Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Cargo yang Bertemakan Zombie

Sinopsis dan Review Film Cargo yang Bertemakan Zombie

Ditulis oleh - Diperbaharui 9 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Cargo pada awalnya adalah sebuah film pendek berdurasi tujuh menit yang disutradarai oleh Ben Howling dan Yolanda Ramke. Karena film yang dibuatnya menjadi viral dan disukai, keduanya lalu memproduksi Cargo sebagai film panjang di bawah naungan Netflix. Sebelum ditayangkan oleh situs digital streaming tersebut, film ini terlebih dahulu diputar secara perdana di Adelaide Film Festival 2017.

Film berdurasi 1 jam 45 menit ini menjadi salah satu film bertemakan zombie apokaliptik yang sangat unik dan menarik. Sisi menariknya itu bisa dapat dilihat dari segi ceritanya, drama yang dihadirkan, hingga wilayah Australia yang menjadi latar film ini.

Maka, bagi kalian yang penasaran dan ingin menonton film yang satu ini, bisa terlebih dulu menyimak review yang akan diberikan oleh Bacaterus di bawah ini. Tak perlu berbasa-basi, langsung saja simak ulasan selengkapnya.

Sinopsis

Film Cargo

  • Tahun rilis: 2017
  • Genre: Post-apocalyptic horror drama
  • Rumah produksi: Umbrella Entertainment, Addictive Pictures, Causeway Films, dan Head Gear Films
  • Sutradara: Ben Howling dan Yolanda Ramke
  • Pemeran Utama: Martin Freeman, Simone Landers, Anthony Hayes, David Gulpilil, dan Susie Porter

Sebuah virus yang tidak diketahui telah mengubah manusia menjadi zombie dalam waktu 48 jam. Di wilayah pedesaan Australia, Andy beserta Istrinya, Kay, dan bayi mereka Rosie, tinggal dengan aman dalam perahu untuk menghindari dari serangan para zombie. Mereka kemudian menemukan sebuah perahu layar yang ditinggalkan, dan mengambil berbagai macam persediaan makanan.

Kay lalu pergi lagi ke perahu tersebut untuk mengumpulkan lebih banyak makanan, namun ia malah diserang oleh zombie yang bersembunyi. Sementara itu di tempat lain, seorang gadis Aborigin, Thoomi, berusaha melindungi ayahnya yang terinfeksi dengan memberinya makan satwa liar, sedangkan ibunya sendiri berusaha mencarinya.

Andy yang melihat luka istrinya mencoba untuk menghentikan pendarahannya. Mereka kemudian keluar dari perahu untuk mencari mobil agar bisa menuju rumah sakit terdekat. Saat di perjalanan, mereka mengalami kecelakaan. Kay ternyata telah berubah menjadi zombie, dan menggigit tangan dari suaminya tersebut.

Kini, Andy telah terinfeksi dan berusaha mencari tempat yang aman untuk menyelamatkan Rosie. Ia lalu menemukan sebuah mobil truck dan ingin mencurinya, tetapi diketahui oleh pemiliknya bernama Vic yang sedang terperangkap. Andy lalu membebaskannya, dan pergi menuju tempat tinggal Vic. Di sana, Andi bertemu dengan Lorraine yang oleh Vic dianggap sebagai istrinya.

Pertemuannya dengan Vic ternyata berbuah malapetaka, ia kemudian dikurung di dalam sebuah sangkar bersama Thoomi. Keduanya dijadikan sebagai umpan agar para zombie bisa memangsa mereka. Andy dan Thoomi bekerjasama untuk keluar dari sangkar tersebut. Hasilnya, keduanya bisa terbebaskan dan bergegas pergi untuk menyelamatkan Rosie serta Lorraine.

Namun, Vic tak sengaja menembak Lorraine saat mereka hendak melarikan diri. Andy dan Thoomi lalu menuju sebuah terowongan kereta api, dan bertemu kembali dengan Vic. Thoomi bersembunyi bersama Rosie di dalam kendaraan yang diparkir, sementara itu Andy berkelahi dengan Vic untuk mengalihkan perhatian. Vic meninggalkan Andy yang sudah terkapar, dan meratapi kematian yang menimpa Lorraine.

Beberapa saat kemudian, infeksi virus di dalam tubuh Andy semakin menguat. Perlahan tapi pasti, Andy mulai sedikit demi sedikit berubah menjadi zombie. Dengan sedikit waktu yang tersisa, Andy meminta kepada Thoomi untuk menjaga Rosie agar tetap hidup.

Thoomi lalu pergi menuju wilayah sukunya untuk menyerahkan Rosie dan membebaskan Andy dari kesengsaraannya. Orang-orang Aborigin kemudian menyambut Thoomi dan Rosie dengan suka cita, serta menempatkan mayat Andy yang damai di atas pohon.

Film Zombie yang Sangat Berbeda dari Biasanya

Film Zombie yang Sangat Berbeda dari Biasanya 

Tidak seperti film zombie lainnya yang selalu menghadirkan adegan sadis penuh darah, Cargo justru menawarkan sebuah cerita apokaliptik dengan sudut pandang drama yang cukup menyentuh. Dalam film ini, kita sebagai penonton akan diajak untuk memahami kepedihan yang dirasakan oleh Andy di setiap menitnya.

kejadian saat istrinya berubah menjadi zombie adalah momen penting untuk melihat kerapuhan Andy yang digambarkan sepanjang film. Karena sudah terinfeksi, ia pun mesti bertahan hidup selama mungkin demi bisa menyelamatkan Rosie. Selain itu, ia pun mesti berhadapan dengan Vic yang sangat egois, hingga bertemu dengan Thoomi yang ternyata menjadi penyelamat anak semata wayangnya.

Film ini sebenarnya mempunyai tempo yang cukup lambat dengan alurnya yang mengalun sangat harmonis di tiap adegannya. Selain diajak untuk iba terhadap karakter Andy, Cargo sebenarnya juga membawa pesan yang cukup dalam tentang isu rasial suku Aborigin. Pesan tersebut disajikan dengan cukup lugas lewat penggambaran beberapa pemain yang berperan sebagai pribumi Australia tersebut.

Melihat alur Cargo yang lambat mungkin akan terasa membosankan bagi sebagian orang. Meski begitu, cerita dari film ini sangat mudah sekali untuk dipahami. Bagi para penggemar film bertemakan zombie, Cargo adalah warna baru yang bisa kalian tonton tanpa harus berpikir rumit, dan ketakutan.

Selain itu, yang menarik dari film ini adalah latar tempatnya sendiri yang berada di gurun Australia. Lewat arahan sinematografi yang mumpuni, pemandangan di gurun tersebut tentunya sangat mempesona.

Salah satu keseruan dalam menonton film-film zombie karena adanya adegan action. Di film ini tentunya elemen tersebut tetap diperlihatkan meski minim dan sangat jarang ditemui. Aspek itu kemudian ditampilkan lewat sekelompok Aborigin yang membantai para zombie dengan menggunakan tombak.

Cargo pada akhirnya menjadi sebuah film yang sangat menarik dan unik dalam genrenya sendiri. Film ini mengusung tema yang tidak umum, dan sangat bisa dinikmati oleh penonton yang bukan penyuka film zombie sekalipun. Kedua sutradara, Howling dan Ramke sepertinya cukup berhasil mengarahkan Cargo sebagai debut film layar lebar pertamanya.

Dua Karakter Utama Tampil Sangat Apik

Dua Karakter Utama Tampil Sangat Apik

Kita mengetahui bahwa Martin Freeman adalah seorang aktor yang sangat jenaka dan lucu. Di film trilogi The Hobbit, dirinya begitu luwes dalam mengundang gelak tawa saat berperan sebagai Bilbo Baggins.  Bahkan, di serial TV Sherlock pun ia tetap tampil menghibur ketika harus menjadi seorang Dr. Watson.

Semua kepribadian tersebut pada akhirnya harus berubah ketika ia berperan sebagai Andy di film ini. Martin Freeman setidaknya cukup sukses memberikan sisi tersedih dalam dirinya. Ia membuang jauh-jauh sikap jenakanya, dan berhasil menarik rasa empati dari setiap penonton.

Sebagai seorang pemeran utamanya, film ini tentunya sangat berfokus pada dirinya. Martin Freeman berakting begitu solid dan harus diacungi jempol karena memerankan sifat karakter yang tidak biasa. Pendalaman emosi yang ia ciptakan pun sungguh menggugah rasa iba bagi yang menontonnya.

Andy sendiri adalah sosok karakter yang cenderung tidak tegas, sering gusar, dan terkesan lemah. Meski begitu, ia merupakan pria yang pantang menyerah, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik agar Rosie tetap selamat dan hidup. Semua citra tersebut dapat digambarkan dengan apik oleh dirinya.

Selain berpusat pada Martin Freeman, film ini juga cukup baik dalam mengembangkan karakter Thoomi yang diperankan oleh aktris belia bernama Simone Landers. Dengan kehadirannya, plot cerita Cargo menjadi lebih menarik karena ada isu rasial yang berusaha disampaikan lewat karakter Thoomi. Isu tersebut sebenarnya tertuju pada eksploitasi Australia terhadap masyarakat Aborigin.

Pertemuan Thoomi dan Andy selanjutnya menjadi satu bagian paling sensitif karena mereka akhirnya saling terikat satu sama lain. Keduanya saling membantu untuk mencapai tujuannya masing-masing. Selama film diputar, kita akan melihat kegigihan Thoomi yang berusaha menjaga ayahnya agar bisa kembali ke kelompoknya untuk dapat dibebaskan dari kutukan zombie.

Lewat peran keduanya, Cargo mempunyai konflik yang terasa menyentuh karena berkaitan dengan kehidupan manusia. Film ini pada dasarnya cukup menjanjikan, dan memberikan dramatisasi yang tidak berlebihan. Sebagai warna baru dalam genre film zombie apokaliptik, film Cargo tentunya sangat layak untuk menjadi sebuah tontonan yang bisa dinikmati siapa saja.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *