bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Drama Cina The King’s Woman (2017)

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 13 Oktober 2021

Berasal dari keluarga komandan militer Gongsun Yu, Gongsun Li tidak pernah menyangka akan menjadi selir di Kerajaan Qin. Memiliki masa lalu pahit dengan Kerajaan Qin, Gongsun Li berusaha keras untuk bisa hidup, meski tersiksa di dalam istana. Banyak intrik, politik dan perebutan tahta untuk menjadi Permaisuri menghantui, meski ia adalah wanita kesayangan Raja.

The King’s Woman (2017) adalah drama yang diangkat dari novel The Legend of Qin: Li Ji Story. Drama ini berhasil menjadi nomor satu di televisi Cina dan mendapatkan 1,5 miliar viewers di Youku. The King’s Woman mendapatkan rating 7.8 dalam My Drama List dan menjadi drama terpopuler.

Lalu bagaimana kisah Gongsung Li melawan rasa bencinya pada Ying Zheng di Istana Qin? Jawabannya akan kamu dapatkan di bawah ini.

Sinopsis

Sinopsis

Terlahir dari keluarga komandan militer, Gongsun Li terbiasa untuk berlatih bela diri bersama dengan kakeknya dan temannya Jing Ke. Hubungan kanak-kanak Gongsun Li dan Jing Ke berkembang menjadi cinta saat beranjak dewasa. Jin Ke juga menerima wasiat dari gurunya untuk menjaga Gongsun Li selama peperangan terjadi.

Janji tidak bisa ditepati, karena Gongsun Li menyerahkan dirinya ke Istana Qin untuk menjadi selir demi menyelamatkannya. Jing Ke yang marah dan tertipu berusaha masuk ke Istana, untungnya ada orang yang berhasil menyelamatkannya. Tinggal di istana, Gongsun Li baru mengetahui bahwa ia sedang mengandung dan hal ini membuat Raja sangat marah.

Setelah beberapa ketegangan, Raja akhirnya membiarkan selir kesayangannya untuk melahirkan anak itu. Memiliki identitas sebagai seorang pangeran, anak Gongsun Li membuat para selir cemburu dan khawatir akan nasib mereka. Dari sinilah intrik perebutan kedudukan untuk menjadi Permaisuri dan Putra Mahkota di mulai, membuat semua orang tidak bisa di percaya.

Di sisi lain Raja Ying Zheng memiliki kehidupan yang sulit sejak ia masih kecil. Hidup dalam perasingan dan dikejar-kejar oleh penghianat, Ying Zheng tumbuh menjadi Raja yang sangat kejam. Dalam dirinya timbul banyak kemarahan dan tidak memiliki belas kasih pada orang yang menghianatinya. Bahkan perang saudara sempat terjadi, saat dirinya dituduh bukan sebagai keturunan Raja terdahulu.

Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah, cinta pertamanya pada seorang anak perempuan yang menyelamatkannya saat kecil. Anak itu adalah Gongsun Li, makannya ia sangat berniat untuk menjadikan Gongsun Li selir meski wanita itu tidak mencintainya. Ia melakukan banyak hal yang tidak biasa dilakukan demi melindungi Gongsun Li dan anaknya.

Hubungan Gongsun Li dan Raja Ying Zheng tumbuh jadi cinta, mereka saling mendukung satu sama lain. Gongsun Li dengan kecerdasan dan kebaikannya akhirnya bisa mendapatkan hormat dari semua orang. Tapi kebahagiaan tidak bertahan lama, Gongsung Li tahu rencana Ying Zhen untuk putranya. ia berusaha mengeluarkan Tian Ming dari istana agar nyawanya putranya bisa terselamatkan.  

Jing Ke yang mengetahui kebenaran mengenai Gongsun Li dan Tian Ming, berusaha menyelamatkan keduanya. Mengatur rencana membunuh Raja, sebaliknya Raja yang terlebih dahulu membuat skenario untuk membunuhnya. Gongsun Li yang melihat hal ini merasa sedih dan dengan sengaja membuat raja emosi, sehingga pedang Raja yang mengambil nyawanya. 

Romansa Sejarah yang Terasa Sangat Menegangkan

Romansa Sejarah yang Terasa Sangat Menegangkan

Berbeda dengan jenis drama romantis lainnya, The King’s Woman (2017) terasa sangat menyentuh hati para penonton. Pasalnya kita dipertontonkan dengan kenyataan bahwa “kehidupan tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan”. Hal ini juga berlaku untuk cinta, karena tidak semua orang beruntung untuk bisa bersama orang yang dicintainya.

Sejujurnya saya tidak mengharapkan The King’s Woman akan memberikan kisah yang seperti ini. Semuanya di luar prediksi saya, karena terasa merinding saat ditonton apalagi di paruh terakhirnya. The King’s Woman memberikan cerita, alur dan konflik yang tersusun dengan rapi. 

Membuat paruh pertamanya mengenai kisah cinta Gongsun Li dan Jing Ke yang manis dan malu-malu. Dalam sekejap berubah menjadi kisah cinta dan benci antara Gongsun Li dan Raja Ying Zheng. Meski terlihat lemah, Gongsung Li cukup tegar dan keras kepala saat menghadapi Ying Zhen yang kasar. Dendamnya pada Kekaisaran Qin, membuatnya enggan untuk hidup selain demi anak di kandungannya. 

Kerasnya hati Gongsun Li mulai memudar setelah ia melihat bagaimana cara Raja memperlakukannya saat ia berada di kondisi terlemahnya. Hal ini membuatnya ingin kembali pada Ying Zheng, saat ia berhasil kabur dan bisa bersama Jing Ke. Dibanding memaafkan, Ying Zheng justru memberikan hukuman penjara pada Gongsun Li dan mengintrogasinya. 

Perbuatan Ying Zheng diluar ekspektasi saya untuk drama romance, The King’s Woman selalu memberikan banyak siksaan dan kesulitan untuk Gongsun Li dan Ying Zheng. Cinta keduanya selalu mengorbankan banyak nyawa, terutama di tangan sang Raja Ying Zheng.

Perlu Konsentrasi dan Fokus Untuk Memahami Premis Ceritanya

Perlu Konsentrasi dan Fokus Untuk Memahami Premis Ceritanya

Meski alurnya terkesan lambat, penulis skenario sepertinya tahu waktu untuk memberikan plot twist. Ketika penonton mulai merasa bosan, mereka memberikan konflik yang membuat suasana seketika menjadi tegang. Alur yang lambat ini juga membantu penonton bisa mengerti mengenai premis dari cerita yang diangkat.

Drama kolosal seperti ini membutuhkan ketelitian dan fokus, agar jalan ceritanya bisa di dimengerti. Dari alur yang lambat ini, kita bisa tahu alasan dibalik dendam mendarah daging Gongsun Li pada Kekaisaran Qin. Lalu latar belakang yang membuat Ying Zhen menjadi Raja yang ganas, karena masa kecilnya yang sulit sebagai pangeran yang diasingkan. 

Dua hal ini menjadi background yang harus dipahami oleh penonton drama The King’s Woman. Karena dari sini penonton bisa merasakan frustasi dan maklum, saat melihat karakter utamanya semakin gelap. Ada banyak sumber masalah yang di angkat, cinta, kepercayaan, persaingan antar selir hingga politik untuk menjatuhkan Raja dan Selir Gongsun Li.

Saya menyukai bagaimana plot twist yang diambil menjadi tanda pengembangan dari setiap karakternya. Apalagi hampir semua karakternya ditunjukkan memiliki emosi dan ego tinggi yang menghancurkan diri mereka sendiri. Ending dari drama ini benar-benar tidak terduga, jujur saya kagum mereka memilih mengakhirinya seperti ini.

Di 48 Episodenya, saya merasakan telah diberikan tontonan bersejarah yang komplit. Setidaknya dalam drama sejarah ini saya bisa menikmati berbagai sinematografi yang indah. Selain itu pengambilan gambar, suasananya hingga koreografi tarian dan beladirinya sangat memukau. Hal ini membuat penonton bisa terhanyut pada jalan cerita dan emosi yang dikeluarkan oleh setiap karakternya.

Karisma dan Kemistri yang Baik Antara Dilraba Dilmurat dan Vin Zhang

Karisma dan Kemistri yang Baik Antara Dilraba Dilmurat dan Vin Zhang

Dari research yang saya lakukan mengenai drama The King’s Woman (2017), drama ini termasuk dalam jajaran drama paling populer di Cina. Kesuksesan ini berasal dari dua pemeran utamanya yaitu Pasangan Dilraba Dilmurat dan Vin Zhang. Pasalnya tidak hanya berhasil deliver karakter masing-masing dengan kualitas akting yang mumpuni. 

Keduanya memiliki kemistri yang sangat baik dibelakang layar, saking cocoknya banyak fans yang berharap keduanya berkencan di dunia nyata. Saya sendiri tidak memungkiri hal ini, bahwa kemistri dan akting keduanya sangat baik. Dilraba Dilmurat sebagai Gongsung Li bisa menunjukkan kekuatan dalam wajahnya yang sendu dan aura wanita pemberani yang cerdas. 

Scene memorable Gongsun Li adalah saat melawan prajurit kerajaan dan menari pedang di depan Raja. Perjuangan Dilraba Dilmurat untuk mempelajari koreografi beladiri dan tarian dalam beberapa video behind the scene patut di acungi jempol. 

Vin Zhang terlihat sangat berkarisma, bagi saya ia benar-benar sangat cocok dengan karakter Raja Ying Zheng. Memerankan seorang Raja yang hidupnya tragis sejak kecil, saya terkesan dengan aura yang ditunjukkannya. Dingin dan kejam, saya merasakan aura ini setiap kali ia berjalan dengan pandangan yang terfokus dan tajam. 

Bahkan pengembangan karakternya yang terlihat makin gelap, ia masih bisa menunjukkan sisi melow saat berhadapan dengan wanita yang dicintainya. Tak perlu berkata-kata, sorot matanya bisa berbicara lebih dari mulutnya baik saat marah hingga sedih. Nuansa pencahayaan warm to dark serta detail-detailnya, sangat mendukung untuk mendeliver suasana di drama ini.

Drama ini mungkin akan bisa membuat mu menangis, karena tidak rela dengan ending yang didapatkan Dilraba Dilmurat dan Vin Zhang. Meski mengambil latar zaman kerajaan, The King’s Woman (2017) akan memberikanmu tontonan yang sangat berkualitas.

The King’s Woman
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram