bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 27 Oktober 2021

Kilas balik yang jauh ke asal mula kutukan di kota Shadyside yang terjadi di tahun 1666 yang membuka jalan bagi Deena dan teman-temannya di tahun 1994 untuk menghentikan kutukan yang sudah menimpa kota mereka dari generasi ke generasi.

Fear Street Part Three: 1666 adalah original film Netflix yang menjadi film penutup dari trilogi horror yang merupakan adaptasi dari buku berseri karya R. L. Stine. Sama dengan dua film sebelumnya, Netflix merilis film ini di bulan Juli, tepatnya pada 16 Juli 2021 setelah dua hari sebelumnya sempat ditayangkan di Los Angeles State Historic Park.

Seluruh pemeran dari film pertama dan kedua hadir kembali dengan karakter berbeda ketika seting waktu terjadi di tahun 1666. Sebagai pamungkas cerita dua film sebelumnya, banyak misteri dan teka-teki yang akan dikuak dalam film ini. Sudah semakin penasaran kan? Simak review kami sebelum menontonnya.

Baca juga: Sinopsis dan Review Fear Street Part One (1994)

Sinopsis

Sinopsis

Melanjutkan akhir film sebelumnya, Deena mendapat penglihatan dan menjadi Sarah Fier di tahun 1666. Saat itu, wilayah yang mereka huni bernama Union sebelum nantinya dipecah menjadi Shadyside dan Sunnyvale. Setelah berhasil membantu persalinan domba di peternakan, Sarah mengantar salah satu bayi domba itu ke Solomon yang hidup sendiri di pinggiran kota.

Malam itu, para remaja di kota tersebut akan mengadakan pesta panen. Sarah, Hannah dan Lizzie menghampiri rumah seorang janda untuk mengambil buah beri yang bisa memabukkan untuk dibawa ke pesta. Ketika sedang mencari buah beri, Sarah melihat sebuah buku ilmu sihir. Mereka sampai di pesta dan mulai membagikan buah beri itu kepada teman-temannya.

Mulai mabuk di bawah pengaruh buah beri, para remaja itu menari dan di antaranya mulai bertingkah aneh, salah satunya Caleb yang mengganggu Hannah yang kemudian dibela oleh Sarah. Hannah dan Sarah kemudian meninggalkan pesta untuk bercumbu. Mereka menyadari jika ada yang melihat dari kejauhan.

Keesokan harinya, kota dipenuhi hal-hal aneh. Pendeta Miller mulai bertingkah aneh, pasokan makanan dan air kota itu menjadi rusak. Sarah cerita kepada Solomon tentang peristiwa semalam dan mengira-ngira apakah dia yang menjadi penyebab nasib buruk kota ini. Pendeta Miller membunuh beberapa anak kecil di dalam gereja dengan mencungkil mata mereka.

Solomon berhasil membunuh pendeta Miller sebelum dia nyaris membunuh Sarah ketika mereka berhasil masuk ke dalam gereja. Malamnya, warga berkumpul dan menyatakan jika nasib buruk yang melanda kota adalah ulah penyihir dan mereka menuduh Sarah dan Hannah sebagai pelakunya. Hannah berhasil mereka tangkap, tetapi Sarah melarikan diri.

Sarah menyelinap ke gereja dimana mereka menyekap Hannah. Sarah berjanji akan memperbaiki semua ini dengan membuat perjanjian terlarang dengan setan. Sarah menuju rumah janda pemilik buah beri untuk mengambil buku ilmu sihir, tetapi dia justru menemukan mayat sang janda yang bersimbah darah. Sarah berlari ke rumah Solomon untuk berlindung dari kejaran warga.

Sarah menyelinap ke dalam lorong di dalam rumah Solomon, sementara Solomon menghadang warga yang hendak masuk ke rumahnya. Ternyata di dalam lorong itu, Sarah menemukan sebuah altar pemujaan setan seperti yang ada di dalam buku ilmu sihir. Ternyata Solomon yang membuat kutukan untuk kota dengan membuat pendeta Miller kerasukan.

Sarah berlari menghindari Solomon yang mengejarnya setelah dia tusuk dengan pisau. Saat Sarah hendak memanjat lubang di atas lorong, Solomon berhasil menangkapnya dan melukai Sarah hingga tangannya terpotong dan terpisah dari badan.

Sarah berlari lagi dan berhasil menemukan jalan untuk keluar di gereja. Sayangnya, Solomon berhasil menangkapnya di hadapan warga dan menuduh dia penyihir.

Sarah dan Hannah akan dihukum gantung. Saat itu Sarah mengaku jika dia adalah penyihir dan Hannah dibebaskan. Ketika hendak digantung oleh Solomon, dia mengutuk Solomon atas perbuatannya dan mengatakan suatu saat nanti kebenaran akan terbuka. Setelah tewas di tali gantungan, teman-teman Sarah menguburkannya dengan layak di tempat lain.

Kembali ke tahun 1994, Deena menyadari jika keluarga Goode adalah penyebab nasib buruk yang menimpa Shadyside dan nasib baik Sunnyvale. Sheriff Nick menghampiri Josh di pinggir jalan, tapi Josh dan Deena berhasil kabur dengan membawa mobil Nick.

Mereka kemudian menghampiri Martin dan Ziggy untuk menyusun rencana demi menghentikan kutukan ini dengan membawa serta Sam.

Mereka memasang perangkap di mal dengan menggunakan darah Deena sebagai umpan. Mereka dipergoki oleh polisi saat para hantu pembunuh mulai berdatangan. Mereka berhasil menyekap empat hantu pembunuh di dalam toko, tetapi masih tersisa dua hantu pembunuh lagi. Deena mengiris tangannya lagi untuk memancing mereka keluar.

Josh, Martin dan Ziggy menembakkan campuran darah Deena ke badan para hantu pembunuh yang membuat mereka saling membunuh satu sama lain. Sementara itu, Deena masuk ke Lorong dan mengejar Nick.

Saat sudah berhadapan dengan Nick, Sam datang mencekik Deena. Nick mendapat penglihatan tentang korban-korban pembunuhan ketika Deena memecahkan tumpukan berdenyut di tanah.

Saat Nick sedang mendapat penglihatan itu, Deena membunuh Nick dengan menusukkan pisau ke matanya, seiring dengan itu para hantu pembunuh di mal yang berusaha membunuh Josh, Martin dan Ziggy menjadi lenyap. Deena dan Sam keluar dari lorong dan muncul di dalam rumah keluarga Goode di Sunnyvale.

Setelah semua usai, nasib buruk Shadyside pindah ke Sunnyvale, kebusukan keluarga Goode terkuak, Martin memulai karir di bidang teknologi, Ziggy berbaikan dengan Ibu Lane, Sam dan Deena piknik di dekat makam Sarah Fier. Ada adegan di post-credit dimana ada yang mengambil buku ilmu sihir yang tergeletak di TKP.

Terkuaknya Misteri Terbesar

Terkuaknya Misteri Terbesar

Dua film Fear Street sebelumnya meninggalkan misteri dan tanda tanya besar dan film ketiga ini akan membuka semuanya secara jelas, tentunya dengan beberapa twist yang cukup mengena. Sebelum membaca review ini lebih lanjut, memang sebaiknya kita harus menonton film ini terlebih dahulu sehingga kenikmatan ketika misteri itu terbuka (spoiler) tidak hilang.

Di film ini kita akan tahu siapa sebenarnya orang yang bertanggung jawab atas nasib buruk yang menimpa kota Shadyside. Ternyata Solomon Goode adalah dalangnya dan menuduh Sarah Fier sebagai penyihir.

Perkara sihir ini kemudian dilanjutkan oleh keturunannya yang membuat keluarga ini menjadi terpandang di masyarakat dengan membuat satu orang kerasukan dan melakukan pembunuhan.

Di tahun 1994 ini, dua kakak-beradik Goode sukses menjadi senator dan sheriff. Tapi setelah Nick dibunuh oleh Deena, nasib buruk itu berpindah ke Sunnyvale dimana salah satu warganya langsung tertabrak truk yang melintas di pagi hari. Sedangkan mal Shadyside mulai ramai pengunjung yang menandakan kutukan itu sudah terangkat dan berpindah.

Kisah Horror yang Menghibur

Kisah Horror yang Menghibur

Sebagai film horror, dua film pertamanya seolah menjiplak dua franchise horror legendaris, yaitu Scream dan Friday the 13th. Di film ketiga ini, dengan seting waktu di era kolonial, nuansa film The Witch (2015) yang terasa, meski dalam kadar yang tidak terlalu detail. Bisa dilihat dari aksen bicara yang terdengar modern dan keakuratan sejarah yang diabaikan.

Tapi itu tidaklah menjadi masalah. Yang pasti kita akan diseret semakin dalam ke awal kisah kutukan penyihir ini terjadi. Secara keseluruhan, sebenarnya film dengan durasi 1 jam 54 menit ini tidak terlalu menyeramkan, jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya, justru terkesan lebih ringan dan lucu. Lihat saja bagaimana Deena dan teman-temannya berhasil mengurung para hantu pembunuh di mal.

Performa Akting yang Berkesan

Performa Akting yang Berkesan

Dengan proses syuting yang dilakukan secara back-to-back, film ini bisa dibilang efektif dan efisien dalam menggunakan para pemeran dan lokasinya.

Cast di film pertama dan kedua dihadirkan kembali untuk memerankan banyak karakter di film ketiga ini pada seting waktu di era kolonial. Meski tidak banyak dari mereka yang mendapat durasi tampil yang cukup, setidaknya kita sudah familiar dengan wajah mereka.

Selain itu, lokasi yang digunakan film dengan sinematografi yang biasa saja tapi memiliki editing yang baik ini tidak berpindah dari dua film sebelumnya, terutama di camp dari film kedua yang memang diceritakan adalah lokasi kejadian pelaksanaan hukum gantung Sarah terjadi.

Jadi biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar, apalagi para pemerannya bisa dibilang mayoritasnya pendatang baru.

Akhirnya, Fear Street Part Three: 1666 adalah puncak cerita dari dua film sebelumnya yang sudah kita daki bersama. Cukup memuaskan ketika semua misteri terkuak secara gamblang, juga cukup menghibur dengan strategi penyelesaian akhir yang terjadi di mal.

Dengan deretan aktor/aktris muda, kita tinggal menunggu kabar baik akan cemerlangnya karir mereka di masa depan. Ketiga film horror karya Leigh Janiak ini sudah tersedia semua di Netflix. Disarankan menonton langsung secara marathon agar nuansa yang ditampilkan tidak pudar karena di jeda waktu. Selamat menonton!

Fear Street Part Three: 1666
Rating: 
3.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram