bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Sinopsis dan Review Film Live Act Disney’s Mulan (2020)

Sinopsis dan Review Film Live Act Disney's Mulan (2020)

Ditulis oleh Syuri - Diperbaharui 18 Februari 2021

Film live act dari sebuah animasi tentu sangat ditunggu-tunggu. Tak ayal film Disney Princess Mulan. Karena, selain animasinya yang rilis pada tahun 1998 sudah sangat dikenal dan melekat di memori banyak orang, sekarang Mulan disuguhkan dalam versi manusianya. Tentu sangat menarik untuk ditonton, bukan? Seharusnya.

Dari trailer-nya, sebenarnya saya agak sangsi dengan live act Disney's Mulan yang dirilis pada tahun 2020 ini. Saya justru tertarik setelah mendengar OST-nya yang berjudul "Reflection" dinyanyikan oleh empat musisi wanita kenamaan Indonesia. Akhirnya saya tontonlah Disney's Mulan (2020) ini. Lalu, bagaimana kah jalan ceritanya? Apakah berhasil menjawab rasa kangen kita semua, atau malah membuat memori baik untuk penonton baru?

Sinopsis

  • Tahun: 2020
  • Genre: Action, Adventure
  • Rating: PG-13 (Sequences of Violence)
  • Bahasa: Inggris
  • Sutradara: Niki Caro
  • Produksi: Walt Disney Pictures
  • Pemeran: Yifei Liu, Donnie Yen, Jason Scott Lee, Yoson An, Gong Li, Jet Li

Dikisahkan di Tiongkok sedang terjadi serangan penjajah dari Utara, yaitu Bangsa Hun. Kaisar Tiongkok pun memerintahkan satu pria dari setiap keluarga harus bergabung dengan pelatihan tentara kekaisaran. Keluarga Hua hanya memiliki dua orang putri, menyisakan ayahnya yang merupakan purnawirawan.

Akan tetapi, usia sang ayah juga kondisi kakinya yang pincang akibat perang bertahun-tahun lalu tidak memungkinkan ayahnya untuk bisa kembali lagi hidup-hidup jika berperang kembali.

Hua Mulan, putri tertua dari keluarganya, memutuskan menggantikan ayahnya tanpa persetujuan dari anggota keluarga Hua. Mulan pun menyamar sebagai seorang lelaki dan pengganti namanya menjadi Ping, lalu berlatih bersama pria-pria lainnya di camp tentara.

Walaupun tahu jika ketahuan berbohong imbalannya adalah nyawanya, Mulan tetap tak gentar berjuang untuk menjadi tentara. Akan tetapi, dengan semua rekan prianya, tentu Mulan mendapatkan banyak kesulitan. Mulai dari postur tubuh dan kekuatan, Mulan tentu lebih kurang dari semua calon tentara.

Suatu hari, Mulan dan Chen Honghui (pengganti Li Shan di versi kartun), terlibat 'perkelahian' yang membuat Mulan tidak sadar mengeluarkan 'chi'-nya. Akhirnya seluruh camp, termasuk pemimpin pasukan, mengetahui kekuatan terdalam Mulan yang selama ini sengaja disembunyikan, karena sebagai wanita dia selalu diajari kalau perempuan itu tidak boleh menunjukkan kekuatan.

Setelah diminta untuk menunjukkan performa terbaiknya, Mulan sebagai Ping (nama samarannya saat menjadi pria), pun berubah menjadi tentara terbaik di camp. Dia juga berhasil meluluhlantakkan 90% dari pasukan Rouran dengan idenya melambungkan meriam ke gunung es. Sebelum itu, dia bertemu dan terlibat perkelahian sengit dengan The Witch, kaki tangan ketua pasukan Rouran.

The Witch merasa kalau dirinya sama dengan Mulan, sama-sama memiliki 'chi' yang kuat. The Witch mengatakan kalau semua orang tahu rahasia Mulan yang sebenarnya (kalau dia wanita yang menyamar dan memiliki 'chi' besar), maka Mulan akan diperlakukan berbeda. Mulan yang tak percaya akan perkataan The Witch, setelah berhasil menghilangkan sebagian besar Bangsa Rouran, mengaku pada comrade-nya kalau dia adalah wanita dan dia telah berbohong.

Tapi, Mulan tidak dibunuh, melainkan diperintahkan untuk pulang ke keluarganya saja. Karena pada waktu itu mereka mengira Bangsa Rouran telah musnah semua. Setelah semua yang Mulan telah lakukan, dia bahkan tidak mendengar kata terimakasih dari rekan tentaranya. Akhirnya Mulan pun pergi ke arah rumahnya sendiri bersama kudanya yang setia.

Di perjalanan, Mulan melihat bahwa ketua Rouran dan beberapa bawahannya ternyata masih hidup dan berencana untuk menjatuhkan kaisar Tiongkok. Mendengar rencana tersebut, Mulan tak bisa tinggal diam. Dia pun kembali ke kelompok tentaranya walaupun telah diultimatum kalau dia menampakkan dirinya kedua kalinya maka akan dibunuh.

Untungnya, setelah mendapatkan dukungan dari beberapa rekan tentara lainnya, pimpinan tentara Mulan percaya akan perkataan gadis itu dan segera pergi menuju kaisar. Terjadi pertempuran cukup sengit dan di sini kita bisa melihat aksi Mulan yang lebih keren lagi dari scene gunung es sebelumnya. Ketua Rouran pun berhasil ditumbangkan Mulan sendirian!

Sang Kaisar yang melihat itu semua secara langsung begitu kagum dengan kehebatan Mulan dan ingin mengangkatnya menjadi pemimpin tentara kekaisaran. Mulan juga dihadiahi Sword By The Emperor seperti pedang ayahnya yang Mulan gunakan selama berperang dengan Rouran.

Berbeda dengan Versi Animasi

Mulan versi live act ini dibuat cukup jauh dengan versi aslinya. Mungkin karena Mulan 1989 itu animasi, dan juga Mulan merupakan bagian dari Disney's princess, maka wajar jika ada sentuhan fantasi. Sedangkan kalau live act itu kan yang main manusia, jadi mungkin akan aneh kalau alurnya 100% sama seperti Mulan versi kartun.

Contohnya seperti arwah leluhur, di Mulan 1989, para leluhur dibuat ada dan berdialog. Sedangkan di live act 2020, leluhurnya tidak diperlihatkan, hanya ketika ayah Mulan berdoa saja meminta perlindungan untuk anaknya lalu muncullah burung phoenix (yang mana berbeda dengan Mulan 1989, kalau di versi animasi kan penjaganya naga yang bisa bicara dan juga cricket si jangkrik 'keberuntungan').

Mulan yang dimainkan oleh manusia ini juga lebih rasional dan masuk akal, tapi terlalu boring karena bagian kelucuannya sama sekali tak ada. Sedangkan Mulan versi kartun diselipi komedi di sana sini sehingga lebih seru untuk ditonton, terutama oleh anak-anak.

Tak hanya itu, penokohan dari tiap karakter juga cukup berbeda.Ada penambahan karakter dan ada juga pengurangan. Di Mulan 1989, keluarga Mulan terdiri dari ayah, ibu, nenek, dan dia sendiri. Sedangkan di live act, keluarga Hua terdiri dari Mulan, ayah, ibu, dan adik perempuan Mulan.

Tapi, yang saya cukup sesalkan atas perbedaan penokohannya adalah sang ayah. Sosok ayah Mulan di live act terlalu kaku dan tidak terlihat menyayangi Mulan setelah dia dewasa. Sedangkan di kartun, sang ayah masih begitu pengertian pada anak gadisnya hingga dia dewasa sekalipun.

Yang paling kentara, sih, di animasi tidak ada karakter Witch. Karena, penjajah Tiongkok hanya digambarkan oleh seorang pria dengan burung elangnya juga bawahan-bawahannya. Lalu, dalam versi animasi, Mulan benar-benar belajar menjadi prajurit dari 0.

Sedangkan dalam versi live act, Mulan sebenarnya sudah terbekali karena waktu kecil pernah diajari bela diri oleh ayahnya, walaupun setelah agak besar harus distop karena Mulan 'harus menjadi seorang wanita seutuhnya'. Di live act, Mulan juga diceritakan memiliki 'chi' yang kuatehingga saat dia mengeluarkan chi-nya, dia langsung jadi lebih kuat dari sebelumnya.

All Asian Casts

Well, of course ini adalah cerita tentang masyarakat Tiongkok yang lokasi latarnya ada di sana juga, jadi pasti cast-nya orang Asia semua. Tapi, ini adalah sesuatu yang cukup bisa diselebrasi, karena di Hollywood, aktor dan aktris Asia tidak diapresiasi dengan cara yang sama seperti aktor dan aktris kulit putih (dan kulit hitam). Mulan juga merupakan film pertama dari Disney yang diperankan seluruhnya oleh orang Asia dan keturunan Asia-Amerika.

Bahkan, seperti biasa, Disney hampir saja merekrut pemain Hollywood aktor berkulit putih untuk memerankan 'love interest'nya Mulan di live act, Chen Honghui. Hal ini menimbulkan protes besar, karena selain karakter Li Shang dihapus, tiba-tiba ada karakter baru yang nyaris dimainkan oleh bukan orang Asia. Untungnya Disney menuruti keinginan penonton dengan merekrut all Asian casts.

Emansipasi Perempuan Tiongkok

Entah karena latarnya di Asia, entah karena ini (mungkin) bertahun-tahun lalu lamanya, jadi pemikiran masyarakatnya masih jauh dari kata modern. Mereka semua sangat alot, terutama untuk urusan perempuan.

Para lelaki menginginkan perempuan layaknya obyek, karena mereka ingin memiliki istri yang pendiam (tidak mengungkapkan pemikiran dan isi hatinya), pandai dalam urusan rumah tangga, manis, pokoknya yang pasti semua itu tidak ada pada diri Mulan.

Jalan hidupnya membuat Mulan jadi semakin kuat dan bangga akan dirinya sendiri. Juga berkah berupa 'chi' yang kuat, yang tadinya selalu dia tutupi, akhirnya dia berani tunjukkan. Film ini bukan hanya tentang emansipasi wanita, tapi juga tentang mencintai dan menerima diri sendiri. Saya rasa, baik versi animasi maupun live act, Mulan adalah salah satu contoh princess Disney yang paling bagus.

Untuk para orang tua yang khawatir anak-anaknya menonton film ini karena ada adegan kekerasan, saya rasa tidak perlu sangsi lagi, karena walaupun memang ada adegan perang dan perkelahian tak ada darah yang diperlihatkan. Walaupun centric film ini benar-benar berfokus pada Mulan dan untuk karakter lainnya kurang, saya rasa Mulan dan The Witch cukup merepresentasikan opresi wanita Tiongkok.

Dengan kesempatan dan kekuatan yang Mulan miliki, dia tidak hanya memberantas Bangsa Rouran tapi juga sekaligus membebaskan dirinya sendiri dan perempuan lainnya dari sistem yang didominasi oleh laki-laki. Setelah Mulan membuktikan kalau dia bisa menjadi tentara dan lagi diakui langsung oleh sang kaisar, semua orang tak lagi bisa mengecap jelek wanita yang tidak 'anggun'.

Kurang Ngena, tapi Sudah Cukup Bagus

Kesimpulannya, film live act Mulan ini sudah cukup bagus, tapi bisa lebih baik. Saya rasa pembagian porsi peran dalam film ini terlalu fokus ke Mulan saja, sehingga hubungannya dengan teman-teman dan keluarganya tidak terlalu menempel di memori penonton.

Unsur komedinya juga sangat minim, berbeda dengan versi animasi yang lebih banyak sisi lucunya dari naga dan cricket, juga tiga kawan Mulan di bangsal peperangan, neneknya Mulan yang kocak. Saya rasa para penggemar Mulan 1989 akan kecewa menonton versi live act-nya, karena banyak bagian yang dihilangkan seperti hewan yang bisa bicara, 'hantu' anchestor, komedi, dan tentunya lagu-lagu yang enak didendangkan sambil menonton!

Bagi saya, Mulan 1989 akan selalu menjadi salah satu film Disney terbaik yang pernah dibuat. Terutama karena karakter wanita yang kuat dan bisa mengguncang stigma masyarakat. Saya pribadi tidak menganggap para princess Disney adalah tokoh yang baik untuk menjadi idola, terutama bagi anak-anak, karena kebanyakan digambarkan 'lemah' dan selalu perlu ditolong oleh 'pangeran'.

Sedangkan Mulan kebalikannya, dia yang menolong 'pangeran', kaisar, bahkan seluruh manusia di Tiongkok. Keren! Oh, ya, saya juga suka begitu kurangnya mention tentang cinta dalam Mulan 2020, karena Mulan 1989 masih cukup banyak diperlihatkan tentang rasa suka Mulan pada Kapten Li Shang.

Sedangkan di live act, kisah Mulan dan Chen Honghui sangat menggantung dan tidak sampai pada 'aku suka padamu ayo kita menikah' tapi perjalanan cinta mereka masih panjang. Dan, ending film-nya pun kembali berfokus pada kehidupan Mulan seputar keluarga dan karirnya.

Terus, saya juga suka bagian The Witch yang ternyata berubah membelot dari Rouran. Karena, akhirnya dia sadar kalau selama ini dia hanya dimanfaatkan sebagai budak. Lalu, sebenarnya dia juga sama seperti Mulan, yaitu diberkahi dengan 'chi' yang kuat.

Tapi, karena orang-orang disekitarnya malah menjauhi, menghina, dan menyumpah serapahi dirinya sebagai penyihir, maka dia jadi jahat. Padahal kalau dia bisa diberikan kesempatan seperti Mulan, pasti dia juga bakal ada di jalan yang benar.

Jadi, walaupun Mulan 2020 ini masih kurang greget, saya rasa masih cukup entertaining. Dan, Mulan versi live act-nya masih bisa menjadi tokoh jungjunan bagi anak-anak dan juga perempuan (malah lebih baik dari Mulan versi animasi).

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram