bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Alrawabi School For Girls (2021)

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 20 Oktober 2021

AlRawabi School For Girls hadir dengan mengusung kisah perundungan sekolah, persahabatan dan persaingan. Tema perundungan bukanlah hal yang baru di dunia film. Untuk kamu yang doyan nonton Dorama, Drakor, Lakorn, Drama China atau bahkan sinetron, tema-tema ini sering kali muncul dan bisa jadi kamu sudah bosan dengan kisah seperti ini.

Saya harus jujur bahwa sejak episode pertama, serial ini sudah menarik perhatian. Serial ini berhasil menghipnotis dengan kisah yang disajikan dalamnya. Tema boleh biasa saja, namun setelah menontonnya, baru kita menyadari kenapa film ini mendapat rating yang tinggi. Nah, berikut ini kami siapkan sinopsis dan ulasan singkat dari AlRawabi School for Girls.

Baca juga: 10 Film India Bertema Sekolah, dari yang Lucu Sampai Sedih

Sinopsis

Sinopsis

Sering kita dengar bahwa masa-masa di SMA adalah masa dimana kita dipenuhi kenangan manis bersama teman-teman, mencoba banyak hal baru yang seru dan menemukan hal lain yang belum pernah dilihatnya.

Tapi nyatanya banyak yang menganggap bahwa masa SMA adalah neraka dan tempat yang sangat ingin dihindari. Boro-boro semangat berangkat ke sekolah. Malam hari sebelum tidur, membayangkan kaki melangkah ke gerbang sekolah yang dipenuhi hal-hal gila saja sudah merasa lelah.

Kisah Mariam (Andria Tayeh) dalam serial yang bertajuk ALRAwabi School for Girls bisa jadi mewakili fakta di lapangan betapa kehidupan remaja SMA tidak semanis yang dikisahkan orang, Di sekolah ini Mariam, si murid teladan, dirundung oleh geng cewek pimpinan Layan (Noor Taher).

Layan dan kedua temannya, Raina (Joanna Arida) dan Ruqayya (Salsabiela A) adalah murid popular di sekolah asrama AlRawabi. Kebetulah Layan juga merupakan putri seorang tokoh ternama di tanah Jordan dan donatur utama di sekolah. Lantaran itulah Mrs Faten (Nadera Emran), kepala sekolah bersikap lunak padanya.

Mariam sering berselisih dengan Layan meskipun kebanyakan Mariam tidak menggubrisnya. Ia lebih suka diam dan tidak menjadi pusat perhatian, sementara Layan selalu ingin jadi nomor 1 dan menjadi pusat perhatian. Ia tidak ingin dikalahkan. Sialnya Mariam selalu menjadi batu sandungan bagi Layan.

Saat pemilihan tim sepak bola, guru olahraga lebih memilih Mariam karena sikap baiknya dibandingkan Layan yang sering meledak-ledak. Hal ini tentu membuat Layan marah besar dan berniat membalas Mariam.

Mariam sendiri adalah anak yang sopan. Sikap dan prestasi di sekolahnya lah yang membuat Mariam disukai oleh guru. Namun, ia juga anak yang kurang percaya diri. Temannya hanya Dina (Yara Mustafa) dan Noaf (Rakeen Saad).

Sementara itu, Layan adalah cewek paling gaul di sekolah, anak orang kaya dan jadi standar kepopularan di AlRawabi. Ia juga mudah bergaul dengan siapa saja. Meskipun temperamental, Layan dikagumi teman-teman lainnya karena dianggap mempunyai kehidupan yang diinginkan tiap gadis.

Perselisihan Mariam dan Layan sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Mariam biasanya membiarkan perbuatan usil Layan dan gengnya. Namun, lama-lama dirundung, tak pelak bikin Mariam meradang. Ia balik membalas Layan dengan cara-cara yang tidak kalah licik.

Dari hari ke hari keusilan Layan pada Mariam semakin menjadi. Layan juga dengan keji mempermalukan Mariam di depan seluruh penghuni sekolah dengan menyebarkan jurnal harian Mariam.

Mariam dan Noaf yang sudah muak dengan keusilan Layan bersekongkol membalas perbuatan Layan, disusul Dina yang juga mau bergabung membantu Mariam memuluskan aksi balas dendamnya.

Perlahan, Mariam mulai menikmati misi balas dendamnya. Ia tidak lagi menjadi anak yang bersikap lembut dan pemaaf. Dendamnya pada Layan membutakan Mariam. Dina dan Noaf berusaha mengingatkan gadis itu untuk berhenti dan tidak keterlaluan.

Alih-alih mendengarkan, Mariam balik membenci Dina dan Noaf yang dianggapnya termakan bujukan Layan sehingga melupakan rasa marah dan dendamnya. Bagian inilah yang membuat kisah perundungan di sekolah asrama AlRawabi berbeda dari kisah dalam serial lain yang pernah diangkat.

Layan yang dibenci malah mendapat empati dari Noaf dan Dina, dan Layan sendiri menemui akhir yang naas ditembak oleh kakaknya, Hazem. Ini adalah twist paling mengejutkan di sepanjang episodenya.

Mariam Si Anak Baik yang Tidak Baik

Mariam Si Anak Baik yang Tidak Baik

Tokoh Mariam sebagai pemeran utama pasti mendapat sorotan. Apalagi ia adalah korban kebrutalan Layan dan teman-temannya. Perundungan yang dilakukan Layan adalah satu dari banyak faktor yang menyebabkan Mariam harus mendapat perawatan psikiater dan mengkonsumsi obat penenang.

Layan memang kejam. Kita semua mengakui itu. Ia juga manipulatif dan tak ragu berbohong untuk mengganggu anak itu. Adegan dimana Layan mengaku dilecehkan Mariam di ruang ganti adalah salah satu dari perbuatan jahat Layan yang bikin penonton ingin menjambak rambut panjangnya.

Bagaimana bisa seorang murid SMA tega memanipulasi temannya sendiri dan menjebaknya seolah dialah korban, padahal ia sendiri pelakunya. Saya yakin kamu akan mengelus dada melihatnya.

Namun, kisah bergulir hingga kita mendapati Mariam disibukan dengan pikiran-pikiran jahatnya demi menuntaskan balas dendam sampai ia rela kehilangan sahabat, Dina dan Noaf. Pertama, Ruqayya berhasil disingkirkan. Gadis itu dijebak Mariam dan Noaf hingga dikeluarkan

Namun, ia tidak puas hanya dengan melihat Ruqayya kalah. Layan dan Raina pun harus merasakan rasa sakit yang ditimbulkan mereka. Dendam telah menyelimuti hati Mariam dan ia telah benar-benar buta.

Tindakan paling gila Mariam adalah membocorkan lokasi Layan saat ia bolos sekolah. Akibat perbuatannya Layan meregang nyawa karena ditembak Hazem yang merasa malu atas perbuatan Layan bolos demi bersama Ahmed, sang pacar.

Di akhir episode ekspresi puas Mariam tergambar jelas. Ia senang melihat Layan kalah, namun ia tidak sadar bahwa rencana jahatnya membuat temannya tewas. Episode terakhir itu memunculkan pertanyaan di benak saya, apakah Mariam sudah berubah menjadi jahat karena dirundung Layan?

Melihat Budaya Jordan

Melihat Budaya Jordan

Melihat detail serial ini, kita tahu bahwa AlRawabi School for Girl dibuat di Jordan. Tapi, saya cukup kaget lantaran banyaknya detail-detail dalam kisahnya yang menyelipkan budaya di negara Arab itu. Beberapa hal dalam kisahnya sangat sangat asing.

Adegan di mana Ruqayya dikecam karena melepas jilbabnya di fotonya adalah hal pertama yang membuat saya berkata, “Oh di Jordan begitu, ya budayanya.” Di Indonesia, seseorang melepas jilbab paling banter dikecam dan disindir. Tapi di sana, tindakan tersebut merupakan sebuah perbuatan hina.

Rupanya, ketika seseorang memutuskan berjilbab, maka selamanya ia tidak boleh melepasnya. Tindakan tersebut dianggap sebuah aib. Hal asing lainnya adalah saat Layan ketahuan bolos dan berada di rumah pacarnya yang membuat kakaknya, Hazem murka.

Saking murkanya Hazem menodongkan pistol pada Layan yang dianggap menodai kehormatan keluarga. Bukan hanya menodongkan pistol, tapi Hazem benar-benar menembak Layan, sementara Ahmed hanya dipukuli.

Dibandingkan dengan budaya di Indonesia, hal itu hampir mustahil terjadi apalagi sampai salah satu keluarga tega menghabisi keluarga lainnya. Namun, rupanya budaya di Jordan lebih kompleks. Dengan menonton serial ini, kita jadi belajar mengenai budaya lain yang terselip di dalam alur cerita.

Menggambarkan Isu Lain yang Terjadi

Menggambarkan Isu Lain yang Terjadi

Selama menonton serial ini, saya merasakan ada yang mengganjal dari isu-isu yang tergambarkan dalam kisah Mariam dan Layan. Meskipun temanya mengangkat kisah perundungan yang terjadi di sekolah, namun ada banyak isu yang diangkat di dalamnya.

Hal ini tergambar pada posisi perempuan di sana. Beberapa kali kita melihat perempuan kerap berada di posisi salah ketika menyangkut sebuah skandal. Kejadian yang menimpa Layan, contohnya. Alih-alih Ahmed yang ‘dihukum’, malah Layan yang dieksekusi padahal ia adalah adik kandungnya sendiri.

Penghinaan yang diterima Ruqayya juga sangat buruk. Ketika ia ketahuan melepas jilbabnya dan mengirimkan foto pada orang asing, ia diibaratkan sebuah gelas retak yang tidak punya nilai lagi dan mencemarkan nama baik keluarga.

Perbuatannya itu pula dianggap menghancurkan kesempatan saudarinya yang lain untuk menikah dan bersosialisasi dengan kolega lainnya. Body shaming pun rupanya merupakan isu yang parah di sana. Murid berbadan gemuk sering diledek.

Sinematografi Cantik dan Jingle yang Enak Didengar

Sinematografi Cantik dan Jingle yang Enak Didengar

Harus saya akui bahwa pengambilan gambar yang menampilkan kota Amman, Jordan begitu mempesona. Rumah-rumah berbentuk kubus berwarna seragam berderet rapi dan membentuk pola cantik. Kelip lampu-lampu di sela-selanya menambah kemolekan kota tersebut.

Karakter warna yang ditonjolkan dalam serial ini pun tidak kalah cantik. Serial ini tampil dengan tone warna pink yang lembut. Warna lembut ini terlihat pada seragam murid-murid AlRawabi yang berwarna pink berpadu dengan rok abu-abu. Toilet kamar mandi pun berwarna pink cerah. 

Dan kamar Dina merupakan tempat yang paling saya sukai di serial ini. Kamar besar berwarna pastel ini menginspirasi saya untuk mendekor kamar saya seperti kamar Dina. Enak dilihat dan bikin betah.

Nah, jingle sekolah AlRawabi ini enak didengar dan terus terngiang di kepala lho. Para murid sekolah ini biasa menyanyikannya sambil berbaris menghadap kepala sekolah. Dari translasi yang saya dapatkan, jingle ini berisi sekolah AlRawabi yang menjunjung tinggi etika, sopan santun dan norma.

Dalam bait selanjutnya, murid AlRawabi digambarkan sebagai murid yang percaya diri, terpelajar, berbudaya dan sukses. meskipun, berkaca pada kasus yang terjadi pada Mariam, Layan dan lainnya, jingle sekolah AlRawabi itu tidak sesuai.

Serial AlRawabi School for Girls ditutup dengan kisah yang mengejutkan. Layan yang tadinya paling dibenci, menunjukkan sikap baik dan empatinya pada teman yang kesusahan. Ini terjadi pada Noaf yang hampir dilecehkan oleh seorang pria asing di kolam renang. Melihat Noaf ketakutan, Layan langsung membelanya padahal ia dan Noaf saling benci.

Persahabatan Raina dan Layan pun sangat solid. Raina mau berkorban demi agar teman-temannya lolos dari hukuman. Layan pun demikian. Beda dengan Mariam-Dina-Noaf yang berkali-kali bertengkar karena ego masing-masing.

Nah, bagi kamu yang sudah menonton serial ini, apakah kamu juga menyukai sinematografi yang tone yang digunakan dan kisah serunya? Kalau iya, tos dulu dong!

Alrawabi School For Girls
Rating: 
3.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram