bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Perang Black Hawk Down (2001)

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 11 September 2021

Film bertema perjuangan para militer di medan tempur memang sudah banyak, tapi Black Hawk Down pasti akan menjadi salah satu film terbaik di genre ini. Black Hawk Down diangkat dari novel non fiksi dengan judul yang sama tahun 199 karya jurnalis Mark Bowden. Disutradarai oleh Ridley Scott dan skenarionya ditulis oleh Ken Nolan, film ini mendapatkan rating 76% dari 174 review di Rotten Tomatoes.

Operasi untuk menangkap seorang pimpinan militan bernama Mohamed Farrah Aidid justru berakhir menjadi bencana besar. Misi yang dilakukan secara rahasia yang dilakukan oleh pasukan Amerika, mendapatkan perlawanan sengit dari milisi dan sipil Somalia. Mereka terjebak dan diberondong dengan peluru, hingga dua helikopter Black Hawk ditembak jatuh.

Apakah para tentara Amerika ini bisa kembali ke markas dengan selamat? Jangan sampai ketinggalan, kamu akan mendapatkan penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal Penayangan: 28 Desember 2001
  • Genre: Drama History, War, Action
  • Sutradara: Ridley Scott
  • Pemeran Utama: Josh Hartnett, Eric Bana, Ewan McGregor, Tom Sizemore, William Fichter, Sam Shepard
  • Produksi: Columbia Pictures, Revolution Studios, Jerry Bruckheimer Films, Scott Free Productions

Berada di tengah-tengah perang saudara Somalia pada tahun 1993, PBB mengesahkan operasi militer untuk menjaga perdamaian. Pasukan perdamaian ditarik mundur, namun milisi pendukung Mohammed Farrah Aidid justru menyatakan perang. Presiden Clinton yang menjabat pun menanggapi dengan memberikan perintah penangkapan Aidid.

Angkatan Darat A.S. 75th Rangers, operator anti-teroris Delta Force, dan penstang ke-160 SOAR - Night Stalker dikirim ke Mogadishu. Di tengah-tengah itu pasukan milisi Aidid menyabotase semua bantuan Palang Merah pada masyarakat untuk membuat mereka takut dan Selatan tunduk padanya. Pasukan PBB tidak bisa melakukan intervensi, meski penduduk ditembaki oleh milisi Aidid.

Di luar itu Ranger dan Delta Force ternyata berhasil menangkap Osman Ali Atto yang menjadi pemasok kehidupan dan senjata bagi milis Aidid. Amerika kemudian membuat misi penangkapan pada Omar Salam Elmi dan Abdi Hassan Awale Qeybdiid penasihat Aidid. Mereka menggerakkan pasukan elite dan pasukan baru dalam misi ini.

Sersan Staf Matthew Eversmann mendapatkan perintah memimpin pasukan untuk pertama kalinya. Eversmann sempat di olok-olok rekannya karena menghargai Somalia sebagai negara yang tidak beruntung. Tugas ini menjadi tugas pertama bagi PFC Todd Blackburn dan petugas meja SPC Grimes. Semua pasukan bersiap, meninggalkan peralatan yang dianggap tidak penting karena tugas ini berlangsung selama satu jam.

Operasi dimulai, Delta Force berhasil menangkap para penasihat Aidid di dalam gedung yang ditargetkan. Para Rangers turun, Helikopter Black Hawk yang sedang menurunkan prajurit hampir tertembak RPG.

Prajurit baru Blackburn terluka parah karena jatuh dari ketinggian, Sersan Staf Jeff Struecker dilepaskan dari konvoi untuk mengirim Blackburn ke bandara Mogadishu. Milisi dan sipil Somalia menggila, mereka memberondong prajurit hingga SGT Dominick Pilla tewas dan Black Hawk Six-One ditembak jatuh.

Pilot CWO Clifton “Elvis” Wolcott dan co-pilotnya mati di tempat dan dua kru lainnya terluka, satu penembak jitu Delta Force di kapal sempat lolos dalam helikopter Little Bird MH-6. Seluruh pasukan dialihkan untuk melakukan misi penyelamatan di lokasi jatuhnya Super Six-One.

Milisi Somalia melakukan blokir jalan, sehingga kolom Humvee LTC Danny McKnight tidak dapat menjangkau lokasi. Mereka bertahan di tempat sambil mengamankan diri dan merawat prajurit yang terluka. Di sisi lain dua Rangers Chalks dan unit Evermann tiba di lokasi jatuhnya Super Six-One, mereka memasang perimeter pertahanan dan mengevakuasi korban.

Tak lama dari misi itu, Helikopter Super Six-Four yang di poloti CWO Michael Durant tertembak oleh RPG dan jatuh. Seluruh pasukan AS terdesak, tidak ada satu pasukan yang bisa bergerak ke jatuhnya Super Six-Four. CPT Mike Steele Rangers berusaha mempertahankan pasukannya yang terluka berat, hingga dua sniper Delta Force meminta izin turun.

SFC Randy Shughart dan MSG Gary Gordon turun membuat perimeter penjagaan Super Six-Four dan menemukan Durant masih hidup. Tak lama situs ini diserang oleh para milisi Aidid dan sipil Somalia, mereka secara membabi buta menembak ke arah helikopter. Dua anggota Delta Force Gordon dan Shughart gugur dan menyisakan Durant yang akhirnya dijadikan sandera.

Kolom McKnight mengerahkan segala usaha untuk mencapai lokasi jatuhnya Super Six-One dan kembali ke markas mengantar prajurit yang terluka. Mereka kembali melakukan misi penyelamatan, mengekstrak Rangers dan pilot yang jatuh. MG Garrison mengirim LTC Joe Cribbs meminta bantuan dari 10th Mountain Division dan pasukan lainnya dari koalisi PBB.

Suara Adzan Maghrib berkumandang, seluruh milisi dan sipil Somalia menghentikan aktivitas mereka dan mulai beribadah. Hal ini digunakan oleh pasukan Amerika untuk beristirahat dan mengumpulkan sisa prajurit yang tersisa. Serangan terjadi ketika milisi Aidid melihat salah satu prajurit berusaha berlindung di dalam gedung.

Mereka kembali menyerang pasukan Eversmann yang terjebak di lokasi jatuhnya Super Six-One. Bala bantuan datang, helikopter AH-6J Little Bird melakukan serangan pada milisi yang berada di atas gedung. 10th Mountain Division berhasil sampai ketempat bersama konvoi, mereka memindahkan pasukan yang terluka. Karena muatan terlalu penuh, beberapa Rangers dan Delta Force harus berlari dari lokasi menuju zona aman yaitu Stadion Pakistan.

Membawa Penonton Merasakan Ketegangan di Medan Perang

Membawa Penonton Merasakan Ketegangan di Medan Perang

Sejak pertama kali saya menonton film ini, saya langsung terpana dan hanyut dalam kisah perjuangan para tentara di medan perang. Padahal saat itu saya tidak menontonnya di bioskop, tapi di salah satu televisi nasional Indonesia. Karena ingin lebih menikmati film ini, saya pun kembali mengulang menontonnya di Netflix.

Jujur saya sangat terpesona dengan cara pengambilan gambar dan akting dari semua pemainnya. Ada beberapa nama besar dalam film ini, termasuk Orlando Bloom, Eric Bana dan William Fichtner. Mengangkat operasi The Mogadishu Mile tahun 1993, film ini memang berhasil membius penontonnya untuk bisa menghargai perjuangan para prajurit dan well done Ridley Scott.

Pasalnya Black Hawk Down ini memiliki cerita yang sangat ringan, konfliknya di sajikan dan dijelaskan dengan cukup baik dan sederhana. Hal yang membuat banyak orang terpukau adalah penggambaran suasana perangnya sangat-sangat baik. Dimana kita bisa merasakan bagaimana tegangnya memegang senjata laras panjang, berlari dan bersembunyi mempertahankan hidup mereka.

Jatuhnya Super Six-Four adalah momen paling dramatis karena dua penembak jitu Delta Force secara sukarela turun untuk menyelamatkan kru. Sersan Utama Gary Gordon dan Sersan Kelas Satu Randy Shughart keduanya tewas dalam baku tembak. Pilot Super Six-Four yaitu Michael Durrant yang selamat harus melihat dua rekannya mati setelah berusaha menyelamatkannya.

Tidak terkesan jingoistik dalam film ini, bisa dikatakan bahwa keduanya terlihat kuat dan lemah dalam aspek berbeda. Apa yang terjadi, kenapa terjadi dan apa yang dilakukan semuanya tersaji dengan pengambilan gambar dan suasana yang baik. Kengerian yang membuat jiwa prajurit ini bergetar ketakutan ditampilkan secara wajar tanpa ingin meninggikan dan menjual kesan menjual.

Editing yang sangat baik membuat para penonton film ini bisa merasakan kengerian setiap detiknya. Setiap momen ditampilkan dengan cara yang elegan namun dengan tingkat ketegangan yang tinggi. Meski efek CGI tembakan yang terlihat amatir dan beberapa agak berlebihan, tapi tidak terlalu menjadi masalah karena keseluruhannya sudah baik. 

Kutipan paling membekas bagi saya, bukan keinginan menjadi seorang pahlawan tapi perintah yang harus dilakukan dan dituruti. Dialog yang dikatakan oleh SFC Norm Hoot. “masih ada rekan kita disana.. mereka tidak akan paham.. mereka tidak akan paham kenapa kita melakukan ini. Mereka takkan paham ini soal rekan disamping kita. Hanya itu, itu saja”.

Ini adalah naluri dan rasa setia kawan yang memang selalu ditanamkan pada para prajurit, bukan menjadi seorang pahlawan. Tapi ketika peluru melewati kepala mu yang terpenting adalah pria disampingmu dan tidak ada yang ditinggalkan. Saya juga senang karena sutradara dan pengarah camera memang sangat fokus pada detail-detail kecil dengan visual yang halus dan menegangkan.      

Saya sangat berterimakasih pada sutradara Ridley Scott, penulis skenario Ken Nolan dan tim editing yang ingin membuat film ini totally war movie. Dibanding menuangkan ego film yang hanya memiliki unsur menjual, mereka justru menunjukkan bahwa ketegangan dan sejarah adalah modal utamanya. Meski sejarah yang ditampilkan tidak sejarah seutuhnya dan beberapa adegan agak di dramatisir.

Bahkan bagi saya tidak ada yang bisa mengalahkan Black Hawk Down karya Ridley Scott dalam genre ini. Tidak seperti Behind the Enemy Line (2001) yang terkesan jingoistik dimana seorang tentara Amerika adalah tentara terbaik. Film ini secara gamblang memperlihatkan bahwa tentara Amerika juga bisa merasakan kekalahan yang memalukan. 

Ketidak Akuratan Film dengan Kenyataan

Ketidak Akuratan Film dengan Kenyataan

Black Hawk Down ini ternyata tidak lepas dari kontroversi yang menimpanya. Pasalnya film ini sebenarnya diangkat dari novel berjudul sama Black Hawk Down karya seorang jurnalis Mark Bowden. Dimana dalam buku ini menuliskan perasi “The Unified Task Force” tahun 1993 untuk menangkap pemimpin faksi Somalia Mohamed Farrah Aidid.

Pertempuran yang terjadi di Mogadishu ini terjadi antara tentara pasukan Amerika dan milis Aidid. Dimana dua helikopter AS UH-60 Black Hawk ditembak jatuh dan diupayakan operasi penyelamatan. Didalamnya terdiri dari Army Rangers, 160th Special Operation Aviation Regiment, 10th Mountain Division, Delta Force dan Navy Seal dan pasukan PBB.

Dalam film Black Hawk Down, memang menceritakan tragedi yang membuat banyak prajurit AS berguguran. Namun dikutip dari Real Clear Defense, dalam kejadian aslinya terdapat pasukan dari Malaysia dan Pakistan yang melakukan konvoi penyelamatan. Konvoi ini memang menjadi sangat berbahaya, karena keganasan dan jumlah pejuang Somalia yang sangat banyak.

Dalam penyelamatan ini mitra koalisi dari Malaysia kehilangan dua prajuritnya yang tewas dan tujuh orang luka dan beberapa orang Pakistan juga mengalami luka-luka. Pejabat Militer Malaysia yang pasukannya terlibat dalam pertempuran ini mengadukan ketidak akuratan film ini. hal serupa diserukan oleh Jenderal Pavrez Musharraf yang menjadi presiden Pakistan.

Ia menyebutkan bahwa film ini seakan tidak memuji pekerjaan yang sudah dilakukan oleh tentara Pakistan. Dikutip dari Wikipedia, Musharraf menyampaikan keprihatinan dalam buku otobiografinya In the Line of Fire: A Memoir. Dalam buku itu ia mengungkapkan bahwa pasukan Pakistan dan Malaysia yang membantu pasukan Amerika terbebas saat berada di Madina Bazaar. Ia menyangka kenapa film Black Hawk Down hanya menggambarkan pasukan Amerika saja.

Salah satu kejadian vital yang tidak sesuai dengan kenyataan adalah saat terjadinya “Mogadishu Mile”. Dimana dalam film, konvoi meninggalkan pasukan Delta Force dan Rangers untuk berlari menuju ke stadion Pakistan. Kenyataannya kejadian itu tidak sepenuhnya benar seperti yang di gambarkan dalam film Black Hawk Down. 

Para pasukan tidak berlari dalam formasi acak, mereka berjalan cepat dalam formasi taktis sekitar satu mil untuk sampai ke konvoi yang menunggu. Tidak ada yang berlari ke kota Mogadishu Mile, tapi itu adalah titik temu dengan tank Pakistan dan 10th Mountain yang membawa orang-orang TRF ke stadion.

Penggambaran Somalia yang Tidak Manusiawi

Penggambaran Somalia yang Tidak Manusiawi

Selain protes yang datang dari dunia militer, protes pun datang dari masyarakat Somalia yang merasa sangat dirugikan oleh film ini. Pasalnya bagi mereka Black Hawk Down telah membuat mereka terkesan sebagai orang yang tidak manusiawi. Mereka juga mengatakan bahwa tidak hanya Amerika yang dirugikan, tapi Somalia juga dirugikan dengan jumlah korban yang begitu banyak.

Bahkan mereka yang menjadi korban dalam pertempuran ini bukan saja para milisi dari Aidid. Ada banyak orang tua, wanita hingga anak-anak yang menjadi korban dalam pertempuran ini. Sayangnya hal ini tidak diperlihatkan dalam film, padahal ini termasuk dalam kematian yang menyakitkan. Saya sendiri memang sempat berpikir kenapa tidak ada gambaran mengenai Somalia dalam sesuatu yang eksplisit.

Dikutip dari Army Times, Yusuf Hassan dari BBC Somalia mengatakan bahwa masyarakat Somalia digambarkan dengan cara yang salah. Menurut pemaparannya, tidak semua orang yang terlibat adalah pendukung Aidid dan banyak dari mereka yang tidak tahu apa-apa. Banyak dari korban yang berjatuhan adalah orang yang terjebak dalam situasi dan berusaha mempertahankan rumah mereka.

Mereka berpikir sedang diserang, maka dari itu mereka melakukan perlawanan. Namun hal ini tidak diperlihatkan secara gamblang dalam film Black Hawk Down. Jumlah kematian warga Somalia saat itu diperkirakan hingga ratusan ribu warga. Saya sendiri sebagai penonton merasa bahwa rakyat Somalia ini bisa disebut sebagai orang yang “barbar”. 

Karena mereka digambarkan sebagai kaum yang membenci dan sangat anti Amerika, pasalnya setiap prajurit Amerika terlihat mereka langsung menodongkan senjata. Salah satu hal yang cukup mind blowing adalah adegan seorang anak memegang laras panjang untuk menembak tentara Amerika. Seorang wanita mengambil laras panjang dari korban untuk menembak tentara yang berlari ke stadion.

Kedua hal ini secara tidak langsung menggambarkan kebrutalan dari orang Somalia. Jadi tidak ada pembatas yang jelas antara mana milisi Aidid dan mana yang bukan, karena ini seperti serangan dari seluruh kota. Meski begitu saya menyukai dimana Black Hawk Down tidak ikut dalam kampanye Islamophobia. 

Pasalnya dalam film ini saya tidak melihat adanya pelecehan dan pelencengan agama yang ingin disampaikan oleh sutradara dan penulis. Mereka cukup menghargai dan tidak ada dialog yang menjelekkan kaum muslim di dalamnya. Saya senang dimana mereka tidak terlalu fokus menjadikan agama sebagai sumber terjadinya peperangan. 

Mereka tidak memframe agama sebagai awal mula terjadinya masalah, justru mereka lebih fokus pada milisi Aidid yang rakus dan kejam.

Berlatar pada “The Mogadishu Mile” Tahun 1993

Berlatar pada “The Mogadishu Mile” Tahun 1993

Dalam film Black Hawk Down, terdapat adegan yang sangat dramatis dimana para prajurit harus berlarian menuju stadion Pakistan. Hal ini jelas membuat hati para penonton terenyuh, pasalnya mereka sudah hampir mati di serbu pasukan milisi. Alih-alih masuk dan berlindung di tank, mereka justru harus berlari sambil diberondong peluru milisi untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

Kejadian ini disebut sebagai “The Mogadishu Mile” yang terjadi pada tanggal 4 Oktober tahun 1993. Namun kejadian yang ditampilkan dalam film bukanlah kejadian yang benar-benar terjadi. Pasalnya kejadian dalam film telah di modifikasi dan dibuat lebih dramatis lagi. Film ini membeli lisensi artistik dan mendramatisir adegan yang krusial itu dari buku aslinya karya Mark Bowden.

Dikutip dari Real Clear Defense, Mogadishu Mile adalah jarak yang dicapai oleh pasukan yang bergerak berlawan arah dengan stadion. Dimana stadion Pakistan ini menjadi titik pertemuan dimana APC, Tank dan kendaraan lainnya menunggu untuk menarik pasukan. Namun adegan lari yang ditunjukkan dalam film sebenarnya tidak pernah terjadi.

Dikutip dari Wikipedia, para prajurit berjalan dengan formasi taktis sepanjang satu mil untuk sampai ke konvoi. Karena kendaraan di isi untuk membawa prajurit yang terluka, maka para prajurit yang sehat berjalan kaki menuju titik aman. Mereka dilengkapi pelindung dan berhenti seperlunya karena berjalan di tempat terbuka yang menjadikan mereka sasaran empuk untuk di serang musuh.

Dalam pengakuan Sersan Staf Kurt Smith ke Daily Mail, mereka berjalan dan memanfaatkan pelindung sebaik mungkin, Tapi karena mereka berjalan di area terbuka tetap saja ada korban, orang Somalia pun hanya ke arah mereka tanpa membidik. Jadi tebakan orang Somalia ini kemungkinan secara tidak sengaja melukai para prajurit atau rekannya sendiri.

Film perang satu ini memang menjadi salah satu film terbaik di genre peperangan karya Ridley Scott. Meski terdapat kontroversi didalamnya, film ini akan membuat kamu memiliki kesadaran mengenai prajurit yang pergi ke medan tempur. 

Black Hawk Down
Rating: 
4.3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram