bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Falling Inn Love, Musibah Membawa Berkah

Bagaimana rasanya traveling berjam-jam untuk melihat hadiah kontes berupa rumah indah di Selandia Baru tapi ternyata yang kamu dapatkan adalah rumah tua yang bobrok? Ngenes sih, tapi wait!

Bagaimana kalau di tengah kemalangan itu, kamu bertemu prince of charming yang siap untuk menolongmu di masa sulitmu? Nah, itu cerita yang akan kamu dapat kalau nonton Falling Inn Love.

Dari posternya saja sudah tertebak sih seperti apa ceritanya dan bagaimana jalan ceritanya juga akhir ceritanya. Film ini begitu ringan hingga kamu cukup menikmati sajiannya saja.

Untuk yang sedang ingin hiburan cerita romantis di akhir pekan, film ini bisa jadi pilihan. Tapi sebelum nonton, yuk simak dulu sinopsis dan reviewnya!

Sinopsis

Falling Inn Love
  • Tahun Rilis: 2019
  • Genre: Romance, Comedy
  • Produksi: MarVista Entertainment
  • Sutradara: Roger Kumble
  • Pemeran: Adam Demos, Christina Milian, Jeffrey Bowyer-Chapman

Gabriela Diaz (Christina Millian) adalah seorang designer yang bekerja di sebuah agensi yang berlokasi di San Francisco. Agensi tersebut bangkrut sehingga dia harus mencari pekerjaan lagi.

Di tengah-tengah masalah itu dia juga putus dengan pacarnya, Dean Corner (Jeffrey Bowyer-Chapman) karena menurut Gabriela dia tak berniat untuk berkomitmen.

Gabriela berusaha untuk mendapatkan pekerjaan baru, tapi dia tidak berhasil. Kesedihannya karena putus dengan Dean membuat dia menghabiskan waktu seharian dengan minum-minum.

Di saat itulah dia ingat lagi dengan email kontes Win-an-Inn. Melihat tawaran hadiah yang menggiurkan itu dia langsung mengisi esai yang diwajibkan tanpa pikir-pikir lagi.

Keesokan harinya setelah terbangun dari mabuknya, Gabriela mendapat kejutan―yang tidak mengejutkan sebenarnya―dia memenangkan kontes tersebut dan berhak mendapatkan sebuah rumah di pedesaan Selandia Baru yang bernama The Bellbird Valley Farm di Kota Beachwood Downs.

Dia pun langsung mengepak barangnya dan terbang ribuan mil untuk melihat rumah impiannya. Rumah tersebut letaknya benar-benar jauh dari kota sehingga dia harus naik bus sampai tiga kali.

Saat turun untuk mencari alamat rumah, tanpa sengaja koper yang dia bawa menggelinding dan menabrak sebuah mobil yang lewat.

Kejutannya baru dimulai. Pemilik mobil ternyata seorang pria tampan. Dia menawarkan tumpangan yang tentu saja dia tolak karena dia perempuan mandiri.

Dengan susah payah akhirnya dia sampai di rumah yang dia impikan dan kejutan kedua dimulai. Rumah impiannya ternyata berupa rumah tua yang sudah bobrok.

Ini berbeda sekali dengan gambar yang dia terima. Kejutan ketiga adalah rumah ini dihuni seekor kambing bernama Gilbert dan ada Landrover tahun 1960-an.

Masih dalam keadaan kaget, tiba-tiba ada tamu yang datang, yaitu Charlotte (Anna Jullienne). Dia adalah pemilik B&B satu-satunya di kota tersebut. Charlotte menawarkan diri untuk membeli rumah tersebut tapi tak begitu ditanggapi Gabriela.

Karena rumah dalam keadaan rusak, akhirnya Gabriela memutuskan untuk memperbaiki beberapa yang rusak, terutama keran air di dapur.

Di saat berada di toko perkakas, Gabriela bertanya pada pemilik toko yang bernama Norman (William Walker) apakah ada ahli renovasi rumah di kota tersebut. Norman langsung memanggil Jake Taylor (Adam Demos) yang kebetulan sedang berada di sana.

Betapa terkejutnya Gabriela, ternyata Jake adalah laki-laki yang mobilnya bertabrakan dengan kopor bajunya. Tentu saja masih dalam “mode” gengsi, dia berkilah tidak jadi meminta bantuan kontraktor rumah.

Gabriela berusaha sendiri untuk memperbaiki rumah tersebut dan mempercantiknya dengan membeli tanaman. Di sana akhirnya dia kenalan dengan pemilik tokonya yang bernama Shelley (Claire Chitham).

Karena sering bertemu meski tidak direncanakan, akhirnya pada acara Rubgy Night Gabriela mulai membuka diri untuk ngobrol dengan Jake. Setelah mulai berkomunikasi dengan Jake, akhirnya Gabriela menawarkan kerja sama padanya.

Jake yang seorang Jack of all trades alias serba bisa itu, mulai dari kontraktor hingga sukarelawan pemadam kebakaran, setuju dengan ide Gabriela untuk ikut merombak rumah dengan berbagi 50-50 mulai dari biaya hingga hasil penjualan.

Selama proses merenovasi rumah, perasaan keduanya berkembang menjadi suka. Selain itu, Gabriela juga menjadi terikat dengan rumah tersebut.

Itu kabar buruk untuk Charlotte yang menginginkan membeli rumah itu. Dia pun diam-diam menghubungi Dean menggunakan HP Gabriela agar dia datang ke Selandia Baru untuk menjemput Gabriela.

Di saat Jake dan Gabriela sudah mulai serius, tiba-tiba bos Gabriela yang dulu menelpon dan menawarkan pekerjaan yang dia impikan.

Akankah Gabriela menjual rumahnya dan mengejar kembali impiannya dengan menerima pekerjaan dari bosnya? Tonton saja filmnya, ya.

Menghibur tapi Bukan untuk Ditonton Berulang-Ulang

Menghibur tapi Bukan untuk Ditonton Berulang-Ulang

Falling Inn Love bukan jenis film yang akan ditonton berulang-ulang. Asmara di antara Gabriela dan Jake enak untuk dinikmati selama satu setengah jam saja, tapi tidak akan membuat penonton tergerak untuk mengulangnya.

Untuk penonton yang overthinker pasti akan mempertanyakan banyak hal saat menonton film ini. Keputusan Gabriela untuk mengikuti kontes tersebut tanpa mengecek apakah itu penipuan atau bukan menjadi sebuah pertanyaan besar.

Biasanya orang tidak akan dengan mudah mengklik iklan tentang kontes yang memberikan hadiah yang besar dengan begitu mudahnya.

Saat memutuskan untuk langsung terbang ke Selandia Baru tanpa mengecek kebenarannya, itu juga terasa lebih tidak masuk akal. Mungkin kalau Gabriela tipe orang yang “gimana ntar”, hal tersebut memang tak perlu diambil pusing.

Namun untuk kebanyakan orang pasti akan hati-hati ketika mendapatkan tawaran seperti itu. Minimal mengecek ke laman situs resmi atau semacamnya.

Selain itu dia juga baru saja kehilangan pekerjaan dan tidak punya sumber dana untuk penghasilan, jadi bagaimana bisa dengan mudah memutuskan untuk pergi?

Tapi rasanya tak perlulah memusingkan pertanyaan-pertanyaan tadi karena ending-nya sudah tertebak. Cukup sit back and relax kemudian nikmati filmnya sampai akhir.

Baca juga: 10 Rekomendasi Film Terbaik Tentang Kisah Cinta Pertama

Formula Romcom yang Sangat Umum

Formula Romcom yang Sangat Umum

Tak ada formula khusus dalam film ini. Semuanya berjalan seperti kebanyakan film komedi romantis lainnya. Ada tokoh yang awalnya jual mahal tapi kemudian meleleh setelah kenal dengan orangnya dan selanjutnya jatuh cinta.

Meski di awal Grabiela seperti malas harus berkenalan dengan Jake dan sok jual mahal, atau bisa jadi karena dia masih cinta dengan Dean, tapi begitu Jake mulai menceritakan dirinya, Gabriela pun langsung luluh.

Walaupun tidak ada unsur Cinderella Story, yaitu pria kaya bertemu perempuan biasa-biasa, tapi dalam film ini ada a knight in shining armor yang akan siap untuk menolong sang perempuan.

Ada pribahasa Jawa dalam film ini “witing tresno jalaran soko kulino”. Karena mereka sering bertemu dan sering menghabiskan waktu bersama ketika renovasi rumah, cinta pun tumbuh di antara keduanya.

Ada konflik tapi tidak akan sampai berlarut-larut dan pelik. Permasalahannya pun cukup sederhana, seperti Jake dan Gabriela yang tak bisa mengungkapkan perasaan masing-masing sehingga muncul kesalahpahaman.

Namun jangan khawatir karena nantinya pun akan segera terselesaikan dan akhirnya mereka akan bahagia bersama.

Promosi tentang Selandia Baru

Promosi tentang Selandia Baru

Film ini seperti promosi wisata Selandia Baru. Saat Gabriela mendarat di Selandia Baru, penonton langsung diberikan sajian pemandangan alam yang indah. Sepanjang mata memandang, penonton akan melihat pohon-pohon rindang dan hamparan padang hijau.

Selanjutnya penonton akan dikenalkan dengan keramahan khas masyarakat Kiwi. Ada pelajaran bahasanya juga. Penonton akan belajar beberapa istilah khas Selandia Baru. Jangan lupakan pengenalan budaya masyarakat Maori yang disajikan dalam bentuk tarian dan ungkapan.

Jadi film ini bisa jadi alat promosi untuk wisata negara Kiwi ini. Begitu melihat indahnya alam Selandia Baru, beberapa orang mungkin akan berkomentar, “ah aku pengen banget ke sini.” Salah satu orang itu adalah saya.

Itulah review dan sinopsis Falling Inn Love yang buat saya jatuh cinta dengan Selandia Baru bukan dengan tokohnya. Film ini cocok ditonton untuk yang perlu hiburan ringan atau malas menonton film yang harus membuat orang berpikir keras.

Chemistry di antara kedua pemainnya tidak ada yang luar biasa, alami sih tapi biasa saja. Overall, film ini masih oke untuk ditonton tapi tak akan ditonton dua kali.

Falling Inn Love
Rating: 
2.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram