Bacaterus / Misteri Jogja / 10 Mitos Taman Sari Jogja, Peninggalan Sejarah Keraton Yogya

10 Mitos Taman Sari Jogja, Peninggalan Sejarah Keraton Yogya

Ditulis oleh - Diperbaharui 23 Juni 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jika berkunjung ke Yogyakarta kurang lengkap jika kamu tidak mengunjung tempat yang paling populer, yaitu Taman Sari. Selain terkenal sebagai objek wisata, Taman Sari juga menyimpan banyak sejarah dari Yogyakarta. Hal ini dikarenakan Taman Sari dikenal sebagai salah satu peninggalan sejarah yang berharga di Keraton Yogya.

Bangunan yang didirikan pada tahun 1785 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I ini masih berdiri kokoh meskipun sempat mengalami renovasi akibat goncangan gempa pada 27 Mei 2006 silam. Nah, di balik megahnya pemandian atau yang disebut istana air ini, ternyata menyimpan mitos yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Yogyakarta.

Mulai dari mitos yang mampu diterima oleh nalar dan logika sampai mitos yang membuat kita merinding hanya dengan membacanya. Penasaran dengan mitos Taman Sari Yogyakarta? Mari kita simak berbagai mitosnya di bawah ini yuk!

1. Tempat Para Putri Menghabiskan Waktu

Tempat Para Putri Menghabiskan Waktu

Di zaman dulu Taman Sari dipergunakan untuk tempat peristirahatan para Sultan dan keluarga. Di Taman Sari ini juga Sultan bermain bersama para putri-putrinya. Sang Sultan membuat permainan kecil dengan melempar bunga ke dalam kolam untuk memilih dan menentukan putri mana yang akan diajaknya untuk menemaninya tidur malam itu.

Namun, mitos yang beredar ini dibantah langsung oleh Romo Tirun, beliau adalah guide Taman Sari. Ia menegaskan bahwa hal itu tidak benar adanya, para guide lain hanya menambahkan sedikit cerita yang vulgar agar pembahasan mereka tidak hambar dan pendapatan mereka menjadi meningkat.

2. Dua Lorong Bawah Tanah

Dua Lorong Bawah Tanah

Kawasan Taman Sari memiliki dua lorong yang memiliki arah yang berbeda. Lorong pertama dinamakan Urung-urung Timur dan lorong lainnya dinamai Urung-urung Sumur Gumuling. Lorong Taman Sari menyimpan banyak kisah yang ada kaitannya dengan Ratu Penguasa Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul.

Jika kita berjalan ke arah bawah menyusuri jalan, kita akan mengarah ke tempat lorong itu berada. Urung-urung Timur memiliki panjang lorong hingga 45 meter yang menghantarkan dari Pulo Panembung dan Pulo Kenanga. Sedangkan lorong Sumur Gumuling hanya memiliki panjang 39  meter, pada sisi terjauh lorong, terdapat mata air dari sumur yang dinamakan Sumur Gumuling yang dikelilingi lima anak tangga.

Mitos yang beredar secara turun temurun menyebut bahwa ujung Lorong Sumur Gumuling dapat tembus hingga ke pantai laut selatan. Namun karena terjadi gempa, ada bagian lorong yang runtuh dan tertimbunan tumpukkan batu hingga hanya tersisa 39 meter.

Bahkan ada pula mitos yang mengatakan bahwa Sumur Gumuling ini merupakan tempat pertemuan antara Ratu Pantai Selatan atau Nyai Roro Kidul dengan Sultan Hamengkubuwono I. Namun, ada juga yang menganggap bahwa mitosnya Sri Sultan Hamengkubuwono I memang membangun keraton dalam satu sumbu lurus imajiner, yang terhubung dengan Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis.

3. Tempat Semedi dan Sembahyang para Sultan Kraton Yogyakarta

Tempat Semedi dan Sembahyang para Sultan Kraton Yogyakarta

Pasti kamu tahu dengan spot paling favorit di Taman Sari, ya lima anak tangga. Namun, siapa sangka bahwa ruangan di sekitar lima anak tangga ini mempunyai misteri sendiri. Ruangan ini dulu biasa digunakan para leluhur untuk melaksanakan sembahyang atau beribadah.

Konon, mitos yang beredar di kalangan masyarakat mengatakan bahwa ruang itu juga menjadi tempat para sultan bersemedi untuk menenangkan pikiran dan mendapatkan ilham. Biasanya para sultan melakukan semedi sebelum berperang, hal ini dipergunakan untuk memikirkan dan menyusun strategi perang.

Banyak yang mengakui dari pengunjung Taman Sari Jogja ini yang merasakan aura berbeda setiap kali mereka memasuki ruang tersebut. Keadaannya yang terbilang lembap juga menambah suasana tidak nyaman pada ruang tersebut. Aduh, merinding banget! Kalau kamu juga pernah merasakannya tidak?

4. Dijaga Oleh Mahkluk Tak Kasat Mata

Dijaga Oleh Mahkluk Tak Kasat Mata

Untuk kamu yang pernah mengunjungi Keraton Yogya, pasti kamu tidak asing lagi dengan pohon beringin kembar di Alun-Alun Kidul tepatnya di depan gerbang keraton.  Masih berada di sekitar Keraton Yogya siapa sangka bahwa pohon beringin kembar ini masih ada kaitannya dengan Taman Sari.

Nyatanya, Alun-Alun Kidul, Keraton Yogya, hingga Taman Sari dijaga oleh para mahluk tak kasat mata. Hal ini bertujuan untuk menjaga kearifan tradisi Yogya agar tetap melekat budayanya.

Namun, ada kalanya justru para mahluk tak kasat mata kerap mengganggu para wisatawan yang datang ke objek wisata di sekitaran Keraton. Terlebih, mereka akan menunjukan dan menampakkan diri kepada orang yang ingin melakukan niat jahat di sekitar Keraton Yogya, tempat yang mereka lindungi.

5. Proses Pembangunannya Memakan Korban Jiwa

Proses Pembangunannya Memakan Korban Jiwa

Meski dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I tempat ini di desain oleh seorang arsitek berkebangsaan Portugis bernama Demang Tegis. Pada proses pembangunan Taman Sari ternyata banyak memakan korban jiwa. Hal ini dikarenakan pada masa itu sedang terjadi peperangan.

Selain itu juga pada masa kejayaan Keraton Yogya, tempat Taman Sari beberapa kali mengalami renovasi. Kerusakan yang terjadi di Taman Sari ini diakibat karena serangan dari penjajah Inggris sekitar tahun 1812.

Setelah dilakukan  perbaikan, Taman Sari lagi-lagi memakan korban jiwa. Kali ini bukan karena peperangan, tapi dikarenakan banyaknya warga yang terlibat dalam pemberotakan tentara Inggris hingga kerap terjadi pembantain massal. Diduga warga yang dibantai di Taman Sari dibiarkan membusuk tanpa ada yang menguburnya.

Dari banyaknya mayat tadi, makanya nggak heran kalau selama proses ppembuatan dan renovasinya banyak memakan korban. Hal tersebut jadi menimbulkan cerita mistis di Taman Sari. Salah satunya dari cerita penjaga Taman Sari yang mengaku sering kali melihat sosok seorang petani tua dengan topi khasnya dan membawa cangkul berjalan perlahan dari sudut pintu ke pintu lainnya.

Pengalaman mistis seperti ini juga dirasakan oleh beberapa wisatawan yang sedang berwisata ke Taman Sari. Mereka merasakan ada sesuatu angin yang berhembus tepat di bagian belakang leher. Beberapa orang mempercayai bahwa para mahluk tak kasat mata di sana ingin bermain bersama para wisatawan yang datang. Berani mengunjungi tempat ini?

Itulah tadi beberapa mitos yang banyak beredar di masyarakat sekitar Taman Sari Yogyakarta. Bukan menjadi hal yang ditakutkan, mitos-mitos ini justru menambah daya tarik wisatawan. Baik yang hanya sekadar liburan, berfoto ria, hingga untuk mencari tahu kebenaran dari mitos yang beredar.

Percaya atau tidak dengan mitosnya, kita hanya perlu menghargai dan menghormatinya. So, apakah kamu pernah mengunjungi Taman Sari? Lalu cerita apa yang sudah kamu dapatkan? Jangan lupa untuk menceritakan di kolom komentar ya!

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *