bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Edge of Tomorrow (2014)

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 11 September 2021

Cerita film Edge of Tomorrow berdasarkan skenario yang diadaptasi dari novel Jepang tahun 2004 berjudul All You Need Is Kill karya Hiroshi Sakurazaka. Film ini sendiri mengambil latar waktu masa depan, di mana sebagian Bumi diserang oleh ras alien.

Mayor William Cage (Tom Cruise) dipaksa oleh atasannya untuk bergabung dalam operasi pendaratan melawan alien. Saat berperang, dirinya tewas, lalu terjebak dalam putaran waktu, dan hidup kembali dengan mengulangi kejadian yang sama hanya untuk menemukan cara supaya bisa mengalahkan mereka.

Film ini meraup lebih dari 370 juta dollar di seluruh dunia dengan anggaran produksi sebesar 178 juta dollar. Sebuah sekuel dari Edge of Tomorrow, yang rencananya bakal berjudul Live Die Repeat and Repeat, saat ini sedang dalam proses pengembangan.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2014
  • Genre: Science Fiction, Action
  • Rumah produksi: Village Roadshow Pictures, RatPac-Dune Entertainment, dan 3 Arts Entertainment
  • Sutradara: Doug Liman
  • Pemeran Utama: Tom Cruise, Emily Blunt

Pasukan alien yang disebut dengan Mimics tiba di Jerman melalui asteroid, dan secara cepat menaklukkan sebagian besar benua Eropa. Organisasi United Defense Force (UDF), aliansi militer global yang dibentuk untuk memerangi ancaman alien, akhirnya mampu meraih kemenangan atas Mimics menggunakan prajurit manusia, yang mengenakan baju perang berteknologi tinggi bernama mech suit.

Di Inggris, UDF merencanakan invasi besar ke Perancis, dan Jenderal Brigham memerintahkan Mayor William Cage, yang berasal dari Departemen Hubungan Media untuk meliput aksi tersebut. Cage, yang tidak memiliki pengalaman bertempur, menolak dan mengancam untuk menyalahkan Brigham jika invasi tersebut gagal.

Cage lalu berada dibawah pengawasan Sersan Utama Farell, dan masuk ke dalam J-Squad, yang sangat tidak ramah kepadaya. Pendaratan di Perancis tidak berjalan mulus, Farell, dan J-Squad terbunuh dengan cepat. Cage lantas berusaha membunuh sesosok Mimic Alpha berwarna biru yang sangat besar, tetapi ia terluka parah hingga tewas berlumuran darah monster tersebut.

Beberapa saat kemudian, Cage tersentak bangun, dan mendapati dirinya kembali berada di pangkalan milier Heathrow, sesaat sebelum dirinya terbang menuju Perancis. Ia kemudian mengingat kembali kejadian yang menewaskan dirinya, Farell, dan J- Squad.

Usahanya untuk memperingatkan Farell terhadap invasi diabaikan olehnya. Ia selanjutnya terjebak di putaran waktu, mengulangi lingkaran kematian, dan bangun di Heathrow lagi dan lagi.

Saat berada di medan perang untuk kesekian kalinya, Cage mencoba menyelamatkan Sersan Rita Vrataski. Dia menyadari bahwa Cage dapat memutar waktu, dan memerintahkan kepada sang Mayor untuk menemukannya saat dirinya hidup kembali. Cage bangkit lagi, lalu bergegas menemui Vrataski di Heathrow. Keduanya lantas pergi menuju Dr. Carter, seorang ahli biologi Mimics.

Carter menjelaskan bahwa Mimics adalah superorganisme, dan mereka mempunyai sebuah cerebrum alias otak bernama Omega yang mengontrol para Mimics, dan lokasi keberadaanya masih belum diketahui. Sementara itu, jika setiap Mimics Alpha mati, maka Omega bakal mengatur ulang waktu, dan menyesuaikan taktiknya sampai bisa memenangkan pertempuran.

Melalui penjelasannya, Cage lantas mengetahui jika secara tidak sengaja ia memiliki kemampuan mereka untuk mengatur ulang waktu saat darah Alpha masuk ke dalam tubuhnya ketika pertempuran pertama yang menewaskannya. Cage dan Vrataski kemudian membuat sebuah rencana untuk mencari dan membunuh Omega agar mengakhiri invasi alien di Bumi.

Tom Cruise dan Emily Blunt Menjadi Pusat Perhatian

Tom Cruise dan Emily Blunt Menjadi Pusat Perhatian

Edge of Tomorrow adalah film fiksi ilmiah sejati, sangat konseptual, dan masih menawarkan cerita klise tentang invasi alien atau penyerangan makhluk ekstra-dimensional ke Bumi. Bentuk Alien pada film ini digambarkan seperti binatang buas, dan dikenal sebagai Mimics.

Mereka dikendalikan oleh sebuah otak bernama Omega, yang mempunyai kemampuan memutar ulang waktu untuk memenangkan pertarungan dengan umat manusia. Sementara itu, sosok Mayor William Cage adalah karakter yang kompleks karena salah satunya ia tidak mempunyai pengalaman sama sekali di medan perang.

Karakter rumit ini kemudian dapat diperankan secara baik oleh aktor Tom Cruise. Sepanjang film, rasanya pihak produkisi telah sangat tepat memilihnya, dan membuat Cage lebih berkarakter, serta membuat seluruh jalan cerita film ini asyik untuk diikuti.

Karena ia tidak berpengalaman dalam pertempuran, maka alur cerita pada Edge of Tomorrow pun cukup terarah ketika harus memperlihatkan Cage belajar bertarung sebagai prajurit. Momen tersebut terlihat keras, dan mematikan dalam menempa Cage untuk menjadi prajurit terbaik.

Ketika ia benar-benar sudah terlatih, sosoknya sangat berbeda daripada apa yang diperlihatkan pada bagian awal. Pemeran lainnya tidak melakukan banyak hal karena ini adalah film Tom Cruise, tetapi mereka semua diberi momen humor, teror, atau keeksentrikan masing-masing.

Noah Taylor mendapat peran jenius sebagai Dr. Noah Carter, dan ia sangat efektif dengan perannya itu. Lalu, Emily Blunt secara tak terduga tampil meyakinkan sebagai prajurit super, Rita Vrataski, yang tak kenal takut dan elegan.

Satu-satunya kekurangan di film ini adalah ada upaya untuk menempatkan sebuah kisah cinta ke dalam karakter yang dimainkan oleh Cruise dan Blunt. Namun untungnya, hal tersebut tidak dipaksakan terlalu parah, dan mereka pada akhirnya hanya saling mengagumi satu sama lain.

Film Fiksi Ilmiah yang Mumpuni

Film Fiksi Ilmiah yang Mumpuni

Walaupun ada adegan memutar waktu, dan kita harus melihat bagian tersebut berulang-ulang, namun justru tidak membuat alurnya menjadi membosankan. Pasalnya, dengan mengikuti rentetan tersebut, kita akhirnya bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan diri Cage.

Dari situ, perjalanan cerita menjadi lebih seru karena ia pun bertemu dengan Vrataski, Carter, dan prajurit lainnya untuk menghancurkan Omega. Selain itu juga, Edge of Tomorrow bisa dibilang merupakan film yang cukup brutal, dan kejam karena banyak peperangan yang sangat keras menghancurkan bagian-bagian tubuh.

Untuk urusan tersebut, film ini lumayan mencegangkan, dan membuat seluruh adegan pertempuran terasa memuaskan. Aspek pertarungan pada Edge of Tomorrow setidaknya meringankan kompleksitas alur cerita yang terjadi pada menit-menit awal.

Secara keseluruhan, Edge of Tomorrow adalah film yang asyik untuk dinikmati. Bagian awal film ini mengulangi adegan, dan dialog sampai kalian terbiasa pada ide cerita yang disajikan. Setelah bisa dipahami, kalian secara langsung akan sangat menantikan bagian berikutnya dengan antusias hingga menuju babak akhir.

Terlepas dari hal tersebut, film ini menjadi lebih seru lagi karena menyuguhkan efek visual yang cukup memukau. Kita bisa melihat bagaimana perang antara manusia melawan Mimics dibingkai secara epik, dan sinematografi segala latar gambar dunia masa depan saat dilanda invasi alien diperlihatkan cukup menjanjikan.

Visual yang berhasil disuguhkan kemudian membuat Edge of Tomorrow menjadi film bergaya fiksi ilmiah yang mumpuni.

Solid Dari Awal Hingga Akhir

Solid Dari Awal Hingga Akhir

Selama 1 jam 53 menit, kalian akan terasa menikmati sebuah film epik fiksi ilmiah yang tidak akan mengecewakan. Film ini rasanya menjadi salah satu adaptasi Hollywood dari karya populer Jepang yang dibuat tidak terlalu buruk.

Hal itu pun terasa berbeda dengan apa yang terjadi pada Ghost in the Shell, dibintangi oleh Scarlett Johansson pada tahun 2017 lalu, yang menerima ulasan dan respon tidak memuaskan.

Film ini masih cukup beruntung karena kedua aktor utama, Cruise, dan Blunt, tampil baik, serta skenario yang ditulis oleh Christopher McQuarrie, Jez Butterworth, John-Henry Butterworth di eksekusi secara solid oleh sang sutradara, Doug Liman.

Semua tim produksi di belakang layar, dan para pemainnya bisa dikatakan sangat kompak untuk mendukung film ini menjadi sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh. Kemudian, secara ringkasnya film ini bisa dibilang menawarkan genre “kaiju” milik Jepang yang diadaptasi oleh Hollywood dengan menampilkan karakter monster alien sesuai konten originalnya.

Edge of Tomorrow pada akhirnya menjadi sebuah tontonan yang sangat segar untuk diikuti jalan ceritanya. Para pemainnya tampil apik, dan semua aspek pertarungan yang disajikan cukup memuaskan. Film ini jangan sampai terlewatkan karena sudah bisa disaksikan pada layanan streaming Netflix.

Edge of Tomorrow
Rating: 
4/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram