bacaterus web banner retina

10 Pamali Adat Sunda dan Ajaran yang Terkandung di Dalamnya

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 11 Agustus 2021

Sejak zaman dahulu, dalam budaya Sunda kita mengenal banyak ucapan atau perilaku yang dilarang. Sesuatu yang bersifat tabu di dalam adat Sunda disebut dengan pamali. Kebiasaan ini erat kaitannya dengan prinsip orang Sunda pada umumnya, yaitu tarapti (tertib), siloka (tidak membuat orang tersinggung), someah (berperilaku sopan terhadap orang lain) dan handap asor (merendah).

Meskipun sebagian ada yang berpendapat bahwa pamali hanyalah mitos belaka untuk menakut-nakuti anak agar nurut terhadap orang tua. Namun jika ditelisik lebih dalam sebenarnya pamali bertujuan untuk kebaikan yang ada hubungannya dengan sebab akibat. Kira-kira perbuatan apa saja yang termasuk pamali di adat Sunda? Informasi serunya akan kami paparkan di bawah ini.

1. Ulah Kaluar Imah Sareupna

10 Pamali Adat Sunda dan Ajaran yang Terkandung di Dalamnya 1Sumber: nohat.cc

Perbuatan pamali yang pertama ini bermakna jangan keluar rumah saat petang menjelang, nanti diculik setan. Pasti familiar dengan ucapan “Geura balik, sareupna. Bisi diculik kalong wewe”. Ini biasanya diucapkan ketika sang anak bermain sampai lupa waktu.

Ada satu kisah di Bandung baheula yang berkaitan dengan pamali ini. Bandung zaman baheula bukanlah sebuah kota yang gemerlap seperti sekarang.

Pada tahun 1920-an Bandung adalah sebuah kota mungil di tengah pegunungan yang akan menjelma menjadi seolah kota tak berpenghuni kala Ashar tiba.

Di zaman itu, Bandung masih dirimbuni oleh rupa-rupa pepohonan besar yang menimbulkan rasa ngeri ketika melewatinya saat senja tiba. Dikutip dari buku Ramadhan di Priangan karya Haryanto Kunto, zaman itu adalah “Jaman di imah betah ku rupa-rupa larangan. Rupa-rupa bisi jeung pamali”.

Di zaman itu beredar cerita ada seorang anak yang hilang digondol kalong wewe karena anteng bermain sampai Magrib tiba. anak tersebut tidak berhasil ditemukan meskipunn dicari ke mana-mana semalaman.

Anehnya, anak itu keesokan harinya anak itu terlihat berada di atas sebuah pohon besar sambil duduk membisu.

Pamali ini terkait adanya anjuran dalam agama islam untuk tidak berkeliaran di waktu magrib sampai isya. Waktu tersebut adalah waktunya setan beraksi untuk mengganggu manusia. Dan anak-anak adalah yang paling rentan terhadap gangguan ini.

Namun, secara logika pamali ini bisa kita katakan bahwa anak-anak sebaiknya berhenti bermain dan lekas beristirahat agar tubuh kembali bugar. Bagi yang sudah baligh, waktu magrib seharusnya digunakan untuk menunaikan shalat dan mengaji sampai lepas isya.

Intinya, pamali ini menganjurkan kita untuk tidak berkativitas di luar saat malam tiba dan bergegas beristirahat sehingga tidak membuang-buang tenaga untuk hal yang sia-sia.

2. Ulah Ngaremeh

Makna dari pamali ini adalah jangan menyisakan nasi barang sebutir pun di piring. Mitosnya, dapat mengakibatkan binatang peliharan milik kita akan mati. Dilihat dari logikanya, pamali ini jelas tidak ada kaitannya, kan?

Di bagian daerah Sunda lainnya, ngaremeh atau menyisakan nasi di piring setelah makan bisa mendapatkan suami atau istri yang jelek.

Namun, tetap saja mitos ini mengandung nilai kebaikan, yakni untuk tidak menyisakan makanan. Mitos ini pun mengajarkan kita untuk hidup bersih dan teratur dan selalu bersyukur atau nikmat makanan yang bisa kita dapatkan.

3. Ulah Neukteukan Kuku Ti Peuting

10 Pamali Adat Sunda dan Ajaran yang Terkandung di Dalamnya 5

Jangan memotong kuku malam hari, nanti akan ada yang sakit atau meninggal. Itulah makna di balik pamali selanjutnya. Perlu kita perhatikan bahwa pamali muncul saat itu kala daerah-daerah Sunda masih memiliki keterbatasan fasilitas, misalnya penerangan yang tidak merata dan seadanya.

Dilihat dari segi keamanan, pamali ini muncul untuk menghindari tangan atau kaki terluka saat memotong kuu. Jadi memotong kuku sebaiknya dilakukan siang hari saat langit terang dan pandangan tidak terbatas.

Di masa ini, memotong kuku malam hari bisa dilakukan malam hari asal penerangannya cukup sehingga aman bagi jari tangan dan kaki.

4. Ulah Cicing di Lawong Panto

10 Pamali Adat Sunda dan Ajaran yang Terkandung di Dalamnya 7

Ini adalah salah satu pamali yang palin sering kita dengar. Pamali ini bermakna jangan duduk di muka pintu, untuk anak perempuan yang belum nikah, dikhawatirkan akan susah dapat jodoh.

Ada pula yang menyebutkan duduk di muka pintu akan membuat jatuh sakit karena ada mahluk halus yang lewat di pintu tersebut.

Pamali ini adalah yang paling mudah dilihat logikanya. Berdiri atau duduk di depan muka pintu merupakan sebuah perbuatan yang mengganggu mobilitas orang lain.

Orang yang keluar masuk akan terhalangi bahkan bisa menyebabkan orang lain terjatuh jika berjalan dengan tanpa memperhatikan lingkungan.

5. Ulah Dahar Bari Ceplak

Pamali ini melarang seseorang untuk makan dengan mengeluarkan suara dari lidah atau mulut. Suara yang timbul ini disebabkan adanya gesekan dari air liur. Dalam Bahasa Sunda, suara yang keluar saat makan tersebut disebut ceceplak.

Beda dengan perbuatan makan sambil ngobrol. Di Sunda, makan sambil ngobrol bukan dianggap sebagai sebuah perilaku yang tidak baik. Tapi ceceplak dianggap sebuah pamali yang tidak boleh dilakukan.

Ceceplak akan mengakibatkan kita menjadi bahan gunjingan orang dan bisa mendatangkan binatang buas. Tidak ada hubungan logis antara makan dengan ceplak dengan binatang buas atau jadi bahan gunjingan orang sekitar.

Namun, dilihat dari tata krama, makan sambil mengeluarkan suara itu membuat risih orang di sekitar yang ikut makan.

6. Parawan atau Jajaka Ulah Dahar Dina Cowet

10 Pamali Adat Sunda dan Ajaran yang Terkandung di Dalamnya 11

Jangan makan dengan menggunakan cowet (cobek), bakal dapat jodoh kakek-kakek atau nenek-nenek. Kira-kira itulah arti dari pamali itu. Namun, jika dilihat dari segi kesehatan, makan dengan menggunakan cobek tidak baik bagi tubuh.

Cobek biasanya terbuat dari batu atau campuran pasir sehingga ditakutkan serpihan batu atau pasir tersebut akan ikut terbawa nasi yang kita makan.

Selain itu, makan menggunakan cobek sebagai piring pun tidak praktis. Cobek itu berat dan dilihatnya pun tidak pantas.

7. Ulah Heheotan di Imah

10 Pamali Adat Sunda dan Ajaran yang Terkandung di Dalamnya 13Sumber: utoronto.ca

Bersiul adalah sebuah perbuatan yang menyenangkan dilakukan. Terkadang sebuah siulan menandakan hati yang sedang senang. Tapi di adat Sunda bersiul atau heheotan tidak boleh dilakukan di dalam rumah.

Bersiul di dalam rumah sama saja dengan memanggil mahluk halus untuk datang menghampiri kita. Kemunculan mahluk halus tersebut akan membahyakan keluarga kita.

Namun, pamali ini sebenarnya berkaitan dengan etika. Bersiul bisa jadi dianggap lumrah dan mengandung banyak makna tergantung dari kontesnya. Tapi jika ada anggota keluarga yang sedang sedih, bersiul sama dengan tidak berempati pada orang yang sedang mengalami kesedihan tersebut.

8. Ulah Hudang Beurang

10 Pamali Adat Sunda dan Ajaran yang Terkandung di Dalamnya 15

Pamali di adat Sunda erat kaitannya dengan kehidupan rumah tangga dan kehidupan keluarga pada umumnya. Contohnya pada pamali ini. Ulah hudang beurang, bisi hese rejeki. Pamali ini hadir pula di wilayah lain yang isinya kurang lebih sama, yaitu untuk tidak bangun kesiangan.

Tidak ada yang mau hidup dengan rezeki yang tersendat, bukan? Pamali ini mengajarkan kita untuk giat dan rajin. Salah satunya dengan bangun lebih pagi agar badan lebih segar dan semangat sedang bagus-bagusnya.

Dari segi medis pun, bangun pagi bagus bagi kesehatan. Udara masih bersih dan matahari masih mengandung vitamin D yang bagus untuk pertumbuhan tulang. Pantas saja orang tua suka cerewet menyuruh anaknya untuk bangun pagi.

Dengan bangun pagi, kita bisa punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan hari dengan lebih baik dan lebih teliti.

9. Nabrak Ucing Garong Bari Jeung Teu Dikuburkeun Bakal Sial 7 Poe

10 Pamali Adat Sunda dan Ajaran yang Terkandung di Dalamnya 17

Kucing garong atau kucing hitam selalu identik dengan hal-hal gaib. Entah sejak kapan kepercayaan ini muncul. Yang pasti mitos seputar kucing hitam tidak hanya ada di Indonesia. Negara barat pun menaruh kepercayaan pada mitos tersebut.

Masyarakat Sunda percaya bahwa jika menabrak kucing hitam dan tidak menguburkannya dengan layak akan terkena sial selama 7 hari berturut-turut. Menariknya, banyak orang yang mengaku mengalami hal buruk pasca menabrak kucing hitam.

Bentuk kesialannya bermacam-macam. Ada yang mengalami kecelakaan, kesialan dan musibah lainnya. Maka tak heran orang menjadi lebih waspada saat menabrak kucing hitam. Takut kena sial.

Nah, menurut sudut pandang sisi kesehatan pun, mahluk hidup mati harus dikebumikan dengan layak. Pasalnya bangkainya akan menimbulkan bau dan timbul belatung jika dibiarkan begitu saja. Dan pasti akan mengganggu indera penciuman.

10. Ulah Meuli atau ngajual Uyah Ti Peuting

Garam adalah bumbu dapur utama yang sangat penting. Saking pentingnya garam, bumbu dapur ini pernah menjadi pemicu gerakan revolusi pada zaman pra-sejarah. Di Sunda dan Jawa, garam dianggap penting. Dan membeli garam mempunyai aturan waktunya sendiri.

Orang Sunda pantang membeli dan menjual garam di malam hari. Pamali, katanya. Perbuatan ini akan mendatangkan musibah berupa timbulnya fitnah dan kejahatan lainnya. Ini berkaitan dengan kepercayaan penduduk.

Konon, garam adalah alat yang digunakan untuk ilmu hitam. Garam dijadikan  sebagai medium untuk mengirimkan santet atau sihir oleh para dukun.

Pedagang akan menolak menjual garam pada pembeli yang membeli garam di malam hari. Takutnya garam tersebut akan dipergunakan untuk mengirim ilmu hitam untuk orang lain. Mereka akan menolaknya dengan beralasan garamnya habis.

Nah itulah beberapa macam pamali adat Sunda yang telah dipercaya sejak zaman dulu. Kepercayaan ini adalah sebuah kebudayaan lisan dari tanah Sunda yang mendidik kita untuk hidup dengan saling menghormati, hati-hati dan bersikap santun terhadap orang lain. Pamali bersifat tidak mengikat dan bergantung pada kepercayaan di wilayah masing-masing.

Adanya pamali di adat Sunda bisa menjaga keberlangsungan sebuah tradisi dan memelihara keseimbangan alam. Seperti yang diterapkan di kampung-kampung adat Sunda. Wilayah mereka terjaga dengan adanya pamali yang masih dipercaya dan dihormati oleh masyarakat kampung adat. Jadi, tidak ada salahnya untuk patuh pada hal-hal yang mengandung kebaikan, bukan?

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram