Bacaterus / Kelinci / Inilah 6 Jenis Penyakit yang Umum Terjadi Pada Kelinci

Inilah 6 Jenis Penyakit yang Umum Terjadi Pada Kelinci

Ditulis oleh - Diperbaharui 16 Juli 2019

Kelinci adalah salah satu jenis hewan lucu yang banyak dipelihara orang. Meskipun memeliharanya tergolong mudah, kelinci cukup rentan terhadap beberapa penyakit yang bisa mematikan. Misal jika tidak menerima cukup banyak asupan makanan berserat, gigi kelinci akan tumbuh berlebihan hingga melukai mulutnya. Akhirnya mereka tidak bisa makan dan kehilangan nyawanya.

Tidak hanya akibat makanan, penyakit kelinci juga bisa disebabkan oleh virus, baik ditularkan oleh kelinci lain atau hewan-hewan kecil seperti nyamuk dan kutu. Meskipun berpotensi terjadi, hal ini dapat dicegah dengan pola hidup kelinci yang baik. Tentu saja campur tangan pemilik sangat dibutuhkan agar hewan peliharaannya baik-baik saja.

Di antaranya banyaknya penyakit yang bisa menyerang kelinci, di bawah ini adalah 6 jenis penyakit pada kelinci yang paling umum menyerang hewan lucu tersebut.

1. Gigi yang Tumbuh Berlebihan

* sumber: commons.wikimedia.org

Kelinci adalah salah satu hewan yang giginya akan terus tumbuh sepanjang hidup mereka. Oleh karena itu, potensi tumbuhnya gigi yang berlebihan bisa mereka alami jika mereka tidak terus-menerus menggertakkan gigi-giginya dengan memakan makanan yang kaya akan serat.

Penyakit seperti ini bisa sangat menyiksa bagi kelinci karena gigi molar mereka dapat tumbuh membentuk paku tajam yang melukai pipi dan lidah hewan lucu ini. Hal ini tentu saja menyebabkan rasa sakit yang membuat mereka enggan atau tidak makan sama sekali.

Selain itu, gigi seri di bagian depan mulut kelinci juga dapat tumbuh melengkung yang berarti mereka tidak bisa menutup mulut atau makan sama sekali. Begitu kelinci berhenti makan maka ususnya berhenti bekerja dan mereka bisa mati.

Bagaimana agar hal ini tidak terjadi pada kelinci kesayangan? Anda pastinya harus memperhatikan sumber makanan mereka. 80-90% dari makanan kelinci Anda harus berupa serat dalam bentuk rumput atau jerami. Sisanya Anda dapat memberi makan mereka dengan sayuran berdaun hijau dan pelet.

2. Pasteurellosis

* sumber: dora.missouri.edu

Jenis penyakit ini dapat membuat kelinci mengalami mata berair, hidung berair, dan sering bersin. Pasteurellosis biasanya disebabkan oleh infeksi pada saluran air mata dan sinus hidung kelinci. Gejala-gejala seperti ini juga dapat dialami oleh kelinci karena hal lainnya, seperti penyakit pernafasan, masalah gigi, hingga kandang yang berventilasi buruk.

Infeksi kelinci seperti ini biasanya disebabkan oleh bakteri pasteurella multocida (bisa karena tertular dari kelinci lain atau sudah tumbuh di dalam tubuh kelinci). Jika tidak segera diobati, infeksi ini dapat mengakibatkan abses, kebutaan, dan dapat menyebar ke telinga, mata, organ reproduksi kelinci dan organ lainnya.

Jika kelinci Anda menderita penyakit ini, segera bawa mereka ke dokter hewan untuk mendapatkan pengobatan. Saat proses perawatan, sangat penting untuk menjaga lingkungan mereka tetap bersih dan bebas dari kontaminasi agar infeksi tidak semakin memburuk.

3. Bola Rambut (Trichobezoars)

Bola rambut kelinci
* sumber: www.brookvets.co.uk

Ternyata kelinci juga sering mengalami bola rambut seperti kucing. Hal ini bisa terjadi karena aktivitas grooming yang mereka lakukan sendiri. Sayangnya kelinci berbeda dengan kucing. Hewan ini tidak dapat memuntahkan bola rambut yang berada di dalam perut mereka. Alhasil bola rambut tersebut harus mereka keluarkan melewati usus.

Jika kelinci tidak dapat mengeluarkannya, maka hal itu akan menjadi semacam penghalang atau penyumbat dalam saluran pencernaan dan bisa menyebabkan komplikasi serius. Kelinci yang mengalami masalah seperti ini biasanya akan terlihat lesu dan tidak makan. Agar hal ini dapat dicegah, pastikan kelinci Anda mengkonsumsi cukup makanan berserat tinggi.

Bagaimana jika masalah bola rambut pada kelinci sudah masuk tingkat yang serius (menyebabkan penyumbatan di usus)? Operasi bisa jadi langkah pengobatan yang paling baik, tetapi memberikan kelinci Anda obat pelancar saluran pencernaan (khusus kelinci) juga bisa membantu.

4. Tumor Uterus

* sumber: pixabay.com

Adenokarsinoma uterus, sejenis tumor ganas mirip kelenjar yang muncul dari jaringan sekretori yang melapisi rongga dalam rahim, adalah salah satu bentuk kanker yang paling umum pada kelinci. Hal ini umumnya terjadi pada 60 persen kelinci betina yang berusia di atas tiga tahun. Tumor uterus ganas ini biasanya timbul dari lapisan endometrium uterus, atau dari lapisan dalam rahim.

Seringkali kanker rahim terbentuk setelah kelinci mengalami masalah reproduksi lain di dalam rahimnya, termasuk endometriosis, yaitu suatu kondisi menyakitkan yang menyebabkan pertumbuhan berlebih jaringan di dalam rahim dan organ reproduksi.

Usia bisa menjadi faktor utama terjadinya kondisi seperti ini pada kelinci. Selain itu, tumor juga dapat ditemukan bersamaan dengan kondisi lain, termasuk vena yang menggembung di lapisan endometrium, suatu kondisi yang juga disebut sebagai aneurisma vena.

Beberapa tanda klinis yang muncul ketika seekor kelinci memiliki tumor uterus adalah keputihan yang ternoda darah, perilaku agresif, kista kelenjar susu dan kelesuan. Pengobatan utama untuk penyakit kelinci yang ini adalah mengangkat bagian yang sakit pada organ kelinci, terutama jika kanker belum menyebar ke luar organ reproduksi.

5. Miksomatosis

Seekor kelinci terkena miksomatosis.
*Sumber: https://www.flickr.com/photos/seattlecamera/

Menurut Wikipedia, miksomatosis adalah penyakit yang menyerang kelinci dan disebabkan oleh virus myxoma. Kelinci yang terserang penyakit ini mengalami tumor kulit, dan kadang-kadang ada pula yang menjadi buta, dan setelah itu timbul gejala lelah dan demam. Kelinci yang terserang penyakit ini biasanya mati dalam waktu 14 hari.

Virus myxoma ini dapat ditularkan oleh nyamuk, kutu atau kelinci lain yang sudah terinfeksi dengannya. Karena belum tersedia obat untuk penyakit ini, Anda dapat melakukan pencegahan agar hal ini tidak terjadi pada kelinci peliharaan Anda, seperti membuat kandang kelinci anti nyamuk dan mengontrol pertumbuhan kutu kelinci.

Tersedia juga vaksin untuk perawatan kelinci peliharaan agar kebal terhadap penyakit ini. Hanya saja belum diketahui apakah hal ini tersedia dan boleh dipakai di Indonesia atau belum. Sebagai informasi, vaksin ini tidak boleh digunakan di Australia agar populasi kelinci di negara ini dapat terkontrol.

6. Virus Penyakit Pendarahan Kelinci

Calicivirus
*Sumber: https://www.flickr.com/photos/ajc1/

Virus penyakit pendarahan kelinci (sebelumnya dikenal dengan sebutan calicivirus kelinci) ini disebarkan oleh nyamuk, lalat dan / atau melalui kontak tidak langsung atau langsung dengan kelinci yang terinfeksi. Pada kebanyakan kelinci dewasa, penyakit ini berkembang dengan cepat dari demam dan kelesuan menjadi kematian mendadak dalam 48-72 jam infeksi.

Beberapa tanda klinis yang muncul pada kelinci yang terinfeksi antara lain seperti nafsu makan yang buruk, gelisah, lesu, dan demam. Penyakit ini menyebabkan kerusakan hati akut dengan kelainan pembekuan darah yang terjadi. Penyakit ini bisa berakibat fatal karena terhambatnya pasokan darah di organ vital dan / atau perdarahan internal.

Vaksinasi merupakan pencegahan yang dapat dilakukan agar kelinci terlindungi dari virus ini (setiap 6 bulan untuk kelinci dewasa dan mulai dari usia empat minggu diulang setiap bulan sampai 12 minggu dan kemudian setiap enam bulan untuk anak-anak kelinci). Informasi lebih lengkap mengenai penyakit kelinci yang ini dapat Anda baca di sini.

Nah, itulah beberapa penyakit yang paling umum menyerang kelinci. Jika kelinci Anda terserang oleh salah satu penyakit di atas, segera datangi dokter hewan untuk mendapatkan pengobatan. Pencegahan sangat penting dilakukan agar kelinci peliharaan Anda dapat bebas dari penyakit-penyakit di atas.

Selain itu, Anda juga perlu tahu beberapa makanan yang memang tidak boleh dikonsumsi. Hal tersebut juga akan memengaruhi faktor kesehatan pada kelinci. Untuk mengetahui makanan yang dilarang, Anda bisa cek artikel 10 Makanan yang Tidak Boleh Dimakan Kelinci ini.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar