Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review 2001: A Space Odyssey (1968)

Sinopsis dan Review 2001: A Space Odyssey (1968)

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Setelah menemukan sebuah artefak misterius terkubur di bawah permukaan bulan, umat manusia memulai pencarian untuk menemukan asal muasalnya dengan bantuan supercomputer cerdas bernama HAL 9000. Film kolosal legendaris karya Stanley Kubrick ini adalah peraih tiga BAFTA dan satu Oscar sebagai Best Visual Effects.

2001: A Space Odyssey adalah sebuah film science-fiction dengan seting di luar angkasa yang terinspirasi dari cerita pendek berjudul The Sentinel dan beberapa cerpen lainnya karya Arthur C. Clarke yang juga bertindak selaku penulis naskah film ini bersama dengan Stanley Kubrick. Film dengan biaya produksi terbesar pada masanya ini diakui sebagai pionir di genre sci-fi.

Banyak keunikan dan keambiguan yang hadir di film ini. Apa saja hal unik tersebut? Keambiguan seperti apa yang membuat para penonton banyak yang tidak mengerti dan juga lebih banyak yang berspekulasi dengan berbagai teori setelah menonton film ini? Kami akan ulas film klasik ini, sehingga bersama kita mencoba untuk mengerti film yang dibagi menjadi empat segmen ini.

Sinopsis

2001 A Space Odyssey (1968)

  • Tahun: 1968
  • Genre: Adventure / Sci-Fi
  • Produksi: Stanley Kubricks Productions
  • Sutradara: Stanley Kubrick
  • Pemeran: Keir Dullea, Gary Lockwood, William Sylvester

Di zaman pra-sejarah di sebuah padang rumput di Afrika, sekelompok hominid (kera besar/manusia purba) diusir secara paksa oleh kelompok hominid lainnya dari sumber air.

Kemudian mereka menemukan sebuah monolith, yang kemungkinan berasal dari kehidupan alien, membuat mereka menemukan cara menggunakan tulang sebagai senjata dan merebut kembali sumber air dengan alat penemuan tersebut.

Berjuta-juta tahun kemudian, Dr. Heywood Floyd (William Sylvester), melakukan perjalanan menuju Clavius, sebuah stasiun buatan milik Amerika.

Sebelum sampai di sana, mereka melakukan transit sebentar di Space Station 5 dan bertemu dengan beberapa ilmuwan Russia yang sedang membicarakan keanehan yang terjadi di Clavius, yaitu kemungkinan adanya epidemic di stasiun itu.

Setelah selesai mengadakan rapat di Clavius, Dr. Heywood memimpin misi untuk melihat sebuah monolith di dekat salah satu kawah di Bulan yang serupa dengan monolith yang ada di zaman pra-sejarah. Ketika mereka sampai disana, mereka terpapar cahaya matahari dan merusak sinyal radio mereka.

18 bulan kemudian, pesawat luar angkasa milik Amerika melakukan perjalanan menuju Planet Yupiter yang penumpangnya adalah para ilmuwan. Dua ilmuwan mengoperasikan pesawat, yaitu Dr. David Bowman (Keir Dullea) dan Dr. Frank Poole (Gary Lockwood), sedangkan ilmuwan lain tidur di pod masing-masing yang direncanakan akan terbangun saat mereka tiba di Yupiter.

Mereka dibantu oleh supercomputer cerdas bernama HAL 9000. Suatu kali, HAL menemukan kerusakan di antena yang membuat salah satu ilmuwan itu keluar untuk mencabut antena tersebut. Ternyata tidak ada kerusakan dan HAL meminta antena tersebut dipasang kembali sehingga mereka tahu letak kerusakannya. Dua ilmuwan ini mulai curiga dengan HAL.

Mereka melakukan komunikasi dengan pusat dan mendapat informasi mengejutkan jika HAL bisa saja error dan memberikan pernyataan yang salah. Tapi ini ditolak oleh HAL.

Mereka melakukan pembicaraan rahasia di sebuah pod agar tidak didengar oleh HAL, tetapi ternyata HAL membaca gerak bibir mereka. Dr. Frank keluar lagi untuk memasang antena dan ternyata dia didorong oleh HAL.

Oksigen yang digunakan pun terputus dan dia melayang-layang tanpa tujuan di langit hitam luar angkasa. Dr. David langsung masuk ke pod lainnya untuk menyusul Dr. Frank.

Sementara itu, HAL menon-aktifkan alat penopang hidup  para ilmuwan lain yang tertidur. Akibatnya, semua ilmuwan tewas. Dr. David telah menemukan jasad Dr. Frank, namun dia tidak diizinkan kembali ke pesawat oleh HAL.

Akhirnya, Dr. David melepaskan kembali jasad Dr. Frank dan berusaha membuka pintu darurat pesawat. Dia harus merelakan jasad Dr. Frank terombang-ambing di langit luas agar dia bisa masuk ke pesawat kembali secepatnya. Setelah berhasil masuk ke pesawat lewat pintu darurat, Dr. David memutuskan koneksi HAL.

Di Yupiter, Dr. Bowman mengendarai pod untuk mendekati planet tersebut dan melihat sebuah monolith menjadi orbit Yupiter yang kemudian menariknya masuk ke dalam dimensi penuh cahaya.

Kemudian tiba-tiba dia berada di sebuah kamar tidur dan melihat dirinya dalam versi lain sebanyak tiga kali. Dr. Bowman menyentuh monolith yang berada di dekat ranjangnya.

Tiba-tiba dia berubah menjadi sebuah janin bayi manusia yang melayang mendekati Bumi. Film ditutup dengan gambar gelap yang diiringi musik klasik, sama seperti pembukaan film sebelum masuk ke adegan pertama.

Desain Unik Penunjang Visi Jenius

Desain Unik Penunjang Visi Jenius

Stanley Kubrick menghabiskan sebagian besar biaya produksinya untuk menciptakan berbagai seting yang diperlukan untuk menciptakan visi dari otaknya tentang pesawat luar angkasa dan semua hal di sekitarnya.

Kubrick mengambil idenya setelah menonton film dokumenter animasi pendek berjudul Universe (1960) dan To the Moon and Beyond (1964) yang ditayangkan di New York World’s Fair.

Monolith misterius yang mengundang banyak pertanyaan sepanjang film dibuat dari kaca akrilik yang dicat hitam. Proses penciptaan monolith ini cukup banyak mengalami perubahan.

Sebelumnya berbentuk piramida, lalu kemudian menjadi kaca akrilik transparan yang pipih. Karena tidak puas dengan tampilannya, art director Anthony Masters mencatnya berwarna hitam tebal.

Lalu pesawat Discovery One dan set memutar diciptakan dengan sangat teliti dan dibuat dalam ukuran yang besar. Dan tentunya efek anti-gravitasi yang harus ada di dalam film dengan seting luar angkasa seperti ini.

Dan yang tidak kalah penting adalah adegan “Star Gate”, dimana mereka menggunakan optical printer untuk menciptakan efek lampu-lampu berjalan yang memusingkan kepala.

Semua visual effects ini dibuat di zaman yang masih jauh dari perkembangan teknologi komputer seperti saat ini. Tim produksi memang harus membangun berbagai macam seting dalam skala raksasa dengan tingkat kedetailan yang tinggi.

Jadi wajar saja jika kemudian film ini menjadi pionir di genre fiksi ilmiah yang mengharuskan adanya perangkat canggih yang lebih maju daripada zamannya.

Spekulasi Nan Ambigu

Spekulasi Nan Ambigu

Setelah selesai menonton film dengan durasi 2 jam 29 menit ini, kita pasti akan dibuat bertanya-tanya tentang maksud yang ingin disampaikan oleh film ini.

Menemukan korelasi antara empat ceritanya saja kita masih bingung, ditambah lagi dengan berbagai adegan yang minim dialog dengan iringan musik klasik, banyak visualisasi menakjubkan yang aneh dan ditutup dengan adegan yang sulit dimengerti.

Sudah pusing dan siap menenggak obat sakit kepala? Tahan dulu! Mari kita coba telaah dari beberapa spekulasi teori para moviegoers yang sama pusingnya dengan kita.

Paling sedikitnya ada dua teori yang saling bertentangan, yaitu musibah besar yang mendera alam semesta dan harapan baru pada umat manusia. Kedua teori ini coba disimpulkan dari adegan akhir dimana janin bayi mendekati Bumi.

Teori pertama menyatakan jika kedatangan janin bayi tersebut menyebabkan kehancuran alam semesta, Bumi pada khususnya. Sedangkan teori kedua menyatakan jika kedatangan janin bayi tersebut membawa harapan baru bagi umat manusia. Menurut ahli teologi, semua teori ini tidak berdasarkan dari agama dan dianggap masuk ke ranah atheis dan materialisme.

Sebegitu beratnya kah filosofi film ini? Jawabannya, iya! Bahkan Stanley Kubrick sendiri enggan untuk memberikan pernyataan demi meluruskan berbagai spekulasi yang timbul atas maksud cerita dalam salah satu karya masterpiece-nya ini.

Beberapa pertanyaan pun tidak berhasil kita temukan jawabannya hingga akhir film, antara lain asal usul monolith, sebab HAL menjadi jahat dan nasib Dr. Bowman sebenarnya.

Maksimasi Eksplorasi Pikiran

Maksimasi Eksplorasi Pikiran

2001: A Space Odyssey bukanlah film sci-fi di kelas mainstream, tetapi lebih mendekati eksperimen seni dalam audio-visual yang menguras kerja otak secara maksimal (antara mencoba mengerti dan menjadi tidak mengerti), dengan keunikan sinema era akhir 1960an, menjadikan film ini sangat berpengaruh bagi genre sci-fi di masa setelahnya.

Bagi kalian yang siap untuk menontonnya, bisa simak film klasik ini di layar Netflix. Sekadar himbauan, jangan menonton secara berturut-turut film-film karya Stanley Kubrick lainnya yang tersedia di Netflix, yaitu A Clockwork Orange dan Full Metal Jacket, kecuali kalian siap untuk sakit kepala dalam kadar yang tinggi karena keunikan dan keanehan presentasi filmnya. Apalagi tidak tersedia subtitle Indonesianya!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *