Bacaterus / Cerpen / 10 Penulis Cerita Pendek Paling Terkenal di Indonesia

10 Penulis Cerita Pendek Paling Terkenal di Indonesia

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Cerita pendek atau biasa disingkat dengan cerpen merupakan salat satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa naratif fiktif. Biasanya, cerpen cenderung padat dan langsung pada tujuan atau penyelesaian sebuah masalah dalam cerita. Hal tersebut tentu berbeda dengan novel yang merupakan cerita fiksi yang lebih panjang.

Di Indonesia sendiri, cerpen mulai terkenal sejak sekitar pada tahun 1936. Perkembangan sastra di Indonesia ditandai dengan adanya kemunculan pantun, fabel, dongeng, legenda, dan sebagainya.

Ada beberapa cerpen paling terkenal di Indonesia dan melegenda hingga saat ini, ialah Si Kancil, Bawang Merah Bawang Putih, dan Keong Mas. Enggak cuma cerita-ceritanya saja yang melegenda. Ternyata banyak juga penulis cerpen Indonesia yang berbakat dan terkenal. Ada siapa saja, ya? Yuk, disimak!

1. Chairil Gibran Ramadhan

Chairil Gibran Ramadhan

* sumber: difanews.com

Chairil Gibran Ramadhan atau dikenal dengan sebutan CGR merupakan seorang pria kelahiran Jakarta pada 11 September 1972, dan sudah menggeluti bidang sastra sejak tahun 1996. Berbagai karya CGR sudah tidak perlu diragukan lagi.

Berkat kepiawaiannya dalam menulis cerpen, karya-karyanya pun dimuat dalam majalah dan surat kabar ternama, sebut saja Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Republika, The Jakarta Post, dan masih banyak lagi.

Cerpen terbaik dari CGR ialah berjudul Sebelas Colen di Malam Lebaran. Enggak hanya itu, CGR juga menerbitkan berbagai buku yang berisi kumpulan cerpen-cerpennya, salah satunya yakni Ibu Kota Keberaksaraan tahun 2011 dengan nuansa Betawi.

2. Asma Nadia

Asma Nadia

* sumber: iwp.uiowa.edu

Dikenal sebagai pendiri Forum Lingkar Pena dan manajer Asma Nadia Publishing House, Asma Nadia mengawali kariernya sebagai cerpenis. Berawal dari situ, perempuan kelahiran 26 Maret 1972 ini sudah memiliki banyak sekali karya, baik itu cerpen maupun novel. Mulai dari Cinta Laki-laki Biasa, Sepotong Cinta Dalam Diam, Menanti Bangau Lewat, Menganyam Kesabaran, dan Aku Ingin Menjadi Istrimu adalah kumpulan cerpen terkenal Asma.

Kini, karier Asma semakin melambung tinggi, tak tanggung-tanggung, banyak karyanya yang sudah diangkat ke layar lebar dan dinikmati oleh para penggemar setianya.

3. Hamsad Rangkuti

Hamsad Rangkuti

* sumber: klipingsastra.com

Sebuah karya terbaik berjudul Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu merupakan cerita pendek terkenal seorang sastrawan legenda, Hamsad Rangkuti. Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara ini sudah berpulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa pada Agustus 2018 lalu.

Meskipun begitu, karya-karya Hamsad masih tetap dinikmati oleh para pembaca setianya, dan melegenda hingga saat ini. Enggak hanya itu, cerita pendek Hamsad lainnya berjudul Sampah Bulan Desember, Lukisan Perkawinan, dan Cemara juga melekat pada dirinya.

Berkat kemahirannya menulis cerpen, Hamsad mendapatkan banyak penghargaan, antara lain Penghargaan Sastra Pusat Bahasa tahun 2011, Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka tahun 2011, dan Penghargaan Anugerah Kebudayaan, serta Penghargaan Mestro Seni Tradisi di tahun 2014.

4. A.S. Laksana

A.S. Laksana

* sumber: www.konfrontasi.com

Pria asal Semarang, Jawa Tengah ini merupakan lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan telah menulis banyak cerpen serta buku yang kemudian diterbitkan ke berbagai media ternama di Indonesia.

Dia adalah A.S. Laksana. Salah satu karyanya berjudul Bidadari yang Mengembara berhasil terpilih sebagai buku sastra terbaik tahun 2014 versi Majalah Tempo. Mulai dari situlah, nama A.S. Laksana semakin dikenal di dunia kesusastraan.

Laksana yang pernah menjadi wartawan di beberapa media ini juga memiliki satu cerpen terkenal lainnya, yakni Murjangkung yang ditulisnya tahun 2013.

5. Triyanto Triwikromo

Triyanto Triwikromo

* sumber: www.grasindo.id

Enggak hanya dikenal sebagai Redaktur Pelaksana Sastra Harian Umum Suara Merdeka, dan Dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra di Universitas Diponegoro Semarang, Triyanto Triwikromo juga dikenal sebagai seorang sastrawan.

Karyanya berjudul Anak-anak Mengasah Pisau, Sayap Anjing, Malam Sepasang Lampion, hingga Surga Sungsang, menjadi koleksi cerpen Triyanto. Bahkan cerpen berjudul Anak-anak Mengasah Pisau mendapat respon positif dari pelukis handal Yuswantoro Adi, dan kemudian dituangkan menjadi sebuah lukisan hingga lagu, teater, dan sinetron.

6. Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa

* sumber: pojoksatu.id

Helvy Tiana Rosa merupakan kakak dari Asma Nadia yang juga menggeluti bidang sastra. Perempuan kelahiran Medan ini juga menghasilkan banyak sastra mulai dari puisi, esai, novel, hingga cerpen. Enggak hanya itu, Helvy juga dikenal sebagai pendiri Forum Lingkar Pena, Teater Bening, dan turut membesarkan Majalah Annida.

Dalam perjalanan kariernya, sebuah cerpen berjudul Ketika Mas Gagah Pergi berhasil menginspirasi banyak orang untuk menemukan hidayah, dan berhijrah ke jalan yang benar.

Berkat karya-karyanya, Helvy mendapat banyak sekali penghargaan baik di dalam maupun luar negeri, salah satunya ialah sebagai The World’s Most 500 Influential Muslims, Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan pada 2019 lalu

7. Danarto

Danarto

* sumber: alif.id

Sebagai seorang cerpenis asal Sragen, Jawa Tengah, Danarto memiliki banyak kumpulan cerpen terbaiknya, sebut saja Godlob yang ditulis pada tahun 1975 silam.

Kepiawaian menulis yang didapatnya tidak serta merta sebuah hal yang instan, Danarto pernah mengikuti program menulis di Kyoto Jepang, demi mengasah kemampuan menulisnya agar lebih baik lagi. Cerpen hasil karyanya, yakni Adam Ma’Rifat, Berhala, Setangkai Melati di Sayap Jibril, dan Rintik.

8. A.A. Navis

A.A. Navis

* sumber: tirto.id

A.A. Navis seorang sastrawan terkenal asal Padang Panjang ini telah berpulang pada Maret 2003 lalu di umur 78 tahun. Karya-karya Navis sangat melegenda hingga saat ini di kalangan sastrawan.

Robohnya Surau Kami merupakan salah satu cerpen terbaik Navis, yang juga digunakan pada kurikulum pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.

Enggak hanya itu, Navis juga mempunyai kumpulan cerpen lainnya, yaitu Bertanya Kerbau Pada Pedati, Kabut Negeri Si Dali, Hujan Panas dan Kabut Muslim, Jodoh, Bianglala, dan masih banyak lagi.

9. Ifa Avianty

Ifa Avianty

Ifa Avianty merupakan seorang perempuan muslim yang lahir di Jakarta pada 21 Mei 1970, dan merupakan penggiat literatur Islami. Karya-karyanya sudah banyak diterbitkan dalam majalah-majalah Islami, seperti UMMI dan Annida.

Gaya bahasa yang digunakan Ifa cenderung kering, kocak, dan menggunakan latar belakang modern. Namun, tetap tidak meninggalkan idealisme islamnya. Saat membaca karya Ifa, kamu akan merasakan nuansa Islam yang bagus, dan berimbang.

Beberapa karyanya ialah Cinta Semusim, Mencari Belahan Jiwa, Ranu, Daun Kamboja Luruh Satu-Satu, dan masih banyak lagi.

10. Putu Wijaya

Putu Wijaya

* sumber: www.brilio.net

Sebagai seorang seniman, Putu Wijaya enggak hanya menggeluti satu bidang saja. Mulai dari penulis, pelukis, hingga penulis skenario sinetron dan film pun Putu lakoni. Putu memang dikenal sebagai penulis yang produktif karya banyaknya hasil karya Putu.

Ada sekitar 18 cerpen pernah ditulis Putu sejak tahun 1978 silam. Kumpulan cerpen populernya yakni, Bom tahun 1978, Es Campur ­tahun 1980, Gres tahun 1982, Zig Zag tahun 1996, Peradilan Rakyat tahun 2006, dan masih banyak lainnya.

Berbagai penghargaan pun diterima oleh Putu, baik dari dalam maupun luar negeri, salah satunya yaitu Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang tahun 1992.

Itulah tadi tokoh-tokoh cerpen terkenal di Indonesia yang karyanya sudah tidak bisa diragukan lagi. Berkat karya-karya mereka membuat perkembangan cerpen semakin dikenal masyarakat luas. Tentunya hal ini juga menunjukan bahwa anak-anak bangsa Indonesia mampu untuk berprestasi di dalam maupun luar negeri.

Walaupun beberapa para cerpenis terkenal Indonesia sudah tiada namun karyanya tetap melekat dan dinikmati oleh para pembaca setia. Baca juga artikel unsur ekstrinsik cerpen ini jika kamu ingin mulai menulis cerpen yang bagus,

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *