bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Crouching Tiger, Hidden Dragon: Sword of Destiny

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 1 September 2021

Sebuah kisah tentang cinta yang hilang, cinta anak muda, pedang legendaris dan satu kesempatan penebusan terakhir. Crouching Tiger, Hidden Dragon: Sword of Destiny mengkombinasikan semua kisah itu di dalam sebuah original film Netflix yang merupakan sequel dari film silat sukses Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000) yang masih mengambil sumber yang sama, yaitu novel klasik karya Wang Dulu.

Cerita film ini merupakan jilid terakhir dari rangkaian novel klasik tersebut yang pertama kali terbit pada tahun 1948 dengan judul Iron Knight, Silver Vase. Dari film pertamanya, hanya Michelle Yeoh saja yang kembali berperan sebagai Yu Shu Lien, ditambah dengan Donnie Yen dan Jason Scott Lee. Sisanya banyak aktor dan aktris keturunan China yang memerankan berbagai karakter dalam film ini.

Sudah lama dinanti oleh para penikmat film silat, apakah film ini bisa memenuhi harapan penggemarnya? Bagaimana perpaduan Michelle Yeoh dan Donnie Yen? Simak review kami tentang film yang kembali menampilkan banyak koreografi silat yang lincah dan indah ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2016
  • Genre: Action, Adventure, Drama, Fantasy
  • Produksi: Netflix, The Weinstein Company, China Film Group Corporation
  • Sutradara: Yuen Woo-Ping
  • Pemeran: Michelle Yeoh, Donnie Yen, Jason Scott Lee

Setelah 18 tahun hidup dalam kesendirian, pendekar wanita Yu Shu Lien turun gunung menuju Peking untuk melayat pemimpin kota itu yang dianggap sebagai ayah baginya. Di kota itu pula terletak pedang Green Destiny milik mendiang Li Mu Bai, orang yang dicintainya. Dalam perjalanan, iring-iringannya dicegat oleh sekelompok penyamun yang berhasil dilumpuhkan berkat bantuan pendekar misterius.

Sementara itu di klan West Lotus, seorang wanita meminta menghadap Hades Dai, pimpinan mereka yang bengis. Snow Vase, nama wanita itu, kemudian menantang Hades Dai berkelahi. Tetapi ilmunya masih jauh dibawah Hades Dai dan Snow Vase kemudian melarikan diri. Wei Fang yang berhasil selamat dari kejadian pencegatan yang gagal kembali menghadap Hades Dai bersama penyihir wanita.

Atas arahan dari penyihir tersebut, Hades Dai mengutus Wei Fang ke Peking untuk mengambil pedang Green Destiny. Di suatu malam, Wei Fang mencuri pedang legendaris itu, tetapi dia harus berkelahi dengan Snow Vase yang memergoki aksinya. Perkelahian mereka terdengar dan membuat semua orang terbangun dimana Wei Fang berhasil dibekuk oleh Shu Lien dan ditahan.

Snow Vase meminta Shu Lien menjadi gurunya. Pemerintah Peking kemudian memasang pengumuman bagi siapa saja untuk bisa menjaga pedang Green Destiny dari pencurian dan kota Peking dari serbuan klan West Lotus. Silent Wolf memasang pengumuman itu di sebuah warung yang memicu perkelahian dan berakhir dengan bergabungnya empat pendekar bersamanya untuk melindungi kota Peking.

Sesampainya di Peking, kehadiran Silent Wolf mengejutkan Shu Lien. Ternyata dia adalah suaminya yang dikiranya tewas saat pertarungan dengan Hades Dai di puncak gunung. Silent Wolf mengasingkan diri karena dia tahu bahwa istrinya saling mencintai dengan Li Mu Bai tetapi hingga akhir hayatnya, Li Mu Bai tidak menikahi Shu Lien.

Hades Dai mendapat kabar jika Wei Fang ditangkap dan mengirim pendekar Mantis ke Peking. Serangan yang dilakukan Mantis memakan banyak korban, antara lain dua pendekar dan pimpinan kota. Snow Vase membuka rahasia hidupnya kepada Wei Fang dimana ternyata mereka adalah anak yang tertukar. Ibu kandung Wei Fang adalah guru sekaligus ibu asuh Snow Vase.

Sebelum penyerangan berikutnya, Snow Vase melepaskan Wei Fang yang berhasil mencuri pedang Green Destiny dan dicegat oleh Silent Wolf di danau es. Dengan bantuan gurunya yang berkorban untuknya, Wei Fang berhasil meloloskan diri dan menuju markas klas West Lotus. Bukannya menyerahkan pedang itu kepada Hades Dai, justru Wei Fang menantang Hades Dai bertarung demi menuntut balas dendam.

Shu Lien dan pasukannya datang ke markas West Lotus dan bertempur dengan semangat heroik. Silent Wolf berhasil membunuh Hades Dai, begitupun Shu Lien dan Snow Vase berhasil menghentikan perlawanan para musuhnya. Meski terluka parah, Snow Vase berhasil selamat. Bersama Wei Fang, Shu Lien dan Silent Wolf, mereka membawa pedang Green Destiny ke Gunung Wudang.

Nuansa Otentik yang Hilang

Nuansa Otentik yang Hilang

Crouching Tiger, Hidden Dragon: Sword of Destiny adalah sebuah usaha Hollywood untuk mengangkat kisah silat klasik di bawah produksi mereka. Nuansa westernisasi menghilangkan keotentikan nuansa aslinya yang seolah hilang tergerus orientasi yang berbeda. Nuansa itu diawali dengan penggunaan bahasa Inggris yang naskahnya memuat banyak sekali dialog murahan.

Memang mayoritas pemerannya adalah aktor dan aktris China, serta keturunan China. Tetapi itu justru semakin memperburuk kondisi meski mereka sudah mengeluarkan akting yang maksimal. Panorama yang ditanpilkan terlihat seperti bukan di China, tapi berada di semesta The Lord of the Rings. Ternyata, lokasi syutingnya memang di New Zealand!

Film ini semakin kehilangan keotentikannya ketika banyak adegan sepertinya mengambil referensi secara mentah dari film-film Hollywood klasik, terutama dari genre western. Adegan Silent Wolf bersama empat pendekar mengendarai kuda di pegunungan tampak seperti copy-paste dari film The Magnificent Seven (1960), dan penampilan penyihir wanitanya lebih mendekati sosok penyihir dalam repertoire Hollywood.

Tentunya semua ini sangat mengecewakan kita sebagai penonton yang memendam harapan sebuah sequel yang akan meneruskan kejayaan film pertamanya. Meski tanpa Chow Yun-Fat, nama Donnie Yen bisa menggantikannya, apalagi Donnie Yen sendiri adalah komoditi panas perfilman Hong Kong saat ini. Tapi penggerusan keotentikan ini adalah titik lemah yang menjatuhkan nilai film ini sendiri.

Koreografi Silat yang Tetap Terjaga

Koreografi Silat yang Tetap Terjaga

Beban berat untuk menyamai pencapaian film pertamanya membuat film ini terkesan dipaksakan. Eksekusi cerita tidak berjalan dengan lancar karena naskah yang lemah. Tetapi akting Michelle Yeoh dan Donnie Yen tetap berkharisma dan menjadi penyelamat film ini dari kehancuran total. Selain itu, kehandalan Yuen Woo-Ping dalam menata koreografi silat tetap patut diapresiasi lebih.

Kehandalan Yuen Woo-Ping dalam mengarahkan adegan silat memang sudah diakui oleh industri film di seluruh dunia. Jackie Chan, Jet Li dan Donnie Yen adalah para bintang action yang sukses dalam karir di dunia film berkat arahannya. Menapakkan kaki di Hollywood, perannya sangat besar dalam menyukseskan trilogi The Matrix (1999) dan dua film Kill Bill (2003).

Koreografi silat di film ini terlihat dinamis tapi tidak meninggalkan kesan puitis seperti film pertamanya, meski kadarnya lebih sedikit. Kita tidak melihat langkah ringan para pendekar ini di atas daun-daun bambu seperti di film pertama, tapi masih memiliki adegan silat ciamik di atas danau es yang beku. Sayangnya, adegan puncaknya tidak tampil lebih baik dan sedikit mengecewakan.

Dampak Perilisan di Netflix

Dampak Perilisan di Netflix

Perilisan Crouching Tiger, Hidden Dragon: Sword of Destiny sempat mengalami beberapa pergantian tanggal dan formatnya. Hal ini seperti memperlihatkan keraguan Harvey Weinstein sebagai produser atas filmnya sendiri. Pada bulan September 2014, The Weinstein Company memutuskan untuk merilis film ini di Netflix dan bioskop sekaligus untuk tanggal 28 Agustus 2015.

Muncul reaksi negatif dari para pengusaha bioskop di Amerika atas keputusan ini. Tercatat Regal Entertainment Group, AMC, Carmike Cinemas, Cinemark Theatres dan Cineworld menolak penayangan film ini di layar bioskop mereka karena mereka tidak ingin menampilkan film yang sama dengan yang ada dalam format lain, Netflix di smartphone khususnya.

Walhasil, hanya IMAX yang masih mau menayangkan film ini bersamaan dengan rilis streaming di Netflix, tapi waktu perilisan mundur ke tanggal 26 Februari 2016. Ketika respon yang diterima lebih banyak bernada negatif dan tidak bisa menyamai kualitas film pertamanya, langkah Harvey Weinstein dianggap tepat dalam menyelamatkan film ini dari kerugian.

Tentunya, dengan menjadikan film ini bagian dari original film Netflix akan membuat penghasilan film ini terus mengalir seiring dengan penayangan secara streaming dalam jangka panjang. Bisa jadi, jika hanya mengandalkan penayangan di bioskop, kerugian sudah pasti bisa dipastikan untuk film dengan kualitas seperti ini.

Crouching Tiger, Hidden Dragon: Sword of Destiny memang kalah kualitas dan segalanya dari film pertamanya, tetapi adegan silat dan performa Michelle Yeoh dan Donnie Yen tetap harus diapresiasi lebih, meski secara total film ini dianggap gagal. Bagi penyuka film silat, maka film ini tidak bisa dilewatkan begitu saja dan masih cukup berarti untuk disimak. Langsung ditonton saja ya!

Crouching Tiger, Hidden Dragon: Sword of Destiny
Rating: 
2.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram