bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Drama Komedi Demi Ucok (2013)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 1 September 2021

Gloria Sinaga seorang film maker yang berencana membuat film keduanya. Namun, sudah empat tahun berlalu film tersebut tidak kunjung terwujud. Glo kali ini tidak ingin membuat film secara amatiran, melainkan profesional. Namun, tentu saja biaya yang dibutuhkan untuk membuatnya sangat tinggi.

Di sisi lain, Mak Gondut, sang ibu, terus mendesaknya untuk menikah, tentu saja dengan sesama orang Batak. Mak Gondut akan memberikan uang asuransi miliknya untuk pembuatan film Glo, dengan syarat dia harus menikah dulu. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Sinopsis dan review Demi Ucok (2013) di bawah ini bisa sedikit memberitahu Anda mengenai hal itu.

Sinopsis

Sinopsis

Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) tidak ingin hidup seperti ibunya, Mak Gondut (Lina Marpaung) yang mengalah mengejar mimpi sendiri lalu memilih menikah dan hidup membosankan. Bagi Mak Gondut hanya ada tiga tujuan hidup bagi perempuan Batak: nikah dengan sesama Batak, memiliki keturunan yang juga berdarah Batak, dan mencari menantu seorang Batak.

Kebahagiaan Mak Gondut adalah ketika dia sudah mendapatkan menantu seorang Batak. Sementara itu, Gloria tidak ingin menikah, dia ingin mengejar mimpinya membuat film, tapi itu adalah mimpinya empat tahun lalu. Di usia ke 29, Glo malah sibuk mengajari orang lain membuat film dan belum juga mampu membuat film keduanya.

Dia tidak ingin film keduanya ini terlihat amatiran. Sutradara panutannya berpendapat bahwa untuk membuat film secara profesional, setidaknya dibutuhkan uang satu milyar. Salah satu pemain yang terlibat dalam film pertama Glo, Acun (Sunny Soon), kini mendapat banyak tawaran, banyak keinginan tapi malah jadi lupa pada mimpinya dan sekarang bekerja di kantor.

Pagi itu Acun datang ke rumah Glo. Mak Gondut menemuinya sekalian menawari pemuda itu parfum MLM. Acun membawa undangan premier dari sutradara favorit Glo. Di tempat lain ada Niki (Saira Jihan), sahabat sekaligus rekan kerja Glo saat membuat filmnya yang pertama.

Niki mengaku sebagai lesbian tapi dia hamil karena menurutnya hanya ada dua tipe lelaki di dunia ini; mereka yang ingin menidurinya dan mereka yang menidurinya. Niki juga memberi Glow undangan premier film yang sama dengan Acun.

Saat acara tiba, Glo berhasil menyapa Qazrina Umi, sang sutradara favoritnya. Dia dengan percaya diri mengajak sang sutradara bekerja sama. Ajakan itu disambut baik, Umi meminta Glo menyerahkan skenarionya. Lucu, Glo malah bingung karena sebenarnya dia belum membuat skenario film apa pun, kecuali konsep. Dia belum memutuskan, konsep mana yang akan dikembangkan.

Saat menceritakan kegelisahan pada sang sahabat, Niki menyarankan Glo bertanya pada Opung, yang menurutnya punya ide out of the box. Cerita berlanjut saat Glo terlihat berkali-kali gagal mengajukan ide filmnya. Kegagalan ini berdampak pada mood-nya saat mengajar. Dia mengatakan pada mahasiswanya bahwa siapa pun yang berkeinginan membuat film sebaiknya bertobat sebelum terlambat.

Membuat film itu upahnya sedikit, penonton juga sedikit, yang banyak hanya pajak, kecuali jika mau membuat film yang menanamkan rasa cinta tanah air, kepahlawanan dan tema apa pun yang bertujuan membentuk karakter bangsa. Pasalnya film-film dengan tema semacam itu akan mudah mendapat bantuan dana.

Akibat perkataannya ini, Glo dipanggil oleh Ketua Jurusan. Dia diingatkan untuk tidak mematikan harapan mahasiswa, sekecil apa pun harapan tersebut. Sesampainya di rumah, Glo kembali melanjutkan kebiasaannya: nonton film. Mak Gondut datang dan mencecarnya, menyarankan Glo untuk bergabung saja dengan partai daripada hidup tak jelas berharap dari pembuatan film.

Sejurus kemudian, sang ibu mengatakan umurnya tak lama lagi. Mak Gondut ingin Glo menikah. Saat Glo meminta dicarikan pasangan, perempuan paruh baya itu langsung semangat. Mak Gondut bertanya, dia ingin pasangan yang seperti apa, Glo menjawab apa saja asal sudah tidak punya ibu; karena satu saja sudah repot apalagi jika punya dua ibu.

Setelah percakapan itu, Mak Gondut lebih rajin ke gereja. Dia bisa sampai lima kali dalam sehari hanya untuk mencari menantu. Namun, sang ibu ternyata bukan satu-satunya, karena banyak ibu lain yang juga berburu jodoh untuk anaknya. Di perjalanan pulang, Mak Gondut yang ‘panas’ dengan saudaranya memamerkan di status media sosial bahwa Glo akan membuat film kedua.

Mak Gondut yang memiliki asuransi jiwa sebesar satu milyar bersedia memberikan uang tersebut pada Glo, syaratnya dia harus menikah dengan orang Batak. Glo yang memang tidak punya niat menikah mengejutkan Mak Gondut dengan membawa Niki ke hadapannya. Tekad Glo untuk tidak menikah diperkuat dengan tantenya yang juga tak ingin menikah.

Sebagai orang Batak, sang tante justru tidak setuju jika Glo yang tak bisa bahasa Batak harus menikah lagi dengan orang Batak. Dunia sangat luas, bisa cari yang lain. Mak Gondut membalas dengan mengatakan bahwa perempuan Batak dinilai dari anaknya. Percuma sehabat apa pun dirimu jika tidak punya anak.

Perdebatan soal menikah dan tidak menikah antara Glo dan Mak Gondut terus berlanjut. Glo ingin mengejar mimpinya dulu, sementara ibunya ingin Glo menikah lebih dulu, karena menurutnya kita hidup untuk sesama, baru setelah itu berarti. Esok harinya Mak Gondut membawa Glo menemui seseorang yang bersedia memberi uang satu milyar. Rupanya orang itu adalah seorang koruptor.

Glo tidak ingin menggunakan uang haram tersebut dan meminta Mak Gondut mengembalikannya. Lantas, dari mana lagi Glo bisa mendapatkan uang sebenyak satu milyar? Apakah Mak Gondut punya cara lain untuk membujuk Glo menikah?

Premis Menarik, Eksekusi Tidak

Premis Menarik, Eksekusi Tidak

Demi Ucok (2013) tampaknya seperti proyek pribadi dari Sammaria Simanjutnak. Pasalnya selain bertindak sebagai sutradara, dia juga produser sekaligus penulis naskah dalam film ini. Keresahannnya sebagai perempuan keturunan Batak terlihat ditumpahkan seluruhnya melalui Demi Ucok (2013).

Berdurasi sekitar 79 menit, film ini membawa dua isu sensitif dalam masyarakat, khususnya perempuan, yaitu pernikahan dan kesukuan. Bagi beberapa suku di Indonesia, memilih menantu berdasarkan kesamaan suku jadi hal yang utama. Kriteria tersebut semacam budaya, menjadi bagian dari adat dan kebiasaan.

Karakter Mak Gondut dalam film ini mewakili wajah sesungguhnya dari pemikiran-pemikiran yang demikian. Saklek, punya kriteria sendiri yang tak bisa digantikan oleh kriteria lain, mendesak dan cenderung memaksa. Perjodohan pun dilakukan demi keinginannya. Ketika Mak Gondut keukeuh dengan kriterianya, karakter Glo tak kalah berkeras hati memutuskan untuk tidak menikah.

Sayang, premis yang menarik dan menggelitik tersebut tidak dieksekusi dengan baik. Wacana mengenai nikah dan meraih mimpi diulang terus-menerus sepanjang film berlangsung. Anda akan beberapa kali mendengar Glo mengatakan akan membuktikan mimpinya.

Dengan nada bicara yang tanpa semangat, ekspresi yang kesal dan tidak memancarkan aura positif serta optimis, Glo terus bicara tentang mewujudkan mimpi dan passion-nya.

Alur Berantakan

Alur Berantakan

Selain eksekusinya yang seperti kehabisan ide, alur di film ini juga berantakan. Tidak ada timeline yang jelas karena ceritanya seperti hanya dibuat dari potongan-potongan scene perdebatan antara Mak Gondut dan Glo. Di tengah-tengah perdebatan tersebut tiba-tiba diselipkan scene Acun, scene Niki, hingga scene Opung yang tidak dirangkai dengan mulus.

Setiap bagian scene seperti sketsa yang berdurasi sekian detik; Anda tidak tahu mulai dari mana, karena tiba-tiba karakter tersebut sudah ada di situasi itu. Transisi antara satu bagian ke bagian yang lain hampir tidak ada. Karakter bisa tiba-tiba ada di kampus, di butik, di premier sebuah film atau di rumah, tanpa cerita penghubung yang menjelaskannya.

Naskah yang Menolong

Naskah yang Menolong

Kabar baiknya, Demi Ucok (2013) masih punya yang naskah menarik untuk dinikmati. Dari keseluruhan unsur dalam film ini, script dan dialog-dialog yang diucapkan tiap karakter adalah penolongnya. Misalnya naskah pada bagian perselisihan antara Mak Gondut dan Glo. Ibu dan anak yang berbeda pilihan hidup ini kerap saling membalikan perkataan masing-masing.

Selain itu Anda juga akan menemukan kalimat yang menarik dijadikan kutipan. Seperti perkataan yang sering Glo ucapkan pada Acun bahwa menurutnya hanya ada dua alasan dalam hidup ini, yaitu takut atau cinta. Kalau alasannya takut, sudah pasti salah jalan. Salah satu naskah yang diucapkan karakter Niki juga tak kalah memorable.

Sang sahabat yang jengah dengan obsesi Glo untuk membuat film secara profesional dan tidak mau lagi amatiran, mengatakan bahwa amatir itu berasal dari kata amor, cinta. Artinya mereka yang amatir, melakukan sesuatu karena cinta. Film atau hidup yang tanpa cinta, sudah pasti basi dan membosankan.

Dikemas dengan sinematografi yang tidak terlalu istimewa tapi juga tidak buruk, Demi Ucok (2013) bisa dinikmati sebagai sebuah tontonan berbeda, terutama karena ia mengangkat salah satu suku di Indonesia, yaitu Suku Batak. Pada beberapa bagiannya Anda akan mendengar Mak Gondut bicara bahasa Batak.

Selain itu terdapat pula lagu berbahasa Batak, musik tradisional Batak, dan upacara pernikahan adat Batak. Semakin tertarik dengan film ini? Boleh agendakan segera ya!

Demi Ucok
Rating: 
3.3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram