Bacaterus / Vegetarian / Vegan vs Vegetarian, Apa Perbedaannya? Cari Tahu di Sini!

Vegan vs Vegetarian, Apa Perbedaannya? Cari Tahu di Sini!

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Di masa sekarang ini, semakin banyak orang yang peduli dengan apa yang mereka konsumsi, yang memicu peningkatan kebutuhan makanan sehat berbasis nabati di pasaran. Jika dibandingkan antara tahun 2000-an dan sekarang, konsumsi susu sapi atau pun mamalia lainnya turun sebanyak 24% di Amerika.

Sedangkan susu dari tanaman atau kacang-kacangan seperti susu almond, susu gandum, susu kedelai dll, meningkat hingga lebih dari 60%. Begitu pula dengan konsumsi daging vegetarian yaitu ‘daging’ berbasis tanaman, meningkat 60% daripada sebelumnya.

Kenapa Orang Memilih Jadi Vegan/Vegetarian?

* sumber: www.peta.org

Well, ada banyak alasan untuk beralih ke diet (pola makan) nabati. Diet whole-food dan plant-based sering dikaitkan dengan pengurangan risiko beberapa kondisi kronis seperti penyakit jantung, kanker, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan penurunan kognitif.

Karena makanan berbasis tanaman tidak mengandung lemak setinggi makanan berbasis hewani, biasanya para penganutnya bisa mendapatkan berat badan yang lebih rendah.

Beberapa orang juga memiliki rasa empati tentang hewan yang digunakan untuk produksi makanan, sebagai makanan, dan dampaknya juga terhadap lingkungan. Karena, semakin banyak kita makan hewan, tentunya itu akan berpengaruh pada bumi kita tercinta, kan?

Sebenarnya tidak ada satu definisi yang sahih akan diet plant-based. Tapi, sebagian besar ahli sepakat bahwa artinya adalah mengonsumsi tanaman sebagai makanan utama, meskipun protein hewani juga sekali-sekali dimakan dalam porsi besar ataupun kecil.

Namun, ada dua versi spesifik dari diet pola makan nabati, yaitu vegetarianisme dan veganisme. Jadi apa perbedaan di antara vegan dan vegetarian? Kenali lebih dalam tentang vegan dan vegetarian bersama Bacaterus, yuk!

Vegan

* sumber: www.veganfoodandliving.com

Veganisme, atau vegan, tidak mengonsumsi semua makanan hewani. Artinya, tidak ada daging, unggas, makanan laut, telur, susu, atau bahan apa pun yang berasal dari sumber hewani, termasuk madu dan gelatin.

Veganisme umumnya meluas ke gaya hidup yang melibatkan tidak menggunakan bahan apa pun yang berasal dari hewan, termasuk kulit, bulu, wol, dan sutra. Produk rumah tangga, seperti kosmetik dan sabun, juga dihindari jika itu dibuat dengan atau diuji pada hewan.

Apakah menjadi vegan = sehat? Secara nutrisi, menghilangkan banyak sumber makanan hewani menjadikan sulit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tertentu, seperti vitamin D dan B12, zat besi, seng, dan kalsium.

Namun, sangat mungkin untuk mendapatkan semua nutrisi yang diperlukan dalam diet vegan jika Anda memiliki pengetahuan tentang makanan nabati mana yang mengandung nutrisi penting, dan bagaimana cara menambahkannya dengan benar pada kudapan Anda.

Jika Anda seorang vegan atau berpikir untuk menjadi vegan, konsultasikan dengan RD alias registered dietitian (ahli diet terdaftar, atau singkatnya ahli gizi) yang berspesialisasi dalam diet vegan. Atau, paling tidak, baca buku-buku tentang vegan yang ditulis oleh ahli gizi, bukan oleh artis atau influencer karena belum tentu ilmunya benar.

Jika berbicara tentang kesehatan, diet plant-based (pola makan nabati) adalah yang terbaik, memang. Para peneliti dalam The Journal of Nutrition mengemukakan bahwa vegan memiliki tingkat lemak sehat, antioksidan, dan senyawa antiinflamasi yang lebih tinggi di dalam tubuh mereka daripada non-vegetarian.

Hal ini terjadi (kemungkinan) karena mereka mengonsumsi lebih banyak makanan nabati utuh dan produk berbasis nabati lainnya.

Vegetarian

* sumber: bojongourmet.com

Vegetarianism, singkatnya vegetarian, berarti tidak mengonsumsi daging, unggas, atau makanan laut. Tapi, telur dan/atau susu biasanya masih masuk dalam diet vegetarian. Vegetarian adalah istilah umum, dan bisa dipersempit lagi menjadi beberapa macam.

Orang yang makan telur sebagai satu-satunya protein hewani mereka disebut ovo-vegetarian. Orang yang mengizinkan produk susu dalam diet mereka adalah vegetarian-lacto. Orang yang makan telur dan susu dipanggil lacto-ovo-vegetarian. Kata ovo dan lacto sendiri merupakan bahasa Latin untuk susu dan telur.

Lalu, ada istilah pescatarian atau pesco vegetarian, yaitu orang yang makan ikan dan makanan laut lainnya, tapi tidak memakan daging atau unggas. Meskipun, pescatarian pada umumnya tidak dianggap sebagai bagian dari komunitas inti vegetarian karena mereka masih makan hewan. Untuk jenis-jenis vegetarian selengkapnya, bisa Anda baca pada artikel 9 Tipe Vegetarian.

Mana yang Paling Sehat?

* sumber: thevegandatabase.com

Jadi, setelah mengenal apa itu vegan dan vegetarian, akan muncul pertanyaan baru: manakah yang lebih baik? Menurut sebuah laporan dari Akademi Nutrisi dan Dietetik, serta dari beberapa ulasan ilmiah, diet vegetarian dan vegan dianggap sesuai untuk semua tahap kehidupan. Selama, diet tersebut direncanakan dengan baik

Sayangnya, asupan nutrisi yang tidak mencukupi seperti asam lemak omega-3, kalsium, vitamin D dan B12 dapat berdampak negatif pada berbagai aspek kesehatan, termasuk kesehatan mental dan fisik.

Baik vegetarian dan vegan mungkin memiliki asupan nutrisi yang lebih rendah. Ada lagi penelitian menunjukkan bahwa vegetarian cenderung mengonsumsi kalsium dan vitamin B12 sedikit lebih banyak daripada vegan.

Sehingga, baik vegetarian maupun vegan harus memberikan perhatian khusus pada strategi nutrisi yang dikonsumsi untuk meningkatkan penyerapan nutrisi dari makanan nabati yang menjadi diet mereka. Anda mungkin juga memerlukan makanan dan suplemen tertentu, terutama yang mengandung nutrisi seperti zat besi, kalsium, omega-3 dan vitamin D dan B12.

Beberapa penelitian yang secara langsung membandingkan pola makan vegetarian dan vegan melaporkan bahwa vegan mungkin memiliki risiko yang agak lebih rendah terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung dan berbagai jenis kanker daripada vegetarian.

Selain itu, vegan cenderung memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah daripada vegetarian. Dan, pertambahan berat badan seiring bertambahnya usia pun lebih sedikit dibandingkan vegetarian. Well, sebagian besar studi sejauh ini bersifat observasional. Ini berarti tidak ada aspek yang tepat. Bisa saja hasilnya berbeda-beda tergantung individu.

Vegan tidak makan produk hewani. Sementara vegetarian tidak makan hewani, tetapi mungkin memakan produk yang berasal dari mereka (seperti susu dan telur). Orang-orang biasanya memilih diet ini karena masalah kesehatan, pembatasan agama atau masalah moral tentang melukai hewan.

Kesimpulannya, vegetarian dan vegan harus sangat mempertimbangkan asupan nutrisi harian mereka, mengukur kadar nutrisi darah mereka, dan mengambil suplemen yang sesuai (jika diperlukan dan disarankan ahli gizi). Tapi, kalau Anda mau mencoba menjadi seorang vegetarian, bisa coba beberapa tipsnya di artikel ini.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *