Bacaterus / Review Film Indonesia / Sinopsis & Review Eiffel… I’m in Love, Kom-Rom Era 2000’an

Sinopsis & Review Eiffel… I’m in Love, Kom-Rom Era 2000’an

Ditulis oleh - Diperbaharui 18 Februari 2021

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Telah tayang per 2020 di layanan media streaming digital paling beken saat ini, Netflix, film “Eiffel… I’m in Love” membuktikan eksistensinya masih begitu digemari. Padahal, film ini sudah lebih dari 15 tahun lalu rilis, lebih tepatnya ia dirilis pada tahun 2003. Sudah lama banget, ya? Pada zaman itu, saya masih duduk di bangku SD.

“Eiffel… I’m in Love” adalah film dengan genre komedi romantis yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Rachmania Arunita. Para pemainnya antara lain ada Samuel Rizal, Shandy Aulia, Helmy Yahya, Titi Kamal, Didi Petet, dan masih banyak lagi.

Disclaimer: artikel ini mengandung spoiler alias bocoran film. Jika kamu belum menonton filmnya, maka dengan membaca artikel ini bisa membuat kamu bete karena sudah tahu garis besar ceritanya. Kecuali jika kamu tidak peduli akan hal itu, silakan lanjut membaca, ya.

Sinopsis

* sumber: www.imdb.com

  • Tahun: 2003
  • Genre: Drama, Komedi romantis
  • Sutradara: Nasri Cheppy
  • Produksi: PT Soraya Intercine Film
  • Pemeran: Shandy Aulia, Samuel Rizal, Titi Kamal, Yogi Finanda, Helmy Yahya, Didi Petet, Vena Annisa, Hilda Arifin, Rianti Cartwright

Film yang dikenal juga dengan judul “Eiffel… Aku Jatuh Cinta” ini merupakan cerita komedi romantis anak remaja. Diceritakan Tita (diperankan oleh Shandy Aulia) yang kala itu masih berusia 15 tahun. Ia memiliki keluarga yang lengkap ada ayah, ibu, kakak, dan adik. Keluarganya juga terbilang well off alias tajir melintir. Tita juga punya pacar yang ganteng dan sahabat-sahabat yang baik.

Terdengar sempurna, bukan? Namun, memiliki mama yang over protective membuat Tita tidak pernah memiliki kesempatan untuk merasakan masa mudanya. Seperti ikut study tour ke Bali dari sekolah, atau barang pergi ke mall bersama teman saja ia tidak dibolehkan. Ia layaknya burung di dalam sangkar, walaupun sangkarnya terbuat dari emas, tetap saja ia tak bebas.

Karena itulah walaupun telah berpacaran selama 2 tahun dengan Ergi (dimainkan oleh Yogi Finanda), Tita tidak pernah nge-date dengannya. Suatu hari, orang tua Tita mengabarkan kalau mau ada kerabat mereka dari Prancis yang akan berkunjung, yaitu Om Rizal (almarhum Didi Petet) dan anaknya yang bernama Adit (Samuel Rizal).

Adit adalah cowok kuliahan yang memiliki sifat dingin. Apalagi kepada Tita, Adit sangat galak dan judes, kerjanya marah-marah terus. Namun, orang tua Tita memandang Adit sebagai laki-laki yang bisa diandalkan. Mungkin karena dia anak dari kerabat dekat mereka, yaitu Om Rizal. Makanya jika bersama Adit, Tita diperbolehkan keluar rumah.

Ketika Om Rizal dan Adit menginap di rumahnya, Tita tidak sengaja mendengar ‘percakapan’ kalau Adit akan dijodohkan dengannya. Padahal selama ini Tita membayangkan akan menikah dengan pria yang hangat dan pengertian.

Konflik semakin runyam ketika pacar Tita ketahuan jalan dengan cewek lain, Adit yang disukai sahabat Tita, Adit yang ternyata punya pacar, dan Tita yang lambat laun menyimpan perasaan untuk Adit. Lantas, bagaimana kelanjutan cerita cinta Tita dan Adit?

Membawa Kita Flashback ke Zaman Dulu

Adanya walkman, radio, acara titip salam dan nampaknya penyiar radio begitu akrab dengan pendengarnya (dan nampaknya semua orang mendengarkan acara radio tersebut sehingga saling tahu kehidupan masing-masing), telepon rumah yang segede sepatu kets, dan fashion para karakter membuat kita merasa ikut tertarik ke masa itu. Well, buat yang sudah mengalaminya, ya, berarti kelahiran 2000 ke atas pasti belum pernah.

Jalan Cerita ‘Klasik’, jadi Mudah Ditebak

Kita semua sering menonton atau membaca jenis cerita cinta remaja seperti ini. Di mana tokoh utama prianya dingin, tokoh utama wanitanya polos dan clumsy, terus ada orang ketiga yang jelas-jelas bukan ‘untuk dipilih’.

Terus, tokoh utama pria yang super cold kayak kulkas itu tiba-tiba berubah demi si cinta. Mengajarkan penontonnya kalau cinta bisa membuat orang berubah, padahal dalam kehidupan aslinya kan tidak semua orang bisa merubah wataknya demi orang lain, jadi cerita seperti ini bisa membuat kita bucin alias budak cinta, not good dalam sisi ini-nya, sih.

Tapi, bukan berarti ini film yang jelek. Walaupun memang alurnya mudah ditebak. Apalagi kalau kamu sering nonton cerita roman picisan seperti ini. Kayak, yaudah pasti ending-nya Tita sama Adit. Tapi yang menjadi menarik itu kan bagaimana jalannya agar mereka bersama, begitu, kan?

Musik yang Abadi

*Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=VRlTqYm1ktU

Melly Goeslaw dan Anto Hoed memang music genius-nya Indonesia. Suara teh Melly yang syahdu banget dengan lagu-lagu yang diproduseri suaminya, Anto Hoed, akan selalu menjadi berlian. Album Ost. atau lagi tema film “Eiffel… I’m in Love” terdiri dari 11 lagu. Untuk theme song yang paling hit-nya adalah “Pujaanku”, “Tak Tahan Lagi”, “Bercintalah Denganku”, dan tentunya “Eiffel… I’m In Love”.

Saking Suksesnya, Ada Versi Extended

Film “Eiffel… I’m in Love” ini sangat ngehits pada masanya sehingga punya alternate version-nya! Pada bulan Juni tahun 2004, film dengan versi lebih panjang 1 jam dirilis di bioskop-bioskop di Indonesia. Bedanya dengan film yang sebelumnya, tentu versi extended ini konfliknya dibahas secara lebih mendalam lagi. Mengenai hubungan Tita dengan orang tua (apalagi mamanya yang over protektif), lalu permasalahan antar teman-teman Tita, semua dibahas secara lebih intens.

Hey, Ada Dua Sekuel Juga, Loh!

Ya, “Eiffel… I’m in Love” (2003) punya dua sekuel dengan cerita berbeda. Pada tahun 2008, novelis alias penulis bukunya membuat film dengan judul “Lost in Love”. Akan tetapi, rumah produksi dan pemerannya berbeda semua.

Mungkin karena itu juga filmnya tidak disambut dengan baik dalam hal kritik maupun oleh masyarakat. Jadi, rumah produksi “Eiffel… I’m in Love 1” membuat lagi “Eiffel… I’m in Love 2” pada hari Valentine tahun 2018 sebagai sekuelnya.

Saya pikir film ini berfokus pada percintaan saja karena tidak ada penyelesaian antara Tita dan mamanya, Adit yang tiba-tiba manis tapi masih pemarah (mungkin tsundere gitu kali ya dia), sama jalan cerita yang banyak loncatnya (tiba-tiba Tita putus terus cepat banget sudah suka lagi sama Adit, dsb).

Selama ‘LDR’ (tapi belum jadian) ketika Adit di Prancis dan Tita di Indonesia pun terasa terlalu novel banget karena masa mereka hanya berhubungan lewat Uni, sahabatnya Tita.

Anyway, film ber-genre komedi romantis memang sering kali meledak di pasaran, apalagi kalau pemainnya cantik dan ganteng, terus didukung juga dengan kemampuan akting yang baik.

Jadi, “Eiffel… I’m in Love” ini memang pantas menjadi film Indonesia yang selalu dikenang dan tidak pernah bosan buat diputar ulang, seperti “AADC”, walau ceritanya menurut saya biasa aja untuk “Eiffel… I’m in Love 1” ini (bahkan scene di Eiffel-nya sedikit banget, helo, ini film judulnya ada ‘Eiffel’-nya).

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *