sekarang sudah bukan kendala lagi. Banyak media bagi kita untuk berkirim pesan kepada sesama. Tapi di tahun 1917, ketika satu-satunya alat komunikasi yang berfungsi di saat itu terputus, nasib rekan seperjuangan berada di tangan temannya yang bertindak sebagai kurir yang siap menempuh marabahaya demi mereka. Dan waktu adalah musuh utamanya.

Pada akhirnya, 1917 tampil gemilang sebagai film bertema perang dengan segala faktor utamanya, yaitu sebuah kisah heroik yang mulia, mimpi buruk yang menjadi kenyataan, dan kisah mencekam tentang kemanusiaan di tengah dunia penuh jiwa bengis. Rasanya, tidak ada yang menghalangi kita untuk menyaksikan film ini dan kemudian mengapresiasinya setinggi mungkin. Watch it all over again!

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram