bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Asih 2, Berebut Anak dengan Setan

Dokter Sylvia dan sang suami Razan tidak pernah menduga, bahwa anak yang mereka bawa pulang bukanlah anak terlantar. Justru anak yang mereka namai Ana itu, hidup di hutan selama 6 tahun di bawah asuhan seorang hantu.

Teror hantu Asih masih berlanjut, bahkan ia berhasil menculik seorang bayi dan membunuh kedua orang tuanya enam tahun lalu.

Asih 2 (2020) adalah kelanjutan dari film Asih (2018) yang kisahnya masih ditulis oleh Risa Saraswati. Film ini merupakan spin off dari trilogi Danur, yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dan skenarionya ditulis oleh Lele Laila.

Bahkan film ini dibintangi oleh nama-nama terkenal dan berprestasi, sebut saja Marsha Timothy, Ario Bayu hingga Shareefa Daanish.

Lalu seperti apa sih kisah dokter Sylvia dan Razan, untuk mempertahankan keberadaan putri mereka dari hantu Asih. Biar nggak penasaran lagi, kamu bisa membaca sinopsis dan review lengkapnya hanya di bawah ini.

Sinopsis

Review Asih 2

“Kita udah janji, kita akan merawat dia sebagai seorang ayah dan seorang ibu!” -Sylvia

Enam tahun berlalu, seorang anak perempuan tiba-tiba saja berlari keluar dari hutan di malam hari. Gadis kecil itu tidak sengaja tertabrak oleh mobil penduduk dan langsung segera diantar ke rumah sakit.

Saat gadis kecil itu memasuki lobi rumah sakit, di sanalah Dokter Sylvia tidak sengaja melihat anak ini. Di saat yang bersamaan, wanita ini mengingat kembali momen saat ia membawa putrinya ke rumah sakit.

Dokter Sylvia dan sang suami Razan, baru saja kehilangan putri tunggal mereka karena kecelakaan. Saat melihat anak kecil itu, Dokter Sylvia merasa memiliki ikatan yang kuat dengannya.

Melihat kondisi si anak yang dipenuhi luka dan sendirian, Dokter Sylvia mengutarakan ingin mengadopsinya. Ia meminta izin kepada suaminya untuk mengadopsi anak itu dan membawanya tinggal di rumah.

Awalnya Razan merasa enggan, hingga gadis kecil bernama Ana ini benar-benar datang ke rumahnya. Ana yang sangat pendiam dan kesulitan untuk berbicara, memang membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi di rumah barunya. Namun Dokter Sylvia dan Razan tidak memungkiri, bahwa kehadiran Ana di rumah mereka membawa kebahagiaan yang telah hilang.

Tapi yang pasangan muda ini tidak sadari, ternyata mereka tidak hanya membawa pulang Ana kerumahnya. Tapi mereka juga membawa pulang hantu Asih, yang selama ini menjadi ibu Ana.

Selama mengurus putrinya, Dokter Sylvia menemukan bahwa sang putri kerap menggumamkan sebuah lagu. Lewat suster yang bekerja di rumah sakit, Dokter Sylvia mengetahui judul dan lirik lagu Indung-Indung.

Di sisi lain, Ana yang kerap bersenandung menyanyikan lagu itu membuat Emak Ipah kaget, pasalnya lagu tersebut bukanlah lagu biasa.

Setelah beberapa kali melihat perkembangan Ana, Emak Ipah akhirnya mengetahui bahwa Asih selalu ada disekitar anak itu. Tidak hanya Emak Ipah yang menyadari keberadaan Asih, Razan akhirnya bisa melihat sosok hantu itu saat menjaga Ana.

Awalnya Dokter Sylvia berpikir hal yang dikatakan suaminya nonsense, tapi malam itu ia melihat sosok Asih di tempat tidur anaknya. Dokter Sylvia sangat panik, ia berusaha menyelamatkan anaknya hingga Emak Ipah memberitahu siapa Asih sebenarnya.

Harus berhadapan dengan sosok astral, bisakah Dokter Sylvia dan Razan mempertahankan Ana untuk tetap tinggal bersama mereka?

Kualitas Akting Mumpuni, tapi Alurnya Stuck

Kualitas Akting Mumpuni, tapi Alurnya Stuck

Salah satu hal yang membuat Asih 2 (2020) menarik, karena film ini dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris papan atas. Pertama saya ingin memuji konsistensi Shareefa Daanish yang berperan sebagai Asih, bagi saya ia sangat luar biasa.

Tidak perlu memakai makeup prostetik yang menyeramkan, aktris ini tahu apa yang perlu dilakukannya untuk membuat suasana terasa mencekam.

Aura yang dipancarkan oleh Shareefa Daanish di sini jauh lebih mencekam, dibandingkan dengan Asih 1 (2019). Bagi saya sosok Asih disini bukan menyeramkan, tetapi lebih pada memberikan suasana menegangkan karena terornya yang mencekam. Tapi tujuannya bukan untuk mengganggu orang lain, hanya menginginkan anaknya kembali.

Hal ini diimbangi dengan kualitas akting yang luar biasa dari Marsha Timothy dan Ario Bayu. Jelas sekali saya bisa merasakan kemistri mereka sebagai pasangan yang hidup dalam duka dan lara.

Suasana hubungan diantara keduanya terasa dingin, tapi mereka memiliki cinta yang dalam pada satu sama lain. Akting mereka benar-benar sangat natural, membuat saya semakin terenyuh dengan duka mereka.

Sayangnya kualitas akting ini tidak diimbangi dengan kualitas ceritanya, saya merasa Asih 2 (2020) stuck di momen itu-itu saja. Plot mengenai Sylvia dan Razan yang mengadopsi Ana memang jadi kisah yang menarik, tapi ada kisah lain yang seharusnya diangkat dalam film ini.

Bagi saya masa lalu Asih atau Kasih patut untuk diceritakan lebih detail dibanding hanya adegan flashback yang berdurasi 2-3 menit.

Film ini memiliki total durasi 104 menit, lalu kenapa tidak memberikan setidaknya 10 menit hanya untuk mengisahkan kesedihan Kasih. Apa tujuannya pergi ke kota dan siapa yang sudah membuat hidupnya hancur, kisah ini sangat layak untuk diberikan tempat.

Bukan Soal Lagu, Harusnya Trauma Keluarga yang Dinaikkan

Bukan Soal Lagu, Harusnya Trauma Keluarga yang Dinaikkan

Setelah menonton Asih 2 (2020) saya sadar bahwa film ini mengangkat mitos dari lagu Indung Indung yang menjadi mimpi buruk bagi anak-anak jaman dulu.

Di film ini, narasi mengenai lagu ini terus saja diulang-ulang sampai saya merasa sangat bosan mendengarkannya. Mungkin untuk sutradara dan penulis skenario hal ini akan menguatkan ceritanya, tapi bagi saya hal ini sangat membosankan.

Alih-alih ingin mengetahui soal mitos dan asal usul lagu Indung Indung, saya lebih tertarik dengan kisah rumah tangga Sylvia dan Razan. Trauma atas kehilangan anak, sepertinya menjadi cerita yang lebih penting dibandingkan soal lagu. Experience untuk merelakan masa lalu yang pelik, bisa menjadi materi yang lebih seru dan dramatis.

Asih 2 (2020) mungkin akan lebih berkesan, jika film ini menunjukkan bonding yang lebih kuat antara Sylvia, Razan dan Ana. Sebagai pasangan yang bersedih karena kehilangan anaknya, saya membutuhkan scene yang menunjukkan bahwa Ana bukan sekedar pelipur lara.

Tidak ada momen yang menunjukkan bahwa mereka membutuhkan Ana sebagai anak, bukan sebagai penebusan dosa.

Tidak ada alasan yang pasti bagi Sylvia maupun Razan untuk mempertahankan Ana dalam hidup mereka. Dari sudut pandang saya, mereka mencintai Ana karena ingin melepaskan dosa dan mencari pelipur lara pasca kematian anaknya.

Kasih sayang yang mereka tunjukkan kepada Ana, lebih pada penebusan dosa bukan kasih sayang kepada anak secara personal.

Asih dan Kisahnya yang Memilukan

Asih dan Kisahnya yang Memilukan

Setelah menonton Asih 2 (2020), akhirnya saya menyadari bahwa plot mengenai kehidupan Asih seharusnya menjadi plot utama. Dari film pertama hingga kedua, sosok Asih diperlihatkan sebagai hantu jahat yang ingin merebut anak dari orang tuanya. Di sini Asih diceritakan telah berhasil merebut bayi dari pasangan Puspita dan Andi (merujuk pada Asih 1).

Saya berpikir akan lebih baik jika sutradara dan penulis memfokuskan ceritanya pada sosok Asih. Alasannya karena materi mengenai kehidupan Asih di masa lalu memiliki potensi untuk jadi cerita utama yang menarik. Dari cerita yang dikatakan Emak, Asih dulunya dikenal dengan nama Kasih, seorang gadis yang merantau ke kota.

Gadis ini memiliki impian dan cita-cita, yang jelas Kasih ingin mengubah nasib hidupnya. Tujuan ini memang tidak salah, toh pada akhirnya Kasih benar-benar harus mengubah tujuan hidupnya.

Tapi bukan menjadi Kasih yang sukses, justru Kasih yang hidupnya semakin menderita. Saya tidak tahu apakah Kasih diperkosa atau ada alasan lainnya, yang jelas wanita ini terlihat sangat sedih.

Kasih yang awalnya begitu ceria dan mencintai anak-anak, tiba-tiba saja menjadi sosok yang murung pasca mengandung. Kasih ditolak oleh masyarakat, hingga gadis muda ini memutuskan untuk membunuh si anak dan tak lama setelah itu ia ikut bunuh diri. Asih yang tidak rela kehidupannya hancur, berubah menjadi sosok roh yang berusaha mencari anaknya.

Asih 2 (2020) sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu film horor terbaik di tahun 2020. Sayangnya mereka malah melewatkan banyak materi penting, terutama materi soal sosok Asih sendiri.

Padahal secara kualitas gambar, hingga aktingnya sudah sangat bagus, tapi alurnya terlalu monoton dan memfokuskan pada hal yang tidak penting.

Asih 2
Rating: 
3.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram