bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Fight Back To School 2 (1992)

Ditulis oleh Suci Maharani R
Fight Back To School 2
2.7
/5

Stephen Chow memang tidak pernah bisa lepas dari film aksi komedi yang selalu membuat para penonton tertawa lepas. Kembali bermain dalam sekuel Fight Back to School 2 (1992), ia masih beradu akting dengan Ng Man-Tat dan Sharla Cheung.

Kali ini mereka akan berusaha untuk menangkap jaringan teroris yang ingin meledakkan salah satu sekolah internasional di Hong Kong. Disutradarai dan ditulis sendiri ceritanya oleh Gordon Chan, Fight Back to School 2 (1992) mendapatkan komentar beragam.

Di iMDb film mendapatkan rating 6.6/10 dan kebanyakan mengomentari bahwa unsur komedi dalam film ini terasa kurang natural. Di sisi lain, untuk bagian aksinya para penonton sepakat bahwa film ini sangat seru untuk di tonton.

Kira-kira hal apa saja yang akan dilakukan oleh Sing dan Paman Tat di sekolah baru ini? Untuk mengetahui jawabannya, kamu bisa membaca sinopsis dan reviewnya di bawah ini.

Sinopsis

Fight Back To School 2 (1992)_
  • Tahun Rilis: 1992
  • Genre: Comedy, Action
  • Sutradara: Gordon Chan
  • Pemeran: Stephen Chow, Cheung Man, Ng Man Tat, Athena Chu, Deanie Yip
  • Produksi: Win's Film Productions

Chow Sing Sing (Stephen Chow) adalah seorang polisi yang memegang kendali Special Duties Unit di Kepolisian Royal Hong Kong. Pria ini menjadi instruktur para polisi elit, ia melatih mereka untuk melakukan operasi penyelamatan darurat yang cepat dan tepat.

Semenjak keberhasilan terakhirnya, ia dipanggil untuk bertemu dengan seorang Inspektur Senior Tak Han Yip (Deanie Ip). Tidak sendiri, hari itu Sing datang bersama dengan Paman Tat (Ng Man Tat) yang juga rekan kerjanya di kepolisian.

Saat berbincang dengan Inspektur Yip, mereka sempat bergurau mengenai keinginan untuk dipindahkan ke divisi lain. Ketika Paman Tat menginginkan masuk ke divisi yang paling berbahaya, Sing malah bergurau dengan meminta dipindahkan ke Unit Jalanan.

Siapa sangka guyonannya ini benar-benar terjadi, sialnya lagi Sing malah dijadikan kambing hitam oleh divisi lain. Alasannya karena ia dituduh sudah membuat operasi penangkapan teroris asing gagal total dan menimbulkan satu korban. Lelah dengan berbagai penghinaan yang didapatkannya, Sing memutuskan untuk keluar dari kepolisian.

Meski ia sudah tidak lagi menjabat sebagai polisi, Sing tetap ingin menyelidiki mengenai segerombolan teroris asing yang akan meledakkan sebuah sekolah.

Ia mengajak Tortoise (Gabriel Wong) dan ketiga temannya untuk bergabung menjadi murid samaran di salah satu sekolah internasional. Demi melancarkan aksinya, Sing sampai rela memakai uang pernikahannya untuk membayar uang sekolah.

Ketika memasuki sekolah, Sing malah bertemu dengan sekelompok murid samaran dari divisi lain. Bahkan, dia juga bertemu dengan Paman Tat.

Tentu saja ada pertentangan di antara mereka, apalagi saat Sing mencoba mencari tahu informasi soal para teroris dari anak-anak lainnya. Suatu hari Sing tidak sengaja mendengar pembicaraan seorang siswa penyamaran lainnya yang menyebutkan seorang gadis bernama Sandy (Athena Chu).

Sejak saat itu Sing mulai berusaha mendekati Sandy, karena berpikir gadis ini mengenal salah satu anggota teroris. Ternyata Sandy sama sekali tidak tahu apapun, bahkan Sing malah terlibat kisah cinta yang rumit dengan gadis berusia 18 tahun ini.

Saat Sing sedang dekat dengan Sandy, tunangannya yang bernama Nona Ho (Sharla Cheung), mengetahui hal ini dan membatalkan pertunangan. Tidak hanya itu, Sing juga harus segera keluar dari sekolah, karena Inspektur Yip mendapatkan perintah untuk mengeluarkan Sing.

Ia tak bisa berbuat apapun, hingga tiba-tiba Sing menemukan sebuah peta dari salah satu murid kenalannya. Peta tersebut berisi informasi jalur untuk melarikan diri. Ia melaporkan hal ini, namun kepolisian tidak ada yang mempercayainya. Apakah Sing akan membiarkan para teroris membom sekolah?

Menghibur, Tapi Unsur Komedinya Kurang Kuat

Menghibur, Tapi Unsur Komedinya Kurang Kuat_

Setelah berkali-kali menonton aksi Stephen Chow dalam berbagai film, kemampuan akting dan komedinya memang tidak perlu diragukan lagi. Apalagi ia beradu akting dengan Ng Man Tat, keduanya benar-benar menjadi duo komedi yang tidak pernah gagal membuat tertawa.

Mereka memiliki kemistri yang sangat luar biasa dan tidak pernah membuat bosan. Dalam Fight Back to School 2 (1992), keduanya memang lebih banyak memakai komedi bergaya slapstick.

Fyi, slapstick comedy adalah gaya humor yang melibatkan aktivitas fisik berlebihan, biasanya kekerasan yang disengaja atau memakai alat peraga. Contohnya ketika Paman Tat tidak sengaja memukul Sing di sekolah menggunakan sebuah tongkat.

Contoh lain, ketika Sing mendapatkan hukuman memeragakan Yesus yang disalib oleh pastor yang mengajar di sekolah. Jenis komedi ini memang membuat para penonton lebih memahami unsur komedinya dibanding komedi lisan.

Namun adegan komedi ini tidak selalu menyenangkan. Ada beberapa kali penempatan komedi yang kurang pas. Bahkan adegan komedi ini cenderung datang secara tiba-tiba, sehingga plotnya terasa kurang serius. Sehingga, timbul lah perasaan bahwa film ini tidak memiliki alur yang jelas karena terlalu banyak diplesetkan.

Beberapa Hal yang Terasa Mengganjal dalam Film

Beberapa Hal Yang Terasa Mengganjal Dalam Film_

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Fight Back to School 2 (1992) adalah sebuah film komedi dan aksi yang menghibur. Namun unsur komedi dalam film ini tidaklah selalu berhasil membuat penonton tertawa, karena beberapa penempatannya yang tidak pas.

Contohnya, ada beberapa plot komedi tiba-tiba dimunculkan yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan inti cerita. Salah satu yang cukup mencolok adalah ketika Paman Tat tiba-tiba berubah menjadi seorang terminator. S

aya akui, Ng Man Tat memang sangat keren dengan pakaian leather dan senjata laras panjangnya. Namun tidak ada alasan yang mendasari, kenapa Paman Tat bisa tiba-tiba berubah menjadi seorang Terminator dan muncul di waktu yang pas?

Lalu, plot mengenai komplotan teroris asing yang masuk ke sekolah, mungkin akan menyenangkan kalau mereka memperdalam bagian ini.

Dalam film ini, Gordon Chan dan Kin Chung Chan terlalu fokus untuk meng-highlight kisah Sing dan Paman Tat. Sementara untuk para terorisnya, bagi saya tidak terlihat berbahaya.

Penonton tidak akan menemukan adegan teroris yang sedang membuat rencana untuk membom sekolah. Namun, di 30 menit terakhir, pertempuran kedua kubu pun dimulai.

Ada adegan dimana para teroris tiba-tiba saja bergerak untuk menyabotase sekolah dan menyandera semua murid. Hal-hal tadi bagi saya terasa sangat mengganjal. Tapi untungnya film ini punya genre komedi sehingga plot hole seperti tadi masih bisa diabaikan.

Bagian Aksi Penyelamatannya Sangat Keren

Bagian Aksi Penyelamatannya Sangat Keren_

Setelah menonton Fight Back to School 2 (1992), bagian yang paling saya sukai ada di 20 menit terakhir. Adegan saat Sing benar-benar bertindak sebagai polisi terlihat sangat terlatih dan keren.

Stephen Chow memang sudah terbiasa menunjukkan raut wajah yang lucu dan jarang terlihat serius. Namun ketika ia menunjukkan wajah yang serius, karismanya benar-benar mengisi seluruh film.

Adegan para anggota elite melakukan penyelamatan sandera dari terorisnya sangatlah keren. Mereka terlihat terjun dari atas gedung dengan tali, lalu mulai menembaki para teroris yang sedang berjaga.

Sing dan anak buahnya juga memperlihatkan koreografi bertarung yang keren, mereka berlari, memanjat pagar hingga menembak dengan baik. Sudut pengambilan gambarnya juga sangat bagus, kameramen dan editing-nya bisa menunjukkan pertarungan senjata yang sengit.

Paman Tat sebagai terminator juga berhasil mengambil waktu selama tiga hingga lima menit sebagai show stealer. Lalu akting dari para pemainnya juga cukup bagus, beberapa aktor mudanya terlihat sangat menjanjikan.

Dalam durasi 106 menit, sebenarnya saya lebih enjoy menonton setidaknya 30 menit terakhirnya saja. Sementara untuk development karakter, bagi saya yang terlihat menonjol hanyalah Stephen Chow, Ng Man Tat dan Athena Chu saja.

Sementara yang lainnya, mereka terlihat sangat biasa saja mungkin karena screentime yang dimilikinya juga sangat minim.

Fight Back to School 2 (1992) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film pertamanya, namun sekuelnya memang memiliki cerita yang lebih kuat. Unsur komedinya juga terasa lebih mudah untuk dicerna oleh orang luar Hong Kong, sehingga siapapun yang menontonnya bisa merasa enjoy dan terhibur.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram