Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review A Clockwork Orange (1971), Film Kontroversi

Sinopsis & Review A Clockwork Orange (1971), Film Kontroversi

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Di masa depan, seorang pimpinan gang yang sadis ditahan dan menawarkan dirinya untuk sebuah percobaan ilmiah yang tidak berjalan sesuai rencana. Film klasik karya Stanley Kubrick yang kontroversial ini dinominasikan di empat Oscar, termasuk di kategori Best Picture dan Best Director.

A Clockwork Orange merupakan adaptasi dari novel karya Anthony Burgess yang diterbitkan di tahun 1962. Film ini mengandung banyak visualisasi kekerasan, baik secara fisik dan mental.

Saat dirilis, film ini banyak menuai kontroversi dan sempat dilarang tayang di beberapa negara, bahkan di Amerika dan Inggris sendiri. Tetapi setelah direvisi dengan mengurangi unsur kekerasan, film ini bisa tayang di sana.

Kontroversi yang bagaimanakah sehingga film ini sampai dilarang untuk ditayangkan? Dan apa maksud dari cerita yang disajikan? Kami akan ulas film yang menggunakan kombinasi bahasa yang unik ini lebih mendalam.

Sinopsis

Review A Clockwork Orange

  • Tahun: 1971
  • Genre: Crime / Drama / Sci-Fi
  • Produksi: Polaris Productions, Hawk Films
  • Sutradara: Stanley Kubrick
  • Pemeran: Malcolm McDowell, Patrick Magee, Michael Bates

Alex DeLarge (Malcolm McDowell) adalah seorang pimpinan gang sadis yang hidup di Inggris di masa depan. Malam itu, setelah mereka minum-minum di sebuah bar yang menjual minuman sejenis campuran susu dengan narkoba, mereka melakukan berbagai macam kekerasan yang mereka namakan “ultra-violence”.

Dimulai dari berkelahi dengan gang lain yang sedang berusaha memperkosa seorang wanita. Setelah itu, mereka memukul seorang pengemis di bawah jembatan, lalu kebut-kebutan di tepian kota yang membuat banyak pengendara lain celaka.

Kemudian mereka menerobos masuk ke rumah seorang penulis yang lumpuh, Frank Alexander (Patrick Magee), dan memperkosa istrinya sambil menyanyikan lagu “Singin’ in the Rain”. Alex pulang ke rumah ketika pagi.

Di hari itu, dia didatangi oleh seorang polisi yang khawatir akan aktivitasnya dan memberikan Alex peringatan jika ketahuan berbuat kriminal.

Anggota gang Alex, yang dinamakan droogs, menuntut kesamaan hak dengan Alex yang kemudian membuatnya marah dan memukuli rekannya itu. Kemudian, mereka menerobos masuk ke rumah seorang wanita kaya dan Alex memukulnya.

Ketika hendak kabur, teman Alex memukulkan botol ke wajah Alex yang membuatnya pingsan dan ditangkap polisi. Ketika diinterogasi, Alex mendapat informasi dari polisi jika wanita kaya itu tewas yang membuat dirinya didakwa sebagai pembunuh. Kemudian Alex dikirim ke penjara dengan masa tahanan selama 14 tahun.

Selama di penjara, Alex menjadi asisten bagi pendeta yang memberi jalan kepadanya untuk menjadi relawan dalam sebuah percobaan cuci otak agar bisa keluar dari penjara.

Alex akhirnya terpilih untuk diterapi yang diberikan nama Teknik Ludovico. Dalam menjalani terapi ini, Alex diikat di kursi, matanya dibuka dan ditahan dengan sejenis alat agar tidak bisa berkedip.

Selama terapi, Alex diperlihatkan berbagai macam film yang berisi banyak kekerasan dan diiringi lagu yang ternyata adalah lagu favorit Alex, yaitu karya Beethoven. Alex tidak tahan dan meminta untuk berhenti dari terapi. Dua minggu kemudian, Alex dihadirkan di hadapan publik terbatas, untuk memperlihatkan efek dari terapi yang dijalaninya.

Alex dihadapkan oleh dua aktor dan aktris yang berusaha menghinanya tetapi Alex tidak bisa membalas karena tubuhnya menderita kesakitan, bahkan dia tidak mampu untuk menatap aktris yang tampil setengah telanjang.

Karena dianggap berhasil, Alex kemudian dibebaskan dari penjara. Polisi sudah menjual semua barang-barangnya sebagai ganti dari biaya tahanan.

Ketika pulang ke rumah, kamarnya sudah disewakan oleh orang tuanya kepada orang lain. Kemudian dia dipukuli oleh para pengemis yang dulu pernah dia pukuli.

Alex diselamatkan oleh dua orang polisi yang ternyata adalah teman-temannya di gang dahulu. Mereka membawa Alex ke pinggiran kota dan memukulinya hingga nyaris tewas. Setengah tidak sadar, Alex mendatangi sebuah rumah.

Pemilik rumah menampung Alex dan memberikan pengobatan hingga dia sembuh. Ternyata itu adalah rumah milik Frank, penulis lumpuh yang dahulu istrinya pernah dia perkosa. Tetapi Frank tidak mengenalinya dan dia hanya tahu bahwa Alex adalah hasil dari percobaan cuci otak pemerintah yang ditentang olehnya dan kelompoknya.

Frank menghubungi rekan-rekannya dan menceritakan tentang Alex yang bisa dijadikan senjata oleh mereka untuk menyerang pemerintah lewat kebijakannya yang salah. Saat mandi, Alex menyanyikan lagu “Singin’ in the Rain” yang membuat Frank ingat akan kejadian kelam di rumahnya dahulu. Rekan-rekan Frank datang dan mewawancarai Alex.

Alex kemudian pingsan karena makanan yang disantapnya sudah dicampur obat bius. Mereka mengurung Alex di kamar atas dan memutar lagu Beethoven dengan sangat keras.

Karena tidak tahan dengan lagu itu, Alex melompat dari lantai atas dan mengalami luka dan patah tulang yang cukup parah. Alex dirawat di rumah sakit dan dikunjungi oleh Perdana Menteri yang mendukung kesembuhannya.

Selama dirawat, Alex menyadari jika dirinya tidak merasa kesakitan lagi jika mengingat tentang kekerasan dan hal-hal yang berbau seksual. Bahkan Perdana Menteri memberikannya seperangkat sound system yang memainkan lagu Beethoven. Di akhir film, Alex berujar, “I was cured, all right!” sambil kembali melakukan kekerasan dan perilaku seksual.

Dunia Dystopia Penuh Kekerasan

Dunia Dystopia Penuh Kekerasan

Masa depan yang ditampilkan dalam A Clockwork Orange tidak disebutkan di tahun berapa mereka berada. Jika melihat apa yang ditampilkan tidak jauh berbeda dengan kehidupan saat ini, atau pada masa itu, maka bisa disimpulkan jika mereka hidup di dunia dystopia yang penuh dengan perilaku dehumanisasi, seperti berbagai macam kekerasan, pembunuhan, perkosaan, dan sejenisnya.

Alex diceritakan adalah seorang remaja, sekitar usia 17-18 tahun, jika di novelnya usia Alex adalah 14 tahun. Meski masih muda, tetapi dalam melakukan tindak kriminal, Alex dan teman-temannya sangat berani dan terlihat kelewat batas hingga merenggut nyawa orang lain.

Perilakunya inilah yang membuatnya dijebloskan ke penjara yang kemudian memberikan terapi cuci otak kepadanya. Terapi yang dijalani oleh Alex, Teknik Ludovico, membuat pelaku kriminal tidak bisa berbuat kejahatan lagi karena ketika hendak melakukannya tubuhnya akan terasa sakit.

Ada cerita unik dibalik proses syuting untuk terapi ini. McDowell sempat mengalami sakit mata, bahkan nyaris buta, karena peralatan yang digunakan dalam film.

Oleh karena itu, selama proses syuting, McDowell ditemani oleh dokter sungguhan dalam mengoperasikan alat yang diletakkan di matanya, dan selalu meneteskan cairan ke matanya agar tidak kering. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga mata McDowell, terutama korneanya, yang sebelumnya tergores pada saat mencoba alat ini.

Film Penuh Kontroversi

Film Penuh Kontroversi

Banyaknya adegan kekerasan yang ditampilkan secara nyata di film ini, membuat A Clockwork Orange menuai banyak kontroversi, terutama kekerasan seksual.

Dirilis di bioskop Inggris pada bulan Desember 1971, film ditampilkan secara utuh tanpa sensor. Sedangkan untuk perilisan di Amerika, Kubrick harus memotong 30 detik adegan seksual yang eksplisit agar bisa mendapat rating R.

Muncul sebuah kasus di Inggris pada bulan Maret 1972, dimana bocah berusia 14 tahun membunuh teman sekelasnya dan gurunya merujuk kepada penayangan film ini.

Tidak selang berapa lama, muncul lagi kasus pembunuhan yang dilakukan anak usia 16 tahun dimana dia menyatakan kepada polisi jika dia memukul korbannya hingga mati seperti cara yang ditampilkan di film yang sama.

Oleh karena itu, Kubrick menarik filmnya dari penayangan di bioskop pada tahun 1973. Ada beberapa negara yang melarang penayangan film ini. Irlandia baru membolehkan film ini tayang pada tahun 2000. Di Singapura, film ini dicekal dan baru bisa tayang pada tahun 2011 sebagai bagian dari Perspectives Film Festival.

Di Afrika Selatan, film ini dicekal selama pemerintahan rezim apartheid, hingga di tahun 1984 bisa dirilis dengan versi sensor dan hanya bisa ditonton oleh warga yang berusia diatas 21 tahun. Sama halnya dengan pencekalannya di Korea Selatan dan Kanada yang akhirnya memberikan rating R untuk film ini agar bisa tayang di bioskop di negara tersebut.

Salah Satu Karya Masterpiece Stanley Kubrick

Salah Satu Karya Masterpiece Stanley Kubrick

Tidak disangsikan lagi jika Stanley Kubrick adalah salah satu maestro dalam dunia perfilman, dan A Clockwork Orange adalah salah satu masterpiece-nya.

Meski hanya masuk sebagai nominasi di empat kategori Oscar, yaitu Best Picture, Best Director, Best Adapted Screenplay, dan Best Editing, tetap saja film ini layak menyandang status film klasik yang bernilai seni tinggi.

Pesan moral yang ambigu adalah salah satu hal yang unik dari film ini. Perilaku kekerasan dan hedonisme yang dilakukan Alex bukanlah karena mencari keuntungan pribadi, politik, atau hal lainnya, tapi memang karena dia menyukainya.

Dan perilaku ini tidak bisa disembuhkan dari pengaruh luar, sampai harus melewati terapi yang pada akhirnya gagal juga, tetapi memang harus berasal dari dalam diri sendiri.

Meski banyak menampilkan adegan kekerasan yang cukup mengganggu dan jalan cerita yang menguras otak, A Clockwork Orange adalah film yang sangat baik dalam menampilkan mimpi buruk dunia dystopia sebagai efek dari kebobrokan sistem yang ada dan patut untuk dijadikan bahan studi kasus dalam menganalisa sisi psikologis seorang pelaku kriminal seperti dalam diri Alex.

Bersama dengan film karya Kubrick lainnya yang tersedia di Netflix, film ini sangat layak untuk ditonton. Tetapi dengan satu catatan, jangan pernah coba untuk nonton A Clockwork Orange, Full Metal Jacket, dan 2001: A Space Odyssey secara marathon, karena itu akan menguras otak kita secara maksimal untuk memahami dan mencerna makna semua film tersebut.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *