Sinopsis & Review Bel Canto, Terjebak di Tengah Penyanderaan

Ditulis oleh Aditya Putra
Bel Canto
3.7
/5

Masalah kadang-kadang datang tanpa bisa diprediksi. Bahkan ketika kita sudah bersikap hati-hati, ia masih saja bisa menimpa. Malahan bukannya nggak mungkin, kita ikut terseret masuk ke dalam sebuah masalah. Padahal kita nggak melakukan apa-apa. Kalau sudah begitu, kita nggak punya pilihan lain selain berupaya mencari solusi.

Masalah bisa muncul karena faktor internal maupun eksternal. Faktor internal relatif bisa diantisipasi dengan melakukan pencegahan. Faktor eksternal menjadi hal yang sulit dikontrol.

Di film Bel Canto, seorang penyanyi opera harus terjebak di tengah penyanderaan. Bagaimana ceritanya? Yuk kita bahas dalam sinopsis dan review filmnya berikut.

Sinopsis

bel-canto-2_
  • Tahun Rilis: 2018
  • Genre: Drama
  • Produksi: A-Line Pictures, Depth of Field, Bloom, Priority Pictures
  • Sutradara: Paul Weitz
  • Pemain: Julianne Moore, Ken Watanabe, Sebastian Koch, Christopher Lambert, Ryo Kase

Roxane Coss adalah seorang penyanyi opera terkenal asal Amerika. Di pertengahan tahun 90-an, dia diundang untuk tampil di sebuah kota kecil di Peru.

Penampilannya itu ditujukan untuk pesta ulang tahun industrialis kaya raya asal Jepang, Katsumi Hosokawa. Pesta itu diselenggarakan perusahaan Peru agar Hosokawa mau membangun pabrik di sana. 

Hosokawa nggak tertarik membangun pabrik di Peru. Dia hanya tertarik menyaksikan opera dan mendengarkan suara Coss. Pesta itu diselenggarakan di mansion mewah milik Wakil Presiden, Ruben Ochoa.

Di antara tamu-tamu yang hadir, ada duta besar Perancis, Simon Thibault bersama istrinya, Edith. Hosokawa membawa penerjemahnya, Gen. Delegasi Rusia, Fyodorov pun turut hadir.

Coss tampil sebagaimana biasanya. Setelah lagu terakhir, tiba-tiba lampu mati. Sekelompok teroris masuk ke ruangan tempat berkumpul para tamu. Kelompok teroris meminta Presiden Peru untuk maju.

Ternyata sang Presiden nggak datang. Para teroris memilih untuk menyandera tamu yang ada setelah tahu rencana mereka meleset. Para teroris meminta tahanan politik di Peru dibebaskan.

Keesokan harinya, perwakilan dari Red Cross, Joachim Messner datang ke lokasi. Messner bertindak sebagai negosiator antara teroris dan pemerintah.

Messner memberi tawaran bahwa teroris akan mendapatkan bantuan berupa makanan dan kebutuhan lain. Sebagai gantinya, mereka harus membebaskan para pekerja, orang-orang yang sakit dan wanita yang disandera.

Para teroris membebaskan para pekerja, orang-orang yang sakit, termasuk seluruh wanita di mansion milik Ochoa. Satu-satunya wanita yang nggak dibebaskan adalah Coss.

Empat bulan sudah penyanderaan berlangsung. Para sandera di mansion Ochoa mulai mengetahui bahwa teroris dipimpin oleh tiga jenderal berbeda. Anak buah mereka kebanyakan adalah anak-anak dan remaja belasan tahun. 

Para sandera nggak juga mendapat kejelasan kapan akan dibebaskan. Coss memutuskan untuk berlatih bernyanyi. Salah satu sandera ternyata bisa bermain piano. Mereka berdua pun berlatih setiap hari. Keindahan suara Coss memukau para sandera dan para teroris. Mereka semua mulai bisa menikmati hidup di mansion Ochoa.

Hosokawa dan Coss mulai menjalin kedekatan. Begitu juga dengan seorang teroris wanita, Carmen yang dekat dengan Watanabe. Hubungan itu tumbuh setelah Watanabe mengajari Carmen cara membaca dan menulis. Mereka khawatir hubungan mereka akan diketahui oleh para jenderal. Alhasil, mereka harus sembunyi-sembunyi ketika bertemu.

Jenderal Benjamin, pemimpin teroris mulai berhubungan baik dengan para sandera. Dia kerap bermain catur bersama Hosokawa dan Ochoa.

Ruben Iglesias, seorang sandera mulai merasa sayang pada salah seorang teroris, Ishmael. Bahkan Iglesias berencana mengadopsi Ishmael. Kedekatan yang terjalin mulai melunakkan para jenderal. Para sandera diizinkan pergi ke wilayah halaman mansion.

Para sandera dan teroris mulai nyaman hidup berdampingan. Satu-satunya yang ingin segera bebas adalah Thibault. Messner yang rutin masuk ke mansion pun merasa teroris ini bukanlah orang-orang yang berbahaya.

Messner mengingatkan para teroris supaya menyerah. Pasalnya, pemerintah sudah mulai muak. Dia khawatir operasi militer akan diterjunkan. Akankah para teroris menyerah?

Perubahan Tone Cukup Drastis

bel-canto-3_

Bel Canto berjalan dengan tempo yang relatif pelan. Hanya ada sedikit momen yang benar-benar dipacu ke titik intens. Kebanyakan momen itu terdapat pada first act.

Pada babak tersebut, para teroris digambarkan sebagai pasukan yang menyeramkan. Mereka berseragam dan bersenjata api. Penampilan mereka cukup mengintimidasi para tamu yang hampir semuanya berasal dari kalangan atas.

Pada second dan third act, perubahan tone sangat terasa. Unsur thriller dalam penyanderaan perlahan-lahan terkikis. Cerita lebih bergerak ke arah drama.

Ada adegan ketika Thibaut ditodong pistol oleh seorang teroris. Thibaut mengatakan bahwa anaknya seusia dengan sang teroris. Cara itulah yang mulai melunakkan para teroris. Terlebih kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan remaja.

Perubahan tone pada film garapan sutradara Paul Weitz ini bukanlah sesuatu yang buruk. Perubahan itu didukung dengan cerita yang cukup kuat. Bahkan pendalaman karakter yang minim pun nggak jadi masalah. Alasannya adalah cerita yang menegangkan bergerak ke arah melodrama yang menyentuh beriringan dengan build up yang kuat.

Dinamika Penyanderaan yang Nggak Biasa

bel-canto-4_

Film-film yang mengangkat cerita penyanderaan biasanya akan sarat dengan adegan-adegan kejam. Bel Canto nggak demikian. Ia memilih untuk menggambarkan para teroris sebagai sosok yang humanis. Anggota teroris yang kebanyakan anak-anak bisa disentuh oleh para sandera yang kebanyakan seusia orang tua mereka. 

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram