bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Review dan Sinopsis Film Horror Fantasy Island (2020)

Review dan Sinopsis Film Horror Fantasy Island (2020)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 24 Maret 2021

Ketika pemilik sebuah pulau mewah yang terpencil mengundang beberapa tamu untuk menghidupkan fantasi terbesar mereka, kekacauan kemudian hadir secara terus-menerus di pulau itu. Michael Pena berperan sebagai Mr. Roarke, karakter yang dipopulerkan oleh Ricardo Montalban di serial TV era 1970an yang menjadi dasar cerita film horror ini.

Fantasy Island adalah film horror yang dibintangi oleh beberapa aktor-aktris terkenal dan disutradarai oleh Jeff Wadlow. Produser Jason Blum dengan rumah produksi Blumhouse Productions miliknya berusaha membangkitkan banyak nostalgia horror sebagai proyek besarnya, salah satunya adalah film ini yang diplot sebagai prequel dari serialnya.

Film yang dirilis pada 14 Februari 2020 oleh Sony Pictures ini sudah bisa disaksikan kembali di layar Netflix. Simak review kami tentang film yang berlokasi syuting di Kepulauan Fiji ini.

Sinopsis

Sinopsis

  • Tahun: 2020
  • Genre: Action, Adventure, Fantasy, Horror, Mystery, Thriller
  • Produksi: Columbia Pictures, Blumhouse Productions
  • Sutradara: Jeff Wadlow
  • Pemeran: Michael Pena, Maggie Q, Lucy Hale

Sekelompok tamu datang ke sebuah pulau terpencil dimana mereka adalah para pemenang kontes. Mereka adalah Gwen, Patrick, Melanie, JD dan Brax. Disambut oleh pemilik sekaligus pengelola pulau, mereka dijanjikan akan diberikan satu fantasi terbesar mereka yang akan diwujudkan. Mereka ditempatkan di kamar masing-masing, sementara JD dan Brax ditempatkan di sebuah mansion spesial.

Melanie menjalankan fantasinya, yaitu menyiksa wanita yang pernah menggangunya waktu sekolah dulu. Ketika dia tahu yang disiksa adalah Sloane yang asli, bukan hologram, dia berusaha menyelamatkannya dari siksaan dokter bedah gila. Sementara Patrick berfantasi sebagai tentara yang ternyata bertemu dengan ayahnya saat sedang menjalankan misi militer terakhirnya.

Sementara itu, fantasi Gwen ialah menerima lamaran kekasihnya yang dahulu pernah dia tolak dan terbangun keesokan paginya sudah memiliki seorang putri yang bermain di pantai. Brax dan JD tenggelam dalam fantasi mereka berpesta dengan para model-model cantik di mansion mewah yang mereka tempati. Semua baik-baik saja hingga ada sekelompok orang bersenjata masuk ke dalam mansion.

Melanie dan Sloane masih dikejar oleh dokter bedah gila itu dan bertemu dengan Damon, seorang detektif swasta yang lama terperangkap di pulau. Damon memperlihatkan kepada mereka lokasi mata air yang katanya adalah sumber dari fantasi di pulau ini. Gwen meminta kepada Roarke untuk mengubah fantasinya, tapi ditolak beberapa kali. Pada akhirnya diizinkan, dan fantasi kali ini sangat jauh berbeda.

Gwen berada di apartemennya yang terbakar karena dia lupa mematikan kompor dan berusaha menolong penghuni di kamar bawah, Nick. Dia bertemu dengan JD dan Brax di tangga dan Patrick di luar apartemen yang hanya diam saja ketika dimintai pertolongannya. Tapi Gwen gagal menyelamatkan Nick dan kemudian ditolong keluar dari fantasi oleh Julia, asisten Mr. Roarke.

Patrick dan pasukan ayahnya bertemu dengan kelompok bersenjata di mansion. JD tewas ditembak dan ayah Patrick juga tewas demi menyelamatkan anaknya. Mereka bertemu dan mulai menyimpulkan cerita fantasi Gwen. Mereka menyangka bahwa Mr. Roarke adalah ayah Nick yang menuntut balas dendam. Kemudian mereka berencana menghancurkan mata air di dalam gua.

Melanie menusuk Patrick dan kemudian membuat pengakuan bahwa dialah yang mengumpulkan mereka semua untuk membalaskan dendam Nick yang ternyata adalah kekasihnya dimana di malam kebakaran itu dia seharusnya pergi berkencan. Sloane meminum air dari mata air itu dan memunculkan fantasi Nick dalam kondisi gosong yang menarik Melanie ke dalam mata air. Tapi Melanie sempat melempar granat.

Patrick dengan sigap mengorbankan dirinya dengan menutupkan badannya ke granat. Akhirnya fantasi selesai dan mereka siap dipulangkan. Brax menginginkan agar JD hidup kembali, tapi syaratnya dia harus tinggal di pulau. JD dan penumpang lainnya meninggalkan pulau.

Gebrakan Blumhouse di Genre Horror

Gebrakan Blumhouse di Genre Horror

Fantasy Island adalah salah satu proyek yang merupakan bagian dari proyek besar rumah produksi Blumhouse Productions untuk membangkitkan nostalgia film-film horror di era milenal saat ini. Blumhouse sendiri memang terkenal sebagai rumah produksi yang rajin merilis film-film horror, beberapa diantaranya memiliki kualitas yang baik.

Didirikan pada tahun 2000, Blumhouse baru menggebrak dunia sinema ketika memproduksi Paranormal Activity pada tahun 2007 yang menjadi sleeper hit dan meledak di tahun 2009 saat dirilis secara luas di bioskop-bioskop Amerika. Seperti yang kita tahu, film yang tampil seperti rekaman footage ini kemudian menelurkan beberapa sequel hingga total mencapai 6 film di tahun 2015.

Kemudian beberapa film horror berkualitas lainnya mengalir secara reguler, seperti Insidious (2010) yang sudah memiliki tiga sequel lainnya, The Purge (2013) yang sudah memiliki dua sequel dan satu prequel, Ouija (2014) dengan satu prequel-nya, serta Happy Death Day (2017) dan sequel-nya. Kualitas film-film ini cukup baik dan bisa diterima dengan baik pula oleh para penontonnya.

Selain itu, Blumhouse juga memiliki proyek besar untuk menghidupkan kembali nostalgia film-film horror. Dimulai dengan Halloween (2018), mereka mengembalikan teror Michael Myers kepada penonton. Kemudian hadir remake Black Christmas (2019), The Invisible Man (2020), The Craft: Legacy (2020), dan termasuk Fantasy Island. Patut ditunggu remake The Exorcist, Freddy Kreuger, Wolfman, dan Boogeyman.

Dan untuk menguatkan taringnya di sinema horror, Blumhouse merilis beberapa film sekaligus di bulan Oktober 2020 bekerja sama dengan Amazon Prime sebagai medianya. Dengan tajuk Welcome to the Blumhouse, film-film itu ialah The Lie (2020), Black Box (2020), Evil Eye (2020), dan Nocturne (2020) yang semuanya mendapat respon hangat dari penonton dan juga kritikus.

Naskah yang Lemah Penyebab Banjir Kritikan

Naskah yang Lemah Penyebab Banjir Kritikan

Apa yang kita harapkan dari film horror dengan jumlah cast yang banyak? Tentu saja adalah jumlah kematian yang banyak pula dan siap menduga siapa duluan yang mati. Pasti seperti itu. Dan Fantasy Island berusaha mewujudkan harapan itu, tapi dalam skala mengecewakan. Pada akhirnya, tidak semua cast menemui ajalnya dan masih ada yang bisa pulang dengan selamat.

Sutradara Jeff Wadlow, yang bertanggung jawab atas buruknya film Truth or Dare (2018), seperti kebingungan menerjemahkan naskah yang ditulis olehnya sendiri beserta kedua rekannya. Dia seperti memaksakan lusinan referensi horror yang pernah ada untuk ditumpuk menjadi sebuah jalan cerita yang membingungkan. Cabin in the Woods (2011), franchise Saw, dan Panic Room (2002) adalah diantaranya.

Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dan lubang cerita disana-sini. Uniknya, semua itu dilewatkan begitu saja oleh para penulis naskah, seolah mereka tidak peduli penontonnya bingung. Memang seharusnya film ini dihadirkan dalam bentuk serial saja, sehingga semua elemen misteri di pulau itu bisa dijelaskan dengan baik, tidak terburu-buru seperti di film ini.

Dengan keterbatasan rating PG-13, sejumlah adegan sadis dan menyeramkan yang kita harapkan tidak bisa dihadirkan, oleh karena itu semuanya terasa tanggung. Dari deretan cast-nya, hanya Maggie Q saja yang tampil cukup baik dan penuh penghayatan. Sisanya, ada yang tampil seadanya, bahkan pemeran utamanya, Lucy Hale, tampil sangat buruk seolah terlalu percaya diri, sehingga jadi menyebalkan.

Kabarnya, Lucy Hale sangat yakin mendapat peran di dalam Fantasy Island karena sebelumnya dia juga membintangi Truth or Dare karya sutradara yang sama. Ketika memilih pemeran untuk film ini, hanya dia yang langsung dihubungi oleh Jeff Wadlow, sementara yang lainnya melalui proses casting.

Fantasy Island menjadi film horror yang tidak menyeramkan, malah terkesan seperti film komedi, terutama di beberapa adegan yang menampilkan karakter JD dan Brax. Harapan kita akan sebuah fantasi luar biasa pun dihempaskan begitu saja dengan tampilan fantasi yang biasa saja. Tapi jika hanya ingin membuang waktu luang, maka film ini bisa menjadi pertimbangan untuk kalian tonton.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram