Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis Black Mirror S1 (2011), Sisi Gelap Teknologi

Review & Sinopsis Black Mirror S1 (2011), Sisi Gelap Teknologi

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Rasanya mustahil bagi manusia untuk hidup tanpa teknologi. Hanya sebagian kecil masyarakat yang hidupnya nggak tersentuh oleh teknologi. Sebagian besar menikmati perkembangannya dari waktu ke waktu. Dulu kita perlu menggunakan alat transportasi yang ditarik oleh hewan. Sekarang dimudahkan dengan adanya mobil, kereta bahkan pesawat.

Salah satu teknologi yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir adalah internet. Dari yang awalnya untuk kepentingan militer, kini digunakan hampir semua orang. Bahkan kita nggak perlu susah untuk bisa menggunakannya, cukup dengan ponsel. Serial Black Mirror S1 mencoba untuk mengungkap sisi gelap teknologi yang ada. Apa saja? Yuk kita bahas review dan sinopsisnya.

Episode 1: The National Anthem

 

Kisah Black Mirror pada season pertama dimulai dengan judul The National Anthem. Ceritanya agak vulgar namun tetap bisa dinikmati. Untuk mengetahuinya, bisa simak ulasan berikut ini:

Sinopsis

Episode 1 The National Anthem

  • Genre: Science Fiction, Drama
  • Produksi: House of Tomorrow
  • Sutradara: Otto Bathurst
  • Pemain: Rory Kinnear, Lindsay Duncan

Michael Callow, Perdana Menteri Inggris terkejut ketika mengetahui anak Kerajaan Inggris, Princess Susannah diculik. Sebagai tebusan, sang penculik mempunyai permintaan yang aneh. Permintaan itu adalah sang perdana menteri harus rela berhubungan seks dengan seekor babi dan disiarkan di televisi nasional.

Permintaan penculik dipos ke YouTube dan langsung mendapat perhatian. Di Twitter, topik tentang permintaan itu menjadi trending topic. Keesokan harinya, pemerintah memerintahkan media untuk nggak membahas isu penculikan dan tebusan yang aneh. Callow masih kebingungan antara mengikuti permintaan sang penculik atau menolaknya.

Alex Cairns, seorang staff Perdana Menteri punya ide. Dia menugaskan agen Callett untuk mempekerjakan seorang bintang porno, Rod Senseless. Rod yang punya fisik seperti Perdana Menteri akan melakukan adegan seks bersama babi. Sedangkan wajahnya, akan diedit menggunakan wajah Callow. Tugas itu sulit dijalankan mengingat siarannya yang harus langsung.

Salah seorang staff memposting foto Senseless. Hal itu membuat sang penculik marah dan mengirim potongan jari ke sebuah saluran berita. Ada juga video yang memperlihatkan Susannah dalam keadaan kesakitan. Tekanan pada Callow semakin meninggi. Sebuah tim khusus ditugaskan mencari ke lokasi video pertama yang diposting sang penculik tapi nggak menemukan apa-apa.

Vulgar dan Mengerikan

Vulgar dan Mengerikan

The National Anthem merupakan episode pertama Black Mirror dan langsung hadir dengan gebrakan yang nggak diprediksi. Pembuka serialnya saja langsung menampilkan adegan vulgar dan mengerikan. Berhubungan seks dengan babi dan potongan jari bukanlah hal yang biasa. Charlie Brooker sebagai kreator serial seperti ingin langsung muncul dengan intensitas tinggi.

Di balik kevulgaran dan kengerian, banyak yang menilai episode ini adalah dark humour. Bahkan elemen tersebut menjadi andalan dalam serial ini. Di episode ini kita dipertontonkan bagaimana penyebaran informasi nggak terkontrol di era saat ini. Opini yang muncul di berbagai media sosial bisa menekan dan mempengaruhi pengambilan kebijakan oleh pihak yang berkuasa.

Selain muncul dengan gebrakan, episode ini juga punya ending yang nggak diperkirakan. Ada twist yang cukup membuat kita kaget. Apa yang diyakini orang-orang tentang penculikan itu dengan apa yang sebenarnya terjadi cukup mengejutkan. Selain itu, keputusan Callow di saat genting mempengaruhi elektabilitasnya sekaligus kehidupan personalnya.

Episode 2: Fifteen Million Merits

Setelah episode pertama yang cukup vulgar, kali ini di episode kedua mengangkat tema soal dunia hiburan. Ada beberapa sindiran pedas pada episode kali ini. Simak berikut ulasannya:

Sinopsis

Episode 2 Fifteen Million Merits

  • Genre: Science Fiction, Drama
  • Produksi: House of Tomorrow
  • Sutradara: Euros Lyn
  • Pemain: Daniel Kaluuya, Jessica Brown Findlay, Rupert Everett

Di masa depan, kehidupan manusia akan dipenuhi oleh digitalisasi. Dinding-dinding rumah diganti dengan layar yang bisa menampilkan iklan bahkan gim. Bing Madsen terbangun dengan 15 million merits warisan dari kakaknya. Merits merupakan mata uang baru yang digunakan pada masa tersebut. Dengan mengayuh di sepeda statis, dia akan mendapatkan merits yang lebih banyak.

Bing mendengar suara Abi Khan yang sedang bernyanyi di toilet. Merasa terpukau dengan suaranya, Bing mengajak Abi untuk mengikuti ajang pencarian bakat bernama Hot Shot. Hot Shot bukanlah ajang pencarian bakat main-main. Pemenangnya akan diberikan kehidupan yang mewah. Bing berharap Abi menjadi jembatan untuk hidupnya supaya berubah.

Untuk ikut Hot Shot, peserta harus membayar dengan sejumlah merits. Ternyata yang dibutuhkan adalah 15 million merits, sama persis seperti jumlah yang dimiliki Bing. Bing mengadu nasib dengan mendaftarkan Abi walau rekeningnya harus kosong. Tiba saatnya Abi untuk tampil. Dia bernyanyi di depan tiga orang juri.

Sindiran pada Dunia Hiburan

Sindiran pada Dunia Hiburan

Episode kedua season pertama Black Mirror nggak seberat episode pertamanya. Kali ini ceritanya cukup sederhana, ikut ajang pencarian bakat. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, ada banyak hal yang unik. Penggunaan merits sebagai mata uang baru merupakan salah satunya. Selain itu, dinding-dinding yang dipenuhi layar juga menggambarkan wujud digitalisasi.

Fokus utama pada episode ini adalah Abi yang alih-alih diloloskan ke babak selanjutnya, malah ditawari untuk menjadi bintang porno oleh seorang juri. Lebih mengerikannya lagi, penonton justru menyambut usulan itu dengan kegembiraan. Bing merasa tersinggung. Dia menghabiskan merits miliknya untuk Abi yang malah ditawari pekerjaan yang jauh dari bidangnya.

Bing masuk ke panggung dan mengeluarkan unek-uneknya tentang sistem dunia hiburan. Ya, dunia hiburan yang ada sekarang hanya mengikuti keinginan pasar. Nggak peduli pada efeknya seperti apa. Episode ini mencoba mengungkapkan hal tersebut. Ending episode ini benar-benar kita kesal sekaligus ingin tertawa.

Episode 3: The Entire History of You

Di episode terakhir menceritakan soal masa depan dimana ada sebuah chip yang bisa merekam semua memori. Terdengar hebat, namun sebenarnya itu justru menjadi boomerang!

Sinopsis

Episode 3 The Entire History of You

  • Genre: Science Fiction, Drama
  • Produksi: House of Tomorrow
  • Sutradara: Brian Welsh
  • Pemain: Toby Kebbell, Jodie Whittaker, Tom Cullen

Di masa depan, ada sebuah alat baru yang diciptakan. Alat tersebut diberi nama Grain, ia bisa merekam apa saja yang dilihat dan didengar oleh orang yang menggunakannya. Hebatnya, alat tersebut dipasang di belakang telinga sehingga nggak terlihat mencolok. Dengan alat itu, memori bisa diputar dan diperlihatkan dengan jelas di depan mata.

Liam Foxwell adalah seorang pengacara yang mempunyai istri bernama Ffion. Sepulang kerja, Liam menemukan Ffion sedang berkumpul bersama teman-temannya di rumah. Mereka mengobrol tentang kejadian-kejadian di masa lalu. Liam mencurigai Ffion berselingkuh dengan mantan kekasihnya dulu, Jonas.

Ffion menjelaskan bahwa dia memang pernah punya hubungan dengan Jonas tapi itu dulu. Pagi harinya, Liam yang sedang mabuk mendatangi rumah Jonas untuk menanyai tentang Ffion. Liam mendapatkan rekaman Jonas ketika bersama Ffion dan memintanya untuk menghapusnya. Liam jadi curiga kalau anak yang sedang dikandung Ffion bukan anak biologisnya.

Bermain-Main dengan Memori

Bermain-Main dengan Memori

Drama banyak mendominasi episode ketiga dari serial Black Mirror. Pembahasannya pun berkisar tentang kehidupan rumah tangga. Benang merah dengan episode-episode sebelumnya adalah bagaimana teknologi yang sudah maju ikut mempengaruhi kehidupan personal seseorang, bahkan sampai urusan rumah tangga.

Yang disorot adalah Grain yang mampu menayangkan berbagai memori dari masa lalu. Saking canggihnya, bisa diulang-ulang, dizoom bahkan dihapus kalau dianggap nggak memerlukan memorinya lagi. Pada awalnya, Liam dan Ffion menggunakannya ketika berhubungan seks. Alat itu diputar untuk membangkitkan gairah mereka.

Dibandingkan dengan teknologi yang ada saat ini, ada kemiripan dengan Grain. Media sosial punya jejak digital dari kita sebagai penggunanya. Episode ini mencoba mengungkap kemungkinan buruk dari jejak digital yang sudah terekam. Bahkan ending dari episode ini menunjukkan betapa ingatan atau jejak digital bisa mempengaruhi kesehatan mental.

Black Mirror season pertama muncul dengan gebrakan baru. Dark humor yang ditampilkan membuatnya dibanding-bandingkan dengan The Twilight Zone. Charlie Brooker sebagai pencipta Black Mirror menyatakan bahwa dia memang terinspirasi dari serial tersebut. Dia menambahkan bahwa memang berniat menciptakan karya tentang teknologi dan kehidupan manusia.

Black Mirror bukan tontonan untuk segala usia. Banyak adegan dewasa dan vulgar yang ditampilkan. Bagi yang suka dark humor dipadukan dengan drama yang relevan dengan kehidupan kita, serial ini wajib untuk ditonton. Cerita mana yang jadi favoritmu? Bagikan di kolom komentar yuk, teman-teman!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *