bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Coffee & Kareem (2020)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 11 September 2021

Kareem, bocah berusia 12 tahun, menyewa seorang penjahat untuk menakut-nakuti kekasih ibunya, seorang polisi bernama Coffee. Tetapi ternyata rencananya ini menjadi bumerang baginya dan mengharuskan mereka berdua untuk bekerja sama untuk menyelamatkan diri dari kejaran bandar narkoba tersadis di Detroit itu.

Coffee & Kareem adalah original film Netflix yang dirilis pada 3 April 2020. Film ini ingin mengulang kisah-kisah serupa antara polisi yang beraksi bersama warga biasa dalam menumpas kejahatan, tapi kali ini pasangan polisi tersebut adalah anak kecil berusia 12 tahun yang doyan berceloteh dengan bahasa kasar. Belum apa-apa, film ini sudah dicerca karena penampilan karakter Kareem yang tidak pantas.

Seperti apa aksi mereka dalam meruntuhkan kejahatan di kota Detroit? Simak review kami tentang film yang menampilkan Ed Helms sebagai pemeran utama sekaligus produsernya ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2020
  • Genre: Action, Comedy, Crime
  • Produksi: Pacific Electric Picture Co.
  • Sutradara: Michael Dowse
  • Pemeran: Ed Helms, Terrence Little Gardenhigh, Betty Gilpin, Taraji P. Henson

James Coffee, seorang polisi, baru saja menikmati hubungan asmaranya dengan Vanessa. Tetapi putra Vanessa, Kareem Manning, tidak menyukai Coffee dan menyusun rencana untuk membuatnya berpisah dengan ibunya. Kareem mencoba menyewa penjahat jalanan bernama Orlando Johnson dengan membawa uang receh di dalam kaus kakinya, tapi ternyata rencana itu malah mengancam nyawanya.

Secara tidak sengaja, Kareem menyaksikan dan merekam dengan ponselnya ketika Orlando dengan kedua rekannya mengintimidasi dan membunuh seorang polisi korup. Coffee masuk ke tempat itu dan menyelamatkan Kareem yang tentu saja menjadi target utama Orlando dan kawan-kawannya. Ponsel Kareem terjatuh dan berada di tangan Orlando yang digunakan untuk memfitnah Coffee di media.

Mereka berdua berusaha menyelamatkan Vanessa dan membawanya ke sebuah penginapan dalam keadaan pingsan. Kareem meminta bantuan temannya untuk melacak keberadaan ponselnya dan berangkat bersama Coffee, sementara Vanessa diborgol di kamar mandi. Mereka menyelusup ke markas Orlando dan menemukan fakta mengejutkan jika aktivitas narkoba ini dipimpin oleh oknum polisi.

Detektif Watts, yang selalu mencemooh Coffee, adalah oknum tersebut yang langsung berusaha menculik mereka berdua beserta Vanessa. Coffee berusaha melaporkan hal ini kepada atasannya, Kapten Hill, yang secara tidak terduga ternyata adalah partner Watts dalam kejahatan ini. Watts kemudian menembak mati Hill dan mengejar Coffee dan Kareem.

Mereka berdua sampai di penginapan dan menemukan jika Vanessa berhasil membekuk dua penjahat yang mencoba menculiknya. Tetapi ketika Vanessa dan Kareem pergi meninggalkan Coffee dalam keadaan marah, mereka diculik oleh Orlando dan kawan-kawannya. Coffee mengeluarkan semua persenjataannya demi menyelamatkan mereka berdua sekaligus memusnahkan Watts dan kelompoknya.

Tapi aksi yang direncanakannya tidak semudah yang dipikirkan. Terjadi baku-tembak yang melukai Coffee dan membuat mereka bertiga dikejar oleh Orlando yang kemudian bisa mereka bujuk untuk berpindah sisi dan membela mereka. Ketika pasukan polisi datang mengepung saat transaksi narkoba berlangsung, baku-tembak dahsyat tidak terhindarkan lagi. Lokasi transaksi pun terbakar dan meledak.

Untung saja Kareem dan ibunya telah berhasil keluar duluan berkat aksi heroik Coffee dan Orlando yang menyerang Watts. Coffee dan Orlando berhasil keluar dari gudang itu dalam keadaan hidup, hanya saja mengalami luka bakar yang cukup parah. Pada akhirnya, Kareem menerima Coffee sebagai kekasih ibunya.

Duet Karakter yang Tidak Pantas

Duet Karakter yang Tidak Pantas

Ed Helms memegang peranan penting di film Coffee & Kareem ini. Selain sebagai pemeran utama, Helms juga menjadi produser dan kepala tim casting, sehingga dia bebas menentukan aktor dan aktris yang akan mengisi film yang disutradarai oleh Michael Dowse yang baru saja sukses lewat film Stuber (2019). Dengan premis yang nyaris sama, tentu saja kedua film ini langsung dibandingkan-bandingkan.

Menyandingkan polisi kulit putih dengan polisi Afrika-Amerika memang sudah membosankan karena banyak film telah menampilkannya seperti di film Lethal Weapon (1987), juga duet dengan berbeda ras lainnya seperti di film Rush Hour (1998). Jadi, harus duet seperti apa lagi yang belum dicoba? Helms kemudian menempatkan bocah Afrika-Amerika berusia 12 tahun sebagai pasangannya kali ini.

Premis ini cukup menjanjikan tetapi mengundang cercaan ketika diketahui ternyata karakter bocah tersebut sudah lancar berbicara kasar dan kotor layaknya orang dewasa. Hal ini sangat tidak pantas dan sangat disayangkan karena sudah ditampilkan di dalam film. Meski gayanya enerjik dan celotehannya cukup lucu, tapi tema leluconnya yang sangat vulgar tidak pantas untuk didengar.

Tapi performa Gardenheigh, si bocah cerewet, cukup baik. Dia mampu mengisi kekosongan karakter Coffee yang tampil dalam mode stereotype, yang sangat disayangkan dibawakan dengan sangat datar oleh Helms. Meski film ini menampilkan karakter anak kecil, tapi bukan berarti film ini boleh ditonton oleh anak kecil ya, karena banyak adegan tidak pantas untuk usia mereka ditampilkan disini.

Performa Apik dari Dua Aktris Pendukung

Performa Apik dari Dua Aktris Pendukung

Performa cemerlang justru hadir di lini kedua cast-nya, yaitu Betty Gilpin dan Taraji P. Henson. Sutradara Michael Dowse mengajak Gilpin kembali setelah mengarahkannya di film Stuber, tapi kali ini dia tampil dalam porsi yang cukup banyak dan memiliki lelucon yang lebih lucu dibandingkan kedua pemeran utamanya.

Kalimatnya biasa saja, tapi menjadi lucu begitu keluar dari mulutnya, seperti di adegan kejar-kejaran mobil di bundaran jalan raya. “Ini kita yang mengejar atau kita yang dikejar?”, adegan slapstick ala Warkop DKI ini tampil menyegarkan suasana. Juga begitu dia dibilang mirip dengan Taylor Swift yang sedang teler, amarahnya memuncak.

Gilpin tampaknya cocok untuk berperan di dalam film aksi keras dengan nuansa komedi satir, seperti yang ditampilkannya dengan sangat baik di film The Hunt (2020), begitupun di film ini. Rasanya, masa depan karirnya bisa jadi cukup cemerlang kelak jika dia terus beada di jalur ini.

Taraji P. Henson pun, meski tampil dalam menit yang lebih sedikit, membawakan karakter yang masuk akal di tengah para karakter absurd yang kekanak-kanakan. Lihat saja bagaimana dia memperlakukan dua penjahat yang merangsek kamarnya. Henson menampilkan sosok ibu yang bersedia bertarung mati-matian demi membela anak yang disayanginya.

Adegan Aksi yang Seru Meski Kurang Lucu

Adegan Aksi yang Seru Meski Kurang Lucu

Formula yang ditampilkan di film Stuber coba diangkat kembali oleh Dowse di Coffee & Kareem ini. Berbagai adegan aksi seru ditampilkan dan beberapa diantaranya cukup lucu, terutama adegan kejar-kejaran mobil yang dikendarai oleh Kareem di belakang setir. Ketika mereka berputar-putar di bundaran, dijamin kita akan tertawa lepas karenanya.

Tapi, film dengan durasi pas 1 jam 28 menit ini tidak menampilkan hal baru lainnya. Dengan alur cerita yang mudah ditebak, karakter utama yang tipikal dan adegan aksi penuh baku-tembak, film ini menjadi satu lagi film action yang berakhir dengan adegan ledakan di gudang yang gelap. Tidak lebih dari itu. Bagi yang mencari keseruan, film ini mungkin cocok untuk ditonton, tapi jangan harap lebih dari itu, ya!

Coffee & Kareem
Rating: 
2.3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram