Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis Black Mirror S2 (2013), Lebih Kelam!

Review & Sinopsis Black Mirror S2 (2013), Lebih Kelam!

Ditulis oleh - Diperbaharui 9 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Black Mirror Season 1 berhasil mendapatkan respons positif dari kritikus film dan mendapat banyak penggemar. Banyak yang menganggap kehadirannya begitu fresh bahkan ada yang menyebut serial ini sebagai versi modern dari The Twilight Zone. Dengan kata lain, season pertamanya yang hanya terdiri dari tiga episode berhasil mencuri perhatian.

Cerita yang solid membuat penontonnya penasaran tentang kelanjutannya. Dua tahun penantian terbayar dengan dirilisnya season kedua. Kali ini juga nggak banyak episode yang ditampilkan, hanya tiga episode sama seperti season sebelumnya. Bagaimana review dan sinopsis Black Mirror Season 2? Kamu bisa menyimaknya di sini.

Episode 1: Be Right Back

Sama seperti season sebelumnya, kali ini di Season 2 juga menawarkan 3 episode yang menyentil kehidupan manusia, terutama soal teknologi. Berikut ulasan pada episode pertama di season kedua.

Sinopsis

Episode 1 Be Right Back

  • Genre: Science Fiction, Drama
  • Produksi: House of Tomorrow
  • Sutradara: Owen Harris
  • Pemain: Hayley Atwell, Domhnall Gleeson

Ash adalah seorang pria yang menggandrungi media sosial. Bahkan saking terlalu asyiknya, dia bisa mengacuhkan kekasihnya, Martha. Suatu malam, Ash pamit pergi di tengah cuaca yang buruk. Martha yang khawatir kemudian mendapat telpon yang mengabari bahwa Ash baru saja mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.

Di tengah kesedihannya, Martha menemukan dirinya hamil beberapa hari setelah kekasihnya meninggal. Dia kemudian memutuskan untuk menggunakan teknologi baru yang bisa mengembalikan Ash. Sebagai permulaan, suara Ash akan muncul dan berbicara lagi dengannya seakan-akan dia masih hidup. Kehadiran Ash yang baru ini bisa mengobati kesedihan Martha.

Suatu hari, eksperimen itu ditingkatkan. Sosok Ash bisa dihidupkan kembali dalam tubuh sintetis. Martha menyetujuinya tapi lama-kelamaan dia merasa nggak nyaman. Ash versi sintetis ini nggak mampu mengingat detil-detil kecil yang diketahui Ash. Kehadiran tubuh sintetis berwujud Ash ternyata nggak cukup untuk menggantikan kekasihnya yang telah tiada.

Digitalisasi Manusia

Digitalisasi Manusia

Episode pertama ini menekankan pada kemungkinan digitalisasi manusia melalui jejak digitalnya. Awalnya, jejak digital Ash dikumpulkan sampai membentuk pola yang menyerupai Ash. Lama-kelamaan pola tersebut ditanamkan ke dalam tubuh sintetis. Dia bisa hidup sesuai dengan jejak digital yang ditinggalkan Ash di media sosialnya.

Season kedua Black Mirror langsung dibuka dengan drama yang pilu. Lagi-lagi jalan keluar yang diambil adalah teknologi. Teknologi yang awalnya didesain untuk menghibur Martha yang sedang sedih ditingkatkan ke level yang baru. Hal ini seperti menyindir manusia yang nggak puas akan teknologi dan berupaya untuk terus berinovasi. Sayangnya, nggak semua inovasi itu baik.

Episode 2: White Bear

Di episode kedua ada judul “White Bear”. Masih soal sindiran terhadap teknologi, di sini menceritakan tentang kejamnya cacian melalui sosial media, terutama ketika kamu merekam kejahatan itu. Berikut sinopsis dan review-nya.

Sinopsis

Episode 2 White Bear

  • Genre: Science Fiction, Horror, Slasher
  • Produksi: House of Tomorrow
  • Sutradara: Carl Tibbets
  • Pemain: Lenora Crichlow, Michael Smiley

Victoria Skillane terbangun dari pingsan. Dia merasa asing melihat sekelilingnya. Cuma ada sebuah layar televisi yang menayangkan sebuah simbol yang nggak dia kenal. Dia mematikan televisi itu dan menemukan sebuah foto. Di foto itu ada dia bersama seorang pria dan seorang wanita lain. Dia kemudian keluar ruangan dan meminta tolong, tapi orang-orang di sekitarnya nggak menolong,

Mereka malah merekam menggunakan ponsel masing-masing. Merasa aneh dengan orang-orang, Victoria terus meminta tolong. Seseorang menggunakan topeng terus menembakinya. Victoria lari dan bertemu dengan Jem. Jem menjelaskan bahwa simbol di televisi itu membuat orang-orang menjadi penonton dan mereka berdua nggak terpengaruh.

Karma, Vigilante dan Voyeurs

Karma, Vigilante dan Voyeurs

Nuansa kelam episode ini dilengkapi dengan adegan-adegan yang sadis. Ketika Victoria hampir berhasil membunuh seseorang yang menggunakan topeng, ada semacam tirai terbuka. Ada penonton yang bersorak-sorai dan bertepuk tangan, kemudian seorang MC datang. Dia menyatakan Victoria harus dihukum karena kejahatannya di masa lalu.

Victoria ternyata pernah menculik seorang anak bersama kekasihnya dulu. Lebih parahnya lagi, anak itu dibakar sambil direkam menggunakan ponsel. Kemunculan Victoria di ruangan itu merupakan sebuah penghakiman atas karma buruk yang pernah dilakukannya. Orang-orang bertopeng itu adalah vigilante, kelompok yang merasa mereka harus bertindak daripada aparat.

Orang-orang yang menonton dan penonton yang bertepuk tangan merupakan voyeurs. Di jaman sekarang, ketika seseorang kesulitan, beberapa orang memilih untuk menjadi voyeurs.  Daripada membantu, mereka lebih memilih untuk mengabadikan momen itu. Padahal itu bukan hal yang layak untuk direkam.

Bisa dibilang, episode ini terasa paling menyebalkan. Apa yang diceritakan di episode ini adalah hal-hal yang paling sering kita lihat di kehidupan sehari-hari, terutama media sosial. Banyak sekali orang-orang yang haus akan konten. Mereka lebih peduli pada konten ketimbang isi dari konten itu sendiri.

Episode 3: The Waldo Moment

 

Di episode ke tiga ini lebih menyindir soal politik dan para pejabat yang ingin menjadi politikus. Sindiran yang cukup sarkas ini bisa kamu simak ulasannya di bawah ini!

Sinopsis

Episode 3 The Waldo Moment

  • Genre: Science Fiction, Drama
  • Produksi: House of Tomorrow
  • Sutradara: Bryn Higgins
  • Pemain: Daniel Rigby, Chloe Pirrie, Jason Flemyng

Sebuah teknologi baru terkemuka. Teknologi itu bernama Waldo, sebuah animasi yang bisa berbicara. Yang mengontrolnya adalah Jamie Salter yang berprofesi sebagai komedian. Program televisi yang menampilkan Waldo dikecam oleh Liam Munroe, anggota Partai Konservatif. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Waldo kepadanya dianggap nggak layak.

Tayangan dihentikan nggak membuat Waldo dilupakan. Masyarakat mengelu-elukannya bahkan menjadikannya kandidat untuk duduk di lembaga perwakilan. Jamie merasa dia bukan tokoh politik yang bisa duduk di posisi strategis sebagai wakil rakyat. Dia kemudian dekat dengan anggota Partai Buruh, Gwendolyn Harris bahkan berpacaran dengannya.

Karena Harris juga maju sebagai kandidat, maka dia dan Jamie nggak boleh bertemu. Munroe menjelek-jelekkan Waldo. Waldo membalasnya dengan membuat video yang berisi ledekan terhadap Munroe. Nggak cukup sampai di situ, dia juga menjelek-jelekkan Harris menggunakan informasi yang didapat ketika mereka pacaran.

Sindiran untuk Para Tokoh

Sindiran untuk Para Tokoh

Di Black Mirror Season 1, episode yang membahas tentang politik dibahas di episode pertama. Di season kedua, bahasan serupa ditampilkan di episode penutup. Kali ini tokoh dengan wujud animasi yang dijadikan alat. Waldo merupakan mimpi buruk bagi para politisi. Ia begitu menjengkelkan dengan pertanyaan vulgar dan menjatuhkan dalam acara yang dibintanginya.

Di episode terakhir ini, Waldo dijadikan sebagai sosok idola. Bagaimana nggak? Dia jujur menyampaikan pendapatnya. Berbeda dengan para politisi yang sering mengeluarkan pernyataan retoris semata atau janji-janji yang nggak ditepati. Bahkan, bukan cuma jadi idola, dia dijadikan kandidat saking dianggap bisa menyuarakan keinginan rakyat.

Perjalanan Waldo nggak selalu lancar. Sosok di belakangnya, Jamie, justru stress berat karena merasa nggak cukup kompeten untuk menjadi wakil rakyat. Walau begitu, dia nggak mau melihat Munroe terpilih. Rasa sakit hatinya pada Harris pun dilampiaskan dengan menyerangnya lewat video di YouTube.

Tindakan Jamie di episode ini merupakan tamparan pada orang-orang yang merasa kompeten padahal bukan di bidangnya. Hanya karena dia bisa berbicara dan tampak meyakinkan bukan berarti dia bisa dijadikan orang dengan tanggung jawab besar. Hal ini relevan dengan kondisi saat ini, banyak yang diberi panggung padahal yang dibicarakan di luar kemampuannya.

Black Mirror Season 2 tampil setajam season pertamanya. Tema-tema yang diangkat pun relevan dengan kehidupan sehari-hari yang selalu bersentuhan dengan teknologi. Terjaganya kualitas cerita yang solid membuat kita penasaran apa lagi yang akan disorot di season selanjutnya. Episode yang mana yang paling kamu suka? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, yuk!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *